*Agaknya Jokowi kesana itu untuk bilang kepada Putin : "Anda tidak usah
datang ke pertemuan", karena kami mengalami tekanan berat dari sobat kami
dan kalau  Anda datang banyak yang tak hadir. membuat  kami kalang kabut
karena kami sudah siap-siap untuk berpesta tamu tidak ada hadir dan ini
🤔memalukan kami". hehehehe*

On Sat, Jun 18, 2022 at 2:13 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Written by*D74* <https://www.pinterpolitik.com/author/d74/>
> Friday, June 17, 2022 09:23
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-cari-pertolongan-putin/
> Jokowi Cari Pertolongan Putin?
> [image: jokowi minta pertolongan putin]
>
> *Presiden Jokowi dan Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan akan bertemu
> di Moskow pada 30 Juni nanti, namun pembahasan pertemuan itu tidak
> diungkapkan. Mungkinkah kunjungan Jokowi berkaitan dengan permasalahan
> politik domestik?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/>
>
> Sekarang ini, hampir segala urusan politik internasional yang berkaitan
> dengan Rusia ataupun Ukraina menjadi topik yang sangat menarik untuk
> diperbincangkan. Tentu, ini akibat konflik yang terjadi semenjak 24
> Februari itu mulai berdampak pada banyak negara di seluruh dunia.
>
> Dan baru-baru ini, Indonesia menjadi sorotan karena beredar kabar bahwa
> Presiden Rusia Vladimir Putin akan melakukan pertemuan dengan Presiden Joko
> Widodo (Jokowi) pada tanggal 30 Juni nanti. Menurut media asal Rusia, TASS,
> yang mengutip salah satu sumber dari Kremlin, disebutkan bahwa kedatangan
> Jokowi ke Moskow sifatnya “sangat penting”, dan pihak Rusia sudah
> mempersiapkannya sejak sekarang.
>
> Meski demikian, detail tentang pertemuan tersebut masih belum diungkapkan.
> Bahkan, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia tidak mau
> memberikan komentar apapun.
>
> Namun, sesuai perkembangan dunia sekarang, dan status Indonesia sebagai
> Presiden pertemuan G20, banyak yang menduga ini berkaitan dengan kepastian
> kunjungan Putin ke Indonesia nantinya. Guru Besar Hukum Internasional
> Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana menilai Jokowi bisa menyampaikan
> harapan pada Rusia untuk hadir dalam G20 dan membicarakan terobosan bagi
> perekonomian dunia.
>
> Selain itu, Hikmahanto juga mengharapkan pertemuan antara Jokowi dan Putin
> mampu mendorong perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Singkatnya, Hikmahanto
> menduga Jokowi akan berupaya menjadi perantara perdamaian.
>
> Walau dugaan-dugaan ini adalah harapan mulia, kita tidak bisa menampik
> bahwa perilaku politik internasional suatu negara pasti dipengaruhi oleh
> karakteristik pemimpinnya.
>
> Dan seperti yang sudah dibahas dalam artikel PinterPolitik yang berjudul 
> *Mungkinkah
> Putin Diajak Berunding?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mungkinkah-putin-diajak-berunding/>
> *, *Jokowi adalah tipe pemimpin yang tidak ingin memposisikan dirinya
> sebagai “pahlawan” dalam permasalahan internasional. Ia adalah Presiden
> yang fokus ke permasalahan dalam negeri dan hanya bergerak di panggung
> internasional bila memang itu menguntungkan tataran domestik.
>
> Lantas, kira-kira apa alasan sebenarnya Jokowi ingin bertemu Putin?
> Mengapa Jokowi sampai rela mengeluarkan tenaga, dan merisikokan citra
> internasionalnya karena terlihat dekat dengan salah satu pemimpin dunia
> yang paling dikecam saat ini?
> [image: jokowi mau ketemu putin ed.]
> <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/jokowi-mau-ketemu-putin-ed.-838x1024.jpg>
>  *Jokowi
> Ingin Beri Sinyal?*
>
> Di era modern ini, segala pertemuan sesungguhnya bisa dilakukan secara
> daring. Namun, para diplomat seringkali masih mengutamakan pertemuan tatap
> muka.
>
> Alasannya adalah, karena dalam kunjungan diplomatik yang dilakukan sebuah
> negara, selain membicarakan agenda politik bilateral, kunjungan itu sendiri
> sesungguhnya menjadi pesan politik yang penting. Terlebih lagi bila
> kunjungan tersebut dilakukan dalam tataran antar kepala negara.
