Written byJ61Saturday, June 18, 2022 21:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/nasdem-dan-risalah-tentara-rasa-rasa/
Nasdem dan Risalah “Tentara Rasa-rasa”
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Nasdem yang dimulai pada 15 Juni lalu 
diawali dengan Apel Siaga di Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. 
Satu yang menarik adalah Nasdem tampak konsisten memeragakan seremoni acara 
partai ala kemiliteran. Lantas, mengapa hal itu seolah menjadi ciri khas partai 
besutan Surya Paloh?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Nasdem telah berlangsung sejak 15 Juni 
lalu di Jakarta Convention Center (JCC) dengan pengusungan nama calon presiden 
(capres) sebagai agenda yang paling dinantikan.

Sejak awal, acara tersebut diwarnai berbagai gagasan nama kandidat dari Dewan 
Pimpinan Wilayah (DPW), sebelum nantinya akan disepakati dan diusung Nasdem di 
pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Jika mengacu pada aspek historis, usulan nama capres dari Partai Nasdem agaknya 
memiliki signifikansinya tersendiri. Pada Pilpres 2014 lalu, Nasdem menjadi 
partai politik (parpol) pertama yang mengusung Joko Widodo (Jokowi) bersama 
PDIP dan berbuah manis. Hal serupa kemudian berlanjut di Pilpres 2019.

Tiga nama lantas muncul dari hasil rekapitulasi Rakernas Nasdem kali ini, yakni 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, dan 
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo.

Dengan kata lain, tak keliru kiranya untuk sejenak memasuki ruang imajinasi dan 
membayangkan satu dari tiga nama itu sebagai Presiden Republik Indonesia 
berikutnya.

Namun, di balik segala hingar bingar Rakernas tersebut, Partai Nasdem agaknya 
konsisten mengartikulasikan kultur partai ala kemiliteran sejak awal terbentuk.

Ya, sebuah seremoni khas bertajuk Apel Siaga digelar di kawasan Parkir Timur 
Senayan, Jakarta dengan cukup khidmat sebelum Rakernas berlangsung. Apel 
diawali dengan parade pakaian daerah dari setiap DPW dan diikuti defile 300 
pembawa bendera merah putih.

Prosesi berlanjut dengan hadirnya Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dengan 
menaiki mobil jeep terbuka. Tak sendiri, Surya Paloh seolah tampak didampingi 
seorang letnan kepercayaan di sampingnya, yakni Ketua Koordinator Badan 
Pemenangan Pemilu DPP Partai Nasdem yang juga sang putranya sendiri Prananda 
Surya Paloh.

Paloh dan Prananda terlihat mengenakan seragam Garda Pemuda Nasdem, lengkap 
dengan baret biru berlogo Nasdem. Keduanya lantas menuju mimbar utama Apel 
Siaga sembari diiringi tabuhan marching band sebelum keduanya bergiliran 
menyampaikan pidato di hadapan para elite dan kader partai.

 
Lalu, mengapa atribut dan seremoni bertema militer itu senantiasa menjadi ciri 
khas Partai Nasdem?

Tiru Meiji hingga Nazi?
Seremoni dan penggunaan seragam khusus yang mencirikan sebuah parpol tidak 
dapat dilepaskan dari konstruksi sosio-politik yang terbangun. Political 
uniform atau seragam politik selain sebagai cara untuk menunjukkan identitas, 
juga dikaitkan dengan keyakinan politik radikal (far-right ataupun far-left).

Di era berkembangnya bermacam ideologi politik dan perebutan kekuasaan atas 
negara pada awal abad 20, seragam politik cukup erat menjadi ciri khas parpol 
sebagai identitas, termasuk untuk menarik simpati khalayak.

Meskipun seragam politik awalnya erat terkait dengan sayap militer atau 
organisasi paramiliter, penggunaannya dalam dogma politik radikal membuatnya 
menjadi simbol yang terintegrasi dari sebuah parpol.

