Written byD74Thursday, June 23, 2022 18:19

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kiamat-ekonomi-jokowi-dari-karawang/
“Kiamat Ekonomi” Jokowi dari Karawang?
Perbincangan tentang resesi ekonomi menjadi hal yang menarik sekaligus ditakuti 
oleh publik. Sementara, Indonesia mulai mengalami gejala-gejala memburuknya 
keadaan ekonomi, seperti fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran 
di Karawang, Jawa Barat. Perlukah ini kita waspadai? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com  

Perbincangan ancaman krisis ekonomi telah menjadi hantu yang menggerayangi 
seluruh negara di dunia saat ini. Banyak negara yang diduga akan jatuh ke masa 
resesi dan beberapa bahkan sudah mulai mengalami dampak buruk langsung krisis 
ekonomi pada politik – contohnya seperti Sri Lanka yang Perdana Menterinya (PM) 
bahkan terpaksa harus mundur akibat permasalahan ekonomi. 

Keadaan dunia yang seperti ini tentu membuat kita perlu berkaca pada Indonesia. 
Apakah kita juga akan menghadapi hal yang sama? 

Well, apa pun jawaban pastinya, yang jelas Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah 
mulai mewanti-wanti tentang semakin nyatanya krisis ekonomi dunia. Ketika 
mengisi acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Demokrasi 
Indonesia-Perjuangan (PDIP) pada 22 Juni 2022, Jokowi mengungkapkan bahwa – 
menurut data yang diperolehnya dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional 
(IMF) – saat ini ada 60 negara di dunia yang terancam “ambruk” akibat krisis. 

Jokowi pun tidak lupa memberikan pesan waspada terhadap potensi menyebarnya 
permasalahan ekonomi dunia ke aktivitas di Indonesia. Sektor energi, pangan, 
dan keuangan, menurut Jokowi, harus menjadi perhatian bersama-sama karena, jika 
ketiga hal itu mulai bermasalah, krisis akan sangat mungkin terjadi. 

Terkait itu, meski obrolan tentang bahaya resesi ekonomi Indonesia yang semakin 
dekat masih jarang dibahas, sepertinya kita sudah mulai disajikan beberapa 
petunjuk bahwa keadaan ekonomi sebenarnya sedang dalam kondisi yang tidak baik. 

Belum lama ini, dikabarkan bahwa ada ratusan perusahaan telah gulung tikar di 
Karawang, Jawa Barat. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Karawang 
Abdul Syukur mengatakan sampai saat ini hanya ada 900 perusahaan yang masih 
bertahan di Karawang. Padahal, pada tahun 2018, jumlah perusahaan di Karawang 
tercatat ada 1.762.  

Masalah utamanya dipercaya akibat upah minimum kabupaten/kota (UMK) Karawang 
yang begitu tinggi. Akibatnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi secara 
besar-besaran dan, bahkan, ini diduga berdampak langsung pada peningkatan 
tingkat perceraian yang ikut naik di Karawang. 

David Rodeck dalam tulisannya What Is a Recession? di laman Forbes mencatat 
bahwa peningkatan pengangguran yang signifikan dalam waktu dekat adalah salah 
satu rambu merah terjadinya resesi. 

Bila benar demikian, mengapa pembicaraan mengenai bahaya resesi sampai saat ini 
masih sangat minim di Indonesia? Padahal, kita memiliki pengalaman pahit krisis 
moneter 1998 (Krismon 98). 

 
Pemerintah “Buta” Krisis? 
Meski Krismon 98 sering dianggap sebagai krisis ekonomi besar yang terjadi 
secara tidak terduga akibat rantaian peristiwa finansial internasional, 
kenyataannya krisis yang memulai era Reformasi di Indonesia tersebut hanyalah 
akumulasi dari sejumlah permasalahan ekonomi kecil yang sudah terjadi sebelum 
tahun 1998. 

Wakil Presiden (Wapres) Indonesia ke-11 Boediono dalam bukunya Ekonomi 
Indonesia Dalam Lintasan Sejarah mencatat bahwa salah satu alasan sesungguhnya 
kenapa Krismon 98 bisa terjadi sedemikian liarnya adalah karena buruknya sistem 
perbankan Indonesia yang sudah diterapkan selama sekian tahun.  

