Satu hal yang konsistan, suku Tionghao..sering dikatakan keturunan Cina..Kalau 
melihat migrasi manusia, yang sekitar Asia, belum lagi migrasi Modern Human out 
of Africa.Indonesia Timur, dominant Mongolian, keturunan Cina.Bagian Barat, 
keturunan Afrika, dengan ciri fisik, kulit hitam, rambut meriting, hidup secara 
hunter gatherer, nomad.
Kalimantan, Sulawesi, juga dominant Asia, Vietnam, Philippines dsb.Melihat 
peninggakan candi, budaya India, yang berkulit coklat, dominant keturunan 
India, Jawa Tengah, Jawa Timur.Suku Irian, indonesia Timur adalah aborigine 
yang sebenernya, salah satu bukti kehidupan yang primitives subsistence, 
diperkirakan sekitar 40-70.000tahun lalu, bahkan ada dalam buku sejarah Afrika, 
mengatakan Irian lebih dini dari pada Out of Africa..

Secara budaya Dan agama, indonesia Barat pengaruh India, Hindu, Buddha, Islam 
abad 12 menjadi dominant, bagian Timur christianity lebih dominant.Karena 
kepulauan, isolasi ecology, geography, mempengaruhi Dan memberikan karakter 
tersendiri, termasuk juga orang hutan yang Di Sumatera Berbeda dengan yang Di 
Kalimantan Secara politik, bangsa adalah manusia yang menghuni suatu Negara 
secara legal, secara biology lain lagi, DNA mengelompokkan ciri ciri kandungan 
biologi. Dalam sejarah, bangsa Roma, merasa bangsa Asli yang lahir dari benih 
Dewa (sewagtu paganism), seorang Dewa yang terangsang dengan Anak Gadis Dari 
Dewa lain, premature ejakulasi, jatuh Ke batu batu. Ada juga suatu suku yang 
mempercayai bahwa janin itu datang dari Roh yang Masuk Ke tubuh Wanita, roh 
bersumver pada suatu Pulau.
Tidak ada ketegasa apa itu Bangsa Indinesia, jus sangunis atau 
jusoli..?Keturunan Cina dijadiksn tumbal.


Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Mon., Jun. 20, 2022 at 8:04 p.m., Chan CT<[email protected]> wrote:   
Nampaknya BELUM ada kesepahaman pengertian BANGSA dalam pengertian NASION 
disini, bukan suku-bangsa. Dimana kenyataan BANGSA Indonesia merupakan kumpulan 
ratusan suku-bangsa dari suku-Jawa, suku-Madura, suku-Minang, ... termasuk 
suku-Tionghoa! Begitu menurut penjelasan bung Karno! Jadi, saat bung Karno 
ucapkan proklamasi Kemerdekaan RI, “Kami bangsa Indonesia” jelas mendekati 
pengertian rakyat Indonesia yang terdiri dari ratusan suku-bangsa, yang 
berbeda-beda dilihat dari etnis, budaya dan Agama. Bukan dan TIDAK MUNGKIN 
mendefinisisikan BANGSA disini merupakan sekelompok manusia yang satu etnik, 
budaya dan Agama, ...!   From: Sunny ambon Sent: Monday, June 20, 2022 1:41 
AMTo: Chan CT Cc: GELORA45_In Subject: Re: [GELORA45] Mengapa Masyarakat 
Indonesia Anti-Tionghoa? Dalam pernyataan proklamasi  tidak disebutkan "kami 
rakyat Indonesia", tetapi "kami bangsa Inddonesia".  Dalam ilmu tatanegara 
disebutkan untuk adanya  negara harus ada 3 unsur yaitu  rakyat, wilayah dan 
pemerintah. Tidak disebutkan bangsa. tetapi rakyat.  Rakyat itu terdiri dari 
berbagai bangsa dan berbagai kebudayaannya sedangkan bangsa itu definisi hanya 
satu etnik saja.   On Sat, Jun 18, 2022 at 2:13 AM Chan CT 
<[email protected]> wrote:

      Written byD74  Friday, June 17, 2022 22:10   
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mengapa-masyarakat-indonesia-anti-tionghoa/
   
Mengapa Masyarakat Indonesia Anti-Tionghoa?
    
