Perang Ukraina Hancurkan Mimpi Xi Jinping?Written byD74Monday, August 1, 2022 
19:51

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/perang-ukraina-hancurkan-mimpi-xi-jinping/
Perang Rusia-Ukraina hingga saat ini masih berlangsung. Sebagai negara yang 
sangat dekat dengan Rusia, publik menyoroti dampaknya pada Tiongkok. Apakah 
perang ini membawa keuntungan? Atau justru menyakiti Xi Jinping?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Meski tidak terlibat langsung dalam konflik, Tiongkok menjadi salah satu negara 
yang paling disorot setelah perang meletus di Ukraina pada 24 Februari silam. 
Posisinya sebagai negara yang secara geografis maupun politik dekat dengan 
Rusia mendapat lirikan sinis banyak negara-negara Barat.

Pada 29 Juni lalu misalnya, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam 
pertemuannya di Madrid, Spanyol, menetapkan Tiongkok sebagai rival dan 
tantangan bagi keamanan kolektif aliansi negara-negara Barat tersebut, ini 
menjadi pertama kalinya Tiongkok dianggap demikian oleh Amerika Serikat (AS) 
dan gengnya.

Padahal, sebelumnya banyak pengamat yang mengira konflik Eropa Timur ini akan 
menguntungkan negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping. 

Salah satunya adalah opini berjudul China’s benefit from the Russian-Ukrainian 
war dari pengamat internasional Universitas Beni Suef, Dr. Nadia Hemly. Ia 
melihat, karena Rusia semakin tertutup dari pasar global, Presiden Vladimir 
Putin akan mencari bantuan ke Tiongkok, dan itu akan sangat menguntungkan 
Negeri Tirai Bambu secara ekonomis. 

Lalu, pandangan NATO akan difokuskan pada Ukraina, ini membuat Tiongkok bisa 
mendapat sedikit celah untuk mengambil tindakan yang lebih agresif pada salah 
satu wilayah paling bermasalah di Asia Timur, yakni Taiwan. 

Kecanggungan kepemimpinan NATO juga tadinya diprediksi akan dieksploitasi 
Tiongkok sebagai bukti bahwa eksistensi pakta pertahanan Barat sudah tidak lagi 
dibutuhkan, apalagi di Asia. Ini kemudian akan dipakai sebagai bahan kampanye 
untuk menolak supremasi negara-negara Barat.

Namun, karena konflik Ukraina sudah berlangsung lebih dari tiga bulan, kita 
bisa perlahan-lahan mendapatkan kepastian tentang untung dan rugi yang 
didapatkan Tiongkok akibat perang ini.

Lantas, benarkah Tiongkok dan Xi Jinping diuntungkan oleh Perang Ukraina? Atau 
justru sebaliknya? 

 
Ambisi Xi Jinping Kandas Karena Ukraina?
Ketika kita bicara tentang kancah Tiongkok di politik internasional, tentu kita 
juga perlu membahas tentang proyek terbesarnya, yaitu Belt and Road Initiative 
(BRI), yang juga sering disebut One Belt One Road (OBOR). 

BRI ini adalah megaproyek pembangunan infrastruktur global yang melibatkan 
setidaknya 152 negara dari Benua Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga Eropa. 
Singkatnya, proyek ini berusaha menciptakan jalur sutera baru yang diharapkan 
dapat mengintegrasikan kekuatan ekonomi negara-negara yang dilaluinya.

Beberapa fitur utama BRI yang pantas disorot di antaranya adalah pembangunan 
infrastruktur transportasi Jembatan Darat Eurasia (penghubung 
Tiongkok-Rusia-Eropa), Koridor Asia Tengah (Tiongkok-Asia Tengah-Eropa Timur), 
dan Jalur Sutera Maritim (negara-negara Samudera Hindia dan Teluk Arab).

Terkait dampak konflik Ukraina, megaproyek yang juga jadi mimpi Besar Xi 
Jinping ini ternyata sangatlah dirugikan. Mengapa? Well, ada tiga alasan.

