Written byJ61Wednesday, July 6, 2022 17:30
Andika dan Prabowo Terkenal karena Mitos?
Sebuah jajak pendapat terbaru menyatakan calon presiden (capres) dengan latar 
belakang militer menjadi preferensi pemilih generasi Z di kontestasi elektoral 
2024. Namun, mengapa sosok militer seperti Andika Perkasa dan Prabowo Subianto 
tampak begitu diidamkan sebagai kriteria ideal seorang presiden? Mungkinkah itu 
karena mitos?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Semakin dekatnya pesta demokrasi di tahun 2024 dapat dipastikan akan diiringi 
dengan jamaknya berbagai macam survei, baik mengenai partai politik (parpol) 
mana yang paling kuat hingga kandidat terfavorit dalam pemilihan presiden 
(pilpres).

Satu yang menarik datang dari Litbang Kompas yang dirilis pada 22 Juni lalu. 
Hasil jajak pendapat tersebut menempatkan Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra 
Prabowo Subianto di urutan teratas elektabilitas calon presiden (capres) dari 
segmen pemilih generasi Z (17-25 tahun).

Berdasarkan data, kalangan pemilih itu sendiri memiliki signifikansi lebih di 
pemilihan umum (Pemilu) 2024 mendatang jika dibandingkan edisi sebelumnya. Pada 
Pemilu 2019, Daftar Pemilih Tetap (DPT) menyajikan fakta bahwa pemilih berusia 
20 tahun mencapai 17.501.278 orang, sedangkan yang berusia 21-30 tahun sebesar 
42.843.792 orang.

Sementara di Pemilu 2024, jumlah pemilih generasi Z plus generasi milenial – 
yang dinilai tidak jauh berbeda karakteristiknya – diperkirakan akan meningkat 
menjadi sekitar 60 persen dari total suara pemilih.

Kembali ke hasil survei, peneliti Litbang Kompas Arita Nugraheni menyebut 
responden muda cenderung memilih capres dengan latar belakang militer.

Meskipun latar belakang militer menjadi pertimbangan utama generasi muda, Arita 
mengatakan hal itu tidak serta merta membuat figur capres dengan rekam jejak 
militer memiliki elektabilitas tinggi.

  
Lebih lanjut, dia merinci bahwa kecenderungan itu berkorelasi erat dengan 
pertimbangan lain terkait sosok yang diidamkan responden seperti akuisisi 
pesona, kewibawaan, dan ketegasan.

Selain Prabowo, terdapat pula nama sosok serdadu lain, yakni Panglima TNI 
Jenderal Andika Perkasa yang mengemuka sebagai capres idaman generasi Z.

Jika Prabowo berpeluang besar disokong Gerindra untuk ketiga kalinya sebagai 
capres, Andika telah ditasbihkan menjadi satu dari tiga kandidat terkuat capres 
Partai NasDem hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas).

Di atas semua itu, terdapat kesan bahwa diskursus mengenai dikotomi capres 
berlatar belakang militer dan sipil kembali mengemuka di balik hasil survei dan 
penjabaran tersebut.

Lantas, mengapa polaritas capres militer dan sipil masih eksis jelang pesta 
demokrasi 2024? Benarkah kepemimpinan dari sosok militer lebih baik 
dibandingkan sipil?

Mitos Belaka?
Secara garis besar, teori konstruksi sosial agaknya tepat untuk menjelaskan 
mengapa sosok dengan latar belakang militer – seperti Prabowo dan Andika – 
memiliki kesan yang lebih baik dibandingkan sipil dalam konteks capres di 
Pemilu 2024.

Peter L. Berger dan Thomas Luckman menjelaskan definisi teori tersebut sebagai 
terciptanya “realitas” berdasarkan pengalaman subjektivitas individu yang 
saling berinteraksi secara terus-menerus.

