Kalau ngotot dukung anis, nasdem bakal ilang dr peredaran.
On Sat, Jul 9, 2022, 06:36 Chan CT <[email protected]> wrote: > Written by*R53* <https://www.pinterpolitik.com/author/r53/> > Friday, July 8, 2022 16:56 > > > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/surya-paloh-penentu-peta-koalisi-2024/ > Surya Paloh Penentu Peta Koalisi 2024? > [image: Surya Paloh Penentu Peta Koalisi 2024?] > > *Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menjadi elite politik yang paling > aktif melakukan safari dan manuver politik. Mungkinkah Surya Paloh adalah > penentu sebenarnya peta koalisi pada Pilpres 2024?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com* <https://pinterpolitik.com/> > > Setidaknya, sejak awal 2021, Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem Surya Paloh > telah aktif melakukan safari politik ke berbagai elite, khususnya dengan > Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Kedekatan keduanya bahkan > dirumorkan menjadi koalisi melawan PDIP di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. > > Dalam artikel PinterPolitik pada 5 Maret 2021 yang berjudul *Safari > Airlangga Sinyal Tiga Poros di 2024?* > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/safari-airlangga-sinyal-tiga-poros-di-2024/>, > analisis atas itu telah dijabarkan panjang lebar. Namun, seperti yang telah > diduga dalam artikel itu, Airlangga mendapatkan berbagai serangan politik > akhir-akhir ini. Faktor itu yang tampaknya menjadi rintangan pembentukan > koalisi NasDem dengan Golkar. > > Setelah kandas dengan Golkar, Surya Paloh terlihat melakukan pendekatan > intens dengan Partai Demokrat. Paloh telah bertemu dengan Ketua Majelis > Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketum Partai > Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). > > Seperti yang telah dibahas dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, > *SBY-JK-Paloh > Taklukkan Megawati?* > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sby-jk-paloh-taklukkan-megawati/>, > bersama dengan SBY plus Jusuf Kalla (JK), trio ini dapat menjadi kekuatan > paling potensial untuk menantang digdaya PDIP di Pemilu 2024. > > Namun, di tengah berbagai perhatian terhadap manuver politik Surya Paloh, > pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun > melontarkan pandangan menarik pada 2 Juni 2022. Ubed membagi *king maker* > dalam > tiga kategori, yakni lapis utama, lapis pertama, dan lapis kedua. > > Menariknya, Surya Paloh ditempatkan di lapis kedua. Lapis utama adalah > oligarki, sedangkan lapis pertama adalah Megawati Soekarnoputri dan Prabowo > Subianto. “Surya Paloh ditempatkan sebagai sosok *king maker* untuk 2024, > tapi masih di lapis kedua penentu politik ke depan,” ungkap Ubed. > > Lantas, benarkah signifikansi keputusan politik Surya Paloh berada di > bawah Megawati dan Prabowo? > [image: fix tiga poros ed.] > <https://i0.wp.com/www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/fix-tiga-poros-ed.-917x1024.jpg> > *Yang > Membedakan Surya Paloh* > > Mudah menjelaskan alasan di balik kategorisasi *king maker* yang dibuat > Ubed. Terkait lapis pertama, ini sekiranya telah menjadi pandangan umum. > Seperti pernyataan Jeffrey Winters dalam *Oligarchy Dominates Indonesia’s > Elections*, dengan sumber dayanya yang besar, oligarki memainkan peranan > penting dalam sistem politik Indonesia, termasuk pemilu. > > Sementara, penempatan Megawati dan Prabowo, tentu saja itu pada fakta > perolehan suara PDIP dan Gerindra di Pemilu 2019 yang menjadi juara satu > dan dua. PDIP memperoleh 27.053.961 suara atau 19,33 persen. Sementara > Gerindra memperoleh 17.594.839 suara atau 12,57 persen. Dengan memperoleh > 12.661.792 suara atau 9,05 persen, NasDem berada di peringkat lima. > Namun, seperti yang ditanya sebelumnya, apakah karena suara NasDem bukan > yang tertinggi maka otomatis keputusan Surya Paloh di bawah Megawati dan > Prabowo? > > Sayangnya, asumsi penilaian berdasarkan perolehan suara semacam itu tidak > cukup relevan. > > Ada tiga alasan kunci atas simpulan ini. *Pertama*, berbeda dengan empat > partai puncak lainnya seperti PDIP, Gerindra, Golkar, dan PKB, Partai > NasDem tidak memiliki beban untuk mengusung ketua umum atau kader > partainya. Ini telah dibahas dalam artikel PinterPolitik yang berjudul *Apakah > Surya Paloh Jadi Capres?* > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/apakah-surya-paloh-jadi-capres/>. > > Daripada menghabiskan biaya besar menjadi capres di Pilpres 2024 yang > kecil kemungkinannya untuk menang, lebih baik Surya Paloh menjadi *king > maker*. Mantan politisi Golkar ini dapat tetap berpengaruh tanpa perlu > menjadi presiden atau pun wakil presiden. > > *Kedua*, karena fleksibel dalam mengusung capres-cawapres, keputusan > NasDem akan mempengaruhi pilihan capres partai lainnya. Jika memilih Ganjar > Pranowo, misalnya, ini akan mengubah kalkulasi PDIP. Pun demikian jika > memilih Anies Baswedan, itu dapat menarik partai yang tertarik seperti PKS, > atau membuat partai yang resisten seperti PDIP untuk menjauh. > > *Ketiga*, ini yang paling menarik, keputusan Surya Paloh akan menentukan > jumlah koalisi di Pilpres 2024. Sejauh ini, ada tiga koalisi yang > kemungkinan besar terbentuk. Pertama adalah Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) > yang terdiri dari Golkar, PAN, dan PPP. Kedua adalah koalisi Silaturahmi > Indonesia Raya yang dibentuk Gerindra dan PKB. Sementara ketiga adalah > PDIP, satu-satunya partai yang sudah memenuhi *presidential threshold* ( > *preshold*). > > Jika Surya Paloh mengajak NasDem masuk ke salah satu koalisi, maka akan > ada tiga koalisi di 2024. Namun, jika Paloh berhasil meyakinkan SBY dan JK > membentuk poros bersama, akan ada koalisi keempat. Kemungkinan poros ini > terdiri dari NasDem, Demokrat, dan PKS. > [image: duet anies ahy berat] > <https://i0.wp.com/www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/07/Duet-anies-ahy-Berat-838x1024.jpg> > > Di titik ini, mungkin ada yang bertanya. Bagaimana jika terbentuk dua > koalisi seperti pilpres sebelumnya? > > Dengan adanya konsolidasi elite agar PDIP tidak berkuasa lagi, kecil > kemungkinan dua koalisi akan terulang. Pasalnya, PDIP akan lebih mudah > meraih kemenangan jika hanya ada dua pasang capres-cawapres di Pilpres > 2024. > > Berbagai elite PDIP, seperti Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto telah secara > terbuka mengharapkan agar Pilpres 2024 hanya diikuti oleh dua pasang calon. > Kita dapat melihat Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 sebagai > alasan harapan itu. > > Saat itu, jagoan PDIP, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menang di > putaran pertama harus menelan pil pahit karena kalah di putaran kedua. > Suara AHY ternyata berpindah ke Anies-Sandiaga Uno. > Di pilpres yang memakan biaya yang begitu besar serta kemungkinan *swing > voters *seperti di Pilgub DKI 2017, ini jelas menjadi ketakutan besar > PDIP. Meskipun masalah biaya mungkin bisa diatasi, bagaimana dengan *swing > voters*? Bagaimana PDIP membendung pemilih paslon ketiga atau keempat > yang berubah menjadi lawan paslon yang diusung partai banteng? > *Surya Paloh sang Pendulum* > > Jika demikian situasinya, Ubed tampaknya perlu memikirkan ulang > kategorisasi yang dibuatnya. Dengan signifikannya keputusan politik Surya > Paloh, mungkin tidak berlebihan mengatakan pendiri Metro TV itu sebagai > penentu bola pendulum pada Pilpres 2024. > > Salah satu agen intelijen binaan Jenderal LB Moerdani, Marsekal Muda TNI > Teddy Rusdy, dalam bukunya *Jenderal LB. Moerdani Generasi Jembatan TNI*, > menjelaskan satu teori menarik yang digunakan sebagai pedoman dalam > melakukan rekayasa politik, yakni teori pendulum. > > Pada Orde Baru (Orba), Pancasila dijadikan sebagai *equilibrium point* (titik > keseimbangan). Ada kalanya negara ke kanan (Islam) atau ke kiri (sosialis), > namun bola pendulum harus tetap ke *equilibrium point, *yakni Pancasila. > Gambar *frictionless point *dalam buku *Jenderal LB. Moerdani Generasi > Jembatan TNI* > > Mengelaborasinya dengan buku mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara > (BIN) As’ad Said Ali yang berjudul *Perjalanan Intelijen Santri*, secara > spesifik, *frictionless point* atau yang mengatur arah bola pendulum > adalah Operasi Khusus (Opsus) yang dikomandoi oleh Jenderal TNI Ali > Moertopo. > > Mengelaborasinya dengan buku mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara > (BIN) As’ad Said Ali yang berjudul *Perjalanan Intelijen Santri*, secara > spesifik, *frictionless point* atau yang mengatur arah bola pendulum > adalah Operasi Khusus (Opsus) yang dikomandoi oleh Jenderal TNI Ali > Moertopo. > > Mengacu pada penjelasan sebelumnya, mungkin dapat dikatakan Surya Paloh > adalah *frictionless point. *Dapat pula kita sebut sebagai pusat > gravitasi peta koalisi*. *Arah keputusan Surya Paloh akan memiliki efek > domino atau yang akan menentukan arah ayunan bola pendulum. Apakah itu ke > pendulum tiga koalisi atau empat koalisi. > > Jika melihat tiga nama yang muncul di Rakernas NasDem – Panglima TNI > Andika Perkasa, Anies, dan Ganjar, ketiganya adalah nama-nama top yang > diperebutkan berbagai partai politik. Jika Surya Paloh memilih salah satu > atau memasangkan dua di antaranya, itu jelas membuat partai atau koalisi > lain mengusung nama lain. > > *Well*, sebagai penutup, tampaknya kita perlu menunggu setidaknya sampai > pertengahan 2023 untuk melihat ke mana arah pendulum 2024. > > Yang jelas, seperti komentar Surya Paloh ketika menanggapi isu duet > Anies-AHY, NasDem pasti ingin mempertahankan posisinya berada di kubu > pemenang. Tujuan kompetisi adalah meraih kemenangan, begitu ujar Surya > Paloh. (R53) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/479DC585C35E481481EA9D930AA3EF95%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/479DC585C35E481481EA9D930AA3EF95%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAEaUOgtXojfYQ-Z1NG8HwYbD7qD_zNJRPFP87GQCTMM72Ev-Dg%40mail.gmail.com.
