Biden Paksa Jokowi Beli Senjata?
Written byA43
Tuesday, June 21, 2022 19:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/biden-paksa-jokowi-beli-senjata/
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sebut pemerintahannya akan siap sedia 
untuk membela Republik Tiongkok (Taiwan) bila diserang oleh Republik Rakyat 
Tiongkok (RRT). Apakah Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu merasa khawatir atas 
pernyataan itu?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “But the real criminals are in suits and ties, selling arms to crazy 
countries around the world. War is profitable. Murder is profitable. You 
understand?” – Akala, “I Wonder” (2017)

Terkadang, perubahan keputusan kerap terjadi di ujung. Bagaimana tidak? Ketika 
sudah membulatkan tekad untuk memilih restoran yang dituju, muncul 
pertimbangan-pertimbangan lain yang akhirnya membuat opsi final berubah.

Mungkin, itulah yang kerap terjadi ketika tengah menyusun rencana kencan dengan 
pacar. Tidak jarang, keputusan diserahkan pada diri kita sedangkan dia selalu 
menolak opsi yang kita tawarkan.

Meski begitu, pada akhirnya, pilihan final pun harus ditentukan. Bagaimana pun, 
ketidakjelasan dan kesimpangsiuran tujuan perlu disudahi. Bila tidak, waktu dan 
energi pun akan terbuang dengan percuma.

Mungkin, hal-hal seperti itu yang ingin diakhiri oleh Presiden Amerika Serikat 
(AS) Joe Biden. Terangnya, pemerintah AS siap pasang badan untuk Republik 
Tiongkok (Taiwan) bila sewaktu-waktu Republik Rakyat Tiongkok (RRT/Tiongkok) 
datang menyerang Pulau Formosa tersebut.

Padahal, presiden-presiden AS sebelumnya selalu menjaga ketidakjelasan 
(ambiguitas) posisi negeri Paman Sam terkait Taiwan. Upaya untuk menjaga 
ambiguitas itu selama ini dijalankan agar bisa menjaga kepentingan AS dengan 
Tiongkok.

Pasalnya, mau tidak mau, AS membutuhkan Tiongkok kala itu. Sebagai salah satu 
ekonomi dan pasar yang besar, negara yang dikuasai oleh Partai Komunis Tiongkok 
(PKT) tersebut merupakan negara yang penting bagi AS dalam hal perdagangan.

Itulah mengapa AS terus menjaga kebijakan Satu Tiongkok (One China) – yakni 
hanya mengakui RRT sebagai satu-satunya negara Tiongkok yang berdaulat – yang 
telah diambilnya pada akhir dekade 1970-an. Ini juga berkaitan dengan posisi 
Tiongkok yang dianggap semakin kuat setelah perpecahan yang terjadi di Blok 
Timur antara Tiongkok dan Uni Soviet.

 
Meski begitu, AS tetap menjaga hubungan informal dengan Taiwan. Namun, seiring 
berjalannya waktu, ketegangan geopolitik terjadi di Selat Taiwan – antara 
Tiongkok dan Taiwan. 

Ambiguitas strategis (strategic ambiguity) AS akhirnya mulai berubah di bawah 
Presiden Biden. Ini membuat banyak pengamat menilai konflik antara dua raksasa 
– AS dan Tiongkok – bisa saja meletus.

Melihat situasi yang memanas di Selat Taiwan, apakah pemerintahan Joko Widodo 
(Jokowi) di Indonesia perlu mulai merasa khawatir? Lantas, mungkinkah situasi 
ini justru bisa menguntungkan pemerintah AS – bahkan termasuk bila berdampak ke 
Indonesia?

Strategi Rantai ala Biden?
Meski Tiongkok merupakan negara yang penting dalam hal ekonomi dan perdagangan, 
Taiwan tetaplah wilayah yang penting dalam hal strategis. Setidaknya, 
pentingnya Pulau Formosa ini menjadi semakin signifikan di tengah ketegangan 
geopolitik yang semakin memanas di kawasan Indo-Pasifik.

Kebangkitan Tiongkok di Indo-Pasifik memunculkan kekhawatiran. Bila tidak 
dibendung, bukan tidak mungkin arsitektur keamanan yang sudah eksis sejak lama 
akan berubah.
Hal paling nyata terlihat dari bagaimana Tiongkok terus meningkatkan 
pengaruhnya di Laut China Selatan (LCS). Padahal, terdapat negara-negara lain 
di Asia Tenggara yang turut mengklaim sebagian wilayah LCS.

Inilah mengapa diperlukan serangkaian geostrategi – strategi keamanan 
berdasarkan situasi dan kondisi geografis – guna menghalau Tiongkok. Untungnya, 
AS sudah memiliki strategi demikian sejak era Perang Dingin. Strategi itu 
adalah Strategi Rantai Pulau (Island Chain Strategy).

Strategi yang dicetuskan diplomat AS yang bernama John Foster Dulles pada tahun 
1951 ini dijalankan dengan menghalau pengaruh komunisme Uni Soviet dan Tiongkok 
agar tidak menyebar ke negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara lainnya. 
Strategi ini setidaknya memiliki tiga rantai pulau.

 
Rantai pertama terdiri dari Kepulauan Kuril (Jepang), Kepulauan Jepang, 
Kepulauan Ryukyu (Jepang), Taiwan, Filipina, dan Kalimantan (Malaysia dan 
Indonesia). Rantai pertama ini bisa dibilang menjadi rantai terdepan yang 
menghalau pengaruh Tiongkok di masa kini – khususnya Taiwan, Filipina, dan 
Kalimantan.

