https://news.detik.com/kolom/d-6209416/ancaman-resesi-dan-kemiskinan


Kolom

Ancaman Resesi dan Kemiskinan

Sulthoni Syahid Sugito - detikNews

Senin, 01 Agu 2022 10:00 WIB
0 komentar
BAGIKAN
URL telah disalin
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -
Dunia saat ini benar-benar dalam keadaan tidak baik-baik saja. International 
Monetary Fund (IMF) menyatakan guncangan ekonomi yang datang saat ini dari 
berbagai sisi. Guncangan yang dimaksud utamanya berasal dari pandemi Covid-19, 
dan belum usai pandemi adanya ketegangan tensi geopolitik Rusia-Ukraina turut 
menciptakan guncangan berikutnya.

Ketegangan kedua kubu di atas berimbas pada lonjakan harga-harga komoditas 
dunia dan mempercepat laju inflasi berbagai negara. Fakta di atas mendorong 
bank sentral mau tidak mau harus mengambil langkah normalisasi kebijakan 
moneter. Tren suku bunga acuan negara bank sentral yang tengah naik tajam 
menjadi tantangan tersendiri bagi negara berkembang yang memiliki tingkat utang 
dalam mata uang dollar menjadi semakin sulit untuk dibayar.

Kondisi di atas telah menyebabkan banyak negara terancam resesi dan terpuruk 
dalam krisis ekonomi. Sri Langka contohnya, telah dinyatakan bangkrut 
disebabkan oleh kesulitan ekonomi dan besarnya utang negara yang tidak bisa 
mereka kendalikan. Bagaimana dengan Indonesia? Kembali IMF menyiratkan 
Indonesia sebagai salah satu negara yang akan berhasil keluar dari jurang 
resesi global pada tahun ini.

Indonesia Waspada

Bersiap sekaligus berbenah perlu dilakukan agar kita benar-benar aman dari 
jurang resesi sesungguhnya. Penyelarasan antara kebijakan moneter dan kebijakan 
fiskal diyakini kunci dalam memitigasi dampak dari guncangan yang terjadi. 
Seiring dengan kebijakan moneter yang semakin diperketat, jangan terlena 
kebijakan fiskal juga harus terus ditopang karena kebijakan inilah yang 
menyangga untuk kelompok masyarakat rentan dan dunia usaha.

Selain itu pemerintah juga diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penyaluran 
bantuan dan subsidi, tentu diimbangi dengan komunikasi kebijakan publik yang 
baik pula. Laporan BPS pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I-2022 diketahui 
pertumbuhan PDRB berada pada angka 5,01 persen, sementara itu rasio utang 
terhadap PDB mencapai 42 persen jauh di bawah ambang batas yang diatur dalam UU 
Keuangan Negara yakni 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Tingkat 
inflasi tahun ke tahun (Juni 2022 terhadap Juni 2021) sebesar 4,35 persen.

Di sisi lain neraca perdagangan Indonesia selama 26 bulan berturut-turut masih 
dalam kondisi surplus. Artinya data ekspor Indonesia masih lebih tinggi dari 
impor. Berkaca data dia tas optimisme terhadap imbas resesi global yang masih 
menghantui seharusnya Indonesia mampu bertahan setidaknya hingga akhir tahun. 
Bahkan Presiden menyampaikan optimisme potensi dari resesi dibanding negara 
lain relatif sangat kecil, yaitu sekitar 3 persen saja. Semangat yang 
seharusnya terus dibuktikan dengan kerja nyata dalam upaya memulihkan ekonomi 
nasional, tanpa mengesampingkan kondisi dunia saat ini.

Isu global yang terjadi perang antara Rusia-Ukraina diharapkan pemerintah tetap 
fokus untuk terus menjaga keterjangkauan masyarakat terhadap pangan. Selain itu 
perlu ditingkatkan penguatan kapasitas petani dan upaya-upaya untuk 
meningkatkan produktivitas pangan nasional guna menunjang penguatan 
diversifikasi pangan.