Pertanyaan “kandidat yang satu itu keturunan Tionghoa, bukan?” kerap dibunyikan 
dalam hampir setiap pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan kepala daerah 
(pilkada) di Indonesia. Mengapa rasa takut akan etnis Tionghoa bisa begitu 
mewabah di Indonesia?
  
PinterPolitik.com
 
Ketika Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 dan 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) 
diterpa isu rasisme, ia dirumorkan memiliki kedua orang tua keturunan Tionghoa, 
dan mewakili kepentingan Tiongkok di Indonesia. Mantan Walikota Solo itu pun 
sempat disebut tersandera oleh para pebisnis Tionghoa dan secara ideologis 
mendukung gerakan komunisme ala Tiongkok.
 
Ya, fake news yang sempat menyerang Jokowi hanyalah salah satu contoh saja dari 
maraknya sentimen anti-Tionghoa atau sinofobia yang kerap terjadi di Indonesia. 
Sebuah survei yang dilakukan BBC World Service pada tahun 2017 menemukan bahwa 
pandangan positif masyarakat Indonesia pada Tiongkok hanya 28 persen, sementara 
50 persen memiliki pandangan negatif.
 
Jangan jauh-jauh, di lingkungan keseharian saja, entah itu di tempat kerja, 
bermain, atau keluarga sekalipun, terkadang obrolan yang menganggap Tiongkok 
dan etnis Tionghoa sebagai sesuatu yang perlu dicurigai masih terjadi di 
mana-mana.
 
Dan lebih mirisnya, kalau melihat catatan sejarah, Indonesia juga memiliki 
sejumlah catatan kelam terkait kekerasan pada etnis Tionghoa, seperti Peristiwa 
Mangkuk Merah 1967 dan Kerusuhan Mei 1998, yang telah menelan ribuan korban 
jiwa orang Tionghoa.
 
Menariknya, bias negatif pada etnis Tionghoa di Indonesia tampak tidak adil 
bila mengingat sejarah bahwa Indonesia pada masa lalu justru dijajah oleh 
Belanda dan Jepang, bukan Tiongkok. Tapi, masyarakat kita jarang atau bahkan 
mungkin tidak pernah bertanya tentang peranakan seorang calon pemimpin apabila 
ia adalah keturunan Jepang atau Belanda.
 
Lantas, mengapa masyarakat Indonesia bisa begitu takut dan tidak percaya pada 
etnis Tionghoa?
 
Akar Sinofobia Indonesia
 
Persoalan rasisme telah menjadi permasalahan yang selalu ada dalam hampir 
setiap negara di dunia, tidak hanya Indonesia. Di Amerika Serikat (AS), 
misalnya, rasisme yang begitu parah tidak hanya terjadi pada etnis kulit hitam 
di sana, tetapi juga orang-orang peranakan pribumi Amerika, yang umumnya 
dijuluki “Indian”.
 
Benjamin P. Bowser dalam tulisan Racism: Origin and Theory, menjelaskan bahwa 
persoalan rasisme muncul dalam tiga tingkat, yakni tingkat kultural, 
institusional, dan individual. Dalam tingkat kultural, rasisme bisa begitu 
menjamur dalam masyarakat karena adanya suatu konstruk sosial yang mampu 
membentuk kepribadian seseorang untuk membenci etnis tertentu.
 
Terkait sinofobia di Indonesia, konstruk sosial yang membuat orang begitu 
membenci etnis Tionghoa besar dugaannya bermula dari era kolonial Belanda. 
Menurut Sartono Kartodirdjo dalam bukunya Pengantar Sejarah Indonesia Baru 
1500-1900, sejak Belanda masuk ke Indonesia pada abad ke-16, Belanda 
membutuhkan bantuan dalam membangun kota-kota yang dikuasainya di Indonesia, 
namun Belanda tidak ingin memberikan kepercayaan pada orang pribumi.
 