Pertama, menguatnya sentimen anti Tiongkok-Russia di Eropa dan berbagai belahan 
dunia. Akibat konflik Ukraina, banyak negara kini menjauhi Rusia baik dari 
aspek ekonomi maupun politik, hal serupa juga diduga akan terjadi pada 
Tiongkok. 

Yunis Sharifli dalam analisisnya yang berjudul Russia-Ukraine war: Opportunity 
or threat for China? menilai bahwa invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina juga 
menimbulkan kebencian dan ketakutan pada Tiongkok karena negara itu selama ini 
dikenal sebagai “teman dekat” Rusia. 
Meski AS dan Barat belum menjatuhkan sanksi yang sama pada Tiongkok, banyak 
negara takut akan mendapat imbas yang sama jika suatu waktu Joe Biden dan 
kawan-kawan menganggap Tiongkok sebagai musuh. Ini tentu berdampak besar pada 
kelangsungan proyek BRI yang memiliki tujuan besar mencapai pasar Eropa. 

Karena itu, untuk beberapa tahun ini sepertinya pintu gerbang Eropa pada 
megaproyek infrastruktur Tiongkok itu sepertinya akan tertutup.

Kedua, kedekatan Rusia pada Tiongkok justru membuat sikap politik internasional 
Negeri Tirai Bambu semakin canggung. Seperti yang sudah ditulis dalam artikel 
PinterPolitik berjudul Putin Cuma Bisa Jadi Beban, situasi ekonomi yang 
memburuk kini mulai berdampak global, termasuk pada Tiongkok. Padahal, situasi 
ekonomi dan dagang yang stabil merupakan kepentingan Tiongkok agar bisa menjadi 
negara adidaya di kawasannya sendiri.

Kemudian, ketergantungan ekonomi Rusia pada Tiongkok bisa juga malah menjadi 
beban. Peter Piatetsky, CEO Castellum AI, sebuah perusahaan konsultan finansial 
yang juga berfokus pada dampak sanksi ekonomi internasional dalam artikel hasil 
wawancaranya Why China Won’t Rescue Russia’s Flailing Economy, menilai bahwa 
Rusia semakin hari semakin tidak bisa menawarkan keuntungan ekonomi pada 
Tiongkok.

Tiongkok bisa saja membeli surplus minyak bumi Rusia, tetapi mereka tidak bisa 
dengan seenaknya menurunkan impor minyak dari berbagai negara lain seperti Arab 
Saudi dan AS, hanya demi Rusia. Kalaupun memang dipaksa, Tiongkok tidak lain 
hanya akan berperan sebagai penyokong kehidupan Rusia, dan jangka panjangnya 
itu bisa menyakiti perekonomian Tiongkok.

Dan Tiongkok tidak dapat berbuat banyak. Jika Xi ingin mengutuk serangan Rusia, 
maka bisa saja Tiongkok justru malah memancing kekesalan Vladimir Putin. 
Tentunya, sangat rasional jika Xi tidak ingin bertaruh pada itikad baik 
Vladimir Putin, karena secara historis Rusia memang pernah memiliki rivalitas 
dengan Tiongkok, seperti ketika era Mao Zedong dan Nikita Khrushchev. Perang 
dengan tetangga sendiri adalah sesuatu yang harus dihindari sebisa mungkin.

Ketiga, dengan meletusnya Perang Ukraina, dunia seakan mendapatkan wakeup call 
atau panggilan kesadaran bahwa konflik bersenjata ternyata masih sangat mungkin 
terjadi. Hal itu membuat negara-negara semakin was-was pada titik geografis 
lain yang juga berpotensi menjadi panas, seperti Laut China Selatan (LCS) dan 
Taiwan.

Menariknya, AS sepertinya menyadari fenomena tersebut tengah menyebar di dunia, 
karena itu Paman Sam sekarang semakin berani memantapkan posisi politiknya 
terhadap pembelaan demokrasi Taiwan. 

Dan tidak hanya pendekatan ke Taiwan. Paska invasi Rusia, AS dan NATO kini juga 
memperkuat ikatannya dengan para sekutu di kawasan Asia, seperti Jepang, Korea 
Selatan (Korsel), hingga India. Ini artinya, Perang Ukraina telah digunakan 
Barat sebagai justifikasi untuk mencengkram Tiongkok sehingga jika Xi berani 
bertindak “nakal”, ia secara spontan akan disergap sekutu-sekutu Barat di Asia.

