Written byJ61Thursday, July 7, 2022 19:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/maruf-amin-bagian-dari-operasi-intelijen/
Ma’ruf Amin Bagian dari Operasi Intelijen?
Diskursus dan survei elektabilitas calon wakil presiden (cawapres) 2024 mulai 
mengemuka. Lalu, apakah preseden penunjukan Ma’ruf Amin sebagai cawapres Joko 
Widodo (Jokowi) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dapat merepresentasikan 
taktik operasi intelijen politik di edisi 2024?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Sejauh ini, sosok calon presiden (capres) menjadi perbincangan hangat jelang 
Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 yang semakin dekat.

Bersamaan dengan itu, pembahasan dan jajak pendapat sosok cawapres dari sudut 
pandang à la carte atau terpisah dari konteks pasangan calon (paslon) juga 
mulai mengemuka dalam beberapa waktu terakhir.

Teranyar, Charta Politika merilis hasil survei cawapres terfavorit di tiga 
provinsi di Pulau Sumatera, yakni Provinsi Lampung, Provinsi Sumatera Selatan, 
dan Provinsi Sumatera Utara.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno tercatat 
menjadi cawapres dengan elektabilitas nomor wahid di tiga provinsi tersebut. 
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Badan Usaha 
Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, dan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil 
bersaing ketat di belakang Sandi.

Diskursus cawapres sendiri tampaknya akan terus memikat. Apalagi, belakangan 
terdapat beberapa kisah yang menguak bahwa sejumlah tokoh prominen nyatanya 
hampir menjadi kandidat wakil presiden (wapres).

Salah satunya datang dari sebuah buku berjudul Panda Nababan, Lahir Sebagai 
Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku Kedua: Dalam Pusaran kekuasaan, yang 
menyebut Luhut Binsar Pandjaitan nyaris menjadi duet Joko Widodo (Jokowi) di 
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.

  
Hasrat Luhut cukup serius kala itu ketika membentuk Tim Bravo 5 yang terdiri 
dari abiturien AKABRI ’70, angkatan Luhut. Namun, pada akhirnya sosok yang kini 
menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) 
itu urung dan memfokuskan Bravo 5 untuk menyokong Jokowi.

Sebelumnya, Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PinterPolitik juga telah 
merilis kandidat cawapres meskipun dalam format pasangan calon. Tercatat ada 
nama AHY, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Erick Thohir, Ridwan Kamil, 
anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Habib Luthfi bin Yahya, serta 
putra sulung Megawati Soekarnoputri, yakni Mohammad Rizky Pratama atau Tatam.

Dua nama terakhir mungkin cukup menarik karena sangat jarang masuk dalam bursa 
cawapres. Akan tetapi, baik Habib Luthfi maupun Tatam punya peluang untuk 
mengulangi kejutan terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi pada Pilpres 
2019.

Intrik di menit akhir yang melibatkan kandidat kuat lain yaitu Mahfud MD ketika 
itu membuat esensi cawapres memiliki lebih banyak ruang untuk ditelaah pada 
pilpres edisi mendatang.

Itu agaknya akan menambah variabel “pemanas” dalam diskursus dan survei 
cawapres secara spesifik yang terus mengemuka.

Lantas, mengapa sosok cawapres menjadi penting? Apakah preseden intrik 
pencalonan Ma’ruf Amin plus kinerjanya saat ini akan memengaruhi Pilpres 2024?

 
Bukan Sekadar Pelengkap?
Di atas kertas, karakteristik cawapres tampak memiliki nilai lebih, baik di 
hadapan konstituen, partai politik, serta capres itu sendiri.

Hal itu sebagaimana dijabarkan Christopher J. Devine dan Kyle C. Kopko dalam 
buku berjudul Do Running Mates Matter?: The Influence of Vice Presidential 
Candidates in Presidential Elections.
Devine dan Kopko menjelaskan esensi cawapres sebagai running mate effects yang 
dianggap cukup vital dalam upaya pemenangan calon kepala negara.

Pertama, dari sudut pandang sang capres. Sosok wakil dikatakan cenderung 
merepresentasikan keyakinan bahwa mereka dapat memperoleh suara, atau bahkan 
memenangkan pemilihan, berdasarkan pilihan pasangan yang tepat.

Itu mengacu pada tujuan komplementer akumulasi kapital politik, serta 
meningkatkan daya tarik kepada pemilih, termasuk target pemilih dalam kelompok 
geografis, demografis, atau ideologis tertentu.

Kedua, dilihat dari perspektif pemilih, cawapres akan dihantui tanda tanya 
apakah dapat merepresentasikan mereka secara politik dan memiliki kecocokan 
atau chemistry dengan capres.

Ditambah, dalam konteks sistem multipartai Indonesia, kesepakatan parpol dalam 
“jatah” cawapres kiranya dapat menjadi esensi ketiga di luar apa yang 
disebutkan Devine dan Kopko.

Dalam buku tersebut, keduanya juga memberikan gelaran Pilpres Amerika Serikat 
(AS) 2016 sebagai sampel analisis akan pentingnya sosok cawapres.

Mike Pence yang menjadi wakil Donald Trump dan Tim Kaine yang menjadi 
pendamping Hillary Clinton disebut punya karakteristik signifikan yang 
menentukan hasil akhir pertarungan menuju Gedung Putih.

Impresi debat cawapres dikatakan memiliki pengaruh dalam menentukan arah 
undecided voters atau pemilih yang belum menentukan sikap sejak awal.

Secara personal, masing-masing juga punya kontribusi dalam dimensi yang 
berbeda. Pence dianggap punya andil merangkul koneksi kuat, yakni para donor 
besar yang berpengaruh secara politik.

