Written byA43Monday, July 18, 2022 19:00

https://www.pinterpolitik.com/puan-pdip-dan-simba/
Puan, PDIP, dan “Simba”
Ketua DPP PDIP Puan Maharani disebut mendapatkan tugas dari Ketua Umum (Ketum) 
PDIP Megawati Soekarnoputri untuk berkeliling Indonesia sekaligus menjajaki 
kerja sama dengan partai-partai politik lainnya. Makna apa yang sebenarnya ada 
di balik tugas yang diterima Puan ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “I just wanted to show you I could do it, that I could be brave like you” – 
Simba, The Lion King (2019)

Bagi kaum muda milenial kelahiran tahun 1990-an, film The Lion King (1994) 
merupakan salah satu film kartun yang benar-benar mengambil porsi dalam memori. 

Bisa dibilang, film ini menjadi film yang kisahnya benar-benar mencuri hati 
pada masanya. Saking begitu memorable-nya, film tersebut akhirnya dibuat 
kembali dalam bentuk live-action dan dirilis pada tahun 2019 silam.

Film ini setidaknya bisa dibagi menjadi dua masa, yakni masa ketika Simba – 
pewaris takhta Pride Rock yang dikuasai ayahnya Mufasa – masih muda dan ketika 
Simba tumbuh besar di luar Pride Rock.

Ketika masih menjadi singa muda, Simba memiliki rasa penasaran yang cukup besar 
– serta dibujuk oleh pamannya Scar. Akhirnya, Simba bersama temannya, Nala, 
pergi keluar batas wilayah Pride Rock untuk pergi ke Elephant Grave.

Untungnya, Mufasa datang tepat waktu sebelum para hiena bisa menyerang Simba 
dan Nala. Mufasa pun marah dengan perilaku Simba yang sebenarnya sudah dilarang 
untuk pergi ke sana.

Namun, Simba punya alasannya sendiri. “Aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa 
aku bisa, bahwa aku bisa jadi pemberani,” jawab Simba kepada ayahnya.

Mungkin, alasan Mufasa untuk melarang Simba pergi ke tempat di luar Pride Rock 
sebenarnya masuk akal. Bisa jadi, Mufasa melihat Simba yang masih kecil belum 
siap untuk melawan tantangan di dunia luar sana.

 
Namun, bagaimana bila kisahnya berubah? Bagaimana bila seandainya Simba baru 
pergi keluar dari batasan Pride Lands ketika dirinya sudah menjadi singa dewasa 
yang siap mengaung di dunia luar?

Mungkin, kita bisa menemukan “Simba” dewasa seperti ini di dunia nyata, 
khususnya dalam kancah politik Indonesia. Bagaimana tidak? Ketua DPP PDIP Puan 
Maharani yang sekaligus putri dari Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati 
Soekarnoputri akhirnya mendapatkan tugas penting di luar “dunia” PDIP.

Akhir-akhir ini, Puan menyebutkan bahwa dirinya telah mendapatkan tugas untuk 
berkeliling Indonesia. Selain itu, Ketua DPR RI tersebut juga akan menjajaki 
kerja sama dengan partai-partai politik (parpol) lain. 

Mengapa penting bagi sang “Simba” PDIP ini untuk bepergian berkeliling ke 
berbagai wilayah? Mungkinkah ini merupakan sinyal jelas bahwa sang “Simba” 
telah siap menjelajah belantara “hutan” electoral menjelang tahun 2024 
mendatang?

Unjuk Taring ala “Simba” PDIP?
Melihat tugas besar yang diberikan oleh Megawati kepada Puan, bukan tidak 
mungkin ini menjadi cara memberikan sinyal bahwa sang “Simba” kecil kini sudah 
siap. Rangkaian upaya “unjuk taring” seperti ini biasa dilakukan sebagai bagian 
dari proses suksesi.

Perjalanan Puan untuk berkeliling Indonesia, misalnya, bisa dibilang mirip 
dengan apa yang dilakukan oleh Ratu Britania (Inggris) Raya Elizabeth II alias 
Lilibet sebelum akhirnya naik takhta pada 6 Februari 1952 silam. Kala itu, ayah 
Elizabeth, Raja George VI, memiliki kondisi kesehatan yang menurun.
Alhasil, Elizabeth lah yang mengambil alih ‘wajah’ keluarga kerajaan Inggris 
sejak saat itu di lingkup publik. Lilibet – bersama suaminya Pangeran Philip – 
berkeliling ke sejumlah wilayah dan negara-negara bekas jajahan Inggris 
(Commonwealth of Nations).

Kala Elizabeth menjalankan serangkaian royal tour ke Afrika Selatan (Afsel) 
pada tahun 1947 silam, misalnya, dinilai memiliki signifikansi yang krusial. 
Mengacu pada tulisan Pieter Labuschagne yang berjudul The 1947 Royal Tour of 
South Africa, kunjungan ini menjadi penting di tengah terus menurunnya pengaruh 
Britania Raya – dari sebuah imperium menjadi hanya sekumpulan negara 
Commonwealth.

 
Namun¸ signifikansi royal tour Elizabeth di sini tidak hanya berhenti pada 
dimensi politik domestik dan internasional, melainkan juga dalam keluarga 
kerajaan. Bukan tidak mungkin, ini juga berkaitan dengan prosesi suksesi dari 
Raja George VI yang kondisi kesehatannya terus menurun kepada Elizabeth. 

