Mengapa Menlumua diganti ? Lantas bossnya? hehehehehe On Wed, Jul 13, 2022 at 3:11 AM Chan CT <[email protected]> wrote:
> Saatnya Jokowi Ganti Menlu Retno? > Written by*A43* <https://www.pinterpolitik.com/author/a43/> > Tuesday, July 12, 2022 20:30 > > https://www.pinterpolitik.com/saatnya-jokowi-ganti-menlu-retno/ > [image: saatnya jokowi ganti menlu retno] > > *Dalam pertemuan antar-Menteri Luar Negeri (Menlu) dari negara-negara > anggota G20 dan sejumlah perwakilan undangan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) > mempercayakan pada Menlu RI Retno Marsudi untuk memandu jalannya diskusi. > Namun, pembahasan disebut lebih banyak pada adu tudingan terhadap Rusia > terkait konflik di Ukraina.* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/> > > *“Betapa bahagianya dapat saling menyayangi. Betapa bahagianya punya > banyak teman” – Sherina, “Persahabatan” (2000)* > > Menjadi sebuah pengalaman menarik bagi mereka yang pernah menjabat sebagai > ketua kelas ketika masih duduk di bangku sekolah. Biasanya, sosok ketua > kelas dilihat sebagai orang yang harus bisa memandu teman-temannya agar > tidak terperosok ke masalah-masalah yang bisa dihindari. > > Ketika terjadi pertengkaran di dalam kelas, misalnya, ketua kelas harus > bijak menengahi siswa-siswa yang berselisih. Selain itu, kala kelas ramai > ketika tidak ada guru di kelas, ketua kelas juga yang biasanya berinisiatif > untuk menenangkan agar tidak dimarahi oleh guru. > > Mungkin, bila dianalogikan dengan suasana kelas, pertemuan antar-menteri > luar negeri (Menlu) negara-negara anggota G20 di Bali pada 7-8 Juli 2022 > lalu bisa dibilang mirip. Dengan tidak adanya sosok yang benar-benar bisa > mengatur perilaku para peserta, sang “ketua kelas” lah yang akhirnya harus > hadir untuk memimpin para “anggota kelas”. > > Dalam pertemuan G20 kemarin, bukan tidak mungkin peran tersebut jatuh di > tangan Menlu RI Retno Marsudi. Di bawah panduan mantan Duta Besar (Dubes) > Indonesia untuk Belanda tersebut, negara-negara anggota G20 – seperti > Amerika Serikat (AS), Rusia, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), India, Arab > Saudi, Turki, dan sebagainya – bertemu dalam satu ruangan. > > Pertemuan itu juga menjadi pengalaman pertama bagi Menlu AS Antony Blinken > dan Menlu Rusia Sergei Lavrov berada dalam satu ruangan semenjak konflik > Rusia-Ukraina meletus sejak 24 Februari 2022 lalu. Tentu, ini menjadi momen > yang bersejarah dalam sejarah dunia. > > Namun, tatap muka antara Blinken dan Lavrov bukan berarti pandangan bisa > bertemu begitu saja antara AS dan Rusia. Justru, ketegangan malah makin > menjadi-jadi dalam pertemuan antar-menlu tersebut. > > Kala Lavrov tiba di *venue* pertemuan dan bersalaman dengan Retno, > misalnya, sejumlah wartawan asing langsung meneriaki Menlu Rusia tersebut > dan mempertanyakan mengapa Rusia memulai perang terhadap Ukraina. Selain > itu, Lavrov dilaporkan absen dalam ruangan kala Ukraina mendapat giliran > berbicara. > <https://www.instagram.com/p/Cf099hhhUnE/>[image: Rusia Di-bully di G20] > <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/07/image-32-819x1024.png> > > Belum lagi, upaya diplomasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Kyiv, > Ukraina, dan Moskow, Rusia, dinilai tidak membuahkan hasil yang begitu > nyata. Sang presiden sendiri bahkan sudah mewanti-wanti publik soal > kenaikan harga pangan yang berbahan gandum – seperti mi instan dan roti. > > Tidak dipungkiri lagi bahwa isu Rusia dan Ukraina bakal tetap menjadi isu > utama dalam politik internasional ke depannya – mengingat dampaknya yang > cukup pesar terhadap harga pangan dan energi dunia. Ini bakal menjadi tugas > yang cukup berat bagi para diplomat Indonesia untuk menyelamatkan negara > kepulauan ini dari ancaman krisis dan inflasi. > Lantas, manuver apa yang perlu dipersiapkan oleh Menlu Retno dan para > diplomat Indonesia menghadapi krisis global ini? Mengapa tantangan ini bisa > jadi berat bagi Retno dan kementeriannya? > *Retno, **The Congregator**?