Sayap militer Sturmabteilung dan Schutzstaffel misalnya, yang memiliki seragam 
politik khas dan menjadi identitas umum Partai Nazi Jerman hingga puncaknya 
hampir menguasai Eropa di bawah tangan besi Adolf Hitler.
Begitu pula dengan pemakaian seragam politik dalam gerakan parpol beraliran 
fasis di berbagai negara Italia, Portugal, Inggris, Meksiko, Tiongkok, hingga 
Jepang.

Khusus Jepang, kultur seragam politiknya dianggap memiliki pengaruh signifikan 
bagi konteks serupa di Indonesia. Dalam One Look Suits All: Japan, Land of 
Uniform, Mitamura Fukiko mengatakan bahwa penggunaan seragam di Jepang telah 
menjangkau semua sendi kehidupan, termasuk politik.

Paling tidak, itu terjadi sejak era Meiji yang menjadi titik awal transisi 
Jepang dari masyarakat feodal tertutup ke negara dengan paradigma baru yang 
lebih terbuka dengan ide-ide yang berasal dari luar, baik dalam hal ilmu 
pengetahuan, teknologi, filosofis, politik, hukum, hingga estetika.

Terdapat empat impetus filosofis dan praktis yang dianalisis Fukiko di balik 
masifnya penetrasi seragam di Jepang sejak dulu yakni sebagai identifikasi, 
kebanggaan dan motivasi, kekuatan menarik massa, serta keamanan dan kenyamanan. 
Di era modern, tujuan sebagai medium promosi brand melengkapi empat tujuan 
penggunaan seragam di Jepang sebelumnya.

Pada masa Perang Dunia II silam, Jepang pun menginternalisasi propagandanya ke 
negara jajahan salah satunya melalui pemberian seragam politik – termasuk 
seremoninya – sebagai simbol kebanggaan, dan daya pikat politik.

 
Ketika Indonesia dijadikan sebagai wilayah ekspansinya pada 1942, Jepang 
mendirikan organisasi untuk pelajar dan pemuda untuk menghimpun kekuatan 
politik, seperti Seinendan dan Keibodan. Ya, fungsi seragam bekerja seperti apa 
yang dikemukakan Fukiko.

Tidak hanya dibalut seragam dan latihan perang, para pemuda juga 
diinternalisasi dengan nilai dan tradisi seremonial seperti baris-berbaris 
hingga defile. Seremoni kemiliteran lantas masuk ke berbagai sendi kehidupan 
bersamaan dengan tantangan kolektif untuk mengusir penjajah kala itu.

Tampilan dan seremoni itu terus dipertahankan setelah kemerdekaan yang mana 
salah satunya ditenarkan Presiden RI pertama Soekarno. Dengan gaya busana 
safari ala militer dilengkapi dengan brevet serta lencana di dada, Soekarno 
melengkapinya dengan kegemaran tampil di mimbar upacara sekaligus 
menasbihkannya sebagai ikon paling awal pencetus tradisi seragam politik di 
Indonesia.

Serupa dengan Seinendan dan Keibodan, beberapa waktu setelahnya karakteristik 
itu diinternalisasi oleh para organisasi kemasyarakatan (ormas) yang mulai 
bermunculan. Pemuda Pancasila (PP), Banser Nahdlatul Ulama (NU), Front Pembela 
Islam, hingga ormas lainnya.

Begitu pula yang kemungkinan dianut Surya Paloh saat membentuk karakter ormas 
Nasional Demokrat pada tahun 2010 silam, sebelum meng-upgrade-nya menjadi 
Partai Nasdem setahun berselang.

Ya, selain terinspirasi oleh filosofi dan sejarah panjang seragam politik 
seperti yang telah dijabarkan di atas, Paloh nyatanya memang memiliki rekam 
jejak sebagai inisiator ormas ala kemiliteran.

