Muslihat Jokowi Manfaatkan Putin?
Written byA43
Monday, June 20, 2022 17:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/muslihat-jokowi-manfaatkan-putin/
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan akan berkunjung ke Moskow dan bertemu 
Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membicarakan sejumlah isu global seperti 
KTT G20 2022 dan konflik Rusia-Ukraina. Mungkinkah ini jadi cara Jokowi 
manfaatkan Putin?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “‘Cause I heard you found somebody else and it breaks my heart and hurts like 
hell” – LANY, “sad” (2020)

Tidak ada yang mudah ketika kita memulai usaha untuk mendekati seseorang – 
katakanlah orang tersebut adalah orang yang kita suka. Sejumlah langkah – dan 
mungkin strategi yang taktis – diperlukan agar bisa memenangkan hati sang crush.

Kala bertemu dengan orang baru di aplikasi perjodohan (dating apps), misalnya, 
upaya-upaya pendekatan pun perlu dilakukan secara bertahap. Bila salah langkah, 
upaya untuk mendekati bisa berujung pada hasil yang tidak sesuai ekspektasi.

Semula, semua dimulai dengan basa-basi di ruang percakapan (chatroom) yang 
tersedia dalam aplikasi. Ini pun tidak mudah. Pembahasan harus bisa terus 
mengalir. Pada intinya, diperlukan kesamaan di tingkat tertentu agar percakapan 
terus mengalir.

Bila percakapan di chatroom – ataupun percakapan telepon – bisa berjalan dengan 
lancar, langkah selanjutnya adalah meet-up (bertemu). Meski terkesan cocok 
ketika berkomunikasi jarak jauh, bukan tidak mungkin meet-up bisa berjalan 
tidak sesuai ekspektasi.

Bisa dibilang, tahap pertemuan ini menjadi penting. Pasalnya, di tahap ini, 
kita akan menyajikan diri kita yang sebenarnya secara fisik – bukan hanya suara 
atau foto yang mudah ditransmisikan melalui jaringan internet.

Tampaknya, tahap ini tengah diupayakan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang 
mungkin berusaha mendekati Presiden Rusia Vladimir Putin. Setelah sebelumnya 
bercakap-cakap melalui perangkat telepon, Jokowi dikabarkan akan berkunjung ke 
Rusia untuk bertemu dengan sosok pria yang kontroversial di belahan bumi Barat 
tersebut.

Pertemuan itu rencananya akan dilakukan pada 30 Juni 2022 mendatang. Sejumlah 
isu strategis dan ekonomi disebut akan menjadi pokok pembahasan antara Jokowi 
dan Putin.

Seperti tahap-tahap pendekatan di dating apps, langkah pertemuan ini bukan 
tidak mungkin akan menentukan nasib hubungan Jokowi dan Putin. Bahkan, 
kabarnya, pertemuan ini akan menentukan nasib dunia – yang mana kabarnya Jokowi 
akan membujuk Putin agar mengizinkan ekspor gandum Ukraina secara global.

 
Namun, bisa dibilang, pertemuan ini merupakan bentuk ketidaksabaran Jokowi 
untuk bertemu Putin. Pasalnya, sang presiden sebenarnya sudah berkunjung ke 
Sochi, Rusia, dan mengadakan pertemuan bilateral dengan presiden Rusia pada 
tahun 2016 silam. 

Seharusnya, giliran Putin yang berkunjung ke Indonesia untuk membalas kunjungan 
Jokowi. Kunjungan balasan ini rencananya akan dilakukan sekaligus menghadiri 
KTT G20 2022 di Bali pada November mendatang.

Lantas, mengapa Jokowi tampak terburu-buru mengunjungi Moskow dan bertemu 
dengan Putin? Apa yang sebenarnya diharapkan oleh Jakarta dari Kremlin?

Jokowi Butuh Putin?
Invasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina bisa dibilang telah membuat 
perekonomian dunia memburuk – dan ini menjadi salah satu situasi yang mengancam 
kepentingan Jokowi di Indonesia. Pasalnya, Jokowi sendiri merupakan presiden 
yang selalu mengutamakan ekonomi, perdagangan, dan investasi dalam kebijakan 
luar negerinya.

