Written byR53Tuesday, August 2, 2022 21:10

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/maaf-jokowi-bukan-king-maker/
Maaf, Jokowi Bukan King Maker
Berbagai pengamat politik, seperti Burhanuddin Muhtadi, menilai Presiden Jokowi 
dapat menjadi king maker di Pilpres 2024. Namun, harapan itu sepertinya keliru 
dan terlalu melebih-lebihkan pengaruh politik Jokowi. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Selain menggunjingkan kandidat dan koalisi partai untuk Pilpres 2024, satu lagi 
topik yang hangat dibahas adalah siapa king maker di gelaran pilpres tersebut. 
Terkait ini, ada pandangan menarik dari pengamat politik Universitas Negeri 
Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun. 

Pada 2 Juni 2022, Ubed membagi king maker dalam tiga kategori, yakni lapis 
utama, lapis pertama, dan lapis kedua. Lapis utama adalah oligarki, lapis 
pertama adalah Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, sedangkan lapis 
kedua adalah Surya Paloh. 

Mudah menjelaskan alasan di balik kategorisasi yang dibuat Ubed. Terkait lapis 
pertama, ini sekiranya telah menjadi pandangan umum. Seperti pernyataan Jeffrey 
Winters dalam Oligarchy Dominates Indonesia’s Elections, dengan sumber dayanya 
yang besar, oligarki memainkan peranan penting dalam sistem politik Indonesia.

Kemudian, penempatan Megawati, Prabowo, dan Paloh, besar kemungkinan pada fakta 
perolehan suara PDIP, Gerindra, dan NasDem di Pemilu 2019. PDIP memperoleh 
27.053.961 suara (posisi satu), Gerindra memperoleh 17.594.839 suara (posisi 
dua), dan NasDem memperoleh 12.661.792 suara (posisi lima).

Selain ketiga nama itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jusuf Kalla (JK), dan 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga disebut-sebut akan menjadi king maker di 
Pilpres 2024. 

Dari nama-nama itu, sosok Jokowi sekiranya yang paling menarik. Pasalnya, 
nama-nama seperti, Megawati, Prabowo, Paloh, SBY, dan JK merupakan petinggi 
partai dan telah terbukti sebagai king maker di gelaran pilpres. Sementara 
Jokowi, meskipun merupakan RI-1, ia hanyalah kader partai biasa.

- Advertisement -Dengan fakta itu, seberapa besar kemungkinan Jokowi menjadi 
king maker di 2024?

 
Tiga Syarat untuk Jokowi
Jika berbicara kemungkinan, banyak pihak, terutama para pengamat politik cukup 
optimis Jokowi bisa menjadi king maker. Direktur Eksekutif Indikator Politik 
Indonesia (IPI) Burhanuddin Muhtadi adalah salah satu di antaranya. Pada 12 
Juni 2022, Burhanuddin menyebut ada tiga alasan kenapa Jokowi bisa menjadi king 
maker di 2024. 

Pertama, Jokowi harus berhasil mempertahankan approval rating atau kepuasan 
masyarakat terhadapnya tetap tinggi. Ini akan membuat Jokowi menjadi gravitasi 
politik, sehingga banyak kandidat akan meminta restu atau dukungan politiknya.

Kedua, apakah presidential threshold (preshold) masih 20 persen di 2024. Jika 
gagal digugat menjadi nol persen alias tidak berubah, Jokowi akan menjadi king 
maker karena menguasai Parlemen. Di poin ini, Jokowi harus mampu menjadi 
komandan koalisi pemerintah sebesar 81,9 persen atau 471 dari total 575 kursi 
DPR.

Ketiga, dalam dua tahun ke depan, apakah akan muncul kandidat dominan atau 
tidak. Menurut Burhanuddin, berdasarkan survei IPI sampai saat ini tidak ada 
capres yang dominan. 

Meskipun Prabowo memiliki elektabilitas yang tinggi, keunggulannya dibanding 
kandidat lain tidak lebih dari 20 persen. Kemudian Ganjar Pranowo yang banyak 
dielukan mengalami stagnasi tingkat popularitas. Sementara Anies masih berada 
di belakang Prabowo dan Ganjar.