Sebagai putra seorang abdi negara, yaitu Letkol. Pol. Muhammad Daud Paloh, 
Surya Paloh tercatat merupakan pendiri organisasi Putra-Putri ABRI (PP-ABRI) 
dan jadi pimpinannya di Sumatera Utara.
Paloh juga merupakan salah satu pendiri Forum Komunikasi Putra-Putri 
Purnawirawan Indonesia (FKPPI) yang menjadi wadah komunikasi “anak kolong” dan 
masih eksis hingga saat ini.

Namun, kembali ke Partai Nasdem, pertanyaan berikutnya muncul yakni adakah 
tujuan khusus dari internalisasi filosofi seragam dan seremoni ala kemiliteran 
yang dilakukan Surya Paloh itu?

Agar Tak Seperti Puan?
Secara teoretis, esensi seragam dan seremoni ala kemiliteran Nasdem dapat 
dipahami melalui publikasi Leonard Bickman berjudul The Social Power of a 
Uniform. Mengutip Barry E. Collins, Bertram Raven, dan John Schopler, Bickman 
menyebutkan social power theory atau teori kekuatan sosial sebagai untuk 
menjawab mengapa impresi dan sikap dapat dipengaruhi oleh sebuah penampilan.

 
Teori itu menyebutkan bahwa derajat kepatuhan akan perintah sebagian ditentukan 
oleh karakteristik orang yang memberi perintah. Mengacu pada Nathan Joseph dan 
Nicholas Alex dalam The Uniform: a sociological perspective, Bickman 
mengorelasikannya dengan fungsi seragam sebagai identifikasi status pemakainya, 
keanggotaan kelompok, dan legitimasi dalam berbagai pola interaksi yang 
terjadi, tak terkecuali sebuah seremoni.

Secara singkat, esensi seragam dan seremoni ala kemiliteran dapat menggambarkan 
hierarki, impresi koersi, punishment, dan reward yang mana semua itu berujung 
pada kepatuhan.

Menariknya, tidak semua parpol dapat mengadopsi karakteristik itu. Hanya mereka 
dengan kecenderungan personalized party atau partai yang memiliki sosok sentral 
tertentu yang kiranya dapat mempraktikkannya.

Dalam konteks Nasdem, kekuatan sosial dan muara tegak lurusnya kepatuhan 
kiranya tak hanya bertujuan untuk sosok Surya Paloh, melainkan untuk 
keberlangsungan kepemimpinan partai kepada putranya, Prananda Surya Paloh.

Hal itu mengacu pada realitas bahwa peluang terbaik untuk mempertahankan 
keberlangsungan aspek ekonomi-politik bisnis keluarga Paloh ialah melalui 
suksesi Nasdem kepada Prananda.

Pemberian kekuatan sosial melalui seragam dan seremoni ala kemiliteran itu 
agaknya berangkat dari belum terujinya Prananda dalam politik dan pemerintahan. 
Sampai saat ini, pengalaman politiknya masih sebatas anggota DPR RI periode 
2014-2019 dan 2019-2024.

Kharismanya juga tampak belum setara dengan sang ayah. Hal ini terlihat dari 
pidato teranyarnya di Rakernas yang beredar di linimasa namun justru mendapat 
sorotan kurang positif dari netizen.

Dan jika benar tujuan seragam politik dan seremoni adalah untuk mempertahankan 
estafet kepemimpinan Nasdem kepada trah Paloh, atribusi kekuatan sosial semacam 
itu kemungkinan kurang efektif jika tidak ada kinerja, prestasi, dan publisitas 
konkret.

Ihwal yang mungkin mirip dengan upaya suksesi PDIP dari Megawati Soekarnoputri 
kepada Puan Maharani.

Bagaimanapun, tiap parpol tentu memiliki karakteristik dan strategi tersendiri 
untuk soliditas internal sekaligus demi menarik simpati konstituennya. Yang 
terpenting, semua itu pada akhirnya diharapkan tetap bertujuan mewakili 
kepentingan rakyat saat kekuasaan telah direngkuh. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DFBB5A879D284A8EA029AF168D290C27%40A10Live.

Reply via email to