JADI GIMANA DONG…? 
Bambang Soesatyo: Serangan Ideologi Khilafah Memecah Belah Bangsa 
ByTim 
Redaksi0https://bergelora.com/jadi-gimana-dong-bambang-soesatyo-serangan-ideologi-khilafah-memecah-belah-bangsa/

Ketua MPR Bambang Soesatyo. (Ist)
JAKARTA – Ketua MPR Bambang Soesatyo menegaskan keluarga besar FKPPI selalu 
siap membantu TNI dalam menjaga kedaulatan bangsa. Khususnya dalam menjaga 
ideologi Pancasila dari berbagai serangan ideologi lain yang dapat memecah 
belah bangsa.

“Sebagaimana ditegaskan Ketua Umum FKPPI Pak Pontjo Sutowo saar bertemu Aster 
KSAD Mayjen TNI Karmin Suharna di Mabes TNI AD, FKPPI menjadi benteng bangsa 
dari maraknya serangan ideologi khilafah yang tidak pernah berhenti mngganggu 
persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini juga sejalan dengan komitmen Kementerian 
Agama yang telah menegaskan bahwa ideologi khilafah tidak boleh tumbuh di 
Indonesia,” ujar Bambang Soesatyo yang juga sebagai Wakil Ketua Umum Forum 
Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putri Putri TNI Polri (FKPPI)/Kepala 
Badan Negara FKPPI, Rabu, 15 Juni.

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, turut hadir pengurus FKPPI antara 
lain Ketua Umum Pontjo Sutowo, Wakil Ketua Umum Dudhie M. Murod, Ketua Bidang 
Organisasi dan Keanggotaan Didin, Wakil Sekjen Siska, serta Sekjen Generasi 
Muda KB FKPPI Stalino.

Bambang Soesatyo Beri Saran untuk Waspada Pada Khilafah
Bamsoet mengungkapkan kewaspadaan terhadap gerakan khilafah tidak boleh 
dilonggarkan. Mengingat dalam waktu beberapa hari terakhir, kepolisian telah 
menangkap sejumlah tersangka penyebar ideologi khilafah. Antara lain, Polres 
Klaten pada Kamis, 9 Juni, menangkap dua pemimpin organisasi Khilafatul 
Muslimin tingkat daerah yang telah memiliki pengikut mencapai 500 orang lebih 
di sekitar Kabupaten Klaten.

“Sebelumnya, Polres Brebes juga menangkap tiga pimpinan cabang Khilafatul 
Muslimin pada 7 Juni. Terbaru, Polda Metro Jaya menangkap AS yang dikenal 
sebagai Menteri Pendidikan Khilafatul Muslimin. Ironisnya, diduga hampir 30 
sekolah yang sudah terafiliasi dengan ajaran khilafah. Jika tidak segera 
ditindak, hal ini bisa menjadi api dalam sekam yang dapat mengganggu kedaulatan 
bangsa,” tutur Bambang Soesatyo.

Karena itu, FKPPI akan terus memasifkan pentingnya menumbuhkan sikap bela 
negara kepada generasi muda. Salah satunya dengan terlibat dalam pembentukan 
komponen cadangan yang dilakukan Kementerian Pertahanan untuk membantu TNI 
menjaga kedaulatan NKRI.

Kehadiran UU. No.23/2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk 
Pertahanan Negara (UU PSDNPN) disambut suka cita oleh FKPPI. Melalui UU PSDNPN 
tersebut, negara membuka peluang bagi warga sipilnya untuk menjadi komponen 
cadangan yang ikut berkontribusi dalam pertahanan semesta.

“Adagium klasik civis pacem parra bellum, jika ingin damai maka harus siap 
untuk berperang, bukanlah berarti setiap negara menginginkan peperangan. 
Melainkan doktrin agar setiap negara mempersiapkan kekuatan tempur militernya, 
ditunjang dengan komponen cadangan dari warga sipil. Sehingga bukan hanya bisa 
terwujud pertahanan yang kuat, melainkan juga memiliki efek gentar,” kata 
Bambang Soesatyo. (Web Warouw)

SIAPA TANGGUNG JAWAB…! 
Paham Radikal Dinilai Sudah Mulai Masuk UIN 
ByTim 
Redaksi0https://bergelora.com/siapa-tanggung-jawab-paham-radikal-dinilai-sudah-mulai-masuk-uin/

Ilustrasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. (Ist)
YOGYAKARTA — Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) 
Sunan Kalijaga Yogyakarta, Saifuddin mengatakan, paham radikal saat ini sudah 
masuk kampus, termasuk di UIN sendiri. Karena itu, menurut dia, kampus sekarang 
sudah tidak aman dari radikalisme.

“Kampus sudah tidak aman, diinfiltrasi oleh gerakan radikal. Kalau kita runut 
sejarahnya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba,” kata Saifuddin dalam diskusi 
publik bertajuk, “Tantangan Radikalisme di Alam Demokrasi,” di Kampus UIN Sunan 
Kalijaga Yogjakarta, Kamis (16/6).

Kampus UIN yang notabene kampus Islam moderat juga tidak lepas dari ancaman 
radikalisme. Menurut dia, transformasi IAIN ke UIN justru menjadi salah satu 
faktor masuknya radikalisme di kalangan perguruan tinggi.

“Kalau masih IAIN, 65 persen mahasiswanya dari madrasah, 35 persennya dari 
sekolah umum. Ketika jadi UIN berbalik, 55 persen dari sekolah umum dan 45 
persen dari madrasah,” ucap dia.

Dia mengatakan, alumni sekolah umum kurang memiliki pengetahuan agama sehingga 
mudah dipengaruhi oleh kelompok berideologi radikal. Sementara, alumni 
pesantren yang meneruskan ke UIN sudah tidak lagi belajar agama.

“Alumi sekolah umum itu biasanya kosong dari segi pengetahuan agama lalu 
dicekoki dengan ideologi radikal. Alumni umum ini haus dengan pengetahuan 
agama, lalu mereka ketemu dengan kelompok eksklusif. Sementara alumni pondok, 
tidak lagi belajar agama, tapi filsafat dan sosiologi,” jelas dia.

Kepada Bergelora.com di Yogyakarta dilaporkan, dalam diskusi yang sama, 
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti menjelaskan, 
demokrasi mengakomodir semua ide dan pemikiran, termasuk ide-ide yang menolak 
demokrasi itu sendiri. Namun, demokrasi tidak bisa mentolerir ide-ide yang 
mengarah pada tindakan destruktif seperti menyebarkan paham radikal.

“Pada dasarnya, organisasi-organisasi sebagaimana sebutlah HTI, FPI dan 
lain-lain merupakan suatu wadah yang kita nilai sebagai aspirasi. Sudut pandang 
kita dalam organisasi tersebut sebenarnya tidak salah,” kata Ray.

Menurut dia, salah satu yang menyebabkan organisasi tersebut dilarang oleh 
pemerintah karena pengikutnya melakukan tindakan destruktif. “Salah satu hal 
yang menyebabkan ia dilarang adalah penganut-penganut organisasi tersebut 
melakukan tindakan destruktif yang dapat mengganggu masyarakat yang lain. 
Semisal dengan cara melakukan kekerasan dan lain-lain,” jelas Ray. (Hari 
Subagyo)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/76264D5E791146B3B7F0A4A791567440%40A10Live.

Reply via email to