Written byR53Thursday, June 23, 2022 23:28
Megawati Gantikan Puan dengan Tatam?
Puan Maharani terus didorong PDIP untuk menjadi kandidat di Pilpres 2024. 
Namun, jika elektabilitas Puan stagnan, mungkinkah Megawati akan menggantinya 
dengan Mohammad Rizky Pratama atau Tatam?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Bagi penikmat dinamika politik, pasti akrab dengan frasa “Kepak Sayap 
Kebhinekaan”. Itu adalah frasa yang terpampang dalam baliho Ketua DPR Puan 
Maharani. Meskipun tidak pernah diakui secara eksplisit, mudah menyimpulkannya 
sebagai upaya mendorong Puan maju di Pilpres 2024.

Seperti yang telah dibahas dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Operasi 
Intelijen di Balik Baliho Puan, tebaran baliho itu adalah upaya infiltrasi 
wajah Puan ke tengah masyarakat. Sedikit mengulang, tebaran baliho bukan 
dimaksudkan untuk menaikkan elektabilitas, melainkan untuk meningkatkan 
popularitas sang Ketua DPR.

Well, terlepas dari tebaran baliho itu diniatkan untuk apa, yang jelas, 
elektabilitas merupakan variabel penting yang diperhitungkan partai politik 
untuk mengusung capres. Ini misalnya terlihat dari fenomena yang dijelaskan Leo 
Suryadinata dalam tulisannya Golkar’s Leadership and the Indonesian President. 

Terangnya, berbagai petinggi PDIP sebenarnya tidak begitu menyukai Joko Widodo 
(Jokowi), tetapi Megawati Soekarnoputri tetap mengusungnya pada Pilpres 2014 
karena elektabilitasnya yang tinggi. Sebagai pemegang hak veto partai banteng, 
konteks ini menunjukkan Megawati tengah berlaku rasional.

Ini pula yang disebutkan oleh Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and 
Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, ketika mengomentari siapa yang akan diusung 
PDIP di Pilpres 2024. Menurutnya, PDIP merupakan partai rasional yang melihat 
dan membaca realitas elektabilitas, tren, serta kemungkinan terbesar kemenangan.

Lantas, mengacu pada penegasan Pangi Syarwi, jika nantinya elektabilitas Puan 
Maharani tetap rendah, apakah Megawati akan menggantinya dengan sosok lain?  

Tatam adalah Alternatif?
Melihat hamparan pemberitaan, mudah menebak bahwa berbagai pihak akan menyebut 
Megawati bisa saja menggantikan Puan dengan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) 
Ganjar Pranowo. Komentar seperti ini mudah ditemukan dalam berbagai unggahan 
infografis PinterPolitik di Instagram. Warganet menilai serangan atas Ganjar 
merupakan drama politik untuk meningkatkan popularitas, dan pada ujungnya akan 
diusung PDIP.

Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim Penelitian dan Pengembangan 
(Litbang) PinterPolitik, serta memetakan gestur-gestur terkini elite PDIP, 
anggapan semacam itu dapat dikatakan keliru. Faktanya, memang terjadi friksi 
internal yang tajam antara pendukung Ganjar dan Puan Maharani.

Keluarnya elite PDIP seperti Trimedya Panjaitan dan Bambang Wuryanto untuk 
mengkritik Ganjar secara terbuka juga semakin menegaskan ketegangan itu nyata 
adanya. 

 
Lantas, jika demikian kondisinya, situasi PDIP dapat dikatakan sangat menarik 
saat ini. Dengan dicoretnya nama Ganjar, siapa yang dapat didorong Megawati 
jika kalkulasi politik menunjukkan Puan sulit untuk menang?

Pengamat politik Hendri Satrio (Hensat) memiliki pandangan menarik yang dapat 
direnungkan. Dalam rangka menanggapi sosok pengganti Megawati sebagai Ketua 
Umum PDIP, Hensat menilai putra sulung Megawati, yakni Mohammad Rizky Pratama 
atau Tatam dapat menjadi alternatif.

Menurutnya, dengan kemiripan wajah Tatam dengan Soekarno, sosoknya dapat 
menjadi solusi jika terjadi deadlock antara kubu Puan dengan kubu Muhammad 
Prananda Prabowo.

Nah, di sini konteksnya menjadi menarik. Mengutip Hensat, jika Tatam dapat 
menjadi alternatif Ketua Umum PDIP, mungkinkah Tatam juga dapat menjadi 
alternatif capres partai banteng di Pilpres 2024?

Pesona Soekarno Masih Kuat
Kata kunci atas hipotesis itu adalah pernyataan Hensat yang menyebut wajah 
Tatam mirip dengan Soekarno. Melihat fotonya, memang harus diakui bahwa sosok 
Soekarno tua terlihat hadir dalam diri Tatam. Atas kemiripan ini, PDIP dapat 
menjalankan strategi branding atau marketing politik untuk menarasikan Tatam 
adalah the next Soekarno. Seperti yang diketahui, telah lama Soekarno menjadi 
sosok yang dikultuskan. Tidak hanya oleh PDIP, melainkan juga banyak masyarakat 
Indonesia.

