Mengapa Militer Tiongkok Bisa Kuat?Written byD74Saturday, July 9, 2022 11:13

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mengapa-militer-tiongkok-bisa-kuat/

Tiongkok baru-baru ini meluncurkan kapal induk tercanggihnya yang diberi nama 
Fujian. Itu hanya jadi salah satu bukti bahwa saat ini militer Tiongkok semakin 
kuat. Bagaimana ini bisa terjadi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Beberapa waktu terakhir dunia sering dikejutkan oleh kabar tentang pengembangan 
militer Tiongkok. Terbaru, pemerintah Tiongkok meluncurkan memiliki kapal induk 
ketiganya, Fujian, pada tanggal 17 Juni 2022. Kapal ini digadangkan jadi kapal 
induk pertama yang seluruh desainnya murni buatan Tiongkok.

Matthew Funaiole, pengamat dari Center for Strategic and International Studies 
(CSIS) mengatakan Fujian menjadi kapal induk modern pertama Tiongkok yang 
kemampuannya tidak main-main. Diperlengkap dengan sistem peluncuran berbantuan 
katapel elektromagnetik, Fujian mampu meluncurkan beragam jet tempur dengan 
lebih cepat dan juga mampu membawa lebih banyak amunisi.

Dengan sejumlah fitur canggih lainnya, Fujian bahkan dianggap akan menyaingi 
kemampuan kapal induk canggih Amerika Serikat (AS) Gerald R Ford. Funaiole juga 
menilai peluncuran Fujian telah menjadi momentum baru bagi Tiongkok sebagai 
negara dengan angkatan laut terkuat kedua di dunia, karena kapal induk adalah 
inti kekuatan dari armada kekuatan besar.

Well, Fujian bukan satu-satunya kejutan yang muncul dari perkembangan militer 
Tiongkok. Baru-baru ini juga beredar berita bahwa Tiongkok tengah mengembangkan 
pangkalan militer baru di Kamboja. Ini tentu akan menjadi sumber kecemasan baru 
bagi negara-negara Asia Tenggara – mengingat Tiongkok punya kepentingan yang 
sangat agresif terhadap Laut China Selatan (LCS).

Menariknya, semua perkembangan militer Tiongkok ini terjadi ketika dunia sedang 
dihadapi berbagai krisis. Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional 
Stockholm (SIPRI), lembaga internasional yang berdedikasi menganalisis data 
kontrol senjata dunia, Tiongkok adalah negara dengan peningkatan anggaran 
pertahanan terkonsisten di dunia, yakni 27 tahun berturut-turut.

Bahkan, dari 2019 sampai 2022, periode ketika pandemi Covid-19 dan imbas 
konflik Rusia-Ukraina menyerang dunia, anggaran pertahanan Tiongkok tidak 
terfluktuasi dan tetap sanggup meningkatkan angkanya secara signifikan.

Saat ini, anggaran pertahanan Tiongkok mencapai angka US$230 miliar, atau 
sekitar Rp 3.400 triliun meningkat 7,1 persen dari tahun sebelumnya, dan 
menjadi peningkatan tertinggi semenjak 2019.

Hal ini memancing pertanyaan, mengapa perkembangan militer dan pertahanan 
Tiongkok bisa terus naik ketika banyak negara lain yang justru sedang kesulitan?

 
Resep Militerisasi Tiongkok?
Tidak hanya perkembangan ekonomi, peningkatan militer Tiongkok yang begitu 
pesat juga telah menyita perhatian dunia. Tertutupi oleh bayangan negara besar 
lainnya seperti Uni Soviet dan Eropa, Tiongkok tiba-tiba saja menjadi negara 
dengan militer terkuat dunia kedua setelah Perang Dingin berakhir.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Well, setidaknya kita bisa melihatnya dari tiga 
alasan. Pertama, ini karena pemerintah Tiongkok telah melaksanakan strategi 
yang disebut military-civil fusion (MCF). Ini adalah strategi reformasi 
Tiongkok yang bertujuan untuk menderegulasi industri pertahanan di Tiongkok 
dengan mendorong sektor swasta untuk berinvestasi, dan memproduksi peralatan 
yang juga bisa dimanfaatkan oleh militer.

