Written byR53Thursday, July 14, 2022 08:00

https://www.pinterpolitik.com/megawati-adopsi-opsus-ali-moertopo/
Megawati Adopsi Opsus Ali Moertopo?
Megawati Soekarnoputri menjadikan Pancasila sebagai ideologi PDIP. Bahkan, 
Megawati meminta mereka yang tidak mau berideologi Pancasila untuk keluar dari 
Indonesia. Mungkinkah Megawati tengah mengadopsi strategi intelijen politik 
yang dijalankan Operasi Khusus (Opsus) binaan Ali Moertopo?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Seperti yang telah dibahas dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Andika dan 
Prabowo Terkenal karena Mitos?, ada semacam persepsi bersifat anomali di tengah 
masyarakat Indonesia. Menariknya, kendati terjadi trauma politik akibat 
dwifungsi ABRI di Orde Baru (Orba), masyarakat Indonesia justru mendambakan 
sosok pemimpin berlatar militer.

Ini dapat dilihat pada mencuatnya sosok berlatar militer di bursa capres 2024. 
Saat ini, ada Letnan Jenderal TNI Prabowo Subianto dan Panglima TNI Jenderal 
Andika Perkasa yang menjadi dambaan masyarakat dan elite politik untuk diusung 
di Pilpres 2024.  

Pada objek politik lain, anomali persepsi juga terlihat pada diri Ketua Umum 
PDIP Megawati Soekarnoputri. Telah sejak lama Megawati menjadi sosok frontal 
yang menyuarakan ideologi Pancasila. Saat ini, ia juga menjadi Ketua Dewan 
Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Bahkan, dalam berbagai 
kesempatan, Megawati sampai meminta mereka yang tidak ingin berideologi 
Pancasila untuk keluar dari Indonesia.

Penekanan-penekanan itu menjadi menarik karena narasi keras mendorong Pancasila 
seperti itu adalah ciri khas rezim Soeharto, rezim yang memberikan Megawati 
trauma politik. Di bawah rezim Orde Baru, Soekarno yang merupakan Bapak 
Proklamasi harus menghabiskan hidupnya menjadi tahanan rumah. Peristiwa itu 
sampai menciptakan kesepakatan di keluarga Soekarno agar tidak lagi terlibat 
politik praktis. 

Di titik ini, ada satu pertanyaan sederhana yang dapat diajukan. Kenapa 
Megawati seperti mengulang strategi politik Soeharto yang menempatkan Pancasila 
sebagai asas tunggal?

Jika ingin menarik simpati masyarakat luas dan meningkatkan citra PDIP, kenapa 
Megawati tidak melakukan politik diferensiasi dengan Soeharto?  Sebagai contoh, 
Megawati tetap menyuarakan Pancasila, tapi tidak terkesan seperti asas tunggal.

 
Rekayasa Politik Opsus
Kembali membahas anomali persepsi. Menariknya, tidak hanya soal mengangkat 
kembali Pancasila sebagai asas tunggal, Megawati juga sepertinya mengadopsi 
strategi intelijen politik yang dilakukan oleh Operasi Khusus (Opsus) binaan 
Letnan Jenderal TNI Ali Moertopo. Secara khusus, Megawati sepertinya tengah 
mengadopsi teori pendulum.

Salah satu agen intelijen binaan Jenderal TNI LB Moerdani, Marsekal Muda TNI 
Teddy Rusdy dalam bukunya Jenderal LB. Moerdani Generasi Jembatan TNI 
menjelaskan bahwa teori pendulum digunakan Orde Baru sebagai pedoman dalam 
melakukan rekayasa politik.

Pada Orde Baru (Orba), Pancasila dijadikan sebagai equilibrium point (titik 
keseimbangan). Ada kalanya negara ke kanan (Islam) atau ke kiri (sosialis), 
namun bola pendulum harus tetap ke equilibrium point, yakni Pancasila.


Gambar frictionless point dalam buku Jenderal LB. Moerdani Generasi Jembatan TNI

Mengelaborasinya dengan buku mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 
As’ad Said Ali yang berjudul Perjalanan Intelijen Santri, secara spesifik, 
frictionless point atau yang mengatur arah bola pendulum adalah Operasi Khusus 
yang dikomandoi oleh Ali Moertopo.

Mengelaborasinya dengan buku mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 
As’ad Said Ali yang berjudul Perjalanan Intelijen Santri, secara spesifik, 
frictionless point atau yang mengatur arah bola pendulum adalah Operasi Khusus 
yang dikomandoi oleh Ali Moertopo.

Rekayasa politik Opsus yang paling terkenal adalah fusi partai politik pada 
tahun 1973. Partai politik dilebur menjadi tiga, yakni Partai Persatuan 
Pembangunan (PPP) yang merupakan representasi Islam, Partai Demokrasi Indonesia 
(PDI) yang membawa nilai nasionalisme, dan Golongan Karya (Golkar) yang secara 
tersirat merupakan representasi kekuasaan  Soeharto.

Tidak hanya melakukan fusi, menurut As’ad, Opsus bahkan melakukan rekayasa 
perolehan suara. Pada Pemilu 1977, misalnya, kemenangan PPP di Aceh dan Jakarta 
sebenarnya merupakan politik perimbangan dan penghibur agar mayoritas 
masyarakat yang beragama Islam merasa bangga bisa menguasai dua daerah 
prestisius tersebut.

