Written byR53Monday, July 25, 2022 13:58

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pdip-sadar-puan-akan-kalah/
PDIP Sadar Puan akan Kalah?
Politisi senior PDIP Panda Nababan memberi sinyal bahwa duet Prabowo-Puan 
berpotensi kalah. Apakah ini pertanda bahwa PDIP sebenarnya sadar Puan akan 
kalah di Pilpres 2024?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Dalam acara Total Politik, politisi senior PDIP Panda Nababan mengomentari 
berbagai isu soal capres-cawapres PDIP di 2024. Soal duet Anies Baswedan-Puan 
Maharani, misalnya, Panda menyebutnya sulit terjadi karena PDIP pasti mengincar 
capres. Sebagai partai yang memperoleh suara terbesar, sulit membayangkan PDIP 
puas dengan cawapres.

Panda juga memiliki komentar menarik soal duet Prabowo Subianto-Puan. 
Menurutnya, terkadang analisis politik sering kali tidak rasional. Jika 
Megawati Soekarnoputri yang merupakan ibu Puan saja kalah bersama dengan 
Prabowo di Pilpres 2009, lalu bagaimana dengan Puan yang seorang anak?

Kendati tidak melanjutkan pernyataannya, sosok lain yang hadir dalam acara itu, 
yakni pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilainya sebagai sinyal 
kekalahan. Menggunakan rasionalisasi Panda, Effendi menyebut Prabowo-Puan dapat 
berbuah kekalahan. Selain itu, mengulang pernyataan Panda ketika mengomentari 
Anies-Puan, PDIP tentunya tidak ingin berada di belakang Gerindra. 

Bertolak dari pernyataan Panda, sekiranya ada simpulan menarik yang dapat 
ditarik. Dengan adanya sinyal bahwa Panda ragu Prabowo-Puan bisa menang, 
bukankah itu menunjukkan internal PDIP sendiri tidak percaya terhadap 
kemenangan Puan?

Panda Nababan sendiri bukan sosok sembarangan. Ia dapat dikatakan sebagai 
Ring-1 Megawati. Pertemanannya dengan Megawati, Taufiq Kiemas, dan keluarga 
Soekarno sudah terjalin puluhan tahun.

Dengan adanya keraguan itu, kenapa PDIP tetap ingin mengusung Puan? Megawati 
juga telah memberi perintah ke Puan untuk menemui para ketua umum partai 
politik. Lantas, kalkulasi apa yang dimiliki Megawati sebagai pemegang hak veto 
partai?

 
Politik Bukan Menang-Kalah
- Advertisement -Ada sebuah pernyataan menarik dari pengamat politik 
Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin. Ujang mengaku mendapat 
informasi dari elite PDIP bahwa mereka siap kalah dalam perjuangannya mengusung 
Puan. “Menang bersama, nyungsep juga bersama,” ungkap Ujang meniru pernyataan 
elite PDIP tersebut.

Jika informasi yang didapatkan Ujang valid, dapat disimpulkan bahwa PDIP siap 
kehilangan kursi RI-1 di 2024 nanti. Lantas, apakah ini menunjukkan kejatuhan 
PDIP? Apakah PDIP akan mengulang kasus Partai Demokrat yang terbenam setelah 
sepuluh tahun berkuasa?

Baca juga :  HRS, Senjata PDIP Lumpuhkan Anies?Sepertinya tidak. Cara berpikir 
seperti itu adalah zero-sum game, yakni menilai politik pasti berbuah 
kemenangan atau kekalahan – hanya salah satu. 

Shai Davidai dan Martino Ongis dalam tulisannya The politics of zero-sum 
thinking: The relationship between political ideology and the belief that life 
is a zero-sum game menyebut cara pandang itu telah menjadi pemahaman umum. 
Berbagai pihak menilai kemenangan politisi atau partai politik selalu di atas 
kekalahan lawan politiknya.

Yang menjadi persoalan adalah, dalam kehidupan sehari-hari, termasuk politik, 
zero-sum game sering kali tidak terjadi. Zero-sum game hanya terjadi pada 
kondisi khusus yang rigid – umumnya dalam aktivitas ekonomi seperti pembelian 
saham.

Dalam aktivitas politik, adagium “menang atau hancur” khas zero-sum game justru 
sangat dihindari. Pada politik Indonesia, misalnya, lumrah terjadi fenomena di 
mana partai oposisi bergabung ke koalisi pemerintah. 