Reformasi tersebut bertujuan untuk meringankan beban administrasi pada 
perusahaan pertahanan swasta, dan merangsang persaingan yang lebih besar bagi 
industri pertahanan Tiongkok. Strategi ini sebenarnya sudah diterapkan sejak 
zaman kepemimpinan Mao Zedong tetapi Richard Bitzinger, pengamat pertahanan 
dari S.Rajaratnam School of International Studies, menilai MCF di bawah Xi 
Jinping lebih ambisius daripada para pemimpin-pemimpin Tiongkok sebelumnya.
MCF ini juga diterapkan ketika pandemi Covid-19 melanda Tiongkok. Dengan alasan 
memastikan keamanan di seluruh wilayah Tiongkok dan distribusi vaksin yang 
cepat, pemerintah Tiongkok mampu menggunakan momen pandemi untuk juga 
menguatkan pelatihan militernya.

Kedua, eksploitasi perkembangan teknologi. Jon Bateman dalam bukunya US-China 
Technological “Decoupling”, menilai bahwa kunci perkembangan militer Tiongkok 
adalah perkembangan teknologinya. Pemerintah Tiongkok mampu menggunakan 
kapabilitas riset yang dimiliki sejumlah perusahaan dan universitas di 
negaranya untuk mengembangkan teknologi militer, dengan memberikan stimulus dan 
perlindungan politik.

Menurut riset yang dilakukan Australian Strategy Policy Institute (ASPI), 
Partai Komunis Tiongkok (PKT) memiliki sejumlah relasi dengan berbagai 
perusahaan Big Tech Tiongkok. Ini kemudian mampu menjamin segala aktivitas 
penelitian dan pengembangan yang dilakukan bisa diselaraskan dengan kepentingan 
pertahanan negara.

Ketiga, kemampuan Tiongkok untuk “menjiplak” teknologi militer negara-negara 
Besar. Pengamat militer Kris Osborn dalam tulisannya China Loves to Steal U.S. 
Military Technology. Next: The U.S. Military’s Tactics? menyebutkan bahwa 
alasan kenapa teknologi militer Tiongkok bisa begitu cepat berkembang adalah 
karena mereka selalu meniru kesuksesan teknologi negara lain tetapi mampu 
membuatnya lebih murah dan lebih banyak.

Alasan ini tentu didukung oleh keunggulan Tiongkok sebagai raksasa ekonomi itu 
sendiri, yang memang terkenal memiliki kemampuan dalam sektor industri.

Ironisnya, melihat tiga alasan ini, kita bisa menilai bahwa pesatnya 
perkembangan teknologi Tiongkok sebenarnya adalah karena mereka menerapkan 
suatu konsep yang membuat AS menjadi negara digdaya militer, yakni 
military-industrial complex. Ini adalah pandangan atau “-isme” yang melihat 
hubungan antara militer suatu negara dan perkembangan industrinya perlu dilihat 
sebagai satu kesatuan.

Presiden ke-34 AS Dwight D. Eisenhower dalam pidato terakhirnya pada 17 Januari 
1961 menggunakan istilah ini sebagai harapan perkembangan industri AS di masa 
depan bisa lebih menggunakan kemampuannya untuk menjaga pertahanan negara 
karena, di era modern, aspek politik, ekonomi, sosial, hingga spiritual akan 
berkaitan dengan kemampuan suatu negara untuk menjaga kemerdekaannya.

Dengan -isme yang sama, Tiongkok berhasil bangkit sebagai pesaing AS, tidak 
hanya dalam aspek ekonomi tetapi juga militer. Ke depannya, melihat 
perkembangan sekarang, bisa dipastikan tantangan dari Tiongkok akan terus 
berdatangan.

Ini kemudian membawa kita ke pertanyaan selanjutnya. Mengapa Tiongkok bisa 
dengan percaya diri meningkatkan kapabilitas militernya? Dan mengapa AS tidak 
bertindak sama dengan menghambat perkembangannya layaknya ketika Perang Dingin 
dulu dengan Uni Soviet?

