Written byJ61Friday, July 15, 2022 07:00

https://www.pinterpolitik.com/demografi-jokowi-bernyali-soeharto/
Demografi, Jokowi Bernyali Soeharto?
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para ibu untuk mengendalikan kelahiran 
demi terciptanya sumber daya manusia (SDM) yang baik. Sejak era Soekarno, 
Soeharto, dan Reformasi, politik demografi Indonesia mengalami pasang surut. 
Lalu, mengapa politik demografi menjadi penting?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di awal pekan ini 
merilis laporan bertajuk World Population Prospects yang bertepatan dengan Hari 
Populasi Sedunia.

Hasil riset dalam laporan itu memprediksi bahwa penduduk dunia akan mencapai 
delapan miliar orang pada 15 November 2022 mendatang. Secara gradual, populasi 
juga disebut akan terus bertambah menjadi sekitar 8,5 miliar pada tahun 2030 
serta 9,7 milar dua dekade setelahnya.

Selain itu, jumlah penduduk India akan menjadi yang terbanyak di bumi pada 
tahun 2050, yakni sebanyak 1,66 miliar sekaligus melampaui Tiongkok dengan 
perkiraan sekitar 1,317 miliar di tahun yang sama.

Sementara itu, populasi Indonesia sebesar 317 juta orang diprediksi akan 
tersalip oleh Nigeria dan Pakistan pada tahun 2050, masing-masing dengan 375 
juta dan 366 juta jiwa.

Meskipun diiringi dengan nada optimisme, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB 
António Guterres mengingatkan bahwa pertumbuhan populasi akan berhadapan dengan 
ancaman nyata seperti krisis iklim, perang dan konflik, situasi darurat 
kemanusiaan, kelaparan, kemiskinan, hingga pandemi. Oleh karena itu, dia 
menyebut dunia masih dalam keadaan bahaya.

Menariknya, rilis laporan tersebut tak berselang lama dengan arahan Presiden 
Joko Widodo (Jokowi) yang kiranya memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan 
populasi.

  
Pada acara Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29 di Medan, 
Sumatera Utara Kamis lalu, Presiden berharap kepada para ibu untuk 
mengendalikan kelahiran demi terciptanya sumber daya manusia (SDM) Indonesia 
yang baik.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu berharap agar setiap orang tua harus mengatur 
jarak kelahiran dan memprioritaskan hal-hal esensial seperti kecukupan gizi 
hingga pendidikan bagi anak.

Kendati tidak membatasi jumlah kelahiran, Kepala Negara agaknya mengajak 
masyarakat untuk berefleksi mengenai konsekuensi bertambahnya populasi secara 
tidak langsung.

Dengan menyinggung aspek gizi serta pendidikan, Presiden Jokowi bisa saja 
menginginkan setiap orang tua bersama-sama memahami bahwa keputusan memiliki 
anak saat ini tentu akan berhadapan dengan bermacam tantangan pelik, yang 
kiranya selaras dengan apa yang dikatakan Guterres.

Ya, setiap negara, termasuk Indonesia, terus berpacu dengan laju pertumbuhan 
populasi dan tantangan pemerataan kesejahteraan. Krisis seperti pandemi 
Covid-19 agaknya cukup menjadi pemantik bagi kesadaran pemerintah akan 
pentingnya kebijakan politik demografi yang tepat, beriringan dengan kebijakan 
lainnya secara komprehensif.

Lantas, mengapa politik demografi menjadi penting?

 
Jangan Berjudi dengan Mitos?
Frasa “demografi” kerap mengalami reduksi dengan sendirinya dan dianggap tidak 
lebih dari sekadar deretan angka. Nyatanya, dampak konkret dari dinamika 
kependudukan memiliki keterkaitan multi-aspek, termasuk dalam aspek politik 
politik.

Hal itu senada dengan apa yang dikemukakan Gary Freeman dalam jurnalnya yang 
berjudul Political Science and Comparative Immigration Politics. Freeman 
menyebut ilmuwan politik kerap melewatkan sorotan terhadap isu demografi. 
Padahal perubahan demografi mengakibatkan implikasi serius bagi politik.

