Written byJ61Wednesday, June 22, 2022 17:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jenderal-dudung-panglima-selanjutnya/
Jenderal Dudung Panglima Selanjutnya?
Sinyal agaknya kian menguat bagi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana 
Yudo Margono untuk menjadi Panglima TNI selanjutnya. Namun, jalan terjal masih 
ada di hadapan Yudo ketika Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) juga punya peluang 
yang sama kuat.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono belum lama ini 
seolah menjalin relasi dengan makna simbolis saat meresmikan penamaan kapal 
kepresidenan baru, yakni KRI Bung Karno-369.

Ya, dalam prosesi itu, KSAL tampil hangat bersama Presiden RI Kelima yang juga 
Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri. Ditambah, sebelumnya Laksamana 
Yudo juga menyajikan romansa legacy Presiden RI pertama Soekarno saat hari 
ulang tahun (HUT) Penerbal pada 17 Juni lalu.

Pada kesempatan itu Laksamana Yudo terlihat menaiki replika Land Rover yang 
pernah dinaiki Bung Karno kala meresmikan Pangkalan Udara TNI AL (Lanudal) 
Juanda, Surabaya pada 12 Agustus 1964 silam.

KSAL mengungkapkan bahwa semangat Bung Karno merupakan inspirasi bagi segenap 
prajurit TNI AL yang dipimpinnya.

Secara khusus, gestur dan jalinan relasi tersebut tampak dibangun berdekatan 
dengan kian dekatnya pergantian Panglima TNI dari Jenderal Andika Perkasa yang 
akan purna tugas pada akhir tahun ini.

 
Meskipun fairness rotasi matra semestinya membuat Laksamana Yudo berpeluang 
besar menjadi suksesor Jenderal Andika, tak lantas membuat kemungkinan calon 
lain seperti Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman 
tertutup sepenuhnya.

Lalu, mengapa romantisasi sejarah Soekarno yang diperagakan Laksamana Yudo 
dapat dimaknai sebagai salah satu pembuka jalannya menjadi Panglima TNI 
berikutnya?

Megawati Adalah Kunci?
Bukan merupakan rahasia bahwa jabatan Panglima TNI kiranya tak bisa dilepaskan 
dari aspek politis. Tak melulu bermakna kurang positif, Nicholo Machiaveli 
dalam Il Prince menyiratkan bahwa keberadaan orang-orang kepercayaan di dalam 
lingkaran kekuasaan cukup esensial agar penguasa dapat melakukan kendali dan 
melaksanakan kebijakan dengan lebih mudah.

Satu perspektif konkret pun eksis dari Peneliti Badan Riset dan Inovasi 
Nasional (BRIN) Muhamad Haripin. Dia menekankan bahwa sistem presidensial yang 
dianut Indonesia saat ini tak bisa dilepaskan dari dinamika multi-partai di 
parlemen.

Prasyarat itu ia nilai secara otomatis membuat TNI, meski telah dua dekade 
lebih melepas karakteristik Dwifungsi ABRI, tetap menjadi pengungkit politik.

 
Dalam konteks penjelasan nuansa membangkitkan keteladanan mantan Presiden 
Soekarno yang terlihat dari Laksamana Yudo, Eric Posner dalam publikasi 
berjudul Symbols, Signals, and Social Norms in Politics and The Law menuturkan 
bahwa suatu tindakan memiliki makna dan sinyal politis tertentu yang 
dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah sejarah.

Afirmasi dari sang putri, Megawati Soekarnoputri lantas menjadi esensial jika 
berkaca pada ketokohan dan pengaruhnya dalam blantika politik dan pemerintahan 
saat ini sebagai pucuk pimpinan partai penguasa.

Shahla Haeri dalam Unforgettable Queens of Islam menjelaskan lebih dalam 
mengenai esensi pengaruh Megawati. Dia bahkan mempatkan ibunda Ketua DPR RI 
Puan Maharani itu dalam satu bab khusus yang spesifik membahas bagaimana 
progres kekuasaan dan posisi politiknya.