Aris Santoso dalam tulisannya Jejak Ali Moertopo dalam Pilpres 2019 menjelaskan 
bahwa rekayasa politik Opsus juga dilakukan dengan cara mendiskreditkan partai 
pesaing Golkar. Menjelang pemilu, akan dibuat isu negatif untuk memberikan 
kesan buruk ke partai lain.

Dengan demikian, di Orde Baru, teori pendulum tampaknya tidak hanya digunakan 
untuk mengatur Pancasila sebagai titik keseimbangan, melainkan juga menempatkan 
Golkar sebagai pusat gravitasi politik. 

Alhasil, karena fungsinya sebagai pusat gravitasi, untuk menduduki kursi 
kekuasaan, bergabung atau merapat ke Golkar merupakan suatu keniscayaan.

PDIP sebagai Gravitasi Politik
Nah, menariknya, rekayasa politik semacam itu tampaknya tengah dilakukan 
Megawati saat ini. Tidak hanya menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang tidak 
dapat diganggu gugat, Megawati juga menempatkan PDIP sebagai gravitasi politik.

Ada empat alasan di balik kesimpulan itu. Pertama, Megawati tampaknya 
menjadikan Pancasila sebagai tolak ukur kawan dan lawan politiknya. Partai atau 
politisi yang ingin merapat harus menyuarakan Pancasila.

Kedua, posisi PDIP saat ini berada di atas angin karena menjadi satu-satunya 
partai yang mampu mengusung capres-cawapres tanpa perlu berkoalisi. Ini membuat 
PDIP menjadi magnet kuat bagi siapa pun yang ingin maju di Pilpres 2024 ataupun 
sekadar ingin mendapat sokongan politik. 

Ketiga, PDIP menempatkan dirinya sebagai kekuatan penentu. Ini terlihat dari 
pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto ketika menegaskan PDIP tidak merasa 
ketinggalan dengan partai lain yang sudah bermanuver. 

“Jadi justru kami yang menarik, tidak pernah meninggalkan, kami tidak pernah 
ditinggalkan,” ungkap Hasto pada 27 Mei 2022.

 
Keempat, berbagai pejabat elite terlihat mendekati Megawati dan PDIP untuk 
mendapatkan dukungan politik. Dua diantaranya adalah Jenderal TNI Dudung 
Abdurachman dan Laksamana TNI Yudo Margono.

Seperti yang telah diinterpretasi dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, 
Dudung Tiru Manuver Gatot?, tidak seperti sangkaan banyak pihak, melesatnya 
karier militer Dudung dalam dua tahun terakhir ini bukan karena melawan Front 
Pembela Islam (FPI) atau menurunkan baliho Habib Rizieq Shihab (HSR) pada 
November 2020, melainkan karena meresmikan patung Presiden Soekarno di Akademi 
Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah Pada 7 Februari 2020.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri turut meresmikan patung itu. Menurut 
politisi PDIP Utut Adianto Wahyuwidayat, Dudung yang menginisiasi pembangunan 
patung Bung Karno di Akademi Militer membuat Megawati begitu terharu dan 
bahagia.

Menurut Utut, pembangunan patung tersebut memiliki makna yang dalam karena 
sebelumnya Bung Karno dipersepsikan bukan sebagai sahabat Angkatan Darat. “Saya 
lihat Ibu bukan hanya gembira, campur terharu lah, setelah sekian puluh tahun 
akhirnya bisa cair seperti itu,” ungkapnya pada 17 November 2021.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya 27 Juli 2020, Dudung dipromosikan menjadi 
Pangdam Jaya. Belum genap setahun menjabat, Dudung diangkat menjadi Pangkostrad 
pada 25 Mei 2021. Dan pada 17 November 2021 diangkat menjadi KSAD. Benar-benar 
karier yang luar biasa. Tidak heran kemudian berbagai pihak menyebut Dudung 
sebagai “anak emas Megawati”.

Jika interpretasi itu tepat, manuver Dudung tersebut tampaknya tengah diikuti 
Yudo saat ini. Pada 20 Juni 2022, bersama dengan Megawati, Yudo resmi menamakan 
kapal perang kecil (Korvet) bernama KRI Bung Karno-369. Seperti pernyataan 
Megawati, ini adalah kapal perang pertama Indonesia yang dinamai Bung Karno.

Sama dengan Dudung, jika hubungan Yudo dan PDIP kian dekat, bukan tidak mungkin 
itu menjadi modal berharga untuk menjadi Panglima TNI menggantikan Andika 
Perkasa.

Well, sebagai penutup, dapat dikatakan Megawati tengah mengadopsi teori 
pendulum yang digunakan Opsus binaan Ali Moertopo saat ini. Sebagai pusat 
gravitasi politik, Megawati menempatkan dirinya dan PDIP sebagai titik 
keseimbangan.

Saat ini, berbagai partai politik menanti keputusan politik Megawati terkait 
Pilpres 2024. Keputusan Megawati akan menentukan jumlah koalisi, siapa 
capres-cawapres yang maju, hingga peta kekuatan. 

Seperti telah dibahas dalam artikel PinterPolitik sebelumnya,  SBY-JK-Paloh 
Taklukkan Megawati?, tiga king maker, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 
Jusuf Kalla (JK), dan Surya Paloh disinyalir akan menyatukan kekuatan untuk 
melawan Megawati di Pemilu 2024 mendatang. 

Terakhir, untuk menjawab pertanyaan di awal tulisan, tentu jawabannya adalah 
kekuasaan dan pengaruh. (R53) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/AAE4AC507D464782838832CB7AEA0658%40A10Live.

Reply via email to