OPINI & WAWANCARAOPINIMenyambut Peringatan 27 Juli: Reformasi Telah Dibajak 
ByTim 
Redaksi0https://bergelora.com/menyambut-peringatan-27-juli-reformasi-telah-dibajak/

Oleh: Jacobus K. Mayong Padang *

RENUNGAN atas berita berjudul ‘Jokowi Tegur Zulhas Imbas Kampanye, Zulhas atau 
Zulkifli Hassan (Menteri Perdagangan yang baru sebulan menduduki jabatannya) 
Promosikan Anaknya Sambil Bagikan Minyak Goreng.


Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan pada saat acara PANsar murah di Lampung pada 
Sabtu (9/7/2022). (Ist) 
Berita menarik yang muncul menjelang peringatan Matatuli (Malapetaka 27 Juli)

Sudah jadi tren para pejabat di republik ini memanfaatkan jabatan dan 
kekuasaannya untuk mengurus dan promosi istri, suami, anak, cucu, adik, ipar, 
sekalipun mereka sesungguhnya belum mampu. Hal itu sudah terjadi dengan kasat 
mata dalam keseharian dan dianggap sebagai hal yang lumrah dengan memakai 
berbagai alasan pembenaran.

Padahal, REFORMASI yang diperjuangkan selama dua dasawarsa oleh begitu banyak 
orang yang mengabaikan diri dan keluarganya, ulangi mengabaikan diri dan 
keluarganya karena sadar panggilannya untuk kemanusiaan, untuk bangsa dan 
negara, serta memakan korban yang begitu banyak dalam berbagai bentuk, 
sejatinya untuk menghentikan praktek bernegara yang sudah melenceng jauh dari 
esensi kemerdekaan yang dicita-citakan para pendiri republik ini.

Sesungguhnya cita-cita para pendiri republik ini amat mulia, dan sejatinya 
harapan para penggagas dan pejuang reformasi itu suci dan indah. Namun pada 
kenyataannya, kini telah dibajak oleh para mafia dalam berbagai bentuk dan di 
berbagai bidang. Mereka, mereka itu, para mafia, mafia dalam berbagai bentuk 
dan di berbagai bidang.

Mungkin itulah maksud kenapa Bung Karno dulu berpesan; “Hati-hati, jangan 
sampai kereta Marhaen dikusiri orang lain” karena beliau khawatir jika mimpi 
mulia para pendiri dan pejuang republik ini berbelok arah. Dan itu yang sedang 
terjadi saat ini.

REFORMASI sebagai upaya pengembalian cita-cita kemerdekaan yang membawa misi 
luhur dan mulia itu telah berbelok arah jauh karena dibajak para mafia. 
Mafianya tampil keren dalam berbagai bentuk sehingga kemafiaannya tidak 
kelihatan– dan di segala bidang dengan berbagai kemasan indah sehingga tersamar 
tetapi sebenarnya mafia yang sedang berburu kekuasaan dan harta untuk 
kenikmatan keluarga dan kroni.

Jadi kalau Zulhas ditegur Presiden, begitu judul berita di video di atas yang 
diposting mbak Dewi Jakse, karena Zulhas mempromosikan anaknya sambil 
membagikan minyak goreng dan itu sudah beredar luas di medsos, dalam konteks 
perilaku umum pejabat sesungguhnya.

ZULHAS tidak salah karena dia hanya mengikuti tren yang memang sudah menjadi 
semacam “idiologi” pejabat di semua lini,– mengusahakan istri, suami, anak, 
cucu, saudara ipar, keponakan menjadi pejabat juga. Persis apa yang terjadi 
pada rezim Soeharto yang saat itu dikecam kaum reformis dengan istilah 
AMPI,–anak mantu, ponakan ipar karena saat itu menjalar kebiasaan buruk 
sebagian kalangan pejabat memperjuangkan keluarganya menjadi pejabat juga’–dan 
itulah antara lain yang memicu semangat kaum reformis untuk berjuang agar 
negara ini bisa kembali dikelola secara sehat, agar bisa kembali pada cita-cita 
awalnya. Cita-cita mulia yang diperjuangkan dengan tulus dan konsisten.

Jadi kalau bicara tren, Zulhas tidak salah. Tetapi kalau bicara tentang esensi 
REFORMASI jelas salah. Itu kesalahan besar bahkan itu adalah sebuah kejahatan 
dalam tata kelola negara. Dan karena itu kejahatan, tidak pantas hanya ditegur. 
Harusnya dipecat karena itu kelakuan buruk yakni mendahulukan kepentingan 
keluarga yang harus dihentikan.

Tetapi kalau menghentikan kelakuan buruk Zulhas itu harus berlaku umum, 
menyeluruh karena itu pengingkaran, penodaan REFORMASI.

Tindakan menghentikan kelakuan buruk para pejabat yang mengangkangi negara ini 
untuk kepentingan pribadi, keluarga dan kroninya sangat tepat menjadi 
peringatan MATATULI, peristiwa 27 Juli,– 25 tahun silam sebagai klimaks 
perjuangan REFORMASI selama dua dasawarsa.

Itulah sebabnya kali ini DPP PDI Perjuangan bersama KaeLeR (Kawal dan Luruskan 
Reformasi ) akan memperingati peristiwa bersejarah itu tidak hanya sekedar 
tabur bunga tetapi dengan berbagai kegiatan termasuk sarasehan untuk meluruskan 
kembali REFORMASI yang sudah dibajak para mafia.

Doa dan hormat kepada para korban dan pejuang reformasi. Baktimu energi 
perjalanan bangsa.

Kalibata, Rabu, 13 Juli 2022

#terasbangsa
#luruskanreformasi
#institutmarhaen

* Penulis, Jacobus K. Mayong Padang, kader PDI Perjuangan

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/3FB3B682FE744C94BB970AA6E7098844%40A10Live.

Reply via email to