Penemu Kromosom 23, Pria Kelahiran Pekalongan
BR
Bagus Ramadhan
13 OKTOBER 2015 10.54 WIB • 1 MENIT
  a..         a..  Ilmu genetika modern saat ini dianggap sebagai salah satu 
bidang eksplorasi sains yang masih penuh misteri. Berbagai penyakit baru dapat 
teridentifikasi melalui penelitian genetika yang rumit. Namun siapa sangka 
ternyata ilmuwan yang lahir di Indonesia memiliki peran besar dalam 
perkembangan genetika. Dia adalah Joe Hin Tjio.

Ilmuwan yang lahir di Pekalongan 2 November 1919 ini menemukan jumlah 
sebenarnya dari kromoson manusia pada tahun 1955 yang lalu di Swedia, ketika 
dirinya hanya menjadi ilmuwan tamu. Penemuannya saat itu membuat gempar dunia 
ilmu pengetahuan karena saat itu para ilmuwan sangat mempercayai bahwa kromosom 
yang dimiliki manusia adalah berjumlah 24 bukan 23 seperti yang ditemukan oleh 
Joe Hin Tjio bersama dengan Albert Levan yang berasal dari Spanyol. Lalu siapa 
sebenarnya Joe Hin Tjio?

Menurut ensiklopedia Britannica Tjio kecil yang lahir dari keluarga Cina, 
bersekolah di sekolah penjajah Belanda, kemudian sempat mendalami fotografi 
mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang fotografer profesional. Namun Tjio 
memutuskan untuk kembali bersekolah di bidang pertanian dengan kuliah di 
Sekolah Ilmu Pertanian di Bogor, waktu itu Tjio berusaha mengembangkan tanaman 
hibrida yang tahan terhadap penyakit.

Sejak berkuliah itulah Tjio mendapatkan pondasi ilmu genetika. Sempat dipenjara 
selama tiga tahun saat masa pendudukan Jepang, Tjio melanjutkan pendidikannya 
ke Belanda melalui program beasiswa. Ia melanjutkan kembali studinya mengenai 
cytogenetik tanaman dan serangga hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut. 
Kemudian Tjio menghabiskan waktu 11 tahun di Zaragoza setelah pemerintah 
Spanyol mengundangnya untuk melakukan studi dalam program peningkatan mutu 
tanaman. Di sela-sela liburannya, Tjio pun nyambi riset di Institute of 
Genetics di Lund Swedia dan tertarik untuk meneliti jaringan sel mamalia. Di 
sinilah penemuannya yang menghebohkan itu ia lakukan.



Pada tahun 1955, Tjio menemukan teknik yang baru untuk memisahkan kromosom dari 
inti (nukleus) sel, karena itu dirinya digelari sebagai bapak dari ilmu 
cytogenetik modern –ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan 
aktifitas kromosom serta mekanisme hereditas– yang merupakan sebuah cabang 
utama ilmu genetika.

Penelitiannya yang lain di tahun 1959 menemukan bahwa orang-orang yang terkena 
Down Syndrome ternyata memiliki tambahan kromosom dalam sel-sel mereka. Di sisa 
37 tahun terakhir karirnya, Tjio bekerja di NIH (National Institute of Health) 
Washington. Di sana Tjio mengkompilasi koleksi-koleksi foto-foto ilmiah yang 
mendokumentasikan penelitian-penelitiannya yang luar biasa. Ternyata bakat 
fotografi terpendamnya tersalurkan juga di NIH.

Prestasi Tjio pun tak bisa dipandang remeh, bahkan sangat membanggakan, 
terbukti dengan anugerah Outstanding Achievement Award dari Presiden Kennedy 
tahun 1962. 25 hari setelah ultahnya yang ke-82 Tjio tutup usia tanggal 27 
November 2001, di Gaithersburg, Maryland, Amerika.

sumber: IndonesiaProud




https://www.goodnewsfromindonesia.id/2015/10/13/penemu-kromosom-23-pria-kelahiran-pekalongan

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7F149C17E84F4010BCA396D88C968F74%40A10Live.

Reply via email to