>
> Matt Malis dan Alastair Smith dalam tulisan mereka *State Visits and
> Leaders Survival,* menilai kunjungan diplomatis yang dilakukan seorang
> kepala negara ke suatu negara yang menjadi pemain internasional besar,
> seperti Rusia, bisa dipastikan berkorelasi dengan kompetisi politik
> domestik yang terjadi di negaranya.
> Malis dan Smith menjelaskan, jika pihak yang berkunjung adalah kubu
> petahana dari suatu negara, maka bisa diinterpretasikan salah satu urgensi
> melakukan pertemuan adalah sang tamu ingin menghindari permasalahan
> ketidakpastian dan ketidakstabilan rezim yang sedang terjadi di negaranya.
>
> Dengan diterima berkunjung ke sebuah negara besar, itu menjadi simbol
> bahwa rezim yang sedang dipimpin oleh kepala negara tersebut telah
> “direstui” oleh negara besar yang dikunjunginya.
>
> Simbol ini diharapkan mampu menciptakan efek *deterrent* atau rasa enggan
> dari siapapun yang ingin mengganggu rezim dari negara sang tamu, karena
> jika ada oposisi yang ingin menentangnya, kemungkinan sukses mereka akan
> jauh berkurang karena harus melawan dukungan asing ini.
>
> Ini juga menjadi salah satu alasan kenapa eksposur kunjungan antar kepala
> negara selalu digemborkan, tetapi pembahasannya jarang diumumkan. Hal
> tersebut karena publik, sekaligus oposisi rezim, akan dibuat merasa tidak
> pasti, sekaligus bertanya-tanya tentang hal apa saja yang diperbincangkan
> karena sadar pertemuan itu sudah pasti tidak hanya merupakan “kunjungan
> silaturahmi”.
>
> Kerja sama ekonomi atau pelatihan militer bersama umumnya dijadikan
> sebagai jawaban normatif. Namun suatu kunjungan diplomatis tentunya
> memiliki kemungkinan terjadi pembahasan hal-hal substansial lain yang tidak
> disampaikan ke publik. Yang jelas, pertemuan dua presiden akan memberikan
> sinyal bahwa masing-masing pihak berkemungkinan besar memiliki kepentingan
> yang sama dalam agenda tertentu.
>
> Di dalam studi hubungan internasional, perilaku ini disebut sebagai 
> *signalling
> mechanism*, atau mekanisme sinyal, yang tujuannya adalah memberikan
> sinyal pada aktor-aktor politik bahwa dua pemimpin besar yang dibahas dalam
> berita, dan akan melakukan pertemuan bersama, memiliki potensi akan
> mendukung satu sama lain dalam suatu narasi politik.
>
> Namun, bisakah konteks teoritis ini kita terapkan dalam kepemimpinan
> Jokowi?
>
> *Well*, kalau ingin berkaca ke beberapa waktu ke belakang, kita akan
> menyadari bahwa kepemimpinan Jokowi sepertinya memang sedang “digoyang”.
>
> Taruhlah isu tiga periode misalnya, meski dirinya secara resmi sudah
> mengatakan tidak ingin isu ini digulirkan, sampai sekarang masih ada saja
> yang menyuarakan bahwa Jokowi harus memimpin kembali setelah masa
> jabatannya berakhir. Lalu, kita pun bisa menyinggung tentang semakin
> ramainya perbincangan mengenai hubungan Jokowi dan Megawati yang dinilai
> semakin merenggang.
>
> Contoh terakhir yang menarik juga untuk disinggung adalah permasalahan
> tentang mafia minyak kelapa sawit yang telah membuat beberapa pihak
> mempertanyakan tentang efektivitas kepemimpinan Jokowi dalam mengatasi
> permasalahan tersebut. Isu-isu ini, tidak dipungkiri, tetap berpotensi
> digoreng sedemikian rupa oleh siapapun untuk menyerang Jokowi.
>
> Oleh karena itu, bisa diduga bahwa dicuatkannya kabar tentang pertemuan
> antara Jokowi dan Putin adalah salah satu upaya Jokowi mendapatkan
> pertolongan agar rezimnya tetap stabil di masa-masa terakhir kepemimpinan.