Yang terbaru, kita dapat melihat kasus PAN yang bergabung dengan koalisi 
pemerintah pada Agustus 2021. Pada perombakan kabinet 15 Juni 2022, PAN telah 
mendapatkan jatah kursi Menteri Perdagangan (Mendag). Ketua Umum PAN Zulkifli 
Hasan (Zulhas) akhirnya diberikan kursi itu.

Sedikit ke belakang, pada 2019 banyak dari kita dikagetkan dengan keputusan 
Prabowo dan Gerindra bergabung ke koalisi pemerintah. Dalam bukunya Panda 
Nababan Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku Kedua: Dalam Pusaran 
Kekuasaan, Panda Nababan menyebut peristiwa itu sebagai sejarah besar 
perpolitikan Indonesia. 

- Advertisement -Tidak hanya di politik, dalam literatur perang, adagium 
“menang atau hancur” juga sangat dihindari. Ahli strategi perang terkemuka asal 
Tiongkok, Sun Tzu, dalam bukunya The Art of War bahkan menempatkan perang 
sebagai opsi terakhir. Jika terjadi konflik, yang disarankan Sun Tzu adalah 
diplomasi untuk mencari titik temu kepentingan.

Lantas, jika politik bukan menang-kalah, target tersembunyi apa yang disimpan 
Megawati dan PDIP dengan mengusung Puan Maharani?

 
Target Sebenarnya?
Melihat pada sejarah manuver partai politik di Indonesia, aktivitas politik 
kita pada dasarnya adalah non-zero-sum game atau akrab dikenal dengan win-win 
solution. Praktik itu sejalan dengan tulisan Pragmatisme Sebagai Ideologi 
Partai Politik karya Dian Dwi Jayanto yang menyebut pragmatisme merupakan 
ideologi partai politik di Indonesia.

Baca juga :  Mengapa Jokowi Berani Lawan Amerika?Tidak seperti di Amerika 
Serikat (AS), di mana Partai Demokrat dan Partai Republik memiliki pembelahan 
ideologi yang kental, partai politik di Indonesia bersifat jauh lebih cair. 
PDIP dengan PKS, misalnya, meskipun disebut berbeda ideologi, di pilkada mereka 
justru berkoalisi. Pada Pilkada 2020, PDIP berkoalisi dengan PKS di 13 daerah.

Dengan bertolak pada sejarah dan pragmatisme yang ada, sekiranya dapat 
disimpulkan bahwa PDIP mempersiapkan skenario jika Puan Maharani kalah di 
Pilpres 2024.

Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa RI-1 atau 
RI-2 bukanlah target utama partai politik. Dalam realitanya, karena membutuhkan 
logistik yang besar, capres-cawapres hanya menjadi target 3-5 partai terbesar.

Yang menjadi target utama partai politik adalah pemilihan legislatif (pileg) 
dan pilkada. Partai perlu mengamankan kursi sebanyak-banyaknya di Senayan dan 
menempatkan kadernya sebagai Kepala Daerah. Konteks itu sebenarnya membuat 
diskursus kita soal capres-cawapres menjadi kurang relevan karena partai saat 
ini sedang fokus untuk lolos verifikasi KPU.

Dengan demikian, sekalipun Puan kalah di Pilpres 2024, PDIP akan tetap menjadi 
pemenang jika berhasil menang di pileg dan pilkada. Selain itu, untuk 
mempertahankan pengaruhnya, PDIP pasti mengamankan pos-pos strategis, seperti 
Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Kepala Badan Intelijen Negara 
(BIN), dan Ketua DPR. PDIP juga pasti menjalin hubungan dekat dengan petinggi 
Polri dan TNI.

Jika berhasil mengamankan pileg, pilkada, dan pos-pos strategis, kekalahan Puan 
di Pilpres 2024 bukanlah sebuah kehancuran bagi PDIP. Mereka akan tetap 
berkuasa dan berpengaruh. 

Di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), PDIP juga melakukan 
skenario ini. Meskipun menjadi oposisi selama sepuluh tahun, mereka tetap 
bertengger menjadi partai atas. Perolehan suaranya tinggi, memiliki banyak 
kepala daerah, dan berhasil menempatkan kader di pos-pos strategis.

Well, sebagai penutup, kira-kira demikian skenario yang dapat dibayangkan 
dengan bertolak pada pernyataan Panda Nababan dan Ujang Komarudin. 

Tentu skenario ini dapat berubah jika PDIP berhasil menemukan pasangan tepat 
untuk Puan. Seperti kata Panda, kita lihat saja tahun depan siapakah yang akan 
diusung oleh partai banteng. Menarik untuk ditunggu. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/81A35F8FAB5F4D7585A435518A22A046%40A10Live.

Reply via email to