Paman Sam Kecolongan?
Berbeda dengan Uni Soviet, meski AS beberapa kali terlihat mengancam tantangan 
militer dari Tiongkok, itu semua masih bisa disebut termasuk dalam kategori 
retorika semata. Faktanya, selama ini Tiongkok memang belum termasuk dalam 
daftar “negara musuh” dalam Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi 
(CAATSA).

Ada yang melihat hal ini terjadi karena AS memang tidak memandang militer 
Tiongkok sebagai sebuah ancaman. Namun, sepertinya pendapat itu kurang tepat.
Nahal Toosi dan Lara Seligman dalam tulisan The U.S. Overestimated Russia’s 
Military might. Is it Underestimating China’s?, di laman Politico menilai bahwa 
ada dugaan AS justru keliru dalam menakar potensi ancaman militer Tiongkok.

Menurut salah satu sumber pemerintahan Biden yang tidak disebut namanya, saat 
ini disebutkan bahwa sedang ada pengecekan ulang besar-besaran data intelijen 
AS. Dan yang jadi salah satu kekhawatiran utama dalam proses pengecekan ulang 
tersebut adalah permintaan mendesak dari pejabat-pejabat Negeri Paman Sam 
tentang kapabilitas militer Tiongkok.

Selain karena faktor kemampuan pemerintah Tiongkok dalam menutup-nutupi 
perkembangan militernya, pengecekan ulang data intelijen ini terjadi akibat 
beberapa tahun ke belakang fokus spionase AS disebut lebih difokuskan pada 
eskalasi konflik di Eropa dan Rusia.

Selain itu, berdasarkan hasil investigasinya, Nahal dan Lara juga mengatakan 
minimnya kepastian intelijen tentang potensi militer Tiongkok juga disebabkan 
gerakan strategis Xi Jinping dalam memberantas mata-mata asing di dalam 
pemerintahannya.

Menurut sebuah laporan dari lama New York Times pada tahun 2017 yang berjudul 
Killing C.I.A Informants, China Crippled US Spying Operations, disebutkan bahwa 
sejak tahun 2010 pemerintah Tiongkok secara sistematis telah membunuh atau 
memenjarakan banyak mata-mata Badan Intelijen Pusat (CIA) dan melumpuhkan upaya 
pengumpulan intelijen AS selama bertahun-tahun mendatang.

Jika hal-hal ini memang benar adanya, maka bisa kita interpretasikan Tiongkok 
telah menggunakan upaya pengelabuan untuk meningkatkan kekuatannya tanpa 
diketahui oleh musuh-musuhnya. Ditambah dengan bergerak pasti di balik pandemi 
Covid-19 dan Perang Ukraina yang telah menarik perhatian dunia, Tiongkok mampu 
memperkuat posisi geopolitiknya tanpa mendapat persekusi dari AS sebagai polisi 
dunia.

Filsuf Tiongkok, Sun Tzu dalam Thirty-Six Stratagems, menuliskan satu strategi 
yang berbunyi: deceive the heavens to cross the sea. Ini dimaknai sebagai upaya 
seseorang yang ingin mendapatkan keunggulan dari lawan yang lebih unggul dengan 
semampu mungkin tidak memberikan kesempatan untuk melihat sehingga lawannya itu 
akan selalu merasa was-was dan tidak tahu bagaimana strategi selanjutnya yang 
akan dijalankan.

Mungkin saja, Xi Jinping melaksanakan strategi yang satu ini, dan sukses.

Pada akhirnya, meski pantas dikagumi, bangkitnya Tiongkok sebagai raksasa 
geopolitik di Asia Pasifik juga perlu menjadi kekhawatiran Indonesia. Sebagai 
salah satu negara tetangga, kita juga perlu mewaspadai dampak kekuatan Tiongkok 
pada pertahanan dan keamanan negara.

Terlebih lagi, militer konvensional bukan satu-satunya arena pertempuran di 
masa depan. Masih ada dunia perang asimetris yang juga perlu kita perhatikan. 
(D74)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/277B3596E2964A2380294D3F1A927C3D%40A10Live.

Reply via email to