Sementara, rantai kedua terdiri atas Kepulauan Ogasawara (Jepang), Kepulauan 
Iwo (Jepang), Guam (AS), Yap (Mikronesia), Palau, dan Papua (Indonesia). Rantai 
kedua dipersiapkan bila rantai pertama mulai terbuka.

Terakhir, rantai ketiga terdiri dari Kepulauan Aleut (Alaska, AS) dan terus ke 
selatan membelah Samudra Pasifik melalui Kepulauan Hawaii (AS), Samoa Amerika 
(AS), Fiji, hingga Selandia Baru. Menariknya, ada sejumlah wacana agar 
ditambahkan rantai keempat (Maladewa dan Diego Garcia) dan kelima (Teluk Aden 
dan Tanduk Afrika) untuk menambah rantai penghalau Tiongkok yang terus 
bertumbuh pengaruhnya.

Namun, terlepas dari berapa rantai lagi yang akan dimunculkan, Taiwan tetaplah 
mata rantai utama di rantai pertama. Lokasinya yang hanya dipisahkan oleh selat 
dengan Tiongkok daratan membuat pulau ini semakin strategis.

Tidak heran apabila akhirnya Biden merasa perlu untuk mencegah jatuhnya Taiwan 
ke tangan Tiongkok daratan. Bisa jadi, Taiwan adalah pertaruhan strategis 
antara Biden dan pemerintahan Xi Jinping di Tiongkok yang bisa saja mengubah 
status quo di kawasan Indo-Pasifik.

Jika Biden sampai benar-benar rela harus masuk dalam konflik bersenjata dengan 
Tiongkok – andaikata Taiwan diserang, lantas, bagaimana dampaknya pada 
Indonesia? Apalagi, seperti yang diketahui, pemerintahan Jokowi kerap 
mempertahankan posisinya untuk tidak memilih salah satu kutub kekuatan antara 
AS dan Tiongkok.

Jokowi Terjebak Keinginan Biden?
Menariknya, mengingat geopolitik adalah politik yang didasarkan pada kondisi 
dan situasi geografis, sudah hampir pasti konflik di Selat Taiwan akan 
berdampak pada Asia Tenggara – termasuk Indonesia. Dengan ancaman keamanan yang 
meningkat, sudah hampir pasti pemerintahan Jokowi akan turut merespons.

Respons keamanan yang jelas akan muncul adalah peningkatan kekuatan 
masing-masing negara – khususnya kekuatan militer. Bagaimana pun, seperti apa 
yang dijelaskan John J. Mearsheimer dalam bukunya The Tragedy of Great Power 
Politics, situasi anarki dalam politik internasional membuat negara-negara 
berfokus menguatkan diri agar tidak merasa terancam.
 
Bila ancaman keamanan menjadi semakin nyata, bukan tidak mungkin kompleks 
keamanan kawasan (regional security complex) terbentuk – membuat negara-negara 
yang ada di kawasan tersebut turut terpengaruhi secara keamanan. Alhasil, akan 
ada semacam armament (upaya mempersenjatai diri) – yang mana nantinya 
negara-negara akan saling merasa terancam.

Semakin insecure kawasan tersebut, semakin banyak senjata dan kekuatan militer 
yang dibutuhkan. Solusinya pun adalah dengan menciptakan atau membeli senjata 
dari negara-negara produsennya – dalam hal ini AS.

Lagi-lagi, pada ujungnya, bisnis senjata lah yang akan mendapatkan dan 
kecipratan “cuan” dari adanya situasi tidak aman di kawasan Indo-Pasifik, 
khususnya Asia Tenggara dan Asia-Pasifik secara lebih luas. 

Sejumlah pakar pertahanan Indonesia – seperti Connie Rahakundini Bakrie – 
bahkan sudah mewanti-wanti bahwa Biden berniat untuk memindahkan situasi 
“Ukraina” ke Taiwan. Bila benar demikian, bukan tidak mungkin AS kembali yang 
bakal diuntungkan.

Dengan situasi tegang – tanpa konflik – saja, pemerintahan Jokowi sudah 
berkali-kali menyatakan ketertarikannya untuk berbelanja alat utama sistem 
pertahanan (alutsista) dari negeri Paman Sam. Bila perang meletus, Indonesia 
bisa membutuhkan lebih banyak karena, bagaimana pun, harus bisa mempertahankan 
diri bila ada skenario terburuk.

Seperti penjelasan Jordi Calvo Rufanges dalam tulisannya yang berjudul No 
Business Without Enemies, bisnis senjata membutuhkan konflik yang membara. Dan, 
bukan tidak mungkin, ini untuk kepentingan strategis pemerintah AS untuk 
menjual senjata-senjata yang mereka produksi.

Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act, misalnya, merupakan 
undang-undang (UU) yang menghalangi negara-negara untuk membeli senjata dari 
Rusia – yang mana sempat menjadi calon rekan bisnis senjata Indonesia. Alhasil, 
AS lah – atau setidaknya negara-negara Barat lainnya – yang akhirnya menjadi 
penjual utama di pasar alutsista.

Pada intinya, terlepas dari kepentingan strategis AS di Taiwan, bukan tidak 
mungkin Indonesia lah yang malah turut terjebak dalam tensi geopolitik – 
termasuk andaikata ada konflik – yang terjadi, yakni pembelian senjata dari AS. 
Alhasil, layaknya menentukan restoran mana yang akan dituju, pilihan finalnya 
pun tetap akan sama saja, yakni negeri Paman Sam. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C4B1CA444F5A4C16910404B277AAF5E5%40A10Live.

Reply via email to