Terkait poin pertama, Burhanuddin melihat arahnya tengah tepat. Berdasarkan 
survei IPI, tingkat kepuasan masyarakat terhadap Jokowi pada Juli 2022 sebesar 
64,9 persen. 

 
Diagram di atas merupakan data approval ratings 22 pemimpin negara demokrasi 
dari Morning Consult Political Intelligence pada bulan Juli 2022. 

Dalam pemaparannya pada Juni 2022, Burhanuddin tampaknya membandingkan data 
survei IPI dengan Morning Consult Political Intelligence, sehingga menyimpulkan 
approval rating Jokowi bertengger di nomor dua dunia – hanya kalah dari Perdana 
Menteri (PM) India Narendra Modi. Berdasarkan komparasi data Juli 2022, Jokowi 
masih di nomor dua.

Kemudian, terkait poin nomor dua, dengan fakta Mahkamah Konstitusi (MK) telah 
berulang kali menolak gugatan preshold – 13 kali per Desember 2021 – besar 
kemungkinan preshold tidak akan berubah. 

Lalu, Burhanuddin menyinggung satu variabel penting yang membuat Jokowi dapat 
menjadi komandan koalisi, yakni habituasi pragmatis partai politik di Indonesia 
yang disebutnya dengan istilah Jokowi Centrality and One Party Rule.

Menurut Burhanuddin, kendati berbeda ideologi dan platform, partai politik di 
Indonesia, khususnya partai koalisi kerap mengikuti kehendak Istana. Ini 
dicontohkannya dengan dua peristiwa politik, yakni revisi Undang-Undang (UU) 
Pemilu dan Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja (Ciptaker).

Meskipun beberapa partai politik mendukung revisi UU Pemilu dan banyak 
masyarakat menolak Omnibus Law Ciptaker, partai politik langsung kompak menolak 
revisi UU Pemilu dan mendukung Omnibus Law Ciptaker setelah Jokowi memberikan 
pernyataan. 

Terakhir, untuk poin ketiga, seperti yang disebutkan Burhanuddin, sejauh ini 
memang tidak ada kandidat dominan yang elektabilitasnya 20 persen lebih besar 
dari kandidat lainnya. Dengan demikian, para kandidat akan berebut political 
endorsement atau dukungan politik Jokowi untuk mendapatkan efek ekor jas 
(coattail effect).
Sekarang pertanyaannya, dengan tiga syarat itu terlihat dimiliki Jokowi, apakah 
mantan Wali Kota Solo itu akan menjadi king maker di Pilpres 2024?

 
Pengujian Kritis
Sayangnya, tidak. Ketiga syarat yang disebutkan Burhanuddin dapat kita bantah 
atau setidaknya diuji secara kritis. 

Pertama, pada poin Burhanuddin yang menyebut approval rating Jokowi nomor dua 
di dunia, ini merupakan kesesatan bernalar (fallacy) yang disebut dengan 
argumentum ad ignorantiam. 

Irving M. Copi, Carl Cohen, dan Kenneth McMahon dalam buku Introduction to 
Logic, menjelaskan argumentum ad ignorantiam atau argument from ignorance 
adalah kesesatan bernalar yang terjadi ketika seseorang mengatakan sesuatu itu 
benar karena belum terbukti salah, atau salah karena belum terbukti benar. 
Singkatnya, ini adalah penarikan kesimpulan yang bertolak pada ketiadaan bukti.

Pada simpulan Burhanuddin yang mengkomparasi survei IPI dengan Morning Consult 
Political Intelligence, kesesatan bernalar itu terjadi. Pasalnya, IPI tidak 
memiliki data approval ratings 22 pemimpin negara demokrasi, dan Morning 
Consult Political Intelligence tidak memiliki data approval rating Jokowi.

Sekarang bayangkan ini, bagaimana jika Morning Consult Political Intelligence 
melakukan survei untuk melihat approval rating Jokowi? Apakah datanya sama 
dengan IPI? Mungkin lebih besar, sama besar, atau lebih kecil. 

Pun demikian pada kasus IPI. Jika lembaga survei yang dipimpin Burhanuddin itu 
melakukan survei approval ratings terhadap 22 pemimpin negara demokrasi, apakah 
datanya akan sama dengan Morning Consult Political Intelligence?

