Saatnya Jokowi Ganti Menlu Retno?Written byA43Tuesday, July 12, 2022 20:30

https://www.pinterpolitik.com/saatnya-jokowi-ganti-menlu-retno/
Dalam pertemuan antar-Menteri Luar Negeri (Menlu) dari negara-negara anggota 
G20 dan sejumlah perwakilan undangan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) 
mempercayakan pada Menlu RI Retno Marsudi untuk memandu jalannya diskusi. 
Namun, pembahasan disebut lebih banyak pada adu tudingan terhadap Rusia terkait 
konflik di Ukraina.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Betapa bahagianya dapat saling menyayangi. Betapa bahagianya punya banyak 
teman” – Sherina, “Persahabatan” (2000)

Menjadi sebuah pengalaman menarik bagi mereka yang pernah menjabat sebagai 
ketua kelas ketika masih duduk di bangku sekolah. Biasanya, sosok ketua kelas 
dilihat sebagai orang yang harus bisa memandu teman-temannya agar tidak 
terperosok ke masalah-masalah yang bisa dihindari.

Ketika terjadi pertengkaran di dalam kelas, misalnya, ketua kelas harus bijak 
menengahi siswa-siswa yang berselisih. Selain itu, kala kelas ramai ketika 
tidak ada guru di kelas, ketua kelas juga yang biasanya berinisiatif untuk 
menenangkan agar tidak dimarahi oleh guru.

Mungkin, bila dianalogikan dengan suasana kelas, pertemuan antar-menteri luar 
negeri (Menlu) negara-negara anggota G20 di Bali pada 7-8 Juli 2022 lalu bisa 
dibilang mirip. Dengan tidak adanya sosok yang benar-benar bisa mengatur 
perilaku para peserta, sang “ketua kelas” lah yang akhirnya harus hadir untuk 
memimpin para “anggota kelas”.

Dalam pertemuan G20 kemarin, bukan tidak mungkin peran tersebut jatuh di tangan 
Menlu RI Retno Marsudi. Di bawah panduan mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia 
untuk Belanda tersebut, negara-negara anggota G20 – seperti Amerika Serikat 
(AS), Rusia, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), India, Arab Saudi, Turki, dan 
sebagainya – bertemu dalam satu ruangan.

Pertemuan itu juga menjadi pengalaman pertama bagi Menlu AS Antony Blinken dan 
Menlu Rusia Sergei Lavrov berada dalam satu ruangan semenjak konflik 
Rusia-Ukraina meletus sejak 24 Februari 2022 lalu. Tentu, ini menjadi momen 
yang bersejarah dalam sejarah dunia.

Namun, tatap muka antara Blinken dan Lavrov bukan berarti pandangan bisa 
bertemu begitu saja antara AS dan Rusia. Justru, ketegangan malah makin 
menjadi-jadi dalam pertemuan antar-menlu tersebut.

Kala Lavrov tiba di venue pertemuan dan bersalaman dengan Retno, misalnya, 
sejumlah wartawan asing langsung meneriaki Menlu Rusia tersebut dan 
mempertanyakan mengapa Rusia memulai perang terhadap Ukraina. Selain itu, 
Lavrov dilaporkan absen dalam ruangan kala Ukraina mendapat giliran berbicara. 

 
Belum lagi, upaya diplomasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Kyiv, Ukraina, dan 
Moskow, Rusia, dinilai tidak membuahkan hasil yang begitu nyata. Sang presiden 
sendiri bahkan sudah mewanti-wanti publik soal kenaikan harga pangan yang 
berbahan gandum – seperti mi instan dan roti.

Tidak dipungkiri lagi bahwa isu Rusia dan Ukraina bakal tetap menjadi isu utama 
dalam politik internasional ke depannya – mengingat dampaknya yang cukup pesar 
terhadap harga pangan dan energi dunia. Ini bakal menjadi tugas yang cukup 
berat bagi para diplomat Indonesia untuk menyelamatkan negara kepulauan ini 
dari ancaman krisis dan inflasi.