Salah satu yang dicontohkan Freeman adalah mengenai bagaimana rumitnya proses 
politik di sejumlah negara dalam merumuskan regulasi tentang keimigrasian. 
Perumusannya menjadi kompleks dikarenakan perhitungan atas permasalahan 
domestik hingga dampak ekonomi serta aspek lainnya.
Berbicara mengenai politik demografi, teori laju pertumbuhan penduduk dari 
Thomas Robert Malthus cukup tepat menjadi pijakan. Dalam publikasinya yang 
berjudul Essay on Population, Malthus memberikan dasar untuk memahami dampak 
pertumbuhan penduduk.

Asumsi dasar Malthus adalah bahwa pangan menjadi hal yang penting bagi 
kelangsungan hidup. Di saat yang sama, hasrat alamiah manusia cukup sulit 
dibatasi sehingga pertumbuhan penduduk akan jauh lebih cepat dari ketersediaan 
bahan makanan.

Menurutnya, pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan laju 
ketersediaan pangan mengikuti deret hitung. Hal inilah yang kemudian menjadi 
pangkal berbagai permasalahan ketika tidak dikelola dengan baik atau bahkan 
diabaikan.

Terdapat sejumlah bantahan terhadap teori ilmuwan ekonomi-politik dan demografi 
asal Inggris itu, seperti permasalahan kelahiran plus kelangkaan pangan yang 
dapat diatasi dengan perkembangan teknologi, perilaku demografi, dan distribusi 
kekayaan.

Akan tetapi, bantahan-bantahan itu belum mampu menjawab secara tuntas 
distribusi bahan pangan yang baik serta memutus korelasinya dengan laju 
pertumbuhan penduduk, seperti misalnya yang terjadi di banyak negara Afrika.

Bersamaan dengan itu, muncul aliran Neo-Malthusian yang digagas Paul Ehrlich 
dalam bukunya The Population Explosion. Mazhab ini menekankan persoalan serius 
yang muasalnya ialah pertumbuhan penduduk tak terkendali, lebih dari sekadar 
bahan pangan.

Ehrlich menyebut bahwa semakin banyaknya manusia di Bumi, kerusakan lingkungan 
menjadi bencana yang tak dapat dihindarkan seiring kian rumitnya pengaturan 
relasi di antara individu serta antar negara.

John Weeks dalam bukunya Population: An Introduction to Concepts and Issues 
mengutip pendapat sosiolog Prancis Emile Durkheim yang menekankan implikasi 
dari pertumbuhan penduduk yang tinggi.

Akibat tingginya pertumbuhan penduduk, Durkheim menyebut akan timbul persaingan 
di antara penduduk itu sendiri untuk dapat mempertahankan hidup.

Dengan pola hidup yang semakin kompleks, upaya untuk memenangkan persaingan 
tentu akan menimbulkan akumulasi gesekan yang signifikan dalam berbagai lini 
mulai dari sosial, ekonomi, hingga politik.

Di titik ini, mitos “banyak anak, banyak rezeki” menjadi semakin tak relevan 
dan kemungkinan semakin disadari pula oleh berbagai kalangan seiring waktu.

Apalagi, dampak nyata dari populasi yang tak terkendali dapat dilihat di 
berbagai sumber dan literatur, khususnya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, 
lingkungan, dan politik India – sebagai negara dengan penduduk terpadat kelak 
sebagaimana diprediksi PBB.

Solusi dari gagasan Malthus sendiri terbagi menjadi dua cara, yakni preventive 
check (penundaan pernikahan, pembatasan pernikahan, serta penggunaan 
kontrasepsi) dan positive check (bencana alam, wabah penyakit, hingga 
peperangan).

