KEKUATAN BARU NIH…! 
Rusia Buat Alternatif SWIFT, 70 Lembaga Keuangan dari 12 Negara Ikut Gabung 
ByTim 
Redaksi0https://bergelora.com/kekuatan-baru-nih-rusia-buat-alternatif-swift-70-lembaga-keuangan-dari-12-negara-ikut-gabung/

JAKARTA – Sistem pengiriman pesan keuangan buatan Rusia menjadi alternatif 
pengganti SWIFT.

Hal ini kemudian menarik sebanyak 70 lembaga finansial dari 12 negara dunia 
guna bergabung.

Hal ini disampaikan Direktur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina pada Kamis 
(30/6/2022) seperti dikutip Reuters.

Sejumlah bank besar Rusia sampai saat ini sudah diputus dari jaringan SWIFT.

Ini merupakan sistem pengiriman pesan yang menopang transaksi keuangan global 
sebagai bagian dari sanksi Barat terhadap Moskow, karena mengirim pasukan ke 
Ukraina sejak 24 Februari 2022 lalu.

Elvira Nabiullina menyebutkan Bank Sentral Rusia sengaja tidak mengumumkan nama 
lembaga-lembaga keuangan yang bergabung dengan sistem pengiriman pesan Moskow 
karena khawatir terkena sanksi sekunder.

Sebanyak 25 lembaga keuangan asing sudah menjadi anggota sistem pengiriman 
pesan finansial buatan Bank Sentral Rusia Sistem Transfer Pesan Keuangan (SPFS) 
pada bulan April 2022.

Usai diputusnya dari jaringan SWIFT maka Pemerintah Rusia saat ini sedang 
membantu sektor keuangannya untuk mengatasi sanksi-sanksi Barat.

Yuan-Rubel Meningkat 1.000%

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, sementara itu ada fenomena menarik 
sejak dilancarkannya operasi militer khusus Rusia di Ukraina yakni terjadinya 
peningkatan perdagangan yuan Cina dan rubel Rusia lebih dari 1.000%, lapor 
Bloomberg. Tepatnya naik menjadi 1067% dalam volume perdagangan bulanan sejak 
akhir Februari.

Perdagangan Cina dengan Rusia naik 12% di bulan Maret, lebih cepat dari 
perdagangan dengan negara-negara lain di dunia. Impor Rusia dari Cina menurun, 
tetapi perdagangan ke arah lain meningkat, kemungkinan mencerminkan harga 
energi yang lebih tinggi.

Rusia mengatakan mereka mengharapkan perdagangan dengan Cina mencapai US$200 
miliar pada tahun 2024, naik lebih besar dari tahun lalu yang hanya sekitar 
US$150 miliar.

Sejauh ini, sanksi keras Amerika Serikat (AS) dan Barat terhadap Rusia dan 
kontrol modal yang ketat yang diberlakukan oleh Moskow telah menyebabkan dolar 
turun tajam terhadap rubel. Bloomberg melaporkan bahwa volume perdagangan dalam 
pasangan dolar-rubel turun ke level terendah dalam satu dekade.

Seperti diketahui, sejak berakhirnya Perang Dunia II, dolar AS mulai memainkan 
peran menjadi mata uang cadangan dunia dimana seluruh bank sentral di dunia 
wajib menyimpan mata uang dolar sebagai cadangan negara. Selain itu, 
negara-negara di dunia harus membayar barang, komoditas, aset, dan utang mereka 
juga dengan dolar.

Tercatat pada akhir tahun 2019, sebesar US$ 6,7 triliun tersebar di bank-bank 
sentral di seluruh dunia sehingga tidak mengherankan bila AS selama ini 
memiliki daya tekan yang tinggi terhadap negara lain.

Namun perlahan tapi pasti, yuan dan rubel mulai menjadi altenatif melawan 
hegemoni dolar dan euro. Banyak negara kini mulai menyimpan cadangan devisanya 
dengan yuan yang dianggap lebih aman. Meskipun begitu, yuan masih tertinggal 
jauh dalam pembayaran internasional.

Transaksi dolar AS memang tetap stabil selama dua dekade yakni mencapai 88 
persen pada 2019. Baru pada 2020, ketika terjadi krisis akibat propaganda 
Covid-19 – defisit anggaran AS meningkat sehingga dolar sebagai mata uang 
cadangan mulai ditinggalkan di seluruh dunia. Akibatnya untuk pertama kalinya 
sejak 1997, dolar sebagai cadangan mata uang dunia turun tajam hingga di bawah 
60% pada 2020. (Web Warouw)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/3F9E6A136F9D460497A1F4E7E17A4708%40A10Live.

Reply via email to