Mesin Perang “Merek AS” Kacaukan Dunia
2022-07-06 
11:59:48https://indonesian.cri.cn/2022/07/06/ARTIjm9TLui1Vh5b70KVA6dM220706.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.13



Situs Wet penyelidikan Amerika Serikat “The Intercep” baru-baru ini 
mengungkapkan, dari 2017 hingga 2020, AS melalui proyek “127e” sedikitnya 
melancarkan perang proksi sebanyak 23 kali di dunia, di antaranya 14 kali 
terjadi di Timur Tengah dan kawasan Asia-Pasifik. 

Hanya pada 2020, terdapat 14 proyek perang yang masih aktif beroperasi. Apabila 
hal itu benar, ini akan merupakan suat bukti kuat lagi yang menunjukkan AS 
sudah lama melancarkan perang proksi, lebih lanjut membuktikan AS adalah sumber 
kekacauan terbesar di dunia.




Meskipun AS diam-diam saja tapi itu adalah rahasia umum bagi komunitas 
internasional bahwa AS sering melancarkan perang proksi. Perang proksi berarti, 
sebuah negara besar mendalangi atau mendukung agennya untuk melancarkan perang 
demi menghindari keterlibatan diri sendiri dalam perang, tujuannya adalah untuk 
mewujudkan keuntungan semaksimal mungkin dengan risiko sekecil mungkin. Setelah 
berakhirnya Perang Dingin, perang proksi telah menjadi salah satu bentuk 
konflik global yang utama di dunia.

Jauh pada 1955, Presiden AS saat itu Eisenhower  menyatakan, perang proksi 
adalah “asuransi paling murah di dunia” 

4 Juli adalah Hari Kemerdekaan AS. Selama 240 tahun sejak berdirinya negara AS, 
tercatat hanya 20 tahun saja AS tidak melibatkan diri dalam perang. Ditambah 
lagi proyek “127e” yang baru saja terungkap, mesin perang “merek AS” selalu 
beroperasi tanpa henti. Motif AS adalah mengupayakan kekayaan dan hegemoni di 
dunia, yang mengakibatkan proksi dan negara target berada pada gejolak dan 
konflik, rakyat tak berdosa kehilangan nyawa dan kawasannya menjadi semakin 
kacau.

‘Impian AS’ Hanyalah Sebuah Khayalan
2022-07-06 
09:23:08https://indonesian.cri.cn/2022/07/06/ARTIeKASpM1EalFDKscSCsRh220704.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.14
Pada tanggal 27 Juni lalu, ditemukan jasad imigran dalam jumlah besar di sebuah 
truk yang ditinggalkan di Kota San Antonio Negara Bagian Texas AS. Hingga kini, 
jumlah korban telah bertambah sampai 53 orang. 

Ini merupakan salah satu insiden kematian imigran terparah di AS dalam beberapa 
tahun belakangan ini. Para sanak keluarga korban menyatakan bahwa ‘impian AS’ 
hanyalah sebuah khayalan.

Ayah salah seorang korban mengatakan bahwa putranya pernah berkata padanya, 
“ayah, mari kita cari kehidupan yang lebih indah.”

Seorang ibu dari 2 orang korban tewas mengatakan bahwa dirinya pernah berkata 
kepada mereka, “AS bukanlah rumah kita, karena kalian tak akan dapat sampai di 
sana dengan selamat”, dan akhirnya kedua putranya tewas begitu saja.

Seputar tragedi tersebut, ‘Washington Post’ dalam artikelnya hari Jumat (1/7) 
lalu berpendapat, ini adalah hasil malfungsi dari sistem AS. Artikel tersebut 
menyebutkan bahwa pemerintah AS membangun tembok perbatasan, puluhan ribu 
polisi, drone, kendaraan dan perlengkapan pengawasan untuk menjaga perbatasan, 
hal ini bukannya mencegah para imigran memasuki wilayah, malah mengakibatkan 
lebih banyak korban jiwa dan tragedi serupa.

Artikel tersebut akhirnya menekankan, jika pemerintah AS tidak memiliki 
keinginan politik untuk melakukan reformasi menyeluruh pada masalah tersebut, 
maka tragedi serupa akan terus terjadi.



-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DA1558C522D646CEBBA7517FE18C498C%40A10Live.

Reply via email to