Lantas, manuver apa yang perlu dipersiapkan oleh Menlu Retno dan para diplomat 
Indonesia menghadapi krisis global ini? Mengapa tantangan ini bisa jadi berat 
bagi Retno dan kementeriannya?
Retno, The Congregator?
Apa yang ditampilkan Jokowi dalam diplomasi yang dijalankannya antara Rusia dan 
Ukraina jelas bertujuan untuk membangun konsensus di antara negara-negara yang 
berkepentingan. Hal ini juga yang diharapkan pemerintahan Jokowi dengan 
mengundang Ukraina sekaligus Rusia dalam rangkaian kegiatan G20 2022.

Dalam pertemuan Menlu G20, misalnya, Retno sendiri menekankan pada pentingnya 
multilateralisme dalam menyelesaikan persoalan-persoalan global. Salah satu isu 
yang diangkat dalam pidato pembukaan Retno pun adalah persoalan pangan dan 
energi global.

Namun, pada faktanya, daripada mencari solusi yang dua arah, banyak negara 
Barat seperti AS menuding Rusia sebagai pihak yang harusnya bertanggung jawab 
atas krisis yang menghantui. Belum lagi, Blinken secara jelas menunjukkan 
keengganannya untuk berbicara langsung dengan Lavrov.

Lagipula, elephant in the room (persoalan utama) juga sudah jelas hadir di 
antara negara-negara ini. Siapa tahu persoalan utama ini bisa menjadi 
kepentingan bersama (common interest) bagi negara-negara G20 untuk memperdalam 
kerja sama antara satu sama lain.

Mungkin, sebagai “ketua kelas”, menjadi kewajiban Retno untuk bisa 
menyelesaikan ketegangan yang terjadi dalam ruangan. Apalagi, peran 
kepemimpinan diplomatik dalam situasi krisis seperti ini bisa jadi penting.

 
Mengacu pada tulisan Corneliu Bjola yang berjudul Diplomatic Leadership in 
Times of International Crisis, kepemimpinan diplomatik kala krisis dapat dibagi 
menjadi tiga jenis. Jenis kepemimpinan pertama adalah maverick, yakni sosok 
pemimpin yang memiliki visi besar tetapi tidak bisa sepenuhnya menginspirasi 
pihak lainnya.

Kedua, terdapat jenis kepemimpinan congregator, yakni pemimpin diplomatik yang 
berupaya untuk membangun konsensus. Terakhir, jenis kepemimpinan yang ketiga 
adalah pragmatist yang mengombinasikan keduanya untuk membangun hubungan yang 
mutual.

Bukan tidak mungkin, pemerintahan Jokowi melalui kebijakan luar negeri yang 
dijalankan oleh Retno menginginkan adanya pembangunan konsensus melalui prinsip 
multilateralisme. Bukan tidak mungkin, peran congregator seperti yang 
dijelaskan Bjola lah yang diambil oleh Retno kala memimpin pertemuan Menlu G20. 

Peran seperti ini pun pernah diambil oleh seorang diplomat asal Spanyol yang 
bernama Javier Solana yang menjadi congregator di antara negara-negara Eropa 
kala krisis diplomatik terjadi di Kosovo pada tahun 1999. Dalam 
pembicaraan-pembicaraan tertutup, Solana sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) 
North Atlantic Treaty Organization (NATO) berusaha menjaga kohesi di antara 
negara-negara anggotanya.

Lantas, bila Retno ingin menjalankan peran seperti yang dilakukan oleh Solana, 
mungkinkah peran tersebut bisa berjalan lancar? Kemudian, apa yang sebenarnya 
perlu menjadi pertimbangan Jokowi bila ingin sukses mewujudkan prinsip-prinsip 
multilateralisme dalam persoalan konflik Rusia-Ukraina?

Waktunya Jokowi Ganti Retno?
Keberhasilan Solana dalam menjalankan perannya sebagai congregator cukup 
dikenal di dunia internasional. Andrew Rettman dalam tulisannya di EU Observer 
bahkan menyebut Solana sebagai master dalam diplomasi diam-diam (quiet) dan 
tersembunyi (behind-the-scene).