Haeri mengibaratkan sosok Mega sebagai Limbuk dalam pewayangan, yang dikenal 
sebagai pribadi yang ceplas-ceplos dengan daya nalar tak signifikan tetapi bisa 
menjadi jalan penghubung ke banyak pihak.

Dalam publikasi itu, dia juga menyebut bahwa sosok Limbuk itu lantas 
bertransformasi menjadi seorang ratu yang telah memiliki kuasa. Di era politik 
dan pemerintahan kontemporer, karakteristik itu kiranya dapat terlihat pula 
dari relasi antara Megawati dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), maupun tokoh 
kunci lain dalam kekuasaan.
Dengan kata lain, Megawati merupakan tokoh ideal yang dapat melakukan 
endorsement atau fasilitator dalam beberapa aspek esensial.

Tak hanya Laksamana Yudo, gestur serupa juga belakangan kerap terlihat dari 
orang-orang kepercayaan serta mereka yang memiliki kedekatan dengan Megawati 
dalam institusi pertahanan dan keamanan.

Menetralkan politik de-Soekarno-isasi agaknya menjadi tajuk utama di baliknya. 
Ihwal tersebut paling awal tampak pada November 2020 silam saat Megawati 
meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim untuk 
meluruskan catatan sejarah seputar situasi yang terjadi pada tahun 1965.

Megawati menilai bahwa ada sejumlah hal yang hilang dalam catatan sejarah 
Indonesia, khususnya pada periode 1965. Eksistensi politik de-Soekarno-isasi 
yang dimulai sejak kepemimpinan Presiden Soeharto menjadi gagasan inti yang 
disinggung dan agaknya menjadi fokus yang ingin dikedepankan Megawati.

Asvi Warman Adam, sejarawan dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 
(LIPI) menuturkan bahwa salah satu versi peristiwa G30S memang bermuara pada 
de-Soekarno-isasi, yaitu menjadikan Sang Proklamator sebagai dalang peristiwa 
dan bertanggung jawab atas segala dampak tragedi berdarah itu.

Skenario memang tak mengenakkan bagi Soekarno setelah pidato pembelaannya yang 
bertajuk Nawaksara ditolak Sidang Umum MPRS pada 22 Juni 1966. Dinamika politik 
setelahnya kemudian berujung pada “isolasi” yang dilakukan Soeharto pada 
Soekarno, hingga akhir hayatnya.

Belakangan, tampak gencar memang upaya untuk menetralkan politik 
de-Soekarno-isasi warisan Soeharto yang datang dari para aktor politik dan 
pemerintahan. Selain dari aspek kurikulum pendidikan via Nadiem, aktualisasi 
secara figuratif juga terlihat dari pembangunan patung dan penamaan sejumlah 
fasilitas institusi – utamanya pertahanan dan keamanan – dengan nama Putra Sang 
Fajar.

Artinya, apa yang dilakukan Laksamana Yudo kiranya memiliki urgensi plus 
signifikansi tersendiri di titik ini.

Lantas, pertanyaan berikutnya mengemuka. Apakah KSAL benar-benar merupakan 
sosok ideal sebagai Panglima TNI?

 
Ada Efek Dudung dan Luhut?
Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa meskipun rotasi matra membuat 
peluang Laksamana Yudo terbuka untuk menggantikan Jenderal Andika sebagai 
Panglima TNI, peluang kandidat lain kiranya tak lantas tertutup.

Apalagi, pertimbangan siapa pengganti berikutnya untuk mengawal tahun politik 
2024 agaknya akan menjadi salah satu yang jadi hal yang fundamental.

Nama KSAD Jenderal Dudung Abdurachman – yang purna tugas serupa dengan KSAL di 
tahun 2023 – dinilai tidak bisa begitu saja dikesampingkan jika berkaca pada 
pergantian matra dalam kepemimpinan TNI bukanlah hal yang saklek secara 
konstitusi.

Melakukan analisis pada dua kandidat kiranya menjadi menarik, paling tidak 
dalam memproyeksikan sejauh mana peluang keduanya, mengingat masa purna tugas 
yang juga serupa.

Pertama, dari sisi Laksamana Yudo. Abiturien Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 
1988 itu terkesan cukup positif di mata publik mengingat kinerjanya yang jauh 
dari tendensi intrik politis selama menjabat.