Pekerjaan rumah pemerintah terkait pangan salah satunya dengan memastikan 
ketersediaan pangan yang cukup di pasar-pasar sehingga dapat dijangkau oleh 
semua lapisan masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah atau 
miskin.

Kemiskinan Indonesia Maret 2022

Badan Pusat Statistik (BPS) 15/07 menyampaikan rilis kemiskinan per Maret 2022, 
persentase penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 9,54 persen, menurun 0,17 
persen poin terhadap September 2021 dan menurun 0,60 persen poin terhadap Maret 
2021. Disimpulkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 26,16 juta 
orang, menurun 0,34 juta orang terhadap September 2021 dan menurun 1,38 juta 
orang terhadap Maret 2021.

Dibandingkan September 2021 kemiskinan masih bertahan pada level terendah yaitu 
satu digit. Ini tentu menjadi kabar baik dan tentunya perlu diapresiasi karena 
penurunan persentase kemiskinan ini bukti kerja nyata pemerintah dalam upaya 
pemulihan ekonomi di tengah ancaman resesi global yang semakin bergeliat.

Adanya program perlindungan sosial melalui kebijakan subsidi dan bantuan sosial 
(bansos) dirasa sangat membantu meredam kemiskinan kembali mengalami kenaikan 
baik di perkotaan maupun di perdesaan. Pelonggaran kebijakan PPKM dan sudah 
kembali normalnya kondisi perkantoran serta jam kerja menyebabkan penurunan 
kemiskinan perkotaan dianggap mampu mengimbangi penurunan kemiskinan di 
perdesaan.

Banyaknya kebijakan bansos yang menyasar penduduk perdesaan memberikan dampak 
nyata pengurangan penduduk miskin di perdesaan dan semakin menancapkan 
eksistensi desa sebagai salah satu pusat pemulihan ekonomi nasional. Penduduk 
miskin Maret 2022 perkotaan turun sebanyak 0,04 juta orang (dari 11,86 juta 
orang pada September 2021 menjadi 11,82 juta orang pada Maret 2022). Pada 
periode yang sama jumlah penduduk miskin perdesaan turun sebanyak 0,30 juta 
orang (dari 14,64 juta orang pada September 2021 menjadi 14,34 juta orang pada 
Maret 2022).

Sementara itu tren Garis Kemiskinan (GK) terus mengalami kenaikan dari Rp 
486.168 (September 2021) menjadi Rp 505.469 per kapita per bulan (Maret 2022). 
Dengan rata-rata 4,74 orang anggota rumah tangga. Artinya GK per rumah tangga 
miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp2.395.923/rumah tangga miskin/bulan. 
Terlebih lagi yang perlu diperhatikan pemerintah 52,94 persen penduduk miskin 
berada di pulau jawa atau sekitar 13,85 juta orang.

Catatan pentingnya bahwa kompleksitas permasalahan di pulau Jawa sangat rumit 
dan banyak sehingga perlahan harus segera diurai, terutama terkait kemiskinan. 
Salah satu langkah nyata yang perlu didukung adalah pemindahan ibu kota melalui 
program IKN (Ibu Kota Negara).

Tentu dengan pemindahan IKN ke Kalimantan yang sedang dilakukan dapat berangsur 
memaksa pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia dipindahkan ke luar Jawa. Seiring 
pertumbuhan ekonomi yang baik di luar jawa diharapkan ketimpangan semakin 
berkurang, penduduk miskin di Jawa juga berkurang dan utamanya kesejahteraan 
masyarakat lebih merata di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga seyogianya 
pembangunan Indonesia yang dulunya dikenal Jawa sentris perlahan akan berubah 
menjadi Indonesia sentris dapat terwujud.
Sulthoni Syahid Sugito Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Pemalang

(mmu/mmu)
resesi
angka kemiskinan
0 komentar


Baca artikel detiknews, "Ancaman Resesi dan Kemiskinan" selengkapnya 
https://news.detik.com/kolom/d-6209416/ancaman-resesi-dan-kemiskinan.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/










-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220801223130.cbd40e781f6d47c53e85546c%40upcmail.nl.

Reply via email to