Hal itu kiranya relevan dengan mengakarnya kepemimpinan militer, mulai dari 
level pusat, lini sipil, hingga pimpinan di tingkat desa melalui Bintara 
Pembina Desa (Babinsa) dalam naungan konsep Dwifungsi ABRI pada era Orde Baru 
Soeharto.


Usia rezim yang mencapai lebih dari tiga dekade kiranya lebih dari cukup bagi 
terbentuknya realitas persepsi terhadap profesi ABRI dan TNI yang mencerminkan 
kekuasaan serta kebanggaan.

Landasan konstruksi sosial itu kemudian tampak memengaruhi sejumlah 
probabilitas pendorong mengapa sosok dengan latar belakang militer memiliki 
citra yang baik sebagai figur pemimpin level tertinggi.

Pertama, struktur institusi militer lekat dengan ciri khas yang ajek. Hakikat 
rantai komando yang tidak dapat diganggu gugat membuat segala perintah seorang 
komandan akan dilaksanakan hingga tuntas.

Kedua, periode yang cukup lama “disandera” Dwifungsi ABRI kiranya menimbulkan 
efek yang dikenal sebagai Stockholm syndrome, yakni sebuah disorientasi 
psikologis pada korban penyanderaan yang mengakibatkan mereka justru menaruh 
simpati terhadap pelaku.

Simpati itu muncul sebagai akibat dari capture bonding atau semacam ikatan yang 
timbul selama periode penyanderaan.

Hal itu tampaknya dapat menjawab mengapa ada momentum di mana Orba dikritik 
karena sifat militeristiknya, namun kepemimpinan militer tetap menjadi sebuah 
glorifikasi hingga saat ini.

Sampel konkretnya juga tampak terlihat dari sejumlah mantan aktivis ’98 yang 
mencalonkan diri sebagai anggota legislatif via Partai Gerindra-nya Prabowo 
yang diduga terkait dengan penculikan rekan sejawat mereka pada krisis 24 tahun 
lalu.

Ketiga, preseden pemimpin sipil di Indonesia agaknya turut berpengaruh. Terkait 
hal ini, konsep ingatan kolektif yang dikemukakan Maurice Halbwachs dalam On 
Collective Memory boleh jadi merupakan variabel pendukung.

Ingatan kolektif sekilas tampak berbaur dengan konsep komparasi sosial yang 
dijelaskan Gayannée Kedia, Thomas Mussweiler, dan David E.J. Linden dalam Brain 
mechanisms of social comparison and their influence on the reward system.

Mereka menjelaskan bahwa perilaku komparatif atau membandingkan adalah tendensi 
alamiah manusia, termasuk dalam aspek kepemimpinan.

Kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) boleh saja dikatakan memuaskan dalam 
sejumlah survei. Akan tetapi realitas yang dapat dirasakan tampaknya tidak 
selalu demikian dan kerap menimbulkan komparasi kepemimpinan, misalnya, dengan 
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden RI ke-2 Soeharto 
yang berlatar belakang militer.

Saat ini, narasi “antitesis Jokowi” justru tampak mengemuka setelah pada 
Pilpres 2014 silam, Jokowi menjadi sosok representatif antitesis capres dengan 
background militer.

Terakhir, konsep swimmer body illusion yang dipopulerkan oleh Nassim Nicholas 
Taleb kiranya juga dapat menjawab hal tersebut. Konsep itu menjelaskan 
penyimpangan logis ketika seseorang keliru dalam menentukan mana yang menjadi 
sebab dan akibat.

Ihwal yang membuat kiranya perlu untuk mempertanyakan apakah responden ataupun 
pemilih mempertimbangkan riwayat kinerja konkret capres militer atau justru 
sejak awal memiliki tendensi terhadap capres militer?

Padahal, sebuah penelitian dari R.D. McKinlay dan A.S. Cohan yang 
dipublikasikan dalam Comparative Analysis of the Political and Economic 
Performance of Military and Civilian Regimes kiranya menegasikan postulat yang 
menyebut kepemimpinan militer lebih baik dibandingkan sipil.

