Putin Cuma Bisa Jadi Beban?Written byA43Tuesday, July 19, 2022 18:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/putin-cuma-bisa-jadi-beban/

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok 
(RRT) Xi Jinping (kanan) bertemu di Beijing, Tiongkok, pada Februari 2022 lalu. 
(Foto: Sputnik)Meski hubungan Rusia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tampak 
semakin dekat di tengah konflik Rusia-Ukraina, hubungan dua negara ini 
sebenarnya tidaklah mulus. Bukan tidak mungkin, pemerintahan Vladimir Putin di 
Rusia justru malah menjadi ‘beban’ bagi kepentingan pemerintahan Xi Jinping di 
Tiongkok. 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Segitiga di antara kita, hanya tuk berdusta dan ku lelah di antara segitiga 
ini” – Cokelat, “Segitiga” (2003)

Pada minggu lalu, terjadi sebuah peristiwa unik di Republik Rakyat Tiongkok 
(RRT) – khususnya di sebuah wilayah bernama Xinjiang. Bagaimana tidak? Presiden 
Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan ke Urumqi, Xinjiang, pada 12-14 Juli 
2022 kemarin.

Kunjungan Xi ke Xinjiang ini menjadi unik karena ini merupakan kunjungannya 
yang pertama selama delapan tahun terakhir. Dalam foto-foto yang diunggah oleh 
media-media lokal dan nasional Tiongkok, warga Xinjiang tampak semringah 
menyambut kedatangan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Komunis Tiongkok (PKT) 
tersebut.

Namun, banyaknya senyuman dalam kunjungan itu bukanlah hal yang menjadi 
ekspektasi masyarakat – khususnya masyarakat di negara-negara lain. Banyak 
negara justru sebenarnya mempertanyakan pemerintahan Xi atas dugaan pelanggaran 
hak asasi manusia (HAM) dan genosida terhadap kelompok Uighur di Xinjiang.

Di Indonesia sendiri, misalnya, isu Uighur ini sempat menyita perhatian 
masyarakat. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak, nasib kelompok 
Uighur yang umumnya juga Muslim menimbulkan keprihatinan dari banyak kelompok.

Tidak hanya Indonesia, dugaan atas situasi yang terjadi di Xinjiang juga 
menyita banyak perhatian negara-negara Barat. Kerumunan media-media di 
negara-negara Barat secara ramai-ramai memberitakan soal dugaan pelanggaran HAM 
pemerintahan Xi di wilayah tersebut.

Sontak saja, banyak negara Barat juga menekan pemerintahan Xi yang dianggap 
telah melanggar hak dasar warga Uighur – mulai dari hak hidup hingga kebebasan 
untuk memeluk agama. Tidak hanya berhenti pada pernyataan protes, pemerintah 
Amerika Serikat (AS) bahkan juga menerapkan sanksi ekonomi pada 
individu-individu yang dianggap terlibat dalam tindakan opresif terhadap 
kelompok Uighur.

Narasi soal dugaan pelanggaran HAM Uighur ini juga sering mencuat pada tahun 
2021 lalu setelah Joe Biden menjadi presiden. Tekanan ini sampai menimbulkan 
upaya saling balas narasi di antara perwakilan-perwakilan masing-masing negara 
di platform media sosial (medsos) seperti Twitter.

Dengan ketegangan yang panas pada isu ini, tentu saja menjadi menarik untuk 
diamati mengapa pemerintahan Xi pada akhirnya menampilkan ‘kebahagiaan’ yang 
tersalurkan melalui foto-foto kunjungan sang Sekjen PKT ke Xinjiang. 

Mengapa Xi akhirnya mengunjungi wilayah tersebut setelah delapan tahun tidak 
pernah menginjakkan kakinya di Xinjiang? Apa yang membuat kunjungan Xi ke 
wilayah kontroversial ini menjadi sinyal penting? Kemudian, mungkinkah ini 
berkaitan juga dengan konflik Rusia dan Ukraina yang dilancarkan oleh 
pemerintahan Vladimir Putin?

 
Xi dan Biden Menuju Baikan?
Kunjungan Xi ke wilayah yang jadi kontroversi dalam politik internasional bukan 
tidak mungkin memiliki pesan diplomatik tertentu. Pasalnya, dalam hubungan 
internasional, praktik-praktik seperti ini biasanya juga memiliki maksud 
tertentu di baliknya. 

