Dalam pernyataan proklamasi  tidak disebutkan "kami* rakyat* Indonesia",
tetapi* "kami bangsa *Inddonesia".  Dalam ilmu tatanegara disebutkan untuk
adanya  negara harus ada 3 unsur yaitu  *rakyat, wilayah* dan *pemerintah*.
Tidak disebutkan* bangsa.* tetapi *rakyat*.  Rakyat itu terdiri dari
berbagai bangsa dan berbagai kebudayaannya sedangkan bangsa itu definisi
hanya satu etnik saja.

On Sat, Jun 18, 2022 at 2:13 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Written by*D74* <https://www.pinterpolitik.com/author/d74/>
> Friday, June 17, 2022 22:10
>
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mengapa-masyarakat-indonesia-anti-tionghoa/
> Mengapa Masyarakat Indonesia Anti-Tionghoa?
> [image: Mengapa Indonesia Anti Tionghoa]
>
> *Pertanyaan “kandidat yang satu itu keturunan Tionghoa, bukan?” kerap
> dibunyikan dalam hampir setiap pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan kepala
> daerah (pilkada) di Indonesia. Mengapa rasa takut akan etnis Tionghoa bisa
> begitu mewabah di Indonesia?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/>
>
> Ketika Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 dan 2019, Presiden Joko Widodo
> (Jokowi) diterpa isu rasisme, ia dirumorkan memiliki kedua orang tua
> keturunan Tionghoa, dan mewakili kepentingan Tiongkok di Indonesia. Mantan
> Walikota Solo itu pun sempat disebut tersandera oleh para pebisnis Tionghoa
> dan secara ideologis mendukung gerakan komunisme ala Tiongkok.
>
> Ya, *fake news* yang sempat menyerang Jokowi hanyalah salah satu contoh
> saja dari maraknya sentimen anti-Tionghoa atau sinofobia yang kerap terjadi
> di Indonesia. Sebuah survei yang dilakukan BBC World Service pada tahun
> 2017 menemukan bahwa pandangan positif masyarakat Indonesia pada Tiongkok
> hanya 28 persen, sementara 50 persen memiliki pandangan negatif.
>
> Jangan jauh-jauh, di lingkungan keseharian saja, entah itu di tempat
> kerja, bermain, atau keluarga sekalipun, terkadang obrolan yang menganggap
> Tiongkok dan etnis Tionghoa sebagai sesuatu yang perlu dicurigai masih
> terjadi di mana-mana.
>
> Dan lebih mirisnya, kalau melihat catatan sejarah, Indonesia juga memiliki
> sejumlah catatan kelam terkait kekerasan pada etnis Tionghoa, seperti
> Peristiwa Mangkuk Merah 1967 dan Kerusuhan Mei 1998, yang telah menelan
> ribuan korban jiwa orang Tionghoa.
>
> Menariknya, bias negatif pada etnis Tionghoa di Indonesia tampak tidak
> adil bila mengingat sejarah bahwa Indonesia pada masa lalu justru dijajah
> oleh Belanda dan Jepang, bukan Tiongkok. Tapi, masyarakat kita jarang atau
> bahkan mungkin tidak pernah bertanya tentang peranakan seorang calon
> pemimpin apabila ia adalah keturunan Jepang atau Belanda.
>
> Lantas, mengapa masyarakat Indonesia bisa begitu takut dan tidak percaya
> pada etnis Tionghoa?
> *Akar Sinofobia Indonesia*
>
> Persoalan rasisme telah menjadi permasalahan yang selalu ada dalam hampir
> setiap negara di dunia, tidak hanya Indonesia. Di Amerika Serikat (AS),
> misalnya, rasisme yang begitu parah tidak hanya terjadi pada etnis kulit
> hitam di sana, tetapi juga orang-orang peranakan pribumi Amerika, yang
> umumnya dijuluki “Indian”.
>
> Benjamin P. Bowser dalam tulisan *Racism: Origin and Theory*, menjelaskan
> bahwa persoalan rasisme muncul dalam tiga tingkat, yakni tingkat kultural,
> institusional, dan individual. Dalam tingkat kultural, rasisme bisa begitu
> menjamur dalam masyarakat karena adanya suatu konstruk sosial yang mampu
> membentuk kepribadian seseorang untuk membenci etnis tertentu.
