Written byR53Friday, July 8, 2022 16:56

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/surya-paloh-penentu-peta-koalisi-2024/
Surya Paloh Penentu Peta Koalisi 2024?
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menjadi elite politik yang paling aktif 
melakukan safari dan manuver politik. Mungkinkah Surya Paloh adalah penentu 
sebenarnya peta koalisi pada Pilpres 2024?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Setidaknya, sejak awal 2021, Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem Surya Paloh telah 
aktif melakukan safari politik ke berbagai elite, khususnya dengan Ketum Partai 
Golkar Airlangga Hartarto. Kedekatan keduanya bahkan dirumorkan menjadi koalisi 
melawan PDIP di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Dalam artikel PinterPolitik pada 5 Maret 2021 yang berjudul Safari Airlangga 
Sinyal Tiga Poros di 2024?, analisis atas itu telah dijabarkan panjang lebar. 
Namun, seperti yang telah diduga dalam artikel itu, Airlangga mendapatkan 
berbagai serangan politik akhir-akhir ini. Faktor itu yang tampaknya menjadi 
rintangan pembentukan koalisi NasDem dengan Golkar. 

Setelah kandas dengan Golkar, Surya Paloh terlihat melakukan pendekatan intens 
dengan Partai Demokrat. Paloh telah bertemu dengan Ketua Majelis Tinggi Partai 
Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketum Partai Demokrat Agus 
Harimurti Yudhoyono (AHY).

Seperti yang telah dibahas dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, SBY-JK-Paloh 
Taklukkan Megawati?, bersama dengan SBY plus Jusuf Kalla (JK), trio ini dapat 
menjadi kekuatan paling potensial untuk menantang digdaya PDIP di Pemilu 2024.

Namun, di tengah berbagai perhatian terhadap manuver politik Surya Paloh, 
pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun melontarkan 
pandangan menarik pada 2 Juni 2022. Ubed membagi king maker dalam tiga 
kategori, yakni lapis utama, lapis pertama, dan lapis kedua.

Menariknya, Surya Paloh ditempatkan di lapis kedua. Lapis utama adalah 
oligarki, sedangkan lapis pertama adalah Megawati Soekarnoputri dan Prabowo 
Subianto. “Surya Paloh ditempatkan sebagai sosok king maker untuk 2024, tapi 
masih di lapis kedua penentu politik ke depan,” ungkap Ubed.

Lantas, benarkah signifikansi keputusan politik Surya Paloh berada di bawah 
Megawati dan Prabowo? 

 
Yang Membedakan Surya Paloh
Mudah menjelaskan alasan di balik kategorisasi king maker yang dibuat Ubed. 
Terkait lapis pertama, ini sekiranya telah menjadi pandangan umum. Seperti 
pernyataan Jeffrey Winters dalam Oligarchy Dominates Indonesia’s Elections, 
dengan sumber dayanya yang besar, oligarki memainkan peranan penting dalam 
sistem politik Indonesia, termasuk pemilu.

Sementara, penempatan Megawati dan Prabowo, tentu saja itu pada fakta perolehan 
suara PDIP dan Gerindra di Pemilu 2019 yang menjadi juara satu dan dua. PDIP 
memperoleh 27.053.961 suara atau 19,33 persen. Sementara Gerindra memperoleh 
17.594.839 suara atau 12,57 persen. Dengan memperoleh 12.661.792 suara atau 
9,05 persen, NasDem berada di peringkat lima. 

Namun, seperti yang ditanya sebelumnya, apakah karena suara NasDem bukan yang 
tertinggi maka otomatis keputusan Surya Paloh di bawah Megawati dan Prabowo? 
Sayangnya, asumsi penilaian berdasarkan perolehan suara semacam itu tidak cukup 
relevan.

Ada tiga alasan kunci atas simpulan ini. Pertama, berbeda dengan empat partai 
puncak lainnya seperti PDIP, Gerindra, Golkar, dan PKB, Partai NasDem tidak 
memiliki beban untuk mengusung ketua umum atau kader partainya. Ini telah 
dibahas dalam artikel PinterPolitik yang berjudul Apakah Surya Paloh Jadi 
Capres?.

Daripada menghabiskan biaya besar menjadi capres di Pilpres 2024 yang kecil 
kemungkinannya untuk menang, lebih baik Surya Paloh menjadi king maker. Mantan 
politisi Golkar ini dapat tetap berpengaruh tanpa perlu menjadi presiden atau 
pun wakil presiden.

Kedua, karena fleksibel dalam mengusung capres-cawapres, keputusan NasDem akan 
mempengaruhi pilihan capres partai lainnya. Jika memilih Ganjar Pranowo, 
misalnya, ini akan mengubah kalkulasi PDIP. Pun demikian jika memilih Anies 
Baswedan, itu dapat menarik partai yang tertarik seperti PKS, atau membuat 
partai yang resisten seperti PDIP untuk menjauh. 