Jika interpretasi ini benar, maka mungkin saja dalam jangka panjang Tiongkok 
memiliki penderitaan yang tidak jauh berbeda dengan Rusia akibat serangan yang 
dilakukannya ke Ukraina. Dan yang paling utama, mimpi Xi Jinping untuk membawa 
proyek BRI ke Eropa mungkin tidak akan terwujudkan.
Lantas, apakah ini semua terjadi secara tidak sengaja atau justru ada agenda 
politik di baliknya?

 
Putin, Musuh Dalam Selimut?
Di bagian tengah tulisan ini disebutkan bahwa sempat terdapat rivalitas antara 
Rusia dan Tiongkok ketika masa Perang Dingin. Well, tidak hanya ketika Perang 
Dingin, dua negara besar ini memiliki sejarah persaingan yang setidaknya bisa 
ditarik ke era Dinasti Qing pada abad ke-17, ketika Kerajaan Tiongkok dan 
Kekaisaran Rusia berebut wilayah Siberia.

Karena catatan historis menunjukkan bahwa Tiongkok dan Rusia tidak selalu 
berteman, Csaba Barnabas Horvath dalam artikelnya Was China Betting on Russian 
Defeat All Along?, menilai bahwa upaya Putin dan Tiongkok untuk mempererat 
hubungannya beberapa waktu terakhir ini adalah sebagai kompromi agar kedua 
negara tidak “menyerang” atau tidak mengintervensi agenda politik masing-masing.

Barnabas juga mengatakan bahwa dalam aliansi ini, Rusia, dengan segala harga 
dirinya, selalu berusaha agar tidak menjadi “junior” yang bisa didikte 
seenaknya oleh Tiongkok. Konsekuensi geopolitik bila salah satu pihak saja 
dalam persahabatan ini terlihat lebih kuat dari lawannya akan begitu besar, 
terlebih lagi Tiongkok saat ini memiliki peningkatan ekonomi yang jauh lebih 
tinggi dari Rusia.

Dengan kekuatan yang bisa mendominasi Rusia, Tiongkok bisa saja mencaplok 
wilayah Siberia yang selama memang tetap menjadi incaran Tiongkok karena 
kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah.

Oleh karena itu, meski interpretasi ini sifatnya spekulatif, masuk akal bila 
Putin menggunakan serangannya ke Ukraina untuk menghambat Tiongkok menjadi 
tetangga yang terlalu kuat. Dengan serangan ini, Putin juga ikut menyeret 
Tiongkok ke dalam kolam sentimen negatif yang dijatuhkan seluruh negara di 
dunia pada Rusia.

Persaingan seperti ini sebenarnya memiliki relevansi dengan teori balance of 
power atau keseimbangan kekuatan dalam studi hubungan internasional. Charles W. 
Kegley dalam bukunya World Politics: Trends and Transformation, mengatakan 
bahwa jika ada satu negara memiliki keunggulan dari negara yang lain, maka 
negara tersebut akan menggunakan kekuatannya untuk mengambil keuntungan dari 
tetangganya yang lebih lemah.

Untuk mencegah hal itu, negara yang tertekan akan meningkatnya kekuatan 
rivalnya -dalam hal ini Rusia-, akan terdorong untuk menciptakan aliansi dengan 
kekuatan besar tersebut dengan harapan dapat menetralisir ancaman dengan 
menciptakan saling ketergantungan. 

Dengan logika demikian, hancurnya mimpi Xi Jinping  menjadi pemain besar 
internasional akibat serangan Ukraina bisa jadi memang upaya Rusia untuk 
menjaga keseimbangan kekuatan di Bumi Timur.

Pada akhirnya, kita harap saja permainan politik besar ini tidak berubah 
menjadi sesuatu yang lebih berbahaya, dan semoga saja konflik di Ukraina bisa 
berakhir dengan secepat mungkin. (D74)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/30F8F234EF604AA081FA3F8BE58B77B0%40A10Live.

Reply via email to