Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka
Norman Meoko
- Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB
https://www.sinarharapan.co/opini/pr-3853911389/bukan-china-penyebab-kebangkrutan-sri-lanka
    

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa.(Dok/Ist)
Oleh: Sjarifuddin Hamid

SINAR HARAPAN - Negara-negara yang pernah menjajah, terus menerus berupaya 
menguasai negara-negara bekas jajahannya. Caranya dengan mengundang para 
generasi menuntut ilmu di berbagai universitasnya. Melakukan intervensi budaya. 
Menjadikan pinjaman dan investasi sebagai penjerat. Membentuk organisasi 
multilateral untuk menghimpun bekas negara-negara jajahan.   

Hanya sedikit negara berkembang yang berhasil mengelak dari jebakan tersebut. 
India, misalnya. Sementara yang lain tidak berdaya.  

Ketika Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Perdana Menteri India 
Narendra Modi pada 2014 menguasai pemerintahan, India menerapkan sistem ekonomi 
terbuka atau liberalisasi. Mengundang perusahaan multinasional yang sesuai 
dengan kebutuhan India dan menerapkan privatisasi.

Privatisasi bukan berarti banyak BUMN dilepaskan kepada pengusaha, melainkan 
hanya meniru cara memperbaiki efisiensi dan mengalokasi sumber daya. Pemerintah 
juga memberdayakan koperasi hingga muncul unit-unit usaha yang langsung 
menjangkau kepentingan masyarakat bawah. Jadi ada tiga pilar ekonomi, BUMN, 
swasta dan koperasi.

Saat ini, berbagai lembaga internasional sepakat menempatkan India pada posisi 
ke enam sebagai pemilik Produk Domestik Bruto Terbesar (PDB) di dunia pada 2022 
dengan jumlah US$2,66 triliun. AS di posisi pertama dengan US$20,89 triliun, 
China US$14,72 triliun, Jepang US$5,06 triliun, Jerman US$3,85 triliun dan 
Inggris US$2,67 triliun.

India diramalkan akan menggeser posisi Inggris yang berada di posisi kelima. 
Prancis sudah tertinggal dengan US$2,63, Italia US$2,2 triliun dan Kanada 
US$2,1. PDB India pada 2030 ditaksir mencapai US$8,4 triliun.

Apa resep India bisa tumbuh secepat itu?

Modi menerapkan perekonomian terbuka tetapi bersikap selektif terkait dengan 
isyu globalisasi, liberalisasi dan swastanisasi. Di dalam negeri, pemerintah 
memainkan peran dominan di sektor hukum, regulasi dan pengawasan. Dalam forum 
internasional seperti WTO, berjuang agar perusahaan multinasional diharuskan 
berbagi teknologi, informasi, mempromosikan tenaga kerja domestik dan perlakuan 
adil terhadap negara berkembang.

Modi juga selektif terhadap pinjaman luar negeri. Ia tak ingin seperti Meksiko 
dan Sri Lanka yang berlebihan  meminjam dan tidak tepat guna.

Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service, pernah menyebutkan India karena 
jumlah utang mencapai 73,95% dari PDB, setara dengan Afrika Selatan dan Ghana. 
Meskipun begitu investasi tetap mengalir dan tahun lalu mencapai US$44 miliar.

Perekonomian negara ini juga ditunjang pengiriman uang oleh diaspora yang 
berada di segala penjuru dunia. Menurut Bank Dunia remitansi ke India dari AS 
pada 2020 berjumlah US$43 miliar, SaudiArabia UD$34,5 miliar, Swiss US$27,9 
miliar, Jerman US$22 miliar dan China US$18 miliar serta berbagai negara lain.  
Negara bagian India yang terbanyak menerima transfer itu adalah Kerala, 
Karnataka, Tamil Nadu, Delhi dan lainnya.

Berkat leadership dan kekuatan ekonomi, India kini menjadi salah satu pendiri 
nonblok yang mampu  menentukan sikap di tengah pertarungan negara besar. Di 
satu sisi menjadi anggota QUAD buatan AS dan di sisi lain menjadi anggota BRICS 
bikinan Rusia dan China.  

Bukan Utang dari China

Sri Lanka belakangan ini menjadi sorotan. Negara ini dinyatakan bangkrut karena 
terjebak menggunakan utang dari China. Dijelaskan, pinjaman dipakai untuk 
membiayai proyek infrastruktur secara sembrono.   

Akhirnya, pemerintah tidak mampu membayar utang yang jatuh tempo sebanyak US$51 
miliar. Kas negara kosong hingga tidak mampu mengimpor migas dan kebutuhan 
rakyat lainnya. Kerusuhan meletus. Presiden Gotabaya Rajapaksa melarikan diri 
ke Singapura, lalu mengajukan pengunduran diri. China dituduh menjadi penyebab 
kebangkrutan.

Fakta menunjukkan utang terbesar Sri Lanka bukan dari China karena jumlahnya 
hanya sepuluh persen dari total pinjaman. Sebanyak 81% pinjaman berasal dari 
negara-negara Barat, India dan Jepang berdasarkan skema stabilisasi ekonomi 
yang digagas Dana Moneter Internasional (IMF) beberapa waktu lalu.

Bank Pembangunan Asia, Bank Dunia, dan lembaga keuangan BlackRock (AS), Ashmore 
Group (Inggris), Alloanz (Jerman), UBS (Swiss), HSBC (Inggris), JP Morgan Chase 
(AS) dan Prudential (AS) menjadi donor dengan jumlah pinjaman 69% total utang 
Sri Lanka. India memberi pinjaman sebanyak dua persen.

China dijadikan sasaran dengan tujuan memberi citra buruk kepada Belt Road 
Initiatiative (BRI) yang tahun ini diikuti 146 negara dan 32 organisasi 
internasional. BRI menghimpun 2.631 proyek dengan nilai US$3,7 triliun. 
Perusahaan yang terlibat berjumlah hampir 2.600 dengan lebih dari 55% 
diantaranya perusahaan China.

Negara-negara Barat dan sekutunya khawatir BRI akan memperkuat pengaruh China 
di negara-negara yang turut serta dalam program ini. Tampaknya, upaya 
memperburuk tidak hanya akan berhenti di Sri Lanka.***




Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B884BBEA5057473A9B981ACE13AAA0F3%40A10Live.

Reply via email to