Selain itu, ini yang terpenting, berdasarkan data World Forum on Democracy, 
jumlah negara demokrasi di dunia mencapai 120 negara. Dengan kata lain, ada 
kemungkinan terdapat pemimpin negara demokrasi yang memiliki approval rating 
lebih tinggi dari Jokowi.

Kedua, fenomena Jokowi Centrality and One Party Rule yang disebutkan 
Burhanuddin adalah fenomena temporal alias sementara. 

Mengutip buku Burhanuddin yang berjudul Populisme, Politik Identitas, dan 
Dinamika Elektoral: Mengurai Jalan Panjang Demokrasi Prosedural, koalisi partai 
politik di Indonesia bersifat pragmatis karena berbasis pada office seeking, 
bukan policy seeking. 

Koalisi dibentuk bukan untuk menjalankan ideologi atau kebijakan publik 
tertentu, melainkan semata-mata demi meraih dan/atau mempertahankan kursi 
kekuasaan.

Artinya apa? Fenomena partai politik yang mengikuti “maunya” Istana bukan 
dilakukan atas dasar ketundukan, melainkan untuk mengamankan kursi kekuasaan, 
seperti kursi menteri. Sebagai contoh, katakanlah PKB secara frontal mengkritik 
pemerintahan Jokowi secara terus menerus, besar kemungkinan partai lebah akan 
kehilangan kursi menterinya. 

Di Kabinet Indonesia Maju, PKB mendapatkan empat kursi, yakni Menteri 
Ketenagakerjaan (Menaker), Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan 
Transmigrasi (Mendes PDTT), Menteri Agama (Menag), dan Menteri Perdagangan 
(Mendag). Sekarang jadi tiga kursi karena Mendag M. Lutfi digantikan oleh Ketua 
Umum PAN Zulkifli Hasan pada 15 Juni 2022.

Dengan demikian, mengacu pada fenomena second-term curse (kutukan periode 
kedua) dan lame duck president (presiden bebek lumpuh/tidak berpengaruh) yang 
umum terjadi menjelang akhir periode kedua, pengaruh atau kontrol Jokowi 
terhadap partai koalisi dipastikan akan menurun dan melemah.

Fenomena ini terjadi pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di akhir periode 
keduanya. Sebagai Presiden yang masih berkuasa, serta memiliki partai yang 
memperoleh suara terbesar di Pemilu 2009, SBY tidak mampu menjadi king maker 
ataupun diminta political endorsement-nya. Lebih memprihatinkan lagi, suara 
Demokrat jatuh di Pemilu 2014 dan sampai sekarang menjadi partai tengah.

Ketiga, sekalipun nantinya tidak ada kandidat dominan sampai pertengahan tahun 
2023, Jokowi tetap tidak akan menjadi king maker. Alasannya sederhana, yakni 
Jokowi bukanlah oligarki ataupun elite partai politik.

Kembali mengutip buku Burhanuddin, pengusungan kandidat dan pembangunan koalisi 
di Indonesia dilakukan secara tertutup atau dikenal dengan istilah smoke-filled 
room. Keputusan diambil oleh elite politik tanpa melibatkan ruang partisipasi 
dari kader dan konstituen partai secara luas.

Namun, menurut Burhanuddin, majunya Jokowi telah menampar tradisi itu. Seperti 
yang disebutkan Marcus Mietzner dalam bukunya Reinventing Asian Populism: 
Jokowi’s Rise, Democracy, and Political Contestation in Indonesia, popularitas 
Jokowi yang luar biasa telah memaksa kaum oligark untuk mendukungnya.

Di titik ini, tentu banyak pihak membacanya sebagai kontradiksi terhadap 
kesimpulan penulis. Oleh karenanya, kita perlu mengelaborasi buku Burhanuddin 
dan Mietzner dengan berbagai literatur lainnya.
 
Dinilai Berlebihan?
Mengutip Jeffrey Winters dalam bukunya Oligarchy and Democracy in Indonesia, 
kemenangan Jokowi di Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012 tidak mungkin 
terjadi tanpa oligarki Prabowo dan adiknya yang kaya raya, Hashim 
Djojohadikusumo. 