Di samping keunggulan rotasi matra dan citranya yang netral, KSAL pun sempat 
dikabarkan lebih “disenangi” Jenderal Andika untuk meneruskan tongkat 
estafetnya.
Sementara, KSAD Jenderal Dudung juga memiliki peluang mengingat reputasinya 
yang justru seolah berkebalikan dengan Laksamana Yudo. Sejak mendirikan patung 
Bung Karno saat menjadi Gubernur Akademi Militer (Akmil) dan membuat Megawati 
terkesan, karier Jenderal Dudung melesat dan kian moncer kala berani 
berkonfrontasi dengan Front Pembela Islam (FPI) dan Habib Rizieq Shihab (HRS).

Menaikkan Jenderal Dudung ke posisi Panglima TNI plus menelurkan jenderal 
bintang empat sebagai KSAD baru juga agaknya cukup ideal mengingat “kebutuhan” 
matra darat untuk menjadi Panglima TNI berikutnya dalam konteks stabilitas di 
tahun politik.

Di titik ini, suksesor Jenderal Dudung kemudian jadi menarik untuk pula 
dianalisis mengingat posisi bintang tiga matra darat potensial cukup banyak di 
tahun 2023.

Menurut Direktur ISESS sekaligus anggota tim Penelitian dan Pengembangan 
(Litbang) PinterPolitik Khairul Fahmi, tercatat ada nama Letjen Maruli 
Simanjuntak yang saat ini menjabat sebagai Pangkostrad, Mayjen Widi 
Prasetijono, dan Letjen Agus Subiyanto yang berpeluang mengisi jabatan KSAD. 
Ketiganya memiliki rekam jejak dan kemiripan sebagai perwira “Istana” maupun 
perwira “Solo”.

Maruli menjadi sosok berbeda dari dua nama lain karena merupakan menantu 
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut 
Binsar Pandjaitan. Kanupriya Kapoor dalam Indonesian President Treads Fine Line 
by Empowering Chief of Staff menyebut bahwa Luhut merupakan semacam “bemper” 
bagi Presiden Jokowi dari berbagai tekanan politik dan kelompok kepentingan.

Di samping prestasinya, faktor non-teknis itu dianggap sejumlah pihak membuat 
Maruli menasbihkan diri sebagai Pangkostrad termuda plus jenderal bintang tiga 
termuda di TNI saat ini.

Akan tetapi, Fahmi menambahkan bahwa jika berbicara mengenai proyeksi Panglima 
TNI, “faktor Luhut” boleh jadi juga akan menjadi pisau bermata dua yang 
kemungkinan justru jadi penghambat.

Tak lain, hal itu dikarenakan potensi perbedaan kepentingan antara Luhut dengan 
PDIP maupun Megawati di 2024. Belum termasuk dari aspek keyakinan yang sempat 
membayangi pencalonan Kapolri Listyo Sigit Prabowo beberapa waktu lalu.

Selain itu, Luhut pun kerap terlibat ketegangan dengan PDIP dalam sejumlah hal 
seperti isu tiga periode hingga persoalan rangkap jabatan.

Satu hal teranyar yang cukup menarik kembali datang dari Megawati. Meskipun 
tampak terkesan dengan upaya menetralkan de-Soekarno-isasi yang dilakukan 
Laksamana Yudo, curhat Mega di rapat kerja nasional (Rakernas) PDIP kemarin 
agaknya memberikan satu sinyal tertentu.

Ketum PDIP itu menceritakan bahwa pekikan “merdeka”-nya di acara penamaan KRI 
Bung Karno yang dihelat TNI AL sempat disambut dengan keraguan. Kisah itupun 
disampaikan di depan Presiden Jokowi yang memiliki privilese untuk mencalonkan 
nama Panglima TNI.

Di atas semua itu, siapapun yang nantinya menjadi Panglima TNI diharapkan terus 
menjaga profesionalisme dalam melaksanakan tugasnya dan dapat memberikan solusi 
atas semua persoalan yang dihadapi institusi kepercayaan rakyat itu. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DDAB2C0FD2EC403AB237AA7865D971FB%40A10Live.

Reply via email to