Ketika itu, Boediono menilai bahwa perbankan Indonesia tidak memiliki sistem 
early warning atau siaga awal yang baik. Sebelum tahun 1998, sudah banyak bank 
yang memiliki permasalahan modal.  
Oleh sebab itu, ketika rupiah tertekan akibat krisis Asia, bank-bank tidak bisa 
berbuat apa-apa karena banyak perusahaan yang meminjam modal dalam bentuk 
valuta asing. Menariknya, petunjuk-petunjuk krisis ini terjadi ketika Indonesia 
memasuki masa “lepas landas” – karena memiliki pertumbuhan ekonomi yang dinilai 
pesat.  

Karena kenyataan itu, ekonom Galina Hale dalam tulisannya Could We Have Learned 
from the Asian Financial Crisis of 1997-98? mengatakan bahwa sesungguhnya 
Krismon 98 dapat dihindari jika saja para investor dan pembuat kebijakan di 
Indonesia tidak mengabaikan beberapa tanda peringatan krisis ekonomi.  

Dari pemahaman ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa, berbeda dengan suatu 
bencana alam yang tidak bisa ditebak, bencana finansial sesungguhnya jauh lebih 
mudah untuk diprediksi. Petunjuk-petunjuk permasalahan ekonomi seharusnya bisa 
kita deteksi terlebih dahulu karena suatu krisis finansial besar tidak mungkin 
terjadi tanpa akumulasi masalah-masalah finansial kecil. 

Pendapat serupa disampaikan juga oleh analis risiko finansial sekaligus penulis 
buku The Black Swan, Nassim Nicholas Taleb. Dalam artikelnya yang berjudul Why 
Did The Crisis of 2008 Happen? Taleb menilai bahwa, secara keseluruhan, segala 
krisis ekonomi yang pernah terjadi pada umat manusia mayoritas disebabkan 
karena minimnya kesadaran akan keadaan ekonomi yang sebenarnya dan abainya 
pemerintah dalam mendeteksi sekaligus mengatasi akar-akar permasalahan ekonomi 
besar. 

Di dalam dunia ekonomi, dampak dari risiko-risiko yang terabaikan tetapi mampu 
menjadi pemantik krisis besar disebut sebagai fat-tail effect. Umumnya, di atas 
kertas, keadaan perekonomian dapat diprediksi, berdasarkan sekian kalkulasi, 
suatu investasi diharapkan dapat “balik modal” dalam waktu sekian tahun, 
misalnya. 

Namun, dalam dunia nyata, keadaan ekonomi dipengaruhi juga oleh beberapa faktor 
yang umumnya tidak tercantum dalam kalkulasi awal, taruhlah seperti peningkatan 
harga minyak dunia yang tiba-tiba, tensi geopolitik, PHK besar-besaran, dan 
fluktuasi perilaku masyarakat. Hal-hal ini kemudian menjadi fat-tail effect 
ketika memiliki pengaruh yang cukup dalam mengakibatkan suatu miskalkulasi 
finansial. 

Sederhananya, karena kita melewatkan satu variabel penting dalam menganalisis 
kestabilan ekonomi, kita akhirnya malah menggunakan kalkukasi yang 
“tercacatkan” oleh fat-tail effect. 

Namun, dalam sebuah artikel wawancara di laman The New Yorker, Taleb 
mengungkapkan bahwa sebenarnya banyak pihak – termasuk pemerintah dan investor 
– yang sebenarnya sudah memprediksi suatu krisis akan terjadi tetapi memang 
tidak berbuat apa-apa untuk mencegahnya.  

Hal ini dicontohkan Taleb dengan persoalan pandemi Covid-19, yang dari tahun 
2019 sesungguhnya sudah ada beberapa pihak yang khawatir itu akan menjadi 
pandemi global. Namun, anehnya, seluruh pemerintah dunia mengabaikan 
peringatan-peringatan itu – sampai akhirnya keadaan sudah terlambat. 