McKinlay dan Cohan melakukan perbandingan kinerja di bidang politik, 
pertahanan, dan ekonomi di antara negara-negara yang dikelola militer dan 
negara-negara yang dikelola sipil.
Hasilnya, tidak terdapat banyak perbedaan antara sipil dan militer, sekaligus 
membantah persepsi pihak yang cenderung menginferiorkan kepemimpinan dari 
kalangan sipil.

Selaras dengan rangkaian interpretasi di atas, anggota Tim Penelitian dan 
Pengembangan (Litbang) PinterPolitik Khairul Fahmi lantas mengistilahkan 
kekeliruan persepsi tersebut sebagai “mitos kesatria”.

Lalu, seperti apa dampak “mitos” tersebut pada peluang capres berlatar belakang 
militer seperti Prabowo dan Andika?

 
Prabowo Tak Lekang?
Idealnya, dikotomi kepemimpinan sipil dan militer harus dihilangkan di era 
demokrasi modern saat ini.

Hal itu selaras dengan apa yang menjadi perspektif peneliti Seven Strategic 
Studies Girindra Sandino. Dia menambahkan, jalan tengah berupa konsolidasi 
hubungan yang tersusun secara sistematik antara kekuatan militer dan supremasi 
sipil harus diwujudkan. Tentu, dengan penekanan lebih terhadap supremasi sipil.

Hal itu bahkan telah dilakukan oleh sejumlah negara, seperti Amerika Serikat 
(AS), Inggris, Prancis, Jerman pasca-Adolf Hitler, dan Spanyol pasca-Francisco 
Franco, seiring dengan suksesnya gelombang kedua demokratisasi.

Akan tetapi, gelombang narasi pentingnya sosok capres yang tegas di Pilpres 
2024 kiranya berkelindan dengan mengemukanya impresi positif pada kepemimpinan 
sosok berlatar belakang militer.

Dengan eksistensi “mitos kesatria” di benak pemilih Tanah Air, sosok seperti 
Prabowo maupun Andika agaknya akan lebih mudah untuk di-branding secara politik.

Apalagi, analis strategi politik asal AS Mark Penn dalam sebuah penelitian yang 
dituangkan dalam buku berjudul Microtrends: The Small Forces Behind Tomorrow’s 
Big Changes, menemukan realitas bahwa konstituen lebih memilih citra personal 
dibandingkan kemampuan menyelesaikan masalah.

Sosok flamboyan dan legenda hidup militer seperti Prabowo misalnya, masih dapat 
merengkuh simpati politik dari pemilih meskipun rekam jejaknya sebagai prajurit 
tak sedikit dinilai cukup kelam.

Itu terbukti dari hasil Pilpres 2014 dan 2019 kala sosok yang kini menjabat 
Menteri Pertahanan (Menhan) itu selalu hanya kalah tipis dari Jokowi.

Sementara Andika sekilas tampak lebih fenomenal lagi. Mantan Komandan Pasukan 
Pengamanan Presiden (Paspampres) itu telah masuk bursa capres meskipun masih 
aktif sebagai abdi negara.

Bahkan, torehan tersebut diraih Andika tanpa sedikitpun memperlihatkan ambisi 
politik kentara. Andika terlihat kontras, misalnya, dengan Gatot Nurmantyo yang 
sejak masih menjabat sebagai Panglima TNI telah menunjukkan hasrat politik 
sebagaimana dijelaskan John McBeth dalam Military Ambitions Shake Indonesia’s 
Politics.

Pada akhirnya, muara dari penjabaran di atas akan ditentukan oleh realitas dan 
kecenderungan preferensi politik pemilih ke depannya yang sangat dinamis. 
Terselesaikannya segala permasalahan bangsa tentu menjadi yang diharapkan, 
terlepas dari latar belakang sosok presiden baru Indonesia kelak. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/06D5A3472C914C5B905CFCAE35321165%40A10Live.

Reply via email to