Written byJ61Monday, August 1, 2022 17:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/garuda-shield-ajang-mempermalukan-tiongkok/
Garuda Shield, Ajang “Mempermalukan” Tiongkok?
Latihan militer bersama dengan Amerika Serikat (AS) bertajuk Super Garuda 
Shield dimulai pada hari ini. Dengan militer Tiongkok disebut sebagai kekuatan 
yang memiliki perkembangan paling pesat di dunia, mengapa Indonesia tidak 
pernah melakukan latihan militer komprehensif dengan negeri Tirai Bambu?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Relasi militer dan pertahanan antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) kian 
waktu tampak kian mesra. Hal itu tercermin dari latihan militer tahunan Garuda 
Shield yang edisi kali ini dibubuhi tajuk “super”.

Dikatakan super, dikarenakan latihan militer bersama edisi ke-16 ini disebut 
jauh lebih besar dari sebelumnya, baik dari lingkup wilayah, matra, skala 
keterlibatan prajurit kedua negara, hingga keikutsertaan sejumlah negara 
sebagai pengamat.

Rangkaian latihan Super Garuda Shield yang dilaksanakan pada 1 hingga 14 
Agustus 2022, diawali dengan kunjungan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Mark A. 
Milley pada 24 Juli 2022. Menariknya, ini adalah lawatan pertama Kepala Staf 
Gabungan AS ke tanah air dalam empat belas tahun terakhir.

Milley disambut hangat oleh Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan mengatakan 
AS siap mendukung Indonesia serta berkontribusi pada kawasan dengan cara apa 
pun yang negeri Paman Sam bisa lakukan.

Yang juga menarik, lawatan Milley dilakukan tepat sehari sebelum tur diplomatik 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan untuk 
membahas perdagangan dan investasi di bidang teknologi hingga infrastruktur.

Negara pertama yang dikunjungi Presiden Jokowi sendiri memiliki rekam jejak 
kurang positif dengan Indonesia, terutama dalam intrik wilayah di Laut China 
Selatan (LCS).

  
Sementara itu, terkait dengan manuver agresif militer Tiongkok dalam beberapa 
tahun terakhir di LCS, komandan delegasi AS Mayor Jenderal Stephen G. Smith 
menegaskan bahwa latihan Super Garuda Shield bukan merupakan ancaman bagi pihak 
manapun.

Penegasan itu agaknya menjadi narasi awal untuk mengantisipasi protes Tiongkok 
kepada Indonesia yang sempat dikemukakan pasca latihan militer serupa tahun 
lalu.

Variabel Tiongkok secara tidak langsung kerap menjadi keterkaitan yang tak 
terpisahkan di balik latihan Garuda Shield. Beriringan dengan manuvernya di 
LCS, Tiongkok sering kali juga menjadi perhatian dikarenakan militernya yang 
terus berkembang pesat, baik dari segi jumlah prajurit hingga teknologi 
alutsistanya.

Presiden Xi Jinping sendiri memberikan mandat kepada Tentara Pembebasan Rakyat 
Tiongkok (PLA) untuk menjadi kekuatan kelas dunia yang mampu “berperang dan 
memenangkan perang” pada tahun 2049.

Direktur Pusat Strategi dan Keamanan Scowcroft plus mantan pejabat Departemen 
Pertahanan AS dan Dewan Keamanan Nasional Barry Pavel mengatakan bahwa PLA juga 
telah mengejutkan pejabat pertahanan AS dengan kemajuan militer seperti senjata 
hipersonik dan nuklir.

Mengacu pada kekuatan itu, pertanyaan menarik kemudian mengemuka mengenai 
mengapa Indonesia jarang terdengar melakukan latihan militer secara 
komprehensif dengan PLA layaknya Garuda Shield?

Tiongkok Sebenarnya Lemah?
Latihan militer antara Indonesia dengan Tiongkok tidak nihil sama sekali. 
Namun, skalanya memang tidak pernah sebesar Garuda Shield dan sering luput dari 
pemberitaan.

Kerja sama terakhir antara TNI dan PLA terjadi pada 8 Mei 2021 lalu. Saat itu, 
matra laut kedua negara melakukan passing exercise (Passex) di Laut Jawa dengan 
melibatkan KRI Usman Harun-359, KRI Halasan-630, Liuzhou-573, dan Suqian-504.

  
Pada tahun 2013, latihan kontra terorisme pun pernah dilakukan Indonesia 
bersama militer Tiongkok dengan sandi Sharp Knife, meski kini tengah 
ditangguhkan.

Paling tidak terdapat tiga alasan latihan militer komprehensif bersama Tiongkok 
tidak pernah dilakukan, walaupun PLA menjadi salah satu yang terkuat di dunia 
plus Indonesia memiliki hubungan ekonomi yang baik dengan negeri Tirai Bambu.

Pertama, meskipun kuat dalam prakiraan terkini, militer Tiongkok tidak memiliki 
pengalaman tempur riil (combat experience) yang mumpuni.

Peneliti senior pertahanan dari RAND Corporation Timothy R. Heath turut 
menyoroti hal ini. Dalam publikasinya yang berjudul China’s Military Has No 
Combat Experience: Does It Matter?, Heath menyebut bahwa meski berkembang 
signifikan, namun PLA berada dalam sistem komando usang dan dihantui korupsi 
internal yang merajalela.

Pengalaman terakhir bertempur PLA juga terjadi lebih dari empat dekade lalu di 
Perang Sino-Vietnam pada tahun 1979, itupun mengalami kekalahan. Praktis, 
generasi prajurit PLA saat ini hampir tanpa pengalaman tempur memadai.