Lantas, mengapa penanganan krisis kerap terlambat ditangani? 
 
Layaknya Katak yang Direbus? 
Ada sebuah anekdot menarik yang ditulis oleh novelis Daniel Quinn dalam bukunya 
The Story of B. Di dalamnya, Quinn bercerita bahwa jika Anda menaruh seekor 
katak di sebuah panci yang berisi air mendidih, maka katak tersebut secara 
panik pasti akan loncat untuk menyelamatkan dirinya. 

Namun, jika Anda meletakkan katak itu dengan hati-hati di dalam panci berisi 
air hangat dan kecilkan apinya, ia akan tetap mengapung dengan tenang. Saat air 
mulai memanas, katak itu akan tenggelam dalam keadaan pingsan yang tenang, dan 
tak lama kemudian, dengan senyum di wajahnya, katak itu akan membiarkan dirinya 
direbus sampai mati. 

Anekdot ini layaknya pas jika kita menggunakannya untuk menjelaskan mengapa 
pemerintah kerap terlambat merespons suatu keadaan genting meskipun itu dapat 
berakibat fatal di negaranya. Kembali berkaca ke Krismon 98, permasalahan modal 
asing mungkin tidak terasa bagi pemerintah karena secara makro perekonomian 
masih dianggap dalam keadaan baik. Namun, tidak dipungkiri bahwa luka-luka 
kecil tetap terjadi meski itu belum membuat negara lumpuh. 

Jared A. Brock dalam artikelnya We’re Living in a Boiling Frog Economy 
mengatakan bahwa, jika lingkungan sosio-ekonomi-politik berubah dalam waktu 
yang lambat secara gradual, kebanyakan orang secara tidak sadar akan mendapati 
diri mereka menanggung penderitaan yang besar berkat normalitas yang merayap. 

Di dalam konteks ekonomi, apa yang dimaksud Jared adalah, kita seringkali 
menghadapi kenaikan harga suatu barang secara gradual tetapi menganggapnya 
sebagai hal yang lumrah. Padahal, jika dirunutkan secara kronologis, mungkin 
kenaikan harga tersebut akan terlihat luar biasa. 

Kembali mengutip perkataan Nassim Nicholas Taleb, normalisasi ini salah satunya 
dapat terjadi akibat pengaturan alur informasi dan juga media sosial. Di 
internet, kita selalu akan menemukan argumen sandingan bahwa keadaan ekonomi 
Indonesia mungkin tidak separah yang diprediksi oleh beberapa ekonom tertentu. 
Dan seringkali, narasi-narasi ini lebih mampu menutupi argumen para ekonom yang 
berusaha membangun kesadaran bahwa keadaan ekonomi kita tidak baik-baik saja. 

Hal ini lumrah terjadi karena para pemegang kepentingan mungkin merasa terlalu 
berisiko bila harus melakukan persiapan-persiapan pencegahan krisis. Oleh 
karena itu, Taleb mengatakan bahwa jika kita ingin benar-benar tanggap dalam 
menghadapi krisis, maka model bisnis dan ekonomi secara keseluruhan perlu 
dirombak.  

Well, pada akhirnya apa yang disarankan Taleb mungkin adalah hal yang terlalu 
imajinatif – meskipun merupakan sebuah ide yang menarik.  

Bagaimanapun juga, kembali ke konteks keadaan ekonomi sekarang, seharusnya 
krisis kecil yang terjadi di Karawang mampu menjadi teguran awal bahwa 
Indonesia harus lebih waspada akan ancaman resesi. Masyarakat dan pemerintah 
tidak boleh melihat ini hanya sebagai fenomena ekonomi yang “normal”.  

Karena itu, jika Jokowi ingin selamat dari potensi resesi, ia dan kabinetnya 
perlu lebih tanggap dan sigap dalam mendeteksi variabel-variabel krisis kecil 
yang kapan saja bisa menjadi krisis besar. (D74) 


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8F8B692D3A0C4E1E886DC2489EB9AD60%40A10Live.

Reply via email to