Bila menggunakan kategorisasi kepemimpinan diplomatik dari Corneliu Bjola dalam 
tulisan Diplomatic Leadership in Times of International Crisis, Jokowi bisa 
jadi jatuh dalam kategori diplomat the pragmatist – di antara dua lainnya yakni 
the maverick dan the congregator. Diplomat yang masuk dalam kategori tersebut 
adalah diplomat yang mengutamakan hubungan mutual dengan negara lain – yakni 
saling menguntungkan.
Bukan tidak mungkin, hubungan-hubungan menguntungkan yang diinginkan oleh sang 
diplomat pragmatis ini dapat terganggu dengan adanya tensi-tensi geopolitik 
yang sekarang terjadi di antara kekuatan-kekuatan besar, seperti Amerika 
Serikat (AS), Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan Rusia. Oleh karena itu, 
penting bagi pemerintahan Jokowi untuk menjaga otonomi strategisnya (strategic 
autonomy) – yakni bisa bebas menentukan hubungan mutual yang diinginkan tanpa 
terpengaruh kekuatan lain.

Bila kini Tiongkok dan AS berusaha mendekati pemerintah Indonesia, Jokowi bukan 
tidak mungkin ingin memainkan strategi lebih besar dengan menggandeng Rusia 
juga. Lagipula, Rusia kini juga menjadi salah satu kekuatan besar yang 
“memporak-porandakan” keseimbangan kekuatan di kawasan Eropa.

Rusia pun bisa memberikan manfaat tertentu bagi pemerintahan Jokowi. Dalam 
program pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan, misalnya, pemerintah 
Rusia telah menyatakan ketertarikannya untuk memberikan bantuan dalam 
pembangunan dan pengembangan IKN Nusantara. Belum lagi, Rusia disebut bisa 
menjual minyak dengan harga murah pada Indonesia.

 
Dengan manfaat yang bisa didapatkan, penting bagi Jokowi untuk melakukan 
strategi hedging (pembatasan). Mengacu pada tulisan Cheng-Chwee Kuik yang 
berjudul Getting Hedging Right, strategi hedging merupakan strategi yang 
dilakukan oleh sebuah negara untuk menjaga posisi tengah – dengan memainkan 
taktik-taktik lain seperti balancing (pengimbangan) dan bandwagoning (ikut 
serta).

Strategi hedging ini kerap dilakukan sejumlah negara-negara Asia Tenggara 
seperti Singapura. Negara-negara ASEAN ingin diri mereka tidak perlu memilih 
salah satu kekuatan geopolitik – seperti Tiongkok dan AS – agar bisa memiliki 
lebih banyak opsi-opsi skenario just-in-case (bila terjadi sesuatu).

Bukan tidak mungkin, Rusia menjadi jawaban Jokowi untuk menjaga strategi 
hedging yang dijalankannya. Namun, Rusia sendiri bisa dibilang tidak memiliki 
pengaruh sekuat Tiongkok maupun AS di kawasan Indo-Pasifik – baik secara 
ekonomi maupun keamanan. 

Maka dari itu, boleh jadi, Rusia bisa menjadi strategi yang lebih besar yang 
tengah dijalankan oleh Jokowi. Lantas, permainan apa yang sebenarnya tengah 
dimainkan oleh Indonesia? Lalu, mengapa Rusia yang dipilih?

Permainan Cemburu ala Jokowi?
Seperti yang kita ketahui, Rusia kini tengah menjadi sorotan dunia – khususnya 
di belahan bumi Barat. AS dan sekutu-sekutunya berusaha mengalienasi Rusia dari 
sistem internasional yang terbangun akibat konflik yang terjadi di Ukraina.

Berbagai sanksi pun dilontarkan oleh AS kepada Rusia. Bahkan, tidak jarang, 
Presiden AS Joe Biden mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menuding Putin 
sebagai pihak yang jahat.