Setidaknya, penjelasan seperti inilah yang diungkapkan oleh Claudio A. 
Cioffi-Revilla dalam tulisannya berjudul Diplomatic Communication Theory: 
Signals, Channels, Networks. Diplomasi – baik itu fisik maupun verbal – 
merupakan bentuk komunikasi yang krusial di antara aktor-aktor politik 
internasional.

Bukan tidak mungkin, kunjungan Xi ke Xinjiang ini merupakan bentuk diplomasi 
yang tengah dilakukannya. Apalagi, pemerintahan Xi tampaknya sedang 
bernegosiasi alot dengan pemerintahan Biden di AS.
Di sela-sela pertemuan menteri luar negeri (Menlu) G20 pada awal Juli 2022 
lalu, misalnya, Menlu Tiongkok Wang Yi dan Menlu AS Antony Blinken melakukan 
pertemuan bilateral. Dalam pertemuan tersebut, masing-masing pihak tampaknya 
mulai menemukan jalan tengah dan menyebut diskusi mereka sebagai hal yang 
konstruktif.

Dalam beberapa waktu ke depan, Biden dan Xi juga berencana untuk bicara pada 
akhir Juli nanti. Negosiasi AS-Tiongkok ini kabarnya akan membahas permintaan 
masing-masing pihak untuk meningkatkan hubungan dua negara besar tersebut.

Di AS, misalnya, muncul wacana agar pembatasan terhadap impor barang-barang 
Tiongkok mulai dikurangi. Bukan tidak mungkin, manuver Xi untuk mengunjungi 
Xinjiang ini juga berkaitan dengan negosiasi dua negara besar ini – mengingat 
isu HAM adalah isu yang menjadi perhatian Biden.

Namun, mengapa Xi lebih memilih untuk melakukan kunjungan ke Xinjiang? Mengapa 
tidak langsung saja menyampaikan maksud utama dalam pesan diplomatik kepada 
sasarannya?

Mengacu pada penjelasan Christer Jönsson dan Karin Aggestam dalam tulisan 
mereka berjudul Trends in Diplomatic Signalling, sinyal dan pesan yang 
disampaikan secara tidak langsung – dan bersifat non-verbal – seperti ini 
merupakan upaya untuk memunculkan ambiguitas konstruktif (constructive 
ambiguity).

  
Tujuannya apa? Di bagian inilah faktor Putin di Rusia bisa jadi masuk. 
Pasalnya, dengan ambiguitas konstruktif dalam pesan-pesan diplomatiknya, Xi 
akhirnya bisa mempertahankan fleksibilitas dalam menjalankan politik luar 
negerinya.

Seperti yang diketahui, hubungan pemerintahan Putin di Rusia dan Xi di Tiongkok 
disebut-sebut menjadi semakin erat. Bahkan, sejumlah pengamat dan pakar politik 
internasional menyebutkan bahwa hubungan dua negara ini memasuki hubungan 
tererat sepanjang sejarah Rusia-Tiongkok – mengingat keduanya sama-sama melihat 
AS sebagai ancaman.

Namun, bila benar Tiongkok dan Rusia memasuki masa keemasan dalam hubungan 
mereka, mengapa pemerintahan Xi masih merasa perlu untuk berbicara dengan 
Biden? Bukannya AS justru dianggap jadi ancaman bersama oleh Putin dan Xi?

Putin Ternyata Jadi Beban?
Tentu, politik luar negeri yang dijalankan oleh pemerintahan Xi perlu berbagai 
pertimbangan. Tentu, langkah yang diambil oleh Tiongkok untuk membangun kembali 
hubungan dengan AS bukan tanpa alasan.

Setidaknya, ada tiga kemungkinan alasan yang bisa saja membuat Xi ingin 
menjalin hubungan yang lebih baik dengan AS – setelah beberapa tahun ini 
mengalami ketegangan. Bagaimana pun juga, sebelum Presiden AS ke-45 Donald 
Trump menjabat pada tahun 2016 silam, Tiongkok berusaha menjaga hubungan 
baiknya agar tetap bisa membangkitkan ekonominya secara damai (peaceful rise).

Pertama, Tiongkok dan AS bisa saja memiliki kepentingan yang sama (common 
interest) terkait situasi global saat ini. Seperti yang umum diketahui, konflik 
Rusia-Ukraina menciptakan ketidakpastian global – seperti krisis pangan dan 
energi serta inflasi global yang terus melonjak. 