Dari sekian pemecahan permasalahan demografi, maksimalisasi penggunaan 
kontrasepsi menjadi ihwal yang tampaknya dapat diperjuangkan berbagai negara 
saat ini untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk, persis seperti anjuran 
penganut Neo-Malthusian.
Di Indonesia sendiri, politik demografi dengan mengadopsi salah satu opsi 
Neo-Malthusian di atas telah dilakukan di era Presiden Soeharto.

Lalu, bagaimana prospek politik demografi Indonesia ke depannya?

 
Enak Zaman Soeharto, Toh?
Permasalahan kependudukan ternyata telah ada sejak Indonesia masih seumur 
jagung. Pada dekade 50-an, kesehatan dan keselamatan ibu menjadi pemantik utama 
kesadaran sejumlah dokter saat itu ketika dihadapkan pada mitos “banyak anak 
banyak rezeki”.

Kepala Jawatan Kesejahteraan Ibu dan Anak di Kementerian Kesehatan dr. Julie 
Sulianti Saroso menjadi yang paling vokal. Dia menyarankan sebaiknya para ibu 
berani dan mau melakukan pembatasan kelahiran.

Mendapat kecaman keras dari banyak pihak, Menteri Kesehatan Johannes Leimena 
dan Presiden Soekarno langsung menegur dr. Sulianti Saroso. Sejak saat itu, 
gagasan pembatasan kelahiran kembali menjadi hal tabu.

Saat kepemimpinan diampu Presiden Soeharto, politik demografi mengalami 
kemajuan. Urbanisasi yang meningkatkan jumlah penduduk di perkotaan menjadi 
latar belakangnya saat itu.

Hadirlah program Keluarga Berencana (KB) dengan ditopang Lembaga Keluarga 
Berencana Nasional (LKBN) yang kemudian berubah menjadi Badan Koordinasi 
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Meskipun jumlah keluarganya sendiri tidak ideal karena memiliki enam anak, 
Soeharto menginginkan Indonesia terdiri dari keluarga-keluarga kecil yang 
sejahtera dan tidak tercekik tuntutan ekonomi.

Bagi Soeharto, KB – program maksimal dua anak – adalah terobosan terbaik demi 
pengendalian jumlah penduduk Indonesia yang sangat mudah bertambah.

Pada tahun 1987, Soeharto tampak mengikuti anjuran Neo-Malthusian dengan 
meresmikan pabrik alat kontrasepsi pertama di Indonesia.

Meskipun cenderung bertendensi paksaan karena pejabat daerah akan dicopot jika 
gagal menahan lonjakan penduduk, program KB Soeharto cukup sukses.

Berdasarkan data statistik BKKBN, tanpa program KB, penduduk Indonesia dapat 
menyentuh angka 340 juta jiwa. Dengan kata lain, Soeharto berjasa menekan 100 
juta jiwa kelahiran penduduk baru.

Sayangnya, program KB seolah dilupakan segera setelah kepemimpinan Soeharto 
berganti di tahun 1998.

Namun, politik demografi Presiden Soeharto kiranya bisa ditiru dari refleksi 
saran Presiden Jokowi untuk mengendalikan kelahiran saat ini.

Akan tetapi, tantangan agaknya akan hadir terutama dari kelompok keagamaan yang 
memiliki argumen tidak ingin menolak rezeki atau menolak takdir. Dengan 
konsekuensi dampak buruk laju pertumbuhan penduduk tak terkendali, berbagai 
kontra narasi agaknya pantas dicoba.

Satu di antaranya adalah dengan menginternalisasi nilai dalam agama bahwa 
manusia juga diciptakan dengan akal dan pikiran sebelum membuat keputusan plus 
diwajibkan merawat bumi untuk keberlanjutannya.

Presiden Jokowi agaknya menyadari bahwa antitesis bonus demografi bisa saja 
menjadi bumerang ketika kualitas SDM Indonesia tidak memadai. Lalu, apakah 
Presiden Jokowi cukup bernyali untuk meniru politik demografi Soeharto? (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6871CD98D4FB47119394F248A41DFCE8%40A10Live.

Reply via email to