Oleh karena itu, Belanda memilih etnis Tionghoa yang sudah ada di Indonesia 
sejak era Kerajaan Majapahit sebagai kelas sosial yang lebih percaya dibanding 
pribumi. Banyak etnis Tionghoa yang kemudian jadi mitra dagang, sekaligus 
pemungut pajak. 
 Etnis Tionghoa pun diberi eksklusivitas oleh Belanda, dengan memisahkan tempat 
tinggal mereka dari pribumi, seperti dengan penetapan Wijkenstelsel, yakni 
aturan untuk menciptakan pemukiman etnis Tionghoa atau pecinan di beberapa kota 
besar Hindia Belanda. 
Setelah Belanda sudah tidak menjajah Indonesia, kecemburuan terhadap 
eksklusivitas ini masih membekas di masyarakat Indonesia, karena menjadi cerita 
yang diturunkan dari generasi ke generasi.
 
Kecemburuan ini kemudian membawa kita ke tingkat rasisme kedua dari Bowser, 
yakni tingkat institusional. Menurut Bowser, rasisme yang terjadi di sebuah 
negara juga bisa muncul karena ditunjang beberapa aturan yang diterbitkan 
institusi negara, yang membuat hanya beberapa etnis saja yang mendapatkan 
privilese, sementara etnis tertentu semakin terlihat didiskriminasi.
 
Di Indonesia, kembali melihat sejarah, kepemimpinan Presiden pertama, Sukarno, 
dan Presiden Suharto, memang bersinggungan keras dengan maraknya sentimen 
anti-Tionghoa. Sukarno pernah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 
Tahun 1959, yang isinya adalah larangan bagi pengusaha asing untuk membuka 
usaha di beberapa daerah di Indonesia. 
 
Meski aturan itu ditujukan untuk Warga Negara Asing (WNA), tapi PP itu juga 
berimbas pada etnis Tionghoa yang memang tinggal di Indonesia.
 
Di era Suharto sinofobia justru semakin menguat. Meski sang Smiling General 
memiliki hubungan dekat dengan para pebisnis Tionghoa, kehidupan etnis Tionghoa 
pada saat itu mendapatkan diskriminasi besar akibat diterbitkannya Instruksi 
Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967, yang mengatur tetang tata agama, 
kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. 
 
Di aturan tersebut, kebudayaan Tionghoa bahkan dianggap dapat mempengaruhi 
psikologi, mental, dan moral yang tidak wajar di Indonesia. Karena itu, 
pembedaan antara “pribumi” dan “keturunan Tionghoa” semakin menjadi-jadi.
 
Kemudian, tingkat rasisme yang ketiga dari Bowser adalah tingkat individual. 
Menurut Bowser, rasisme dapat terjadi karena sifat prasangka selalu ada dalam 
setiap individual. 
 
Pendapat ini didukung oleh studi yang dilakukan Nathalia Gjersoe dalam 
tulisannya How Young Children Can Develop Racial Biases – And What That Means, 
yang menemukan bahwa pada usia tiga bulan, seorang bayi manusia cenderung lebih 
suka melihat gambar wajah dari ras mereka sendiri. Lalu, ketika berusia 
sembilan bulan, bayi akan merasa lebih familiar dengan wajah dari ras yang sama.
 
Hal ini kemudian berkembang menjadi insting yang dapat mengenali apakah 
kelompok tertentu memang bagian dari seseorang. Dan sebenarnya, hal ini pun 
menjadi sifat dasar makhluk hidup lainnya, di mana seekor induk burung elang 
akan mengetahui bila ada anak burung jenis lain yang terperangkap di 
tengah-tengah kumpulan anak elang.
 
Bowser menegaskan, ketiga tingkatan rasisme ini tidak terjadi secara terpisah, 
melainkan bersamaan. Dalam artian, suatu aturan yang ditetapkan institusi, juga 
muncul akibat keadaan konstruk sosial yang memang terjadi di masyarakat.
 Well, itulah akar-akar sinofobia Indonesia. Namun, masih ada satu hal menarik 
yang juga perlu dibahas, yakni kenyataan bahwa sinofobia akut juga terjadi di 
negara-negara tetangga Indonesia, seperti di Filipina dan Malaysia.  
Oleh karena itu, mungkinkah sentimen anti-Tionghoa juga merupakan sebuah agenda 
internasional?
 