>
> Terkait sinofobia di Indonesia, konstruk sosial yang membuat orang begitu
> membenci etnis Tionghoa besar dugaannya bermula dari era kolonial Belanda.
> Menurut Sartono Kartodirdjo dalam bukunya *Pengantar Sejarah Indonesia
> Baru 1500-1900*, sejak Belanda masuk ke Indonesia pada abad ke-16,
> Belanda membutuhkan bantuan dalam membangun kota-kota yang dikuasainya di
> Indonesia, namun Belanda tidak ingin memberikan kepercayaan pada orang
> pribumi.
>
> Oleh karena itu, Belanda memilih etnis Tionghoa yang sudah ada di
> Indonesia sejak era Kerajaan Majapahit sebagai kelas sosial yang lebih
> percaya dibanding pribumi. Banyak etnis Tionghoa yang kemudian jadi mitra
> dagang, sekaligus pemungut pajak.
> Etnis Tionghoa pun diberi eksklusivitas oleh Belanda, dengan memisahkan
> tempat tinggal mereka dari pribumi, seperti dengan penetapan
> *Wijkenstelsel*, yakni aturan untuk menciptakan pemukiman etnis Tionghoa
> atau pecinan di beberapa kota besar Hindia Belanda.
>
> Setelah Belanda sudah tidak menjajah Indonesia, kecemburuan terhadap
> eksklusivitas ini masih membekas di masyarakat Indonesia, karena menjadi
> cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi.
>
> Kecemburuan ini kemudian membawa kita ke tingkat rasisme kedua dari
> Bowser, yakni tingkat institusional. Menurut Bowser, rasisme yang terjadi
> di sebuah negara juga bisa muncul karena ditunjang beberapa aturan yang
> diterbitkan institusi negara, yang membuat hanya beberapa etnis saja yang
> mendapatkan privilese, sementara etnis tertentu semakin terlihat
> didiskriminasi.
>
> Di Indonesia, kembali melihat sejarah, kepemimpinan Presiden pertama,
> Sukarno, dan Presiden Suharto, memang bersinggungan keras dengan maraknya
> sentimen anti-Tionghoa. Sukarno pernah mengeluarkan Peraturan Pemerintah
> (PP) Nomor 10 Tahun 1959, yang isinya adalah larangan bagi pengusaha asing
> untuk membuka usaha di beberapa daerah di Indonesia.
>
> Meski aturan itu ditujukan untuk Warga Negara Asing (WNA), tapi PP itu
> juga berimbas pada etnis Tionghoa yang memang tinggal di Indonesia.
>
> Di era Suharto sinofobia justru semakin menguat. Meski sang *Smiling
> General *memiliki hubungan dekat dengan para pebisnis Tionghoa, kehidupan
> etnis Tionghoa pada saat itu mendapatkan diskriminasi besar akibat
> diterbitkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967, yang
> mengatur tetang tata agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa.
>
> Di aturan tersebut, kebudayaan Tionghoa bahkan dianggap dapat mempengaruhi
> psikologi, mental, dan moral yang tidak wajar di Indonesia. Karena itu,
> pembedaan antara “pribumi” dan “keturunan Tionghoa” semakin menjadi-jadi.
>
> Kemudian, tingkat rasisme yang ketiga dari Bowser adalah tingkat
> individual. Menurut Bowser, rasisme dapat terjadi karena sifat prasangka
> selalu ada dalam setiap individual.
>
> Pendapat ini didukung oleh studi yang dilakukan Nathalia Gjersoe dalam
> tulisannya *How Young Children Can Develop Racial Biases – And What That
> Means*, yang menemukan bahwa pada usia tiga bulan, seorang bayi manusia
> cenderung lebih suka melihat gambar wajah dari ras mereka sendiri. Lalu,
> ketika berusia sembilan bulan, bayi akan merasa lebih familiar dengan wajah
> dari ras yang sama.
>
> Hal ini kemudian berkembang menjadi insting yang dapat mengenali apakah
> kelompok tertentu memang bagian dari seseorang. Dan sebenarnya, hal ini pun
> menjadi sifat dasar makhluk hidup lainnya, di mana seekor induk burung
> elang akan mengetahui bila ada anak burung jenis lain yang terperangkap di
> tengah-tengah kumpulan anak elang.
>
> Bowser menegaskan, ketiga tingkatan rasisme ini tidak terjadi secara
> terpisah, melainkan bersamaan. Dalam artian, suatu aturan yang ditetapkan
> institusi, juga muncul akibat keadaan konstruk sosial yang memang terjadi
> di masyarakat.