>
> Dengan terlihat memiliki kedekatan, Jokowi meminjam citra Rusia dan Putin
> sebagai aktor internasional besar bahwa dirinya menyimpan kartu truf bila
> ada yang ingin mengacaukan stabilitas pemerintahannya.
> Tapi, masih ada satu pertanyaan penting yang perlu dibahas. Bila ini semua
> benar, maka permintaan tolong konkrit seperti apa yang diminta Jokowi pada
> Putin? Tidak mungkin hanya mengandalkan sinyal-sinyal politik saja, bukan?
> [image: infografis rusia lu nyerah aja deh]
>
>
> *Andalkan Kekuatan Intelijen Rusia?*
>
> Walau Rusia bisa dikatakan adalah pemain internasional yang besar,
> Indonesia tidak memiliki ketergantungan yang berlebihan pada negeri Beruang
> Putih, berbeda dengan negara-negara Eropa yang memang membutuhkan pasokan
> minyak dari Rusia.
>
> Namun, itu tidak berarti Rusia tidak memiliki sesuatu yang spesial untuk
> dilirik oleh Jokowi. Menurut survei yang dilakukan Belfer Center for
> Science and International Affairs di Harvard’s Kennedy School, Rusia adalah
> negara dengan *National Cyber Power Index* (NCPI), atau kekuatan siber
> terkuat ke-4 di dunia.
>
> Dan yang menariknya, meski Amerika Serikat (AS) menempati urutan pertama,
> Rusia adalah negara paling tinggi dalam sektor kekuatan pemantauan siber.
> Sederhananya, Rusia adalah negara terhebat dalam mengumpulkan informasi
> intelijen melalui kekuatan siber.
>
> Rusia pun dikenal sebagai petarung tangguh dalam pertempuran intelijen
> siber. Mark Galeotti dalam artikelnya yang berjudul *Russian Intelligence
> is at (Political) War,* yang diterbitkan di laman Pakta Pertahanan
> Atlantik Utara (NATO), menilai agresivitas Dinas Intelijen Asing (SVR) di
> bawah kepemimpinan Putin dalam menyerang institusi-institusi Barat, telah
> membuat kemampuan intelijen siber Rusia sebagai salah satu ancaman terbesar
> bagi Barat dan NATO.
>
> Dengan kemampuan yang kuat di aspek siber dan intelijen, bukan tidak
> mungkin bila Jokowi berusaha mendapatkan bantuan Rusia dalam hal tersebut.
> Terlebih lagi, peran intelijen Rusia, dan AS juga, dalam politik domestik
> adalah hal yang sangat lumrah terjadi.
>
> Dov H. Levin dalam artikelnya *The U.S. and Russia Often Meddle in
> Foreign Elections, Does it Matter?* mengatakan kedua negara raksasa
> intelijen itu setidaknya terlibat dalam 117 pemilu di berbagai negara di
> dunia dari tahun 1946 sampai tahun 2000.
>
> Levin juga mengatakan, intelijen Rusia dan AS menggunakan beberapa metode
> yang membuat politisi harus melibatkan mereka, seperti menawarkan bantuan
> dana kampanye, merumuskan strategi kampanye, bahkan sampai menyiapkan
> materi kampanye itu sendiri. Yang jelas, peran intelijen asing dalam
> politik domestik suatu negara adalah kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
>
> Kembali ke konteks Jokowi, yang sedang dihadapkan dengan kondisi dalam
> negeri yang kembali lagi, sedang mendapat banyak terpaan isu. Bisa saja
> sang Presiden meminta bantuan negara yang sangat kuat dalam bidang
> intelijen dan siber untuk membantunya mempertahankan kestabilan rezim dan
> memperhalus proses transisi kekuatan nantinya ke pihak yang bisa
> dipercayakan dalam Pemilu 2024.
>
> Akhir kata, tulisan ini hanyalah interpretasi belaka. Tentunya, hanya
> pihak-pihak tertentu saja yang tahu tentang apa yang sebenarnya akan
> dibicarakan oleh Jokowi dan Putin pada pertemuan 30 Juni nanti. Pastinya
> kita berharap bahwa hasilnya bermanfaat bagi kestabilan keadaan politik
> Indonesia. (D74)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/06766F4B05F54B0692BFDFBE8EE2086F%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/06766F4B05F54B0692BFDFBE8EE2086F%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2C5Xoh3LX%3DdpfTCv613i1qzgmUrk32BUBcUKZpS8bfYgA%40mail.gmail.com.

Reply via email to