Pernyataan-pernyataan seperti ini bukan tidak mungkin didasarkan pada emosi – 
melihat dari narasi-narasi di media dan publik yang mempersoalkan kekejian 
Rusia di perang Ukraina. Jelas saja apabila dikotomi antara sisi baik dan sisi 
jahat turut terbangun.

Mengacu pada tulisan Brent Sasley yang berjudul Emotions in International 
Relations, emosi merupakan salah satu komponen yang penting dalam politik 
antar-negara yang didasarkan pada perilaku dan tindakan negara-negara tersebut. 
Pasalnya, emosi lah yang mendasari perilaku mereka.
Pertemuan Jokowi dengan Putin, misalnya, bisa saja mempengaruhi emosi para 
pengambil kebijakan di Washington. Apalagi, Putin adalah sosok yang menjadi 
musuh publik utama bagi belahan bumi Barat.

 
Bukan tidak mungkin, rencana pertemuan ini merupakan signaling bagi 
pemerintahan Biden di AS. Sejalan dengan penjelasan Christer Jansson dalam 
Diplomacy, Communication and Signaling, sikap non-verbal seperti ini pun bisa 
menjadi pesan bagi negara-negara lain.

Namun, bila benar ini merupakan signaling Jokowi kepada Washington, pesan apa 
yang sebenarnya ingin disampaikan? Mengapa Jokowi bisa jadi ingin menyulut 
emosi Biden dan negara-negara Barat lainnya?

Seperti yang diketahui, selain menghadapi Rusia, pemerintahan Biden di AS juga 
harus menghadapi tensi geopolitik dengan raksasa lainnya, yakni Tiongkok. 
Indonesia pun menjadi salah satu komponen penting dalam strategi Indo-Pasifik 
AS.

Meski begitu, ada sentimen di antara negara-negara ASEAN – termasuk Indonesia – 
bahwa AS seperti ingin bertindak sendiri tanpa melibatkan mereka dalam 
menghalau pengaruh Tiongkok. Kehadiran pakta pertahanan antara AS, Britania 
(Inggris) Raya, dan Australia (AUKUS), serta Quadrilateral Security Dialogue 
(Quad) membuat peran Indonesia dan ASEAN seperti dilewatkan (bypassed) begitu 
saja.

Di sisi lain, ASEAN tidak ingin AS memaksa mereka untuk memilih salah satu 
pihak. Bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN, memilih salah satu pihak sama 
saja dengan membuat instabilitas kembali ke kawasannya layaknya era Perang 
Dingin.

Maka dari itu, Jokowi bukan tidak mungkin menyampaikan pesan kepada Washington 
dan Biden bahwa Indonesia bisa menentukan jalannya sendiri – salah satunya 
dengan berbicara dengan sosok yang paling mereka benci, yakni Putin. Siapa tahu 
dengan begitu “kecemburuan” pun muncul – mengingat Indonesia jadi salah satu 
mitra strategis AS?

Permainan cemburu seperti ini sebenarnya juga pernah dilakukan oleh Presiden 
Soekarno pada era Perang Dingin – khususnya terkait perebutan Irian Barat 
(sekarang Papua). Kala itu, Soekarno memberi tahu Washington bahwa dirinya akan 
dibantu oleh Uni Soviet untuk merebut Irian Barat. Sontak saja, AS langsung 
meminta Belanda untuk melepaskan Irian Barat.

Boleh jadi, strategi inilah yang tengah dimainkan oleh Jokowi. Harapannya, 
Biden di Washington bisa mendengarkan lebih baik aspirasi negara-negara ASEAN – 
sehingga tidak hanya sibuk sendiri membangun keamanan kolektif bersama Jepang, 
Australia, dan India.

Seperti manusia pada umumnya, negara pun bisa tergerak melalui emosi-emosi 
seperti rasa cemburu. Bukan tidak mungkin, layaknya sedang pendekatan dan 
pacaran, rasa cemburu seperti ini bisa membuat doi mendengarkan lebih baik. 
Bukan begitu? (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5D06D7C90F96468A99BF7E7AA94B353D%40A10Live.

Reply via email to