Penjelasan ini setidaknya dijabarkan oleh Björn Weller dalam tulisannya yang 
berjudul Describing Rituals of Succession and the Legitimation of Kingship in 
the West. Menurut Weller, proses suksesi memang merupakan tantangan yang berat 
karena harus menjaga status quo dan stabilitas kekuasaan.

Maka dari itu, diperlukan sejumlah ritual dan prosedur untuk menjaga stabilitas 
ini. Dengan mengutip Gerd Althoff, Weller menyebut serangkaian ritual dan 
prosedur ini sebagai komunikasi simbolik (symbolic communication).

Komunikasi simbolik ini pun bisa meliputi sejumlah upaya, seperti sikap publik, 
penampilan demonstratif dari fungsi kerajaan, dan sebagainya. Bukan tidak 
mungkin, berkaca dari penjelasan Weller, apa yang dilakukan Puan saat ini – 
seperti berkeliling Indonesia dan menjajaki kerja sama dengan entitas-entitas 
politik lainnya – adalah upaya demonstratif dari fungsi Puan sebagai ‘putri 
mahkota’ PDIP.

Bila Megawati benar-benar memberikan tugas-tugas tersebut kepadanya, bukan 
tidak mungkin Puan menjadi “penerus” yang akan dipilih. Ini bisa jadi merupakan 
gambaran demonstratif atas fungsi kebijakan strategis partai yang sebelumnya 
dipegang penuh oleh Megawati.

Namun, mengapa ritual suksesi PDIP ini mengarah kepada Puan sebagai ‘putri 
mahkota’ partai? Faktor-faktor apa yang membuat Ketua DPP PDIP itu sebagai 
“Simba” dari partai berlambang banteng bermoncong putih tersebut?

Laga “Simba” vs “Scar”?
Bagi yang sudah menonton The Lion King – baik versi tahun 1994 maupun 2019, 
karakter yang bernama Scar (paman Simba) bukanlah sosok yang asing lagi. 
Kehadiran Scar membuat proses suksesi dari Mufasa kepada Simba penuh dengan 
aral yang melintang.

Scar yang juga mengincar takhta Mufasa akhirnya melakukan sejumlah tabiat agar 
Simba celaka. Tidak hanya dalam film The Lion King, perebutan kekuasaan seperti 
ini juga kerap terjadi di dunia nyata, termasuk dalam dinamika internal partai. 
  
Bukan rahasia umum lagi bahwa perebutan pengaruh juga terjadi di PDIP. Terdapat 
semacam pertentangan di antara kubu Puan, kubu Prananda Prabowo, dan kubu 
non-trah Soekarno. Bukan tidak mungkin, kontestasi antar-kubu inilah yang 
menjadi semacam “Scar” bagi Puan.

Namun, tidak seperti Simba yang clueless (tidak tahu apa-apa), Puan bisa 
dibilang sudah melakukan sejumlah manuver politik yang membuatnya menjadi lebih 
unggul dalam melawan “Scar-Scar” di PDIP.

Pertama, Puan bisa dinilai telah melakukan strategi dalam jangka panjang. 
Dengan memunculkan narasi sejak beberapa tahun lalu soal dirinya sebagai calon 
presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres) – misal melalui baliho 
yang dipasang di berbagai daerah. 

Dengan begitu, nama Puan pun menggema di banyak daerah sehingga tetap ada di 
pikiran masyarakat (top of mind awareness/TOMA). Dengan publisitas yang besar, 
masyarakat atau entitas politik lainnya tetap mengingat nama Puan.

Kedua, di lingkup “realm-nya” sendiri – yakni di internal PDIP, Puan bukan 
tidak mungkin tengah menjaga royalisme-nya – bisa dipahami sebagai dukungan 
penuh terhadap entitas “royal”. Layaknya dalam keluarga kerajaan di Inggris, 
sebagai bagian dari trah Soekarno, Puan bisa saja memiliki royalisme ini.

Ketiga, Puan bukan tidak mungkin tengah memainkan permainan dua tingkat 
(two-level game). Mengambil inspirasi dari tulisan Robert D. Putnam yang 
berjudul Diplomacy and Domestic Politics: The Logic of Two-Level Games yang 
menjelaskan soal permainan dua tingkat dalam politik internasional, hal yang 
sama juga bisa terjadi dalam politik antar-partai.

Dalam hal ini, dua tingkat yang dimainkan Puan adalah tingkat internal dan 
eksternal partai sekaligus. Di tingkat internal, Puan bisa jadi membangun dan 
menjaga momentum dan dukungan baginya. Di tingkat eksternal, sebagai Ketua DPR 
RI – dan sebagai wajah dari partai penguasa, Ketua DPP PDIP tersebut juga 
membangun namanya di dinamika antar-partai.

Bukan tidak mungkin, tiga faktor inilah yang mengantarkan Puan menjadi “Simba” 
yang lebih siap untuk mengarungi dunia di luar “Pride Lands” PDIP. Dengan 
langkah lebarnya sebagai ‘wajah’ PDIP di hadapan entitas-entitas politik 
lainnya, langkah-langkah “Simba” PDIP satu ini pun menjadi menarik untuk 
diamati kelanjutannya. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8448A01A1C1346CE83616A6C9749FCB0%40A10Live.

Reply via email to