Written byJ61Wednesday, July 13, 2022 17:15

https://www.pinterpolitik.com/berisik-qodari-terjebak-mitos/
“Berisik”, Qodari Terjebak Mitos?
Menurut penggagas komunitas Jokowi-Prabowo (Jokpro 2024) M. Qodari polarisasi 
ekstrem akan tetap terjadi di Pilpres 2024. Atas dasar itu, Qodari mengusung 
duet Jokowi-Prabowo sebagai solusi untuk meredamnya. Namun demikian, klaim 
polarisasi Qodari itu agaknya keliru. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Wacana memperpanjang masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali 
terlontar dari Direktur Eksekutif Indo Barometer yang juga penggagas komunitas 
Jokowi-Prabowo (Jokpro 2024), M. Qodari. Seperti sebelumnya, duet ideal mantan 
Wali Kota Solo dari imajinasinya tak lain adalah Prabowo Subianto.

Itu menjadi solusi dari peringatan Qodari atas potensi politik identitas dan 
polarisasi ekstrem menuju tahun politik 2024, yang menurutnya, diprediksi akan 
semakin tajam.

Melalui pernyataannya pada akhir Juni lalu, dia yakin bahwa pertarungan di 
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 pasti akan dimanfaatkan oleh aktor politik 
untuk kemudian bekerja sama dengan kelompok-kelompok yang kerap 
mengkapitalisasi isu identitas.

Persaudaraan Alumni (PA) 212 dinilai akan menjadi salah satu pihak yang 
berpotensi bermain dan akan dirangkul untuk kepentingan politik.

Qodari bahkan merinci kekhawatirannya bahwa kelompok-kelompok itu akan melabeli 
Islam secara eksklusif kepada calon presiden (capres) tertentu yang akan 
bermuara pada terciptanya polarisasi ekstrem.

Argumen itu sendiri disampaikannya dengan mengacu pada tren yang terjadi di 
Pilpres 2014 dan 2019.

  
Di sisi lain, narasi Qodari yang bermakna amendemen konstitusi itu sekilas 
cukup riskan bagi aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, terutama Presiden 
Jokowi maupun PDIP sebagai partai politik (parpol) penyokong. Terlebih, konteks 
polarisasi yang dikedepankan justru bisa saja memelihara dan memantik 
pembelahan itu sendiri.

Lantas, benarkah polarisasi menjadi ancaman serius di kontestasi elektoral 2024?

Polarisasi Hanya Mitos?
Isu polarisasi di tengah masyarakat sebagai pemilih bukanlah barang baru dalam 
perpolitikan, terutama di negara yang menganut asas demokratis. Sayangnya, 
konteks tersebut belakangan dimanfaatkan secara abstrak, khususnya sebagai daya 
tawar politik hingga melabeli kelompoknya sebagai antitesis dari polarisasi.

Mark Penn, seorang analis strategi politik asal Amerika Serikat (AS), dalam 
bukunya Microtrends: The Small Forces Behind Tomorrow’s Big Changes, memberikan 
seperangkat perspektif penting untuk memahami isu polarisasi politik, atau 
lebih rincinya polarisasi pemilih.

Alumni Harvard University itu menunjukkan serangkaian data statistik pemilih di 
AS. Negeri Paman Sam sendiri dikenal sebagai negara yang sangat terbelah secara 
politik. Setidaknya, itu tercermin jelas dari hitam-putihnya kecenderungan 
politik kekuasaan di sana, yakni antara Partai Demokrat dan Partai Republik.

Mengacu pada data statistik yang disajikan Penn, pemilih yang mengaku 
independen, atau bukan pendukung Demokrat maupun Republik, mengalami 
peningkatan dari seperempat menjadi lebih dari sepertiga dalam 50 tahun 
terakhir.

Di saat yang sama, Penn mengatakan pemilih independen merupakan penentu setiap 
kemenangan. Dia tidak sepakat dengan polarisasi yang tidak berubah atau 
bersifat baku. Menurutnya, mayoritas pemilih justru adalah swing voters.
Penn memberikan sampel, yakni sebuah survei pada tahun 1995. Ketika itu, jajak 
pendapat menunjukkan sekitar 65 persen pemilih menyebut tidak akan memilih Bill 
Clinton. Namun menariknya, setahun kemudian, Bill Clinton justru terpilih 
kembali dalam pemilu dengan suara yang signifikan.

  
Oleh karena itu, Penn sampai pada kesimpulan bahwa polarisasi pemilih yang 
bersifat baku sebenarnya hanya sebuah mitos.

Selain itu, dalam konteks Indonesia, fondasi keharmonisan di akar rumput 
sesungguhnya cukup baik. Kiranya kurang tepat juga mengatakan satu atau dua 
kasus perdebatan atau fenomena intoleransi disebut sebagai polarisasi secara 
utuh.

Jared Diamond dalam bukunya yang berjudul Upheaval: How Nations Cope with 
Crisis and Change juga menyiratkan hal yang sama, yakni eskalasi atas dasar 
agama di Indonesia masih jauh dibandingkan apa yang terjadi di negara-negara 
Asia Selatan dan Timur Tengah.