* > > Apa yang ditampilkan Jokowi dalam diplomasi yang dijalankannya antara > Rusia dan Ukraina jelas bertujuan untuk membangun konsensus di antara > negara-negara yang berkepentingan. Hal ini juga yang diharapkan > pemerintahan Jokowi dengan mengundang Ukraina sekaligus Rusia dalam > rangkaian kegiatan G20 2022. > > Dalam pertemuan Menlu G20, misalnya, Retno sendiri menekankan pada > pentingnya multilateralisme dalam menyelesaikan persoalan-persoalan global. > Salah satu isu yang diangkat dalam pidato pembukaan Retno pun adalah > persoalan pangan dan energi global. > > Namun, pada faktanya, daripada mencari solusi yang dua arah, banyak negara > Barat seperti AS menuding Rusia sebagai pihak yang harusnya bertanggung > jawab atas krisis yang menghantui. Belum lagi, Blinken secara jelas > menunjukkan keengganannya untuk berbicara langsung dengan Lavrov. > > Lagipula, *elephant in the room* (persoalan utama) juga sudah jelas hadir > di antara negara-negara ini. Siapa tahu persoalan utama ini bisa menjadi > kepentingan bersama (*common interest*) bagi negara-negara G20 untuk > memperdalam kerja sama antara satu sama lain. > > Mungkin, sebagai “ketua kelas”, menjadi kewajiban Retno untuk bisa > menyelesaikan ketegangan yang terjadi dalam ruangan. Apalagi, peran > kepemimpinan diplomatik dalam situasi krisis seperti ini bisa jadi penting. > [image: Jokowi meets Putin but it's a Spotify playlist] > <https://www.instagram.com/p/Cfh3w5svkPB/> > > Mengacu pada tulisan Corneliu Bjola yang berjudul *Diplomatic Leadership > in Times of International Crisis*, kepemimpinan diplomatik kala krisis > dapat dibagi menjadi tiga jenis. Jenis kepemimpinan *pertama* adalah > *maverick*, yakni sosok pemimpin yang memiliki visi besar tetapi tidak > bisa sepenuhnya menginspirasi pihak lainnya. > > *Kedua*, terdapat jenis kepemimpinan *congregator*, yakni pemimpin > diplomatik yang berupaya untuk membangun konsensus. Terakhir, jenis > kepemimpinan yang *ketiga* adalah *pragmatist* yang mengombinasikan > keduanya untuk membangun hubungan yang mutual. > > Bukan tidak mungkin, pemerintahan Jokowi melalui kebijakan luar negeri > yang dijalankan oleh Retno menginginkan adanya pembangunan konsensus > melalui prinsip multilateralisme. Bukan tidak mungkin, peran > *congregator *seperti yang dijelaskan Bjola lah yang diambil oleh Retno > kala memimpin pertemuan Menlu G20. > > Peran seperti ini pun pernah diambil oleh seorang diplomat asal Spanyol > yang bernama Javier Solana yang menjadi *congregator* di antara > negara-negara Eropa kala krisis diplomatik terjadi di Kosovo pada tahun > 1999. Dalam pembicaraan-pembicaraan tertutup, Solana sebagai Sekretaris > Jenderal (Sekjen) North Atlantic Treaty Organization (NATO) berusaha > menjaga kohesi di antara negara-negara anggotanya. > > Lantas, bila Retno ingin menjalankan peran seperti yang dilakukan oleh > Solana, mungkinkah peran tersebut bisa berjalan lancar? Kemudian, apa yang > sebenarnya perlu menjadi pertimbangan Jokowi bila ingin sukses mewujudkan > prinsip-prinsip multilateralisme dalam persoalan konflik Rusia-Ukraina? > *Waktunya Jokowi Ganti Retno?