Written byJ61Tuesday, July 5, 2022 18:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/disokong-broker-anies-tetap-tenggelam/
Disokong Broker, Anies Tetap Tenggelam?
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tampak cukup lihai dalam memainkan politik 
pangan jelang Pilpres 2024 setelah menggandeng Menteri Pertanian (Mentan) 
Syahrul Yasin Limpo untuk memastikan ketersediaan kebutuhan pokok di ibu kota 
jelang Hari Raya Idul Adha. Namun, apakah hal itu cukup berarti bagi misi 
pencapresannya kelak?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Waktu kian menipis bagi Anies Baswedan untuk “menabung” modal politik jelang 
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Meskipun tak pernah secara terbuka 
menyatakan diri sebagai calon presiden (capres), nama Gubernur DKI Jakarta itu 
selalu berada di posisi teratas berbagai survei elektabilitas.

Oleh karena itu, berbagai kebijakan dan manuvernya kerap ditafsirkan sebagai 
upaya mengumpulkan kekuatan menuju kontestasi elektoral kelak.

Satu yang terbaru dan cukup menarik datang saat Anies bertandang ke Kementerian 
Pertanian (Kementan) di bilangan Ragunan, Jakarta Selatan. Dalam lawatan itu, 
mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) meminta sokongan serta 
jaminan ketersediaan hewan kurban dan stok pangan jelang Hari Raya Idul Adha.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) langsung merespons dengan 
baik dan memastikan akan memenuhi permintaan Anies. Politikus Partai NasDem itu 
juga menjamin akan mengirimkan pasokan hewan kurban dari zona hijau penyakit 
mulut dan kuku (PMK) yang sedang merebak.

Selain hewan kurban, SYL turut mendukung penuh penyediaan pangan strategis, 
seperti beras, minyak goreng, bawang, hingga aneka jenis cabai untuk DKI 
Jakarta.

 
Gestur Mentan tampak begitu positif terhadap Anies dengan mengiringi komitmen 
kementerian yang dipimpinnya itu lewat sebuah janji dan dukungan.

“Saya janji akan back-up penuh. Kami supporting system apa yang engkau mau,” 
ujar SYL.

Jika dilihat dalam dimensi politik, sokongan SYL tampaknya mencerminkan sinergi 
konkret antara Partai NasDem dengan Anies sebagai sosok terkuat yang menjadi 
calon presiden (capres) hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada pertengahan 
Juli lalu.

Lebih spesifik lagi, sokongan Mentan SYL agaknya juga menggambarkan kelebihan 
dalam pengelolaan aspek pangan yang ciamik dari Anies sebagai sebuah kapital 
politik.

Politik pangan kiranya menjadi satu hal yang cukup diperhatikan oleh Anies 
dalam tupoksinya sebagai DKI-1 dan perjalanannya menuju kontestasi elektoral 
2024. Lantas, mengapa hal itu menjadi penting?

 
Esensi Politik Pangan
Penyair dan penulis naskah drama asal Jerman Bertolt Brecht pernah 
mengungkapkan sebuah adagium terkenal yang memiliki korelasi dalam derajat 
tertentu dengan politik pangan.

Brecht mengatakan, “Buta terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, 
tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak 
tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, 
harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik”.

Di dalam kutipan masyhur itu, sangat jelas keterkaitan antara aspek pangan dan 
politik di mana Brecht melihat fenomena itu kerap diabaikan oleh sebagian besar 
orang.

Secara teoretis, pangan memiliki fungsi simbolis. Alison Perelman menjabarkan 
konteks tersebut dalam disertasinya yang berjudul Political Appetites.

Dia melandasi analisisnya dari teori strukturasi sosiolog berkebangsaan Inggris 
Anthony Giddens tentang penciptaan dan reproduksi sistem sosial yang berbasis 
pada analisis struktur dan agen.

Intinya, pangan, terutama makanan pokok sebagai kebutuhan dasar, memiliki 
kaitan erat dengan selera dan konsumsi yang mencerminkan identitas individu dan 
sosial. Itu kemudian melahirkan sebuah pola konsumsi yang memegang peranan 
penting dalam mendefinisikan identitas dan struktur bersama terbentuk dari 
proses interaksi.
Esensi itu terus berkembang hingga peradaban masyarakat modern yang mana 
Perelman menyatakan interaksi dan struktur yang tercipta bertransformasi 
menjadi simbol komunikasi politik.

Contoh konkretnya tampak dari bagaimana aktor politik menggunakan diskursus 
pangan sebagai salah satu variabel kampanye dan promosi politik. Hal ini 
tercermin dari wacana revolusioner mengenai klaim stabilisator harga makanan 
serta komoditas pangan pokok lainnya jelang kontestasi elektoral.

Tak hanya itu, terjadinya krisis politik kerap dipantik oleh aspek pangan. 
Fenomena kelangkaan hingga kenaikan harga pangan tidak jarang berbuah gelombang 
ketidakpuasan masyarakat luas yang terkonversi menjadi tekanan politik pada 
penguasa.

Kegentingan politik yang terkenal dengan “Arab Spring” menjadi realitas yang 
terjadi di negara-negara Asia Barat dan Afrika bagian Utara sekitar satu dekade 
silam. Kala itu, kenaikan secara drastis harga roti sebagai makanan pokok 
masyarakat menjadi arang yang memanaskan tensi politik hingga berujung 
kejatuhan sejumlah pemimpin negara.

Bahkan, sebelum Arab Spring, roti telah menjadi simbol atau variabel spesifik 
yang selalu mengiringi ketika terjadi gejolak sosial-politik di wilayah 
tersebut.