Heath juga mengutip kritik internal PLA melalui surat kabar resminya, saat 
mengatakan Tiongkok terbuai dengan dekade perdamaian dan kemakmuran yang 
disebut “peace disease”. Hal itu dikatakan telah memperburuk korupsi dan 
merusak kesiapan militer mereka.

Padahal, pengalaman taktis secara operasional sangat penting bagi sebuah 
militer prominen dunia. Heath mengutip sebuah studi, yang menemukan bahwa 
batalyon manuver di bawah komandan berpengalaman dalam Perang Vietnam mengalami 
kematian pertempuran sepertiga lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang 
memiliki komandan yang tidak berpengalaman.

Kedua, Indonesia juga memiliki alternatif partner militer yang lebih kuat dan 
punya romansa kedekatan tersendiri, yang tak lain adalah AS. Kendatipun tidak 
menyebutkan kecondongan Indonesia, Evan A. Laksmana dalam A Fragile Fulcrum: 
Indonesia-U.S. Military Relations in the Age of Great-Power Competition menguak 
bahwa sejak lama negara +62 memiliki relasi militer yang sangat baik.

Itu terbukti dari data yang menunjukkan sekitar 12 ribu prajurit Indonesia 
dididik AS sejak tahun 1969 sampai 2018. Bahkan, dalam dua dekade terakhir, 
7.300 prajurit menimba ilmu di sana, termasuk Panglima TNI Jenderal Andika.

Pengalaman tempur militer AS kiranya tak perlu diragukan lagi ketika mereka 
selalu memiliki palagan sejak era kemerdekaan, perang sipil, dua edisi perang 
dunia, Perang Dingin, perang global terhadap teror, hingga konflik kontemporer 
lainnya.

Bagaimanapun, agresivitas militer Tiongkok juga menjadi faktor yang tidak bisa 
dikesampingkan. Penangguhan latihan Sharp Knife diduga kuat dikarenakan hal 
tersebut.
Dalam The World Doesn’t Want Beijing’s Fighter Jets, Richard Aboulafia 
mengatakan bahwa terdapat tendensi ketidakpercayaan internasional kepada 
Tiongkok.

Negeri Panda disebutnya selalu dicitrakan sebagai negara yang berpotensi 
menimbulkan ancaman geopolitik. Oleh karena itu, banyak negara yang akan 
berpikir dua kali bila ingin memiliki hubungan yang mendalam dengan Xi Jinping, 
termasuk dalam segi militer dan pertahanan.

Tak hanya itu, terdapat satu alasan menarik lain mengapa kiranya militer 
Indonesia tercatat tak pernah lakukan latihan militer komprehensif dengan 
Tiongkok. Apakah itu?

 
Militer Tiongkok Abdi Partai?
Kick-off Super Garuda Shield pada 1 Agustus hari ini secara kebetulan 
bertepatan dengan perayaan 95 tahun berdirinya PLA.

Di luar aspek kebetulan itu, jika ditelisik, karakteristik PLA itu sendiri yang 
kiranya merintangi sejumlah negara untuk melakukan kerja sama maupun latihan 
militer yang mendalam.

Liz Carter dalam tulisannya di The Atlantic yang berjudul Whom Should the 
Chinese Army Serve—the Party or the State?, menyatakan bahwa salah satu 
kelemahan PLA adalah mereka mengabdi untuk sebuah partai, bukan negara.

Di dalam analisisnya, Carter mengutip korespondensi akademisi terkemuka dan 
wakil presiden Fakultas Hukum Universitas Ilmu Politik dan Hukum Universitas 
Tiongkok (CUPL) Profesor He Bing.

Seorang perwira anonim di angkatan darat (AD) PLA, mengatakan kepada Profesor 
Bing bahwa ideologi PLA yang berkiblat ke Partai Komunis Tiongkok (PKT) cukup 
sulit untuk diimplementasikan di antara para serdadu.

Dalam terminologi khusus, kecenderungan yang disebut sebagai partyism itu, 
mengajarkan bahwa tentara rakyat harus setia kepada partai, karena partai 
mewakili kepentingan rakyat.

Sang kamerad anonim kemudian menyebut timbul pertanyaan di internal para 
prajurit, yakni bukankah lebih mudah untuk setia kepada rakyat secara langsung? 
Serta apa gunanya perputaran komando seperti itu?

Oleh karena itu, agaknya terdapat kesenjangan ideologi militer antara PLA dan 
angkatan bersenjata negara lain, termasuk Indonesia, yang lebih mengedepankan 
nasionalisme (nationalism), bukan partyism.

Carter menyebut militer yang minim campur tangan politik cenderung menunjukkan 
kemampuan beradaptasi yang lebih besar di medan perang, dibandingkan militer 
yang keputusannya dibuat untuk alasan politik (bukan prioritas operasional).

Meskipun secara normatif tidak disebut sebagai ancaman atau upaya deterrence 
tertentu, latihan Garuda Shield tetap memiliki makna tersembunyi jika dikaitkan 
dengan karakteristik militer Tiongkok, plus manuver-manuvernya.

Meski demikian, ambisi Tiongkok untuk menjadi militer terkuat dunia tampaknya 
akan memiliki pengaruh terhadap dinamika latihan militer sejenis yang 
diagendakan Indonesia, terutama dengan AS, di masa depan. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C0B5881DC6D2442DA17FE4F193FBEDA3%40A10Live.

Reply via email to