Written byA43Thursday, June 23, 2022 08:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bukan-jokowi-tapi-gibran/
Bukan Jokowi, Tapi Gibran?
Nama Gibran Rakabuming Raka seakan-akan mencuat secara tiba-tiba di kalangan 
elite politik. Baik Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketum 
PDIP Megawati Soekarnoputri, hingga Ketua DPR RI Puan Maharani disebut 
mendorong Wali Kota Solo tersebut untuk mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala 
Daerah (Pilkada) 2024.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Tuk-tik-tak-tik, tuk-tik-tak, suara sepatu kuda” – Ibu Sud, “Naik Delman”

Ambisi untuk mengejar posisi pertama memang penting ketika berpartisipasi dalam 
sebuah balapan. Namun, mimpi untuk menjadi juara tidaklah selalu terwujud.

Setidaknya, itulah situasi yang dihadapi oleh Aureole kala mengikuti pacuan 
kuda Coronation Stake pada tahun 1954. Namun, salah satu kuda paling populer 
dalam sejarah Britania (Inggris) Raya itu berhasil mendapatkan posisi pertama 
kala mengikuti Victor Wild Stakes.

Sebenarnya, pacuan kuda bukanlah dunia yang baru bagi kuda yang berwarna 
cokelat terang tersebut. Kuda yang dibesarkan oleh Raja George VI merupakan 
salah satu kuda favorit monarki Inggris saat ini, yakni Ratu Elizabeth II.

Tidak hanya di pacuan kuda, Aureole juga berhasil membuat namanya tenar di 
layanan streaming bernama Netflix – khususnya di seri berjudul The Crown 
(2016-sekarang). Dalam seri tersebut, Sang Ratu alias Lilibet menjadi sosok 
monarki yang suka berkuda sebagai hobinya.

Mungkin, terinspirasi oleh Lilibet, Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo 
Subianto juga menghabiskan waktu hobinya dengan berkuda. Bahkan, meski sudah 
berusia 52 tahun kala itu, Prabowo tetap kukuh untuk belajar menaiki kuda.

Kini, Prabowo telah menyentuh usia 70 tahun. Boleh jadi, ini adalah saat yang 
tepat bagi sang Menteri Pertahanan (Menhan) untuk menyalurkan ilmu dan 
kemampuan berkudanya pada generasi yang lebih muda – dan bukan tidak mungkin 
pilihan itu jatuh kepada Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.

Gibran merupakan putra dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mungkin, sebagai 
putra dari sahabatnya, Prabowo ingin mengenal Gibran secara lebih dekat.

Namun, tampaknya penyaluran ilmu dan kemampuan dari Prabowo kepada Gibran bukan 
hanya dilakukan dalam dunia equestrianism, melainkan juga di dunia politik. 
Bagaimana tidak? Prabowo memberikan saran kepada Gibran agar maju dalam 
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 – entah itu di DKI Jakarta maupun di 
Jawa Tengah (Jateng).

 
Uniknya, saran demikian kepada Gibran tidak hanya datang dari Prabowo, 
melainkan juga dari sejumlah elite politik seperti Ketum PDIP Megawati 
Soekarnoputri dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani. Nama Gibran seakan-akan tunas 
yang tiba-tiba muncul untuk mengisi kursi DKI-1.

Makin bersinarnya nama Gibran di saat-saat seperti ini menjadi unik. Pasalnya, 
meski namanya sempat diwacanakan di Pilkada DKI Jakarta sejak lama, pengusungan 
nama Gibran tampaknya menjadi semakin deras akhir-akhir ini.
Mengapa nama Gibran tiba-tiba bersinar begitu saja di tengah dinamika politik 
yang semakin panas menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2024? Mungkinkah Gibran 
menjadi kunci utama bagi para elite politik?

Gibran, Anak Kesayangan Jokowi?
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa cinta dan kasih sayang orang tua kepada 
anak-anaknya jauh lebih besar dibandingkan cinta dan kasih sayang mereka pada 
orang tua. Orang tua akan selalu siap sedia untuk memberikan segalanya demi 
anak-anaknya.

Benar saja. Orang tua mana yang tidak ingin anak-anaknya bisa sukses dan 
berhasil dalam kehidupan? 

Cara berpikir demikian menjadi wajar apabila mengacu pada penjelasan Paul 
Bou-Habib dalam tulisannya yang berjudul The Moralized View of Parental 
Partiality. Setidaknya, parsialitas orang tua (parental partiality) – tendensi 
untuk parsial kepada anak sendiri ini – membuat mereka rela memberikan sumber 
yang lebih kepada anak-anak mereka.

Tentunya, parsialitas ini bisa saja tersalurkan dalam banyak aspek kehidupan. 
Salah satunya pun adalah dunia politik.

Tidak dipungkiri, dalam kehidupan sosial manusia, keluarga adalah kesatuan 
paling esensial karena dalam satuan sosial inilah semua kehidupan sosial itu 
sendiri dimulai. Proses internalisasi, misalnya, dimulai dalam satuan sosial 
ini.

