Written byJ61Wednesday, July 20, 2022 20:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/moeldoko-pura-pura-tidak-tahu/
Moeldoko Pura-Pura Tidak Tahu?
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyinggung orang kaya dan menengah 
yang banyak menikmati subsidi bahan bakar minyak (BBM). Lalu, mengapa salah 
sasaran subsidi itu dapat terjadi? Apakah kebijakan untuk mengatasinya bermuara 
pada kepentingan tertentu?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko baru saja memberikan sentilan kepada 
sebagian kelompok masyarakat. Musababnya, masih ada kelompok masyarakat ekonomi 
atas dan menengah yang menikmati subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Menurut Moeldoko, mereka bahkan tidak malu menggunakan insentif pemerintah yang 
sesungguhnya ditujukan untuk kelompok masyarakat kurang mampu yang lebih 
membutuhkan.

Sentilan itu disampaikan dalam acara bertajuk “Seminar Wawasan Kebangsaan: 
Strategi Pemerintahan Jokowi Keamanan Nasional”. Disebutnya, ihwal itu membuat 
beban negara menumpuk dan pemerintah dihadapkan pada dilema ditengah situasi 
ekonomi yang kurang baik.

Memang, diskursus mengenai kenaikan harga energi belakangan terus mengemuka. 
Saat harga Pertamax naik misalnya, terdapat peralihan pengguna kendaraan 
bermotor ke BBM jenis Pertalite.

Pada akhir Mei lalu, pejabat sementara (Pjs.) Corporate Secretary Pertamina 
Patra Niaga Irto Ginting menyebut sekitar 25 persen pengguna Pertamax beralih 
ke Pertalite. Sayangnya, tujuan untuk mengurangi beban subsidi kemudian 
terkesan menguap pasca Komisi VII DPR RI menyetujui penambahan kuota Pertalite.

Bukan tanpa solusi, Pertamina sebenarnya telah berupaya menertibkan penggunaan 
BBM agar tepat sasaran melalui penggunaan aplikasi My-Pertamina. Namun, 
kritikan berdatangan karena terobosan dengan memaksimalkan teknologi itu 
dinilai tidak dapat diterapkan secara konsisten dan merata di seluruh Indonesia.

 - Advertisement -Tidak hanya BBM, subsidi energi berupa gas elpiji 3 kg pun 
dianggap masih banyak yang salah sasaran. Namun, Irto mengatakan bahwa gagasan 
penggunaan aplikasi My-Pertamina sebagai syarat untuk pembelian gas melon itu 
masih dalam tahap pengembangan sistem.

Kendati demikian, satu pertanyaan mendasar muncul, yakni mengapa fenomena salah 
sasaran subsidi itu dapat terjadi di Indonesia? Lalu, apakah solusi kebijakan 
untuk mengatasinya memiliki keterkaitan dengan kepentingan politik tertentu?

Salah Berjamaah?
Sudut pandang masyarakat sebagai konsumen agaknya dapat menjadi pintu masuk 
analisis untuk memahami mengapa persoalan klasik subsidi salah sasaran dapat 
terjadi di Indonesia.

Oliver E. Williamson mengemukakan konsep oportunisme konsumen dalam bukunya 
yang berjudul Markets and Hierarchies: Analysis and Antitrust Implications. 
Konsep itu dijelaskan sebagai tindakan individu (konsumen) yang menggunakan 
kebebasan statusnya sebagai pembeli untuk kepentingannya sendiri dengan 
mengorbankan pihak lain.

Menurut Williamson, terdapat tiga penjelasan yang melandasi munculnya sikap 
itu, yang agaknya sekaligus dapat menjawab perilaku konsumen BBM di Indonesia 
sebagaimana disentil oleh Moeldoko.

Pertama, karakteristik mendasar konsumen adalah mereka dapat menggunakan 
berbagai cara memuaskan kepentingan maupun keinginan dalam sebuah interaksi 
ekonomi.