Dalam buku Ross Tapsell yang berjudul Media Power in Indonesia: Oligarchs, 
Citizens and the Digital Revolution, Partai Gerindra disebut menghabiskan biaya 
besar untuk iklan dan kampanye politik Jokowi di televisi. Seperti pernyataan 
Winters, tanpa sumber daya oligarki, popularitas Jokowi yang luar biasa hanya 
akan berakhir di media massa dan media sosial.

Kemudian, mengutip pengakuan Jusuf Kalla (JK) pada 5 Agustus 2012, JK adalah 
sosok pertama yang meminta Jokowi maju sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia juga 
yang meyakinkan Megawati untuk mengusung Jokowi. 

Pun demikian pada majunya Jokowi di Pilpres 2014. Dalam bukunya Panda Nababan 
Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku Kedua: Dalam Pusaran 
Kekuasaan, politisi senior PDIP Panda Nababan menyebut JK adalah salah satu 
sosok paling awal yang mendukung Jokowi maju. Menurut Panda, JK berperan dalam 
meyakinkan PDIP dan kemudian memberi proposal agar dirinya diterima sebagai 
pasangan Jokowi.

Selain JK, ada pula dukungan dari Luhut Binsar Pandjaitan yang membentuk Tim 
Bravo 5, serta berbagai purnawirawan TNI berpengaruh, seperti Agum Gumelar, 
Ryamizard Ryacudu, Wiranto, dan Hendropriyono.

Konteks ini membuat kita memahami pernyataan Profesor Vedi R. Hadiz dari 
University of Melbourne yang dikutip Ross Tapsell, bahwa Jokowi melekat dengan 
sistem oligarki, dan tidak menghadirkan patahan (perubahan) penting dari 
presiden-presiden sebelumnya.

Dengan kata lain, jika nantinya tidak ada kandidat dominan, mungkin benar 
political endorsement Jokowi dibutuhkan, tapi itu bukan kehendak independen 
Jokowi. Itu adalah dukungan yang mengikuti kehendak kaum oligark dan PDIP 
selaku partai Jokowi.

Ada dua alasan penting kenapa itu terjadi. Pertama, ini bertolak pada habituasi 
politik di Indonesia. Kembali mengutip buku Burhanuddin, partai politik di 
Indonesia berbasis pada office seeking atau hasrat atas kursi kekuasaan. 
Artinya, partai politik tidak melihat Jokowi sebagai “raja”, melainkan 
semata-mata untuk mendapatkan efek ekor jas. 

Kedua, sama seperti SBY, Jokowi berpotensi mendapatkan serangan-serangan 
politik setelah turun takhta sebagai RI-1. Ihwal ini telah jauh-jauh hari 
diperingatkan oleh Niccolò Machiavelli dalam bukunya Il Principe pada tahun 
1532.

Menurut Machiavelli, dengan dalih menjaga konsolidasi kekuasaan, raja-raja baru 
memiliki kebiasaan untuk membersihkan orang-orang raja lama, atau setidaknya 
membuat mereka menjadi patuh. Habituasi ala kerajaan itu terlihat jelas di 
politik Indonesia. Ketika PDIP berkuasa, misalnya, mereka yang disebut 
“orangnya SBY” sulit mendapatkan tempat di lingkar kekuasaan.

Nah, untuk mengamankan dirinya secara politik, Jokowi perlu seayun dengan 
kehendak kaum oligark dan partai yang berpotensi menang di Pemilu 2024. Konteks 
ini membuat kita memahami mengapa Jokowi beberapa kali memberi sinyal dukungan 
kepada Puan Maharani yang disebut-sebut menjadi capres PDIP.

Poin perlindungan politik adalah yang paling krusial. Karena berbeda dengan SBY 
yang merupakan petinggi Partai Demokrat, Jokowi merupakan kader biasa di PDIP. 
Terlebih lagi, Jokowi juga memiliki hubungan panas-dingin dengan Megawati 
Soekarnoputri, sang Ketua Umum PDIP. 

Singkatnya, sulit membayangkan Jokowi akan memberikan political endorsement 
secara independen. Ia pasti akan mendukung kandidat yang melanjutkan 
program-programnya, serta memberikan jaminan perlindungan politik.

Mengutip filsuf epistemologi David Hume, kekeliruan dalam melihat fenomena itu 
termasuk dalam kesesatan bernalar yang disebut dengan post hoc ergo propter 
hoc. Karena peristiwa