MEREKA TAKUT KPK MBAK…! 
APBD Rp200 Triliun Nganggur di Bank, 
Sri Mulyani: Ironis Ada Dananya Tapi Enggak Dijalankan 
ByTim 
Redaksi0https://bergelora.com/mereka-takut-kpk-mbak-apbd-rp200-triliun-nganggur-di-bank-sri-mulyani-ironis-ada-dananya-tapi-enggak-dijalankan/

Menkeu Sri Mulyani. (Ist)
JAKARTA- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kesal dengan realisasi belanja 
modal Pemerintah Daerah (Pemda) yang masih minim. Dia bahkan mengatakan bahwa 
hal ini ironis mengingat pemerintah pusat secara rutin mentransfer dana ke 
daerah.

“Rutin transfer dari pemerintah pusat ke daerah, tapi realisasi belanja modal 
untuk pembangunan infrastruktur dasar masih sangat minim. Malah Pemda lebih 
suka menaruh uangnya di bank,” ujar Sri dalam arahannya kepada Gubernur dan 
Walikota di Kantor Kemendagri Jakarta, dikutip Jumat (17/6/2022).

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, dia mengatakan, hal ini justru 
bukan karena tidak ada uangnya. Ada beberapa persyaratan, tetapi dia mencatat 
bahwa daerah masih memiliki Rp200 triliun yang mengendap di bank.

“Jadi ini, kan, menggambarkan ada ironis. Ada resources, ada dananya, tapi 
enggak bisa dijalankan,” keluhnya.

Bahkan, Sri mengatakan bahwa belanja Pemda justru minus 17% pada akhir Mei 
2022, dari semula Rp270 triliun menjadi Rp 223 triliun.

“Belanja kita tahun ini minus 17% dari belanja kita tahun lalu. Catat, minus 
17% bukan minus 1%, atau 5%. Bapak Ibu sekalian nanti akan perlu melihat, apa 
yang menjadi kendala,” tegasnya.

Dia pun menyampaikan bahwa realisasi belanja sebesar Rp223 triliun justru lebih 
banyak dialokasikan untuk gaji pegawai, yang angkanya mencapai Rp113 triliun 
dari Rp223 triliun.

Dia menyayangkan, justru belanja modal yang penting untuk peningkatan kualitas 
SDM angkanya malah kecil, hanya Rp12 triliun. Belanja modal ini pun lebih 
rendah dibanding tahun lalu yang sebesar Rp14 triliun dan belanja lainnya Rp44 
triliun.

Bahkan, dana Rp 200 triliun yang mengendap di bank pada Mei 2022 dicatat Sri 
lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2021 dan tahun 2020. Hingga 
akhir Mei tahun lalu, dana Pemda yang mengendap hanya Rp172 triliun, sementara 
Mei 2020 hanya Rp165 triliun.

“Dana “ngendon” di bank ini menandakan bahwa pembangunan infrastruktur dasar, 
termasuk penyediaan air bersih di daerah tidak jalan atau mandek, padahal 
rakyat masih membutuhkan infrastruktur dasar,” tambah Sri.

Tak hanya itu, dia pun melihat banyak daerah-daerah yang tidak memiliki sarana 
MCK memadai. Selain itu, tingkat kemiskinan di daerah masih tinggi.

“Tadi Bapak Ibu sekalian lihat begitu nerima transfer dari pusat langsung 
gampang bayar gaji aja. Apalagi ini sebentar lagi gaji ke-13, itu enggak perlu 
leadership. Wong ada by account by number. Yang perlu dipikirkan ya tadi, 
kenapa belanja barangnya banyak,” pungkas Sri. (Enrico N. Abdielli)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1AFB3B3A799D4E1BBAC8C1410BBB2A71%40A10Live.

Reply via email to