Kedua, konsumen kerap merasionalisasi begitu saja cara untuk memuaskan 
kepentingannya, meskipun berbenturan dengan asas-asas seperti keadilan dan 
kepuasan kebersamaan.

Baca juga :  Habib Luthfi Jadi Cawapres Prabowo?Terakhir, komitmen konsumen 
untuk membatasi konsumsi dalam koridor ideal menjadi hal yang cukup sulit untuk 
terealisasi, terutama di negara berkembang.

 - Advertisement -Ditambah, menurut John Stuart Mill dalam esainya tentang 
ekonomi politik, disebutkan bahwa manusia adalah homo economicus di mana 
seseorang memiliki kapasitas tak terbatas untuk membuat keputusan rasional 
dalam interaksi ekonomi.

James Chen dalam Homo Economicus mengistilahkannya sebagai rasionalitas 
instrumental ketika manusia akan terus menyempurnakan kepentingannya sebagai 
konsumen.

Selain dari sisi konsumen, aspek objek konsumsi, yaitu BBM, menjadi ihwal 
berikutnya yang kiranya turut memengaruhi. Berbeda dengan kebutuhan energi 
mendasar lain seperti listrik yang penggunaannya diatur dengan tarif, nilai 
bahan bakar ditentukan oleh harga.

Meskipun belum seratus persen sempurna, pengaturan 13 golongan listrik 
non-subsidi dan dua golongan listrik bersubsidi tampaknya menjadi lebih mudah 
untuk memenuhi aspek ketepatan sasaran.

Aspek regulasi kemudian menjadi kata kunci dari pengaturan tersebut dan turut 
menjadi pemantik berikutnya mengapa subsidi yang salah sasaran jamak terjadi di 
konsumsi BBM negara +62.

Realitas di lapangan – yaitu oportunisme konsumen dan hakikat penetapan nilai 
BBM – kiranya memiliki keterkaitan dengan rumitnya pembuatan regulasi yang 
mengatur penyaluran subsidi secara tepat.

Penentuan harga BBM oleh Pertamina sendiri ditentukan oleh Indonesia Crude-Oil 
Price (ICP) atau harga minyak mentah, kurs rupiah, pungutan pajak, wilayah 
operasional, dan kebijakan pemerintah – termasuk regulasi.

Mengacu pada apa yang dikemukakan Chen, rasionalitas instrumental (sisi 
konsumen) akan selalu berbenturan dengan rasionalitas nilai, yakni aspek 
regulasi serta kebijakan pemerintah yang pada hakikatnya “tidak pernah 
sempurna”.

Kendati demikian, pemerintah – termasuk Moeldoko – kemungkinan cukup memahami 
perilaku konsumen Indonesia yang oportunis plus rumitnya “menyempurnakan 
ketidaksempurnaan” regulasi maupun kebijakan dalam konteks subsidi BBM yang tak 
tepat sasaran.

Selain pemahaman atas penyebab fenomena subsidi yang salah sasaran, di titik 
ini dapat dipahami pula mengapa ketidaksempurnaan kebijakan dan regulasi bisa 
saja dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Kiranya bukan rahasia lagi ketika mengatakan bahwa harga BBM dan subsidinya 
kerap menjadi variabel seksi dalam dinamika politik dan pemerintahan.

Kandidat calon presiden (capres) misalnya, kerap mengklaim mampu menurunkan 
harga BBM untuk menarik simpati. Sementara bagi pemerintah yang berkuasa, harga 
BBM yang terjangkau kerap menjadi salah satu indikator kepuasan masyarakat yang 
bermuara pada dukungan politik.

Oleh karena itu, penentuan regulasinya tidak jarang memiliki tendensi politis 
tertentu untuk memengaruhi masyarakat dalam aspek sosio-politik.

Korelasi itu, selaras dengan apa yang dikemukakan pakar hukum terkemuka asal 
Amerika Serikat (AS), Roscoe Pound, ketika menyebut hukum adalah alat rekayasa 
sosial dan alat kontrol.