> *Well*, itulah akar-akar sinofobia Indonesia. Namun, masih ada satu hal
> menarik yang juga perlu dibahas, yakni kenyataan bahwa sinofobia akut juga
> terjadi di negara-negara tetangga Indonesia, seperti di Filipina dan
> Malaysia.
>
> Oleh karena itu, mungkinkah sentimen anti-Tionghoa juga merupakan sebuah
> agenda internasional?
> *Sebuah Gerakan Internasional?*
>
> Kecurigaan tentang sinofobia sebagai suatu gerakan internasional bisa kita
> lacak kembali ke era Suharto. Randy Mulyanto dalam artikelnya *Why Fears
> of Communism, anti-China sentiment are a Potent Mix in Indonesia*,
> menjelaskan bahwa salah satu faktor kuat kenapa sentimen anti-Tionghoa bisa
> begitu mewabah di Asia Tenggara adalah karena Perang Dingin.
>
> Seperti yang diketahui, Perang Dingin adalah pertempuran antara kelompok
> kapitalisme dan komunisme. Karena pada saat itu AS khawatir efek domino
> dapat terjadi dengan adanya penyebaran komunisme di Asia, maka narasi
> perlawanan komunisme menjadi komoditas politik yang begitu kuat dan efektif.
>
> Suharto sebagai presiden yang memiliki komitmen memberantas komunis,
> sebagai dampaknya, mengaitkan etnis Tionghoa dengan komunisme itu sendiri,
> utamanya, karena memang Partai Komunis Indonesia (PKI) sempat memiliki
> relasi yang kuat dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
>
> Namun, agenda anti-Tionghoa internasional tidak berhenti dengan
> berakhirnya Perang Dingin. Institut Hubungan Internasional Kontemporer
> Tiongkok (CICIR), dalam sebuah laporan di Reuters, melaporkan bahwa sejak
> pandemi Covid-19 melanda dunia, sentimen anti-Tionghoa global telah
> meningkat tajam, bahkan menjadi yang tertinggi semenjak Kerusuhan Tiananmen
> 1989.
>
> Cheng Li, dalam tulisannya *How Washington’s Hawkish China Policy
> Alienates Young Chinese *di laman Brookings, menilai bahwa hingga
> sekarang kebencian dunia pada Tiongkok dan Tionghoa terjadi akibat
> kebijakan luar negeri AS yang tampak sangat agresif pada Tiongkok.
>
> Dalam beberapa pemberitaan, para pejabat AS mampu menggerakkan media
> internasional agar Tiongkok dilihat sebagai antagonis dalam beberapa isu.
> Taruhlah seperti isu Covid-19, yang mantan Presiden AS Donald Trump sendiri
> pernah mengatakan bahwa itu adalah “virus Tiongkok”.
>
> Cheng Li pun menilai, narasi anti-Tionghoa global ini sesungguhnya murni
> terjadi karena AS melihat Tiongkok sebagai negara yang kenaikan kekuatannya
> perlu diredam.
>
> Dengan menggerakkan media untuk dapat menciptakan rasa takut akan Tiongkok
> dan etnis Tionghoa, banyak negara di dunia yang akhirnya perlu berpikir
> berkali-kali dalam menaruh kepercayaannya pada Tiongkok. Di tataran
> masyarakat, sebagai dampaknya, ini juga membuat banyak orang ikut merasa
> tidak percaya pada etnis Tionghoa yang ada di sekitarnya.
>
> Karena itu, sinofobia yang terjadi di Indonesia, dan banyak negara di
> dunia, sejatinya bukanlah hanya persoalan rasisme dan sosial saja, tetapi
> juga merupakan anakan masalah dari agenda politik para negara besar.
>
> *Well*, bagaimanapun juga, rasisme adalah sesuatu yang perlu terus kita
> lawan setiap hari. Praktiknya hanya akan membuat pembelahan sosial di
> masyarakat semakin melebar. Semoga saja, isu sinofobia tidak lagi
> dimainkan dalam Pemilu 2024 nanti. (D74)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4A16DE21231B4907BBD2427F04F12828%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4A16DE21231B4907BBD2427F04F12828%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BSbCMOV28TxJcD3AshX2m9Qw9T1CRBNXjHoQZf2vMoMA%40mail.gmail.com.

Reply via email to