Politik pangan juga memiliki irisan tak terpisahkan dengan konsep food security 
atau keamanan pangan yang kini menjadi tantangan di berbagai negara. Pakar 
demografi dan ekonom politik Inggris Thomas Robert Malthus dalam bukunya An 
Essay on the Principle of Population bahkan telah memprediksi hal ini sejak 
akhir abad ke-18.

Malthus mengemukakan teori laju pertumbuhan populasi, yang menyatakan bahwa 
peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung dan pertumbuhan penduduk 
mengikuti deret ukur.

Itu menyebabkan manusia akan mengalami kekurangan pangan dan ancaman kelaparan 
di masa depan.

Nyatanya, perkembangan teknologi di bidang reproduksi manusia maupun di bidang 
pangan masih belum mampu menjamin ketersediaan pangan secara merata yang dapat 
diakses semua orang.

Bahkan, hukum permintaan ekonomi plus faktor inflasi akan membuat harga pangan 
dipastikan terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu dan akan menjadi “bom 
waktu” bagi stabilitas politik jika tak dikelola dengan baik.

Eksploitasi dan konversi lahan pertanian yang tampaknya semakin tidak dilakukan 
dengan bijak juga menjadi faktor pendorong bagi prediksi mimpi buruk Malthus 
untuk menjadi kenyataan.

Ketidakpastian keamanan dan politik global turut menjadi faktor lain ketika 
misalnya, tampak dari misi Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Ukraina dan Rusia 
yang ternyata juga bertujuan mengamankan kembali rantai pasokan bahan pangan 
seperti gandum ke Indonesia.

Esensi politik pangan itu yang kiranya disadari oleh Anies Baswedan dengan 
terus membuka relasi positif dengan aktor-aktor terkait, seperti Mentan SYL 
untuk mengamankan pasokan pangan di ibu kota.

Namun, seberapa signifikan konteks politik pangan bagi pencapresan Anies di 
2024?
 
Anies Tetap Jatuh?
Colum Graham dalam publikasinya yang berjudul Indonesia’s rice racket 
menjelaskan bahwa pangan, terutama beras, menjadi elemen penting dalam 
perpolitikan Indonesia.

Ketersediaan bahan pangan utama rakyat Indonesia itu, erat dengan intrik 
politik para elite dan aktor-aktor yang bermain di balik perdagangan beras atau 
yang disebut Graham sebagai “rice trader“, bahkan sejak era Soeharto.

Dia menyebut, ada jalinan saling terkait antara para elite, Persatuan Pengusaha 
Penggilingan Padi dan Beras (PERPADI), hingga Bulog yang nyatanya memiliki 
peran di luar hal teknis dalam konteks ketersediaan pangan di Indonesia.

Dengan daya tawarnya, para elite dan trader bahkan memiliki kekuatan politik 
dan menjadi penentang Jokowi dan PDIP. Hal itu disebut Graham akibat janji 
infrastruktur Jokowi di bidang pasar pangan Jokowi kala menjadi Gubernur DKI 
Jakarta tidak dipenuhi.

Graham menyebutkan bahwa hal itu kemudian bermuara pada dukungan terhadap 
Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa di Pilpres 2014, terus berlangsung hingga era 
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat, dan bahkan dampaknya 
dikatakan membuat Anies memenangkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 
2017.

Menariknya, Graham menyebutkan nama Jusuf Kalla (JK) dalam konstelasi politik 
pangan tanah air dalam korelasinya dengan Bulog, Perpadi, dan Bank Bukopin yang 
menjadi bank pembiayaan off budget Bulog.

Jika ditelusuri, hubungan baik antara Anies dengan JK plus NasDem via SYL 
agaknya dapat menjadi keunggulan tersendiri bagi Anies dalam konteks politik 
pangan, paling tidak untuk saat ini.

Terlebih, tahun lalu Anies juga tampak membuka jejaring “broker” politik pangan 
lain kala bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ngawi dan Cilacap untuk 
memenuhi kebutuhan beras di Jakarta.

Jika dikomparasikan dengan kandidat potensial lain seperti Prabowo Subianto dan 
Ganjar Pranowo, Anies pun sekilas masih di atas angin. Proyek food estate yang 
diampu Prabowo sendiri seolah mandek, sedangkan Ganjar terbentur dengan intrik 
lahan pertanian dalam kasus Kendeng dan Wadas.

Akan tetapi, politik pangan bukan menjadi faktor tunggal di balik mulusnya 
sebuah pencapresan maupun pilpres. Apalagi Anies memiliki sejumlah kendala dan 
pisau bermata dua, antara lain potensi kehilangan panggung politik setelah 
Oktober 2022, pasang surut dukungan parpol, hingga impresi kedekatan dengan 
kelompok Islam konservatif.

Apalagi dalam konteks politik pangan, faktor JK saat menjadi wakil presiden 
juga tak berhasil memenuhi target swasembada padi dan jagung di tahun 2016 
serta 2017.

Peluang Anies yang masih sebatas proyeksi hanyalah harapan publisitas ekstra 
dari media perpanjangan tangan NasDem dan akses ke konglomerat atau insan 
bisnis yang signifikan, misalnya melalui jejaring pembelot Partai Solidaritas 
Indonesia (PSI) Sunny Tanuwidjaja.

Yang jelas, koordinasi apik dari politik pangan yang diperagakan Anies 
diharapkan bukan sekadar manuver demi keuntungan politik semata, namun dapat 
diimplementasikan secara konsisten, termasuk oleh pemimpin lain, bagi 
kepentingan masyarakat luas. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/076014309BBD47089C703C2A20EF1AEF%40A10Live.

Reply via email to