Secara umum, Diamond menyanjung kerukunan setiap umat beragama di Tanah Air 
mengingat sebagai negara dengan berbagai keragaman yang ada, Indonesia mampu 
menunjukkan stabilitas dan persatuan secara menakjubkan.

Mantan diplomat Singapura Kishore Mahbubani turut memberikan kesan positif bagi 
Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Indonesia’s Democratic Miracle, 
Mahbubani menyebut Indonesia merupakan mercusuar kebebasan dan demokrasi bagi 
dunia Muslim.

Menurut Presiden Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa periode Januari 
2001-Mei 2002 itu, islamofobia secara mengejutkan tidak berkembang di Indonesia 
walaupun terjadi beberapa serangan terorisme besar, seperti bom Bali dan 
sederet aksi teror lain setelahnya. Berbeda halnya dengan satu negara yang 
menjadi komparasi Mahbubani, yakni AS, pasca teror 9/11.

Tidak heran kemudian apabila teradpat analisis yang menyebutkan bahwa 
pembelahan atau polarisasi yang terjadi di masyarakat kiranya hanya orkestra 
yang dimainkan oleh aktor politik yang menggunakan strategi kampanye penajaman 
identitas.

Paling tidak, hal itu dapat ditelaah dari eksistensi buzzer atau pendengung 
yang telah membuat keruh blantika politik Indonesia level teratas.

Kate Lamb dalam artikelnya yang berjudul I felt disgusted’: inside Indonesia’s 
fake Twitter account factories, menemukan kecenderungan itu dan menjabarkan 
dampak penggunaan buzzer politik pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 
2017 yang intens.

Dua kutub sentimen terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sama-sama menggunakan 
buzzer sebagai senjata politik. Di kubu kontra, Muslim Cyber Army (MCA) hadir 
dengan ratusan akun palsu serta anonim untuk menyebarkan konten bertendensi 
rasis agar Ahok kehilangan keterpilihan.

Sementara itu, di kubu pro Ahok, Lamb memaparkan salah satu tim buzzer yang 
mendapat bayaran sekitar US$280 per bulan untuk mengunggah 60 sampai 120 konten 
per hari di berbagai akun media sosial palsu mereka.
Dalam konteks serupa, pengamat politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 
Wasisto Jati menyiratkan bahwa dalih polarisasi dan konfigurasi capres-cawapres 
bukanlah untuk menyatukan masyarakat, melainkan menyatukan kepentingan para 
elite politik.

Lalu, apakah kecenderungan itu dapat menjadi dasar untuk mengatakan bahwa 
kekhawatiran Qodari sama sekali tidak tepat?

 
Terima Kasih, Prabowo?
Greg Fealy, Sally White, dan Burhanuddin Muhtadi dalam Counter-polarisation and 
political expediency menyajikan data dan analisis yang cukup menarik.

Terdapat tren baru yang mereka sebut sebagai counter-polarisation atau kontra 
polarisasi yang muncul dalam tiga tahun terakhir. Momentum saat Prabowo 
Subianto memutuskan bergabung dengan pemerintahan Jokowi disebut menjadi 
pemantik utama dan jadi yang paling mencolok.

Berangkat dari data Lembaga Survei Indonesia (LSI), Fealy dkk mengatakan bahwa 
polarisasi bukanlah masalah level nasional yang signifikan bagi sebagian besar 
masyarakat Indonesia.

Hal itu mengacu pada survei yang menemukan bahwa 11 persen responden merasa 
Indonesia sangat terpolarisasi dan 27 persen menganggapnya cukup terpolarisasi. 
Sementara 33 persen percaya hanya ada sedikit polarisasi dan 16 persen lainnya 
tidak melihat adanya polarisasi.

Polarisasi dikatakan hanya menjadi perhatian karena dimiliki oleh elit di 
wilayah perkotaan yang terdiri dari para profesional dan mereka yang memiliki 
tingkat pendidikan dan pendapatan lebih tinggi.

Tak hanya itu, survei menunjukkan sebesar 81 persen responden tidak keberatan 
untuk tinggal di dalam satu lingkungan dengan pendukung capres maupun pendukung 
partai politik (parpol) yang berbeda dengan pilihan mereka.

Oleh karena itu, polarisasi yang ada disebut Fealy dkk lebih bersifat elitis 
dibandingkan keprihatinan konkret di akar rumput. Plus, toleransi perbedaan 
politik serta tak signifikannya perpecahan antara kelompok pluralis dan Islam 
(konservatif), kontras dengan perkiraan-perkiraan seperti yang dikemukakan 
Qodari.

Terlebih, kekhawatiran Qodari agaknya memiliki tendensi tertentu ketika 
diiringi solusi saklek tiga periode yang membutuhkan energi besar untuk 
melakukan amendemen konstitusi.

Berdasarkan penjabaran di atas, diharapkan masyarakat sebagai pemilih dapat 
melihat konteks polarisasi secara lebih jernih. Tentu untuk menghindari jebakan 
orkestra pembelahan lebih awal, maupun dalih untuk “menyatukan” yang muaranya 
hanya demi persatuan kepentingan politik. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/3E365588EFCC41BF8A44F2713124B845%40A10Live.

Reply via email to