Ketiga, ini yang paling menarik, keputusan Surya Paloh akan menentukan jumlah 
koalisi di Pilpres 2024. Sejauh ini, ada tiga koalisi yang kemungkinan besar 
terbentuk. Pertama adalah Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari 
Golkar, PAN, dan PPP. Kedua adalah koalisi Silaturahmi Indonesia Raya yang 
dibentuk Gerindra dan PKB. Sementara ketiga adalah PDIP, satu-satunya partai 
yang sudah memenuhi presidential threshold (preshold).

Jika Surya Paloh mengajak NasDem masuk ke salah satu koalisi, maka akan ada 
tiga koalisi di 2024. Namun, jika Paloh berhasil meyakinkan SBY dan JK 
membentuk poros bersama, akan ada koalisi keempat. Kemungkinan poros ini 
terdiri dari NasDem, Demokrat, dan PKS.

 
Di titik ini, mungkin ada yang bertanya. Bagaimana jika terbentuk dua koalisi 
seperti pilpres sebelumnya?

Dengan adanya konsolidasi elite agar PDIP tidak berkuasa lagi, kecil 
kemungkinan dua koalisi akan terulang. Pasalnya, PDIP akan lebih mudah meraih 
kemenangan jika hanya ada dua pasang capres-cawapres di Pilpres 2024. 

Berbagai elite PDIP, seperti Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto telah secara terbuka 
mengharapkan agar Pilpres 2024 hanya diikuti oleh dua pasang calon. Kita dapat 
melihat Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 sebagai alasan harapan 
itu. 

Saat itu, jagoan PDIP, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menang di putaran 
pertama harus menelan pil pahit karena kalah di putaran kedua. Suara AHY 
ternyata berpindah ke Anies-Sandiaga Uno.

Di pilpres yang memakan biaya yang begitu besar serta kemungkinan swing voters 
seperti di Pilgub DKI 2017, ini jelas menjadi ketakutan besar PDIP. Meskipun 
masalah biaya mungkin bisa diatasi, bagaimana dengan swing voters? Bagaimana 
PDIP membendung pemilih paslon ketiga atau keempat yang berubah menjadi lawan 
paslon yang diusung partai banteng?
Surya Paloh sang Pendulum
Jika demikian situasinya, Ubed tampaknya perlu memikirkan ulang kategorisasi 
yang dibuatnya. Dengan signifikannya keputusan politik Surya Paloh, mungkin 
tidak berlebihan mengatakan pendiri Metro TV itu sebagai penentu bola pendulum 
pada Pilpres 2024.

Salah satu agen intelijen binaan Jenderal LB Moerdani, Marsekal Muda TNI Teddy 
Rusdy, dalam bukunya Jenderal LB. Moerdani Generasi Jembatan TNI, menjelaskan 
satu teori menarik yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan rekayasa 
politik, yakni teori pendulum.

Pada Orde Baru (Orba), Pancasila dijadikan sebagai equilibrium point (titik 
keseimbangan). Ada kalanya negara ke kanan (Islam) atau ke kiri (sosialis), 
namun bola pendulum harus tetap ke equilibrium point, yakni Pancasila.


Gambar frictionless point dalam buku Jenderal LB. Moerdani Generasi Jembatan TNI

Mengelaborasinya dengan buku mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 
As’ad Said Ali yang berjudul Perjalanan Intelijen Santri, secara spesifik, 
frictionless point atau yang mengatur arah bola pendulum adalah Operasi Khusus 
(Opsus) yang dikomandoi oleh Jenderal TNI Ali Moertopo.

Mengelaborasinya dengan buku mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 
As’ad Said Ali yang berjudul Perjalanan Intelijen Santri, secara spesifik, 
frictionless point atau yang mengatur arah bola pendulum adalah Operasi Khusus 
(Opsus) yang dikomandoi oleh Jenderal TNI Ali Moertopo.

Mengacu pada penjelasan sebelumnya, mungkin dapat dikatakan Surya Paloh adalah 
frictionless point. Dapat pula kita sebut sebagai pusat gravitasi peta koalisi. 
Arah keputusan Surya Paloh akan memiliki efek domino atau yang akan menentukan 
arah ayunan bola pendulum. Apakah itu ke pendulum tiga koalisi atau empat 
koalisi.

Jika melihat tiga nama yang muncul di Rakernas NasDem – Panglima TNI Andika 
Perkasa, Anies, dan Ganjar, ketiganya adalah nama-nama top yang diperebutkan 
berbagai partai politik. Jika Surya Paloh memilih salah satu atau memasangkan 
dua di antaranya, itu jelas membuat partai atau koalisi lain mengusung nama 
lain.

Well, sebagai penutup, tampaknya kita perlu menunggu setidaknya sampai 
pertengahan 2023 untuk melihat ke mana arah pendulum 2024. 

Yang jelas, seperti komentar Surya Paloh ketika menanggapi isu duet Anies-AHY, 
NasDem pasti ingin mempertahankan posisinya berada di kubu pemenang. Tujuan 
kompetisi adalah meraih kemenangan, begitu ujar Surya Paloh. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/479DC585C35E481481EA9D930AA3EF95%40A10Live.

Reply via email to