 
Maka dari itu, menjadi wajar apabila perasaan sayang dan cinta (love) juga 
hadir dalam satuan sosial ini. Selanjutnya, tipe kasih sayang dalam keluarga 
(storge) seperti ini tentu bisa berdampak pada dimensi politik.

Bukan tidak mungkin, rasa sayang orang tua pada anak-anaknya inilah yang 
membuat Presiden Soeharto dulu dikenal dengan praktik nepotismenya kepada 
anak-anaknya. Pada tahun 1980-an, misalnya, mengacu pada buku Stefan Eklöf yang 
berjudul Indonesian Politics in Crisis, putra-putri Presiden Soeharto mampu 
membangun konglomerat yang lebih didasarkan pada hubungan keluarga.

Tidak hanya di dunia bisnis, dinasti politik pun dinilai juga dibangun 
berdasarkan favoritisme sang orang tua pada anak-anak mereka. Fenomena-fenomena 
seperti ini sering terjadi di negara-negara Asia Tenggara, seperti Filipina dan 
Indonesia.

Bila berkaca pada parental partiality yang disebutkan tadi, bukan tidak mungkin 
parsialitas yang sama juga ada di antara Jokowi dan Gibran. Nama Gibran bisa 
saja menjadi kunci bagi para elite politik untuk mempengaruhi Jokowi.

Lagipula, Jokowi sebagai presiden dinilai pandai membangun koalisi – seperti 
yang dijelaskan Kishore Mahbubani dalam tulisannya yang berjudul The Genius of 
Jokowi. Bisa jadi, kecerdikan Jokowi inilah yang membuat dirinya semakin 
berpengaruh di antara elite-elite politik.

Namun, muncul pertanyaan lanjutan. Mengapa baru sekarang nama Gibran mencuat 
lagi untuk diusung di Pilkada 2024? 
\Meski sebelumnya telah diwacanakan, baru kali ini elite-elite politik sekelas 
Megawati dan Prabowo mendorong Gibran secara langsung. Mungkinkah ada manuver 
lain di balik pengusungan Gibran ini?

Manuver Taktis Pengaruhi Jokowi?
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, rasa sayang orang tua kepada anak tidaklah 
bisa diremehkan. Ini pun dijelaskan melalui konsep yang disebut sebagai 
parental partiality. 

 
Bukan tidak mungkin, parsialitas ini turut mempengaruhi dinamika “permainan” 
politik di Indonesia – yang mana kerap kental dengan istilah-istilah seperti 
“dinasti politik” dan “trah”. Setidaknya, sejumlah kutub kekuatan politik 
domestik di Indonesia turut dipengaruhi oleh favoritisme orang tua kepada 
anak-anak mereka.

Namun, parsialitas ini bisa saja berpengaruh pada situasi politik terkini, 
yakni tawar-menawar dalam menentukan dinamika koalisi menuju Pemilihan Presiden 
(Pilpres) 2024. Seperti yang diketahui, partai-partai politik kini tengah 
menjalankan negosiasi-negosiasi serupa.

Dinamika ini bukan tidak mungkin melibatkan banyak pihak. Salah satunya bisa 
saja adalah Presiden Jokowi yang disebut-sebut menjadi kingmaker di balik 
Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). 

Tentunya, dalam dinamika negosiasi, diperlukan taktik-taktik tertentu untuk 
memperoleh hasil (outcome) terbaik. Meminjam strategi negosiasi yang biasa 
digunakan dalam politik antar-negara, mengacu pada buku The Mediator’s Handbook 
karya John W. Cooley, diperlukan daya tawar (leverage) yang mumpuni. 

Bukan tidak mungkin, Prabowo dan Megawati berusaha mengooptasi parsialitas 
orang tua dari Jokowi untuk dijadikan leverage dalam negosiasi-negosiasi 
selanjutnya. Lagipula, emosi secara tidak langsung akan mempengaruhi 
keputusan-keputusan yang diambil oleh Jokowi. 

Apalagi, dinamika koalisi masih bisa berubah dengan sejumlah elite politik 
dinilai masih berusaha meningkatkan poin-poin koalisi mereka masing-masing. 
Sejumlah partai politik masih saling mencari “perahu” koalisi. 

Mengacu pada artikel PinterPolitik.com yang berjudul Prabowo dan Megawati Pasti 
Kandas?, para elite seperti Prabowo dan Megawati bahkan ditengarai sedang 
berupaya untuk berpecah kongsi. Bukan tidak mungkin, Gibran – dan Jokowi – bisa 
jadi pion leverage di antara dinamika yang terjadi antara Prabowo dan Megawati.

Lagipula, seperti pacuan kuda, mereka akan meningkatkan kemampuan untuk 
mengungguli satu sama lain dalam kompetisi. Apakah mungkin Gibran menjadi salah 
satu jagoan yang bisa diandalkan? Who knows? (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4EE2D98EC24B481ABE19784792CA341C%40A10Live.

Reply via email to