Inipun mirip dengan apa yang dijalankan oleh Retno terkait persoalan Rusia, 
Ukraina, dan G20. Sebelum Jokowi akhirnya memberikan undangan untuk datang di 
KTT G20 2022 kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui percakapan 
telepon, Retno ditengarai melalui diplomasi secara diam-diam di antara 
negara-negara Eropa Barat.
Pasalnya, Indonesia disebut terus ditekan oleh AS dan negara-negara Eropa agar 
tidak mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin ke KTT tersebut. Padahal, 
undangan kepada Putin juga bisa jadi kepentingan Jokowi untuk menjalankan peran 
sebagai tuan rumah G20 yang baik.

 
Dengan kepentingan ini, bukan tidak mungkin Jokowi membutuhkan congregator yang 
mumpuni – setidaknya bisa diterima dan dipercaya oleh banyak pihak yang saling 
berlawanan. Dengan kepercayaan dan kharisma lah, mengacu pada tulisan Rettman, 
Solana bisa meyakinkan negara-negara Eropa di saat-saat krisis.

Namun, bila melihat kembali latar belakang sebelum menjabat sebagai Menlu, 
Retno bukanlah orang yang memiliki pengalaman panjang dalam 
organisasi-organisasi multilateral. Pengalaman seperti ini tentu diperlukan 
bila ingin menegakkan prinsip multilateralisme di tengah dunia yang semakin 
multipolar.

Aaron L. Connelly dalam tulisannya yang berjudul Sovereignty and the Sea: 
President Joko Widodo’s Foreign Policy Challenges menjelaskan bahwa Retno lebih 
merupakan seorang Europeanist. Label yang diberikan oleh Connelly ini menjadi 
masuk akal karena sang Menlu justru lebih banyak berpengalaman sebagai Dubes di 
negara-negara Eropa seperti Islandia dan Norwegia (2005-2008), serta Belanda 
(2012-2015).

Bukan tidak mungkin, sebagai seorang Europeanist, Retno tidak memiliki 
kepercayaan yang cukup dari salah satu pihak. Rusia, misalnya, kini menjadi 
negara yang bersitegang dengan negara-negara Barat.

Justru, sebenarnya terdapat nama-nama lain yang lebih berpengalaman – dan bisa 
saja memiliki sumbangsih lebih besar dalam isu konflik Rusia-Ukraina. Nama-nama 
tersebut adalah Arif Havas Oegroseno yang kini menjabat sebagai Dubes untuk 
Jerman dan Desra Percaya yang kini menjabat sebagai Dubes untuk Britania 
(Inggris) Raya.

Mengacu pada tulisan Connelly, Havas memiliki pengalaman panjang dalam 
menegosiasikan persoalan maritim – sebuah isu yang kini jadi perhatian antara 
ASEAN dan Tiongkok. Sementara, Desra berpengalaman panjang di 
organisasi-organisasi multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pengalaman panjang dalam dunia diplomatik seperti ini bisa saja menciptakan 
kepercayaan dan karisma pada tingkat tertentu bagi sang diplomat. Mungkin, 
pengalaman panjang inilah yang membuat Menlu seperti Ali Alatas yang menjabat 
pada 1988-1999 mendapatkan kepercayaan tinggi dari banyak negara – bahkan 
sampai muncul desas-desus untuk dicalonkan menjadi Sekjen PBB.

Berkaca dari berbagai penjelasan di atas, bukan tidak mungkin Jokowi perlu 
mempertimbangkan kepemimpinan diplomatik yang lebih mumpuni bila ingin sukses 
dalam menjalankan diplomasi Indonesia dalam isu Rusia-Ukraina. Lagipula, dengan 
kepemimpinan yang sesuai, Indonesia pun bisa menjadi “ketua kelas” yang baik 
dan memiliki banyak teman layaknya lirik Sherina di awal tulisan. Bukan begitu? 
(A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4BF490820FCE4849AF516135FF1BD888%40A10Live.

Reply via email to