Padahal, situasi ekonomi dan dagang yang stabil merupakan kepentingan Tiongkok 
agar bisa menjadi negara adidaya di kawasannya sendiri. Bukan tidak mungkin, 
kepentingan ini juga dimiliki oleh AS dan negara-negara Barat. Apalagi, 
Tiongkok juga membutuhkan hubungan yang baik dengan negara-negara Eropa sebagai 
mitra dagang besarnya.
Dengan hubungan yang stabil dengan AS dan Barat, Tiongkok bisa mengembangkan 
perdagangan dan investasinya sekaligus mendapatkan akses yang lebih luas 
terhadap teknologi yang dimiliki negara-negara tersebut. Namun, di tengah 
situasi global yang semakin tidak pasti akibat konflik Rusia-Ukraina, Tiongkok 
bisa saja membutuhkan stabilitas itu kembali – setelah beberapa tahun ini 
menjalankan diplomasi yang asertif.

 
Kedua, Tiongkok dan Rusia memiliki kecurigaan terhadap satu sama lain – bahkan 
telah eksis sejak era Perang Dingin. Bukan rahasia lagi bahwa terjadi 
“perceraian” antara pemerintahan Mao Zedong dan Nikita Khrushchev kala itu 
akibat perbedaan pandangan dan ideologi.

Alhasil, AS pun memanfaatkan momentum ini. Dengan gagasan dari mantan Menlu AS 
Henry Kissinger, AS menjalankan diplomasi segitiga (triangular diplomacy) guna 
menciptakan keseimbangan kekuatan (balance of power) yang baru – yang mana 
dibagi menjadi tiga kekuatan besar.

Rasa saling curiga inipun berlanjut hingga saat ini. Sebagai dua kekuatan 
nuklir besar – mengacu pada buku Sarah Kirchberger, Svenja Sinjen, dan Nils 
Wörmer yang berjudul Russia-China Relations: Emerging Alliance or Eternal 
Rivals? – Rusia dan Tiongkok merasa perlu waspada kepada satu sama lain. Selain 
itu, banyak juga insiden perbatasan yang membuat dua negara ini merasa tidak 
aman terhadap satu sama lain.

Ketiga, kapabilitas ekonomi Rusia yang semakin tidak relevan bagi Tiongkok. 
Meski masih bisa dibilang menjadi kekuatan besar, tidak dapat dipungkiri bahwa 
Rusia merupakan kekuatan yang melemah (declining power).

Situasi yang dialami Rusia ini dapat dilihat dari stagnasi perekonomiannya. 
Mengacu pada tulisan di ChinaPower yang berjudul What Are the Weaknesses of the 
China-Russia Relationship?, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok 
diprediksi akan meningkat hingga 66,8 persen menjadi USD29,13 triliun (±Rp435,9 
kuadriliun) pada tahun 2027 dari USD17,46 triliun (±Rp261,3 kuadriliun) pada 
tahun 2021. 

Sementara, nilai PDB Rusia akan tetap stagnan di USD1,8 triliun (Rp26,9 
kuadriliun) pada tahun 2027. Padahal, pada tahun 2021, nilai PDB Rusia juga 
berada di kisaran USD1,78 triliun (Rp26,6 kuadriliun). Nilai PDB ini menjadi 
sangat tidak signifikan di mata Tiongkok.

Bukan tidak mungkin, faktor-faktor ini membuat Rusia hanya menjadi beban bagi 
politik luar negeri Tiongkok dalam jangka panjang. Beban ini bisa saja membuat 
Tiongkok meninggalkan Rusia sebagai mitra utamanya – apalagi bila pemerintahan 
Putin tetap ngotot dengan status negaranya sebagai ‘kekuatan besar’.

Pada akhirnya, dalam beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin ‘cinta 
segitiga’ antara Rusia, Tiongkok, dan AS seperti pada era Perang Dingin akan 
terbangun lagi. Namun, ada satu hal yang perlu diingat, perlombaan ‘cinta’ 
dalam politik internasional bukanlah hanya persoalan ‘perasaan’ semata, 
melainkan juga persoalan siapa yang bisa diajak maju bersama ke depannya. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0DEDB0ADA31C447FA68AF7B276CD4BEE%40A10Live.

Reply via email to