JANG COBA GANGGU…! 
BPS Pastikan Indonesia Jauh dari Stagflasi: Fundamental Makroekonomi Kuat! 
ByTim 
Redaksi0https://bergelora.com/jang-coba-ganggu-bps-pastikan-indonesia-jauh-dari-stagflasi-fundamental-makroekonomi-kuat/

Presiden RI, Joko Widodo. (Ist)
JAKARTA- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono mengungkap, Indonesia 
jauh dari stagflasi. Hal tersebut tercermin dari kondisi makro perekonomian 
Indonesia yang positif.

“Kemarin ekonomi kita tumbuh 5,01 persen dan perkiraannya juga di triwulan II 
akan tumbuh positif, karena mobilitas semakin bagus, aktivitas mulai bergerak,” 
kata Margo kepada kumparan di Gedung BPS, Senin (1/8).

Tak hanya itu, fundamental makroekonomi yang kuat juga tercermin dari inflasi 
inti yang masih rendah yakni 2,86 persen secara tahunan (yoy) atau 0,28 persen 
(mtm).

Inflasi inti sangat dipengaruhi oleh harga 700 komoditas, nilai tukar rupiah, 
serta interaksi permintaan dan penawaran.

Menurut dia, jika kebutuhan antara permintaan dan penawaran dapat terpenuhi 
dengan baik, maka inflasi inti akan tetap terjaga. “Untuk pangan, suplai sangat 
tergantung pada cuaca, kalau untuk sektor lain tergantung pada harga energi,” 
imbuh dia.

“Jadi kuncinya pengelolaan energi. Harga energi domestik itu akan merembet ke 
semua sektor produksi,” tegas Margo.

Margo menilai upaya pemerintah berhasil meredam kenaikan harga komoditas di 
tingkat global khususnya harga energi. Dengan pertumbuhan ekonomi yang terus 
mengalami peningkatan, ditambah angka inflasi inti yang terjaga, Margo optimis 
Indonesia jauh dari kata stagflasi.

“Menurut saya masih aman, belum mengarah ke stagflasi. Semua indikator bagus,” 
pungkas dia.

Apa Itu Stagflasi?

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Stagflasi adalah kondisi ekonomi 
yang ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah dan angka pengangguran 
yang tinggi.

Dilansir dari Investopedia, Senin (11/10/2021), kondisi ini biasanya diikuti 
dengan kenaikan harga-harga atau inflasi.

Stagflasi juga bisa didefinisikan sebagai kondisi pada sebuah periode inflasi 
yang dikombinasikan dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB).

Istilah stagflasi pertama kali digunakan pada tahun 1960an oleh politisi 
Inggris Macleod di tengah kondisi ekonomi yang tengah mengalami tekanan kala 
itu.

Saat memberikan pidato di Dewan Rakyat Britania Raya kala itu, Macleod 
menggambarkan kondisi inflasi sekaligus stagnasi yang terjadi di Inggris 
sebagai situasi stagnasi.

Istilah stagnasi kemudian kembali digunakan pada periode resesi yang terjadi 
pada tahun 1970an seiring dengan krisis bahan bakar yang terjadi ketika Amerika 
Serikat mengalami pertumbuhan PDB negatif selama lima kuartal berturut-turut.

Tingkat inflasi tumbuh dua kali lipat pada tahun 1973 dan mencapai double digit 
pada tahun 1974. Di sisi lain, tingkat pengangguran AS kala itu mencapai 9 
persen per Mei 1975.

Investopedia menyebut, stagflassi biayasnaya akan menyebabkan kenaikan indeks 
kesengsaraan atau misery index.

Indeks ini merupakan ukuran sederhana yang bersumber dari tingkat inflasi dan 
pengangguran dan digunakan untuk menunjukkan seberapa buruk kondisi masyarakat 
ketika stagflasi terjadi di sebuah ekonomi atau negara.

Penyebab Stagflasi

Seperti dijelaskan sebelumnya, stagflasi adalah kondisi yang digambarkan dengan 
peningkatan pengangguran yang terjadi bersamaan dengan kenaikan harga-harga.

Sehingga, penyebab stagflasi adalah kondisi ekonomi yang melemah dan 
ditunjukkan dengan angka pengangguran yang tinggi atau stagnasi perekonomian. 
Di saat yang bersamaan, terjadi inflasi atau kenaikan harga-harga. Biasanya, 
stagflasi terjadi bila pasokan uang di pasar meningkat, sementara, jumlah 
barang atau suplai terbatas.

Stagflasi adalah sebuah kondisi yang kontradiktif di mana pertumbuhan ekonomi 
yang lambat serta angka pengangguran tinggi secara teori seharusnya tak 
menyebabkan kenaikan harga-harga.

Hal ini lah yang menyebabkan stagflasi merupakan kondisi yang buruk bagi sebuah 
perekonomian.

Peningkatan angka pengangguran berdampak pada melemahnya daya beli.

Sehingga, bila terjadi kenaikan harga-harga karena pasokan atau suplai barang 
yang terbatas, bakal terjadi kondisi inflasi yang tak terkendali.

Artinya uang yang dimiliki konsumen akan kehilangan nilainya seiring dengan 
berjalannya waktu.

Contoh stagflasi bisa digambarkan dengan kondisi ketika pemerintah di sebuah 
negara mencetak uang (hal ini bakal menyebabkan peningkatan jumlah uang dan 
menyebabkan inflasi, sekaligus menaikkan tarif pajak (yang bakal memperlambat 
pertumbuhan ekonomi).

Stagflasi Di Myammar

Risiko terjadinya stagflasi kini sedang mengancam Myanmar yang tengah mengalami 
kudeta militer.

Kudeta militer menyebabkan banyak penduduk Myanmar yang menganggur dan 
perekonomian negara itu pun tumbuh melambat.

Myanmar juga mengalami kenaikan harga bahan pokok yang disebabkan oleh 
keterbatasan pasokan.

Diberitakan Frotier Myanmar, kini konsumen tengah mengalami tekanan akibat 
kenaikan harga-harga, termasuk di dalamnya harga BBM yang telah meningkat 
nyaris dua kali lipat setelah kudeta.

Keterbatasan pasokan BBM pun membuat beberapa SPBU di negara itu harus 
menghentikan operasional.

Di sisi lain, bank sentral setempat juga mulai menjual dollar AS dengan tarif 
diskon untuk beberapa importir bahan bakar terpilih. Dengan demikian, para 
importir BBM tersebut bisa membawa masuk bahan bakar dan diesel untuk dijual di 
bawah harga pasar. (Web Warouw)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/14EFBB7B7A5A43AEB8BC0E522CCED091%40A10Live.

Reply via email to