Strategi Indo-Pasifik AS Terhantam
2022-06-29 
11:57:11https://indonesian.cri.cn/2022/06/29/ARTIQfh3PFO1cqTjlWL0jp4J220629.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.12



Belakangan ini, Sidang Kabinet Nepal memutuskan untuk berhenti mendorong kerja 
sama Program Kemitraan Negara (SPP) dengan AS. 

Dunia luar mencatat, ketika mengambil keputusan tersebut, berbagai golongan 
partai dan pihak militer Nepal memperlihatkan pendirian yang sama dan sepakat 
bahwa bergabung dalam SPP tidak sesuai dengan kepentingan Nepal dan perlu 
diakhiri pembahasan masalah ini selamanya. Ada analisa yang menyebut, keputusan 
Nepal ini berarti bahwa strategi Indo-Pasifik AS telah mengalami kegagalan.

Apakah program SPP ini? SPP adalah program pertukaran antara Garda Nasional 
berbagai Negara Bagian AS dengan negara-negara mitra, yang dimulai sejak tahun 
1990-an, tujuannya ialah membantu negara terkait melakukan reformasi terhadap 
kekuatan pertahanannya setelah Uni Soviet tercerai-berai. Sebenarnya ini adalah 
dalih kekuatan militer AS untuk melakukan penetrasi terhadap negara lain.

Menurut draft kerja sama SPP antara Nepal dan AS yang terungkap, inti   isinya 
antara lain: kedua pihak mengadakan latihan militer gabungan di daerah dataran 
tinggi Nepal, Garda Nasional Paramiliter AS dapat memasuki wilayah Nepal dan 
membangun infrakstruktur tanpa pembatasan, AS menyediakan informasi anti 
terorisme dan peralatan militer kepada Nepal. 

Sangat nyata, pasal-pasal ini mengandung unsur militer, sedangkan niat untuk 
mencampuri urusan dalam negeri Nepal pun cukup jelas. Hal ini tentu saja 
menimbulkan kontroversi besar di dalam negeri Nepal. Keputusan yang diambil 
oleh rapat kabinet Nepal untuk berhenti mendorong program SPP tersebut sesuai 
dengan kepentingan Nepal, juga sesuai dengan kebijakan non-blok dan diplomasi 
seimbang yang dipertahankan Nepal dalam jangka panjang.

Nepal terletak di sebelah selatan Gunung Himalaya, berbatasan dengan Tiongkok 
dan India, maka kedudukan geopolitiknya sangat penting. Para analis luar 
berpendapat, AS sedang memperbesar intervensi dan penetrasi terhadap urusan 
politik dan keamanan Nepal dengan memanfaatkan kondisi perubahan situasi 
politik di Nepal beberapa tahun terakhir ini dan terus membina kekuatan pro AS.

Dilihat secara lebih mendalam, AS menarik Nepal adalah untuk melayani 
penyusunan strategi keseluruhan AS yang ditujukan kepada Tiongkok. Dari memberi 
tekanan kepada Nepal, sampai menggembar-gemborkan masalah Laut Tiongkok 
Selatan, dan mengemukakan apa yang disebutnya ‘Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik’, 
AS sedang mencari berbagai cara untuk menggali lubang dan menanam ranjau di 
sekitar Tiongkok, agar negara-negara Asia Pasifik menjadi kaki tangan AS untuk 
memelihara hegemoninya.

Rakyat Asia Pasifik pernah mengalami perang panas dan perang dingin, ingatan 
terhadap konfrontasi yang didominasi hegemonisme masih segar dalam kepala 
mereka, yang mereka kejar sekarang adalah kestabilan negara dan kehidupan 
bahagia. 

Tiongkok adalah peluang dan mitra, dan ini telah menjadi kesepahaman Asia 
Pasifik. Keputusan Nepal kali ini adalah sebaskom air dingin yang disiramkan ke 
Strategi Indo-Pasifik AS, dan ini mungkin hanyalah permulaan saja. Seiring 
dengan alternatif rasional yang diberikan sejumlah negara berdasarkan 
kepentingannya masing-masing, Strategi Indo-Pasifik yang ditawarkan AS dengan 
sekuat tenaga lambat laun pasti akan gagal.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/607A1A212D814443AA3823F70417D8F7%40A10Live.

Reply via email to