Dengan kata lain, solusi berupa kebijakan serta regulasi pemerintah untuk 
mengatasi berbagai persoalan terkait BBM, bisa saja memiliki irisan dengan 
kepentingan politik tertentu.

Baca juga :  Bikin Nuklir, Jokowi-Putin Tantang AS?Berangkat dari situ, solusi 
untuk mengatasi subsidi BBM salah sasaran yang dikemukakan Moeldoko kiranya 
cukup menarik untuk ditelaah lebih dalam. Mengapa demikian?

 
Ujung-Ujungnya Aplikasi?
Menyiapkan skema baru atas subsidi BBM menjadi jalan keluar yang dimunculkan 
pemerintah melalui Moeldoko. Mantan Panglima TNI itu menyebut insentif materiil 
sedang didesain agar dapat langsung menyentuh masyarakat atau konsumen yang 
membutuhkan.

Jika benar-benar diwujudkan, solusi itu sendiri tampaknya akan bermuara kepada 
semacam bantuan langsung tunai, dan harga seluruh jenis BBM boleh jadi tak lagi 
akan mendapat subsidi di saat bersamaan.

Akan tetapi, skema itu kemungkinan tidak akan berjalan mulus seperti yang 
diharapkan dengan mengacu pada “hakikat ketidaksempurnaan kebijakan” dan rekam 
jejak pemanfaatan bantuan tunai yang jamak tidak sesuai peruntukannya.

Tidak menutup kemungkinan bahwa solusi dari Pertamina dengan memaksimalkan 
aplikasi seperti My-Pertamina ujung-ujungnya akan jadi jalan ninja pemerintah.

Terlebih, penerima bantuan sosial (bansos) Kementerian Sosial sebelumnya 
diminta memasang aplikasi bernama Cek Bansos untuk memantau kepesertaan.

Namun, pemanfaatan aplikasi bukan hanya memiliki potensi masalah dari 
konsistensi dan cakupan akses, tetapi juga dari berbagai data konsumen yang 
diinput ke dalamnya.

Selain peluang untuk diretas dan disalahgunakan, peneliti keamanan siber 
Communication and Information System Security Research Center (CissRec) Ibnu 
Dwi Cahyo menyebut data tersebut bisa digunakan untuk kepentingan politik 
melalui analisis perilaku pengguna.

Hal itu juga dijabarkan William David Watkin dalam Cambridge Analytica Used our 
Secrets for Profit dengan memberikan sampel kasus peran konsultan politik 
Cambridge Analytica di pemilihan umum (Pemilu) AS 2016.

Saat itu, Cambridge Analytica mengaku “memanfaatkan” algoritma dari 87 juta 
data pengguna Facebook untuk memprediksi perilaku pemilih berdasarkan aktivitas 
digital, usia, aspek geografis, hingga isu yang diminati.

Dengan begitu, konsultan politik asal Britania itu bisa menentukan bagaimana 
cara dan sasaran kampanye bagi seorang politikus yang membayar jasa mereka, 
termasuk dugaan sokongannya terhadap Donald Trump tujuh tahun silam.

Apa yang dijelaskan Watkin kiranya dapat menjadi antisipasi bersama dari 
maraknya penggunaan aplikasi digital – yang meminta berbagai data pribadi – 
dengan dalih solusi atas persoalan tertentu saat ini.

Kendati demikian, dengan diiringi antisipasi, berbagai solusi yang diupayakan 
pemerintah kiranya harus terus didukung masyarakat. Apalagi yang terkait 
kepentingan bersama seperti menekankan rasionalitas nilai dalam penggunaan BBM 
sesuai peruntukannya.

Diharapkan, gagasan yang disampaikan oleh Moeldoko untuk mengatasi permasalahan 
laten subsidi BBM tak tepat sasaran juga dapat benar-benar menjadi solusi 
pamungkas dan tak memiliki kepentingan apapun di baliknya. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E61280DD31B24B1AA7C9844CDA6ACDCC%40A10Live.

Reply via email to