Sebuah Gerakan Internasional?
 
Kecurigaan tentang sinofobia sebagai suatu gerakan internasional bisa kita 
lacak kembali ke era Suharto. Randy Mulyanto dalam artikelnya Why Fears of 
Communism, anti-China sentiment are a Potent Mix in Indonesia, menjelaskan 
bahwa salah satu faktor kuat kenapa sentimen anti-Tionghoa bisa begitu mewabah 
di Asia Tenggara adalah karena Perang Dingin.
 
Seperti yang diketahui, Perang Dingin adalah pertempuran antara kelompok 
kapitalisme dan komunisme. Karena pada saat itu AS khawatir efek domino dapat 
terjadi dengan adanya penyebaran komunisme di Asia, maka narasi perlawanan 
komunisme menjadi komoditas politik yang begitu kuat dan efektif.
 
Suharto sebagai presiden yang memiliki komitmen memberantas komunis, sebagai 
dampaknya, mengaitkan etnis Tionghoa dengan komunisme itu sendiri, utamanya, 
karena memang Partai Komunis Indonesia (PKI) sempat memiliki relasi yang kuat 
dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT). 
 
Namun, agenda anti-Tionghoa internasional tidak berhenti dengan berakhirnya 
Perang Dingin. Institut Hubungan Internasional Kontemporer Tiongkok (CICIR), 
dalam sebuah laporan di Reuters, melaporkan bahwa sejak pandemi Covid-19 
melanda dunia, sentimen anti-Tionghoa global telah meningkat tajam, bahkan 
menjadi yang tertinggi semenjak Kerusuhan Tiananmen 1989.
 
Cheng Li, dalam tulisannya How Washington’s Hawkish China Policy Alienates 
Young Chinese di laman Brookings, menilai bahwa hingga sekarang kebencian dunia 
pada Tiongkok dan Tionghoa terjadi akibat kebijakan luar negeri AS yang tampak 
sangat agresif pada Tiongkok. 
 
Dalam beberapa pemberitaan, para pejabat AS mampu menggerakkan media 
internasional agar Tiongkok dilihat sebagai antagonis dalam beberapa isu. 
Taruhlah seperti isu Covid-19, yang mantan Presiden AS Donald Trump sendiri 
pernah mengatakan bahwa itu adalah “virus Tiongkok”. 
 
Cheng Li pun menilai, narasi anti-Tionghoa global ini sesungguhnya murni 
terjadi karena AS melihat Tiongkok sebagai negara yang kenaikan kekuatannya 
perlu diredam.
 
Dengan menggerakkan media untuk dapat menciptakan rasa takut akan Tiongkok dan 
etnis Tionghoa, banyak negara di dunia yang akhirnya perlu berpikir 
berkali-kali dalam menaruh kepercayaannya pada Tiongkok. Di tataran masyarakat, 
sebagai dampaknya, ini juga membuat banyak orang ikut merasa tidak percaya pada 
etnis Tionghoa yang ada di sekitarnya.
 
Karena itu, sinofobia yang terjadi di Indonesia, dan banyak negara di dunia, 
sejatinya bukanlah hanya persoalan rasisme dan sosial saja, tetapi juga 
merupakan anakan masalah dari agenda politik para negara besar.
 
Well, bagaimanapun juga, rasisme adalah sesuatu yang perlu terus kita lawan 
setiap hari. Praktiknya hanya akan membuat pembelahan sosial di masyarakat 
semakin melebar. Semoga saja, isu sinofobia tidak lagi dimainkan dalam Pemilu 
2024 nanti. (D74)
-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4A16DE21231B4907BBD2427F04F12828%40A10Live.

-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BSbCMOV28TxJcD3AshX2m9Qw9T1CRBNXjHoQZf2vMoMA%40mail.gmail.com.


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A39F4DE8B2644E8387752B2A81E71608%40A10Live.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1473460227.3639723.1655800157621%40mail.yahoo.com.

Reply via email to