Sementara di sudut seberang, meski kalah dari Trump, Kaine dianggap membantu 
Hillary memenangkan suara di negara bagian Virginia, penganut Katolik, serta 
masyarakat keturunan Latin.

Kembali ke Indonesia, peneliti politik dari Universitas Airlangga, Suko Widodo 
turut menyatakan hal serupa. Bahkan, menurutnya peranan cawapres cukup penting 
dan signifikan dalam mendokrak suara dalam pertarungan yang diprediksi akan 
berlangsung sengit.

Lebih lanjut, Suko menyebut Pilpres 2024 akan ditentukan oleh suara kalangan 
muda, termasuk korelasinya dengan impresi cawapres.

Jika mengacu pada komposisi pemilih, segmen milenial dan generasi Z 
diperkirakan akan mencakup 60 persen dari total suara konstituen di pesta 
demokrasi 2024. Dengan kata lain, kesan pemilih muda akan sosok cawapres boleh 
jadi akan turut memengaruhi hasil akhir Pilpres.

James Tilley dalam Hard Evidence: do we become more conservative with age? 
menyebutkan bahwa milenial dan generasi Z memiliki karakteristik tersendiri 
dalam menginterpretasikan politik. Media sosial, misalnya, menjadi wadah utama 
interaksi dan penerimaan informasi mereka sebagai digital natives.

Secara politik, dua kelompok itu dinilai Tilley cenderung menganut social 
liberalism atau liberalisme sosial yang menjunjung tinggi perluasan hak sipil 
dan politik.

Merujuk pada hal itu, kiranya dapat disimpulkan bahwa pilihan politik kelompok 
muda terhadap representasi politik dan aktor di dalamnya adalah mereka yang 
beraliran moderat, inklusif, dan cepat beradaptasi.

Dalam beberapa kasus, karakteristik milenial dan generasi Z agaknya tidak 
jarang memengaruhi perilaku generasi sebelumnya, terutama dalam meleburnya 
persepsi di media sosial sebagai instrumen interaksi utama yang kini terus 
diisi berbagai kelompok usia.
Artinya, tak keliru kiranya untuk mengatakan bahwa di atas kertas, terdapat 
benang merah antara sosok cawapres dan konstruksi perspektif dari pemilih 
lintas generasi dalam keseluruhan pertarungan elektoral pemimpin kepala negara.

Lalu, bagaimana kecenderungan dan pengaruh esensi itu terhadap Pilpres 2024 
mendatang?

 
Efek Ma’ruf Amin?
Jika penjabaran sebelumnya menunjukkan signifikansi cawapres dan aspek 
keterpilihannya di atas kertas, secara praktik hal yang berbeda agaknya akan 
terjadi, terlebih dalam konteks Indonesia. Mengapa demikian?

Preseden penunjukan di menit akhir sosok Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi 
kiranya dapat menjadi contoh paling konkret untuk menjadi titik tolak pengaruh 
kandidat pendamping capres secara kontekstual.

Di dalam setting ekosistem multipartai, faktor impresi pemilih – generasi 
apapun itu – terhadap cawapres tampaknya tidak akan jadi pertimbangan utama 
aktor politik.

Pemilih tidak punya pilihan lain ketika koalisi parpol punya kuasa penuh 
menentukan capres dan cawapres.

Koalisi parpol tampaknya cenderung memilih kandidat berdasarkan kalkulasi dan 
kepentingan para aktor politik di dalamnya semata. Hal ini selaras dan tersirat 
dalam artikel Pinter Politik sebelumnya yang berjudul Operasi Intelijen di 
Balik Pilpres 2024.

Antropolog AS Clifford Geertz dalam bukunya Negara Teater menyebut pertunjukan 
kekuasaan di Indonesia tak ubahnya seperti teater yang memperlihatkan dan 
memainkan simbol-simbol.

Menurut Geertz, rakyat atau pemilih seperti tidak punya pilihan dan kehilangan 
daya kritis, sehingga larut begitu saja dalam lakon kekuasaan. Hal ini kiranya 
juga terjadi dalam penentuan sosok cawapres.

Lagi-lagi, pada Pilpres 2019, tidak ada “cek ombak” berarti ketika Ma’ruf Amin 
serta-merta keluar sebagai pasangan Jokowi. Pun demikian dengan case Sandiaga 
Uno yang menjadi “kompatriot” Prabowo Subianto.

Dengan demikian, realitasnya, pemilih akhirnya harus memilih nama-nama yang 
ditentukan parpol suka ataupun tidak.

Selain itu, eksistensi nama calon seolah juga disusupkan atau diinfiltrasi ke 
memori masyarakat layaknya sebuah operasi intelijen. Bahkan, kecenderungan 
tersebut tampaknya dilakukan sejak dini lewat baliho dan berbagai gelombang 
narasi sosok tertentu secara berkesinambungan.

Tidak jarang, infiltrasi itu agaknya diiringi dengan preseden-preseden pemilu 
di edisi sebelumnya. Terbaru, komparasi dengan Ma’ruf Amin digaungkan oleh 
selebriti kontroversial yang juga politisi Partai Bulan Bintang (PBB) Aldi 
Taher ketika mempromosikan diri sebagai kandidat cawapres pendamping Anies 
Baswedan.

Meskipun jamak dianggap sebagai bahan lelucon, segala dimensi dari “efek Ma’ruf 
Amin” bisa saja menjadi bagian dari strategi infiltrasi untuk menelurkan sosok 
cawapres dari para aktor lainnya menuju kompetisi elektoral mendatang.

Lalu, bagaimana signifikansi dan penentuan sosok cawapres di Pilpres 2024? 
Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CED65E5192B64EABA4FF6139010F664F%40A10Live.

Reply via email to