* > > Keberhasilan Solana dalam menjalankan perannya sebagai *congregator* cukup > dikenal di dunia internasional. Andrew Rettman dalam tulisannya di EU > Observer bahkan menyebut Solana sebagai *master* dalam diplomasi > diam-diam (*quiet*) dan tersembunyi (*behind-the-scene*). > Inipun mirip dengan apa yang dijalankan oleh Retno terkait persoalan > Rusia, Ukraina, dan G20. Sebelum Jokowi akhirnya memberikan undangan untuk > datang di KTT G20 2022 kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui > percakapan telepon, Retno ditengarai melalui diplomasi secara diam-diam di > antara negara-negara Eropa Barat. > > Pasalnya, Indonesia disebut terus ditekan oleh AS dan negara-negara Eropa > agar tidak mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin ke KTT tersebut. > Padahal, undangan kepada Putin juga bisa jadi kepentingan Jokowi untuk > menjalankan peran sebagai tuan rumah G20 yang baik. > [image: Retno Gagal Pandu G20] <https://www.instagram.com/p/Cfz5UZWBcFF/> > > Dengan kepentingan ini, bukan tidak mungkin Jokowi membutuhkan > *congregator* yang mumpuni – setidaknya bisa diterima dan dipercaya oleh > banyak pihak yang saling berlawanan. Dengan kepercayaan dan kharisma lah, > mengacu pada tulisan Rettman, Solana bisa meyakinkan negara-negara Eropa di > saat-saat krisis. > > Namun, bila melihat kembali latar belakang sebelum menjabat sebagai Menlu, > Retno bukanlah orang yang memiliki pengalaman panjang dalam > organisasi-organisasi multilateral. Pengalaman seperti ini tentu diperlukan > bila ingin menegakkan prinsip multilateralisme di tengah dunia yang semakin > multipolar. > > Aaron L. Connelly dalam tulisannya yang berjudul *Sovereignty and the > Sea: President Joko Widodo’s Foreign Policy Challenges* menjelaskan bahwa > Retno lebih merupakan seorang *Europeanist*. Label yang diberikan oleh > Connelly ini menjadi masuk akal karena sang Menlu justru lebih banyak > berpengalaman sebagai Dubes di negara-negara Eropa seperti Islandia dan > Norwegia (2005-2008), serta Belanda (2012-2015). > > Bukan tidak mungkin, sebagai seorang *Europeanist*, Retno tidak memiliki > kepercayaan yang cukup dari salah satu pihak. Rusia, misalnya, kini menjadi > negara yang bersitegang dengan negara-negara Barat. > > Justru, sebenarnya terdapat nama-nama lain yang lebih berpengalaman – dan > bisa saja memiliki sumbangsih lebih besar dalam isu konflik Rusia-Ukraina. > Nama-nama tersebut adalah Arif Havas Oegroseno yang kini menjabat sebagai > Dubes untuk Jerman dan Desra Percaya yang kini menjabat sebagai Dubes untuk > Britania (Inggris) Raya. > > Mengacu pada tulisan Connelly, Havas memiliki pengalaman panjang dalam > menegosiasikan persoalan maritim – sebuah isu yang kini jadi perhatian > antara ASEAN dan Tiongkok. Sementara, Desra berpengalaman panjang di > organisasi-organisasi multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). > > Pengalaman panjang dalam dunia diplomatik seperti ini bisa saja > menciptakan kepercayaan dan karisma pada tingkat tertentu bagi sang > diplomat. Mungkin, pengalaman panjang inilah yang membuat Menlu seperti Ali > Alatas yang menjabat pada 1988-1999 mendapatkan kepercayaan tinggi dari > banyak negara – bahkan sampai muncul desas-desus untuk dicalonkan menjadi > Sekjen PBB. > > Berkaca dari berbagai penjelasan di atas, bukan tidak mungkin Jokowi perlu > mempertimbangkan kepemimpinan diplomatik yang lebih mumpuni bila ingin > sukses dalam menjalankan diplomasi Indonesia dalam isu Rusia-Ukraina. > Lagipula, dengan kepemimpinan yang sesuai, Indonesia pun bisa menjadi > “ketua kelas” yang baik dan memiliki banyak teman layaknya lirik Sherina di > awal tulisan. Bukan begitu? (A43) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4BF490820FCE4849AF516135FF1BD888%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4BF490820FCE4849AF516135FF1BD888%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2Db-VgCCOiMBd2khE5g8dacTUiMQ4PCsBE0_uHye-h-Dg%40mail.gmail.com.