Xavier Marquez dalam tulisannya A Model of Cults of Personality menyebut 
pengkultusan sosok ini sebagai flattery inflation atau inflasi pujian. Ketika 
suatu sosok dikultuskan, terdapat tendensi yang kuat untuk melakukan pujian 
atau sanjungan secara berlebihan.

Budayawan Hilman Farid menyebut sosok Soekarno banyak dikultuskan karena 
konsep, gagasan, dan pemikirannya dianggap masih relevan hingga saat ini. Salah 
satunya adalah konsep Trisakti, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di 
bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Konsep ini juga kerap 
dikutip oleh Presiden Jokowi. 

Kemudian, sosok Soekarno juga menjadi representasi nasionalisme yang kuat. 
Konteks itu sangat penting, karena menurut Erhard Eppler dalam bukunya The 
Return of the State?, pesatnya globalisasi yang meningkatkan kesenjangan 
ekonomi telah membangkitkan kesadaran atas pentingnya nasionalisme.  

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, berhasilkah strategi menarasikan Tatam 
sebagai the next Soekarno?

 
Mungkinkah Berhasil?
Di titik ini, khususnya kaum terpelajar perkotaan mungkin memandang sinis 
narasi semacam itu. Dalam benak banyak pihak akan mengatakan, “sudah bukan 
zamannya lagi mengkultuskan sosok tertentu”. Pernyataan semacam ini tidak 
salah, namun tidak tepat.

Untuk menilai tingkat keberhasilan strategi itu, kita perlu mengetahui 
bagaimana kondisi psikologis pemilih di Indonesia. Nyimas Latifah dalam 
tulisannya Peran Marketing dalam Dunia Politik, menyebut ada empat tipe pemilih 
di Indonesia, yakni pemilih rasional, pemilih kritis, pemilih tradisional, dan 
pemilih skeptis. Menurutnya, pemilih tradisional merupakan pemilih mayoritas di 
Indonesia.
Kelompok pemilih ini lebih mengutamakan kedekatan sosial budaya, nilai, 
asal-usul, paham dan agama sebagai indikator untuk calon pemimpin dan partai 
politik. Biasanya mereka memiliki tingkat pendidikan yang rendah, sehingga 
lebih mudah dimobilisasi. 

Kemudian, menurut M. Arief Virgy dalam tulisannya Perburuan Rente Hantui 
Pilkada?, alasan masyarakat sulit bertindak sebagai pemilih rasional adalah, 
karena mereka masih berkutat pada masalah ekonomi. Akibatnya, daripada memilih 
pemimpin secara objektif dan komprehensif, kebanyakan pemilih melakukan 
tindakan pragmatis dengan menerima politik uang atau memilih berdasarkan 
kesukaan (selera).

Nah, dominasi pemilih tradisional pragmatis adalah kunci keberhasilan 
menarasikan Tatam sebagai the next Soekarno. Situasi ekonomi global yang tak 
menentu akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina merupakan bahan baku 
yang mudah dibakar untuk membakar semangat nasionalisme ekonomi.

Pada konteks itu, menarasikan Tatam sebagai pembawa semangat berdikari ekonomi 
Soekarno adalah pilihan yang sangat masuk akal. 

Terlebih lagi, seperti yang dibahas dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, PAN 
Tolak Usung Airlangga?, PDIP memiliki pengalaman sukses menaikkan drastis 
popularitas dan elektabilitas Ganjar Pranowo hanya dalam waktu tujuh bulan pada 
Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2013. Ketika diusung PDIP, popularitas Ganjar 
hanya 6,3 persen. Jauh tertinggal dari pesaingnya, Bibit Waluyo, yang memiliki 
popularitas sebesar 77 persen. 

Dan yang utama, seperti yang telah diulas dalam artikel PinterPolitik yang 
berjudul Operasi Intelijen di Balik Pilpres 2024, persepsi-persepsi politik, 
seperti popularitas dan elektabilitas sebenarnya adalah buah dari strategi 
pemenangan. Itu adalah operasi penggalangan intelijen yang disebut dengan cipta 
kondisi.

Artinya, dengan modal memiliki wajah yang mirip Soekarno dan kondisi 
ketidakpastian ekonomi global, mesin pemenangan PDIP akan mudah menarasikan 
Tatam sebagai Soekarno baru yang dapat membawa dan menjadi harapan bagi 
masyarakat luas.

Well, sebagai penutup, kira-kira demikian strategi pemenangan yang dapat 
dilakukan PDIP jika Megawati benar-benar mengganti Puan dengan Tatam di Pilpres 
2024. Sekarang tentu pertanyaannya pada Puan. Apakah elektabilitasnya dapat 
naik, atau justru berjalan stagnan seperti sekarang. Kita lihat saja. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2C4F58227A2D4489B1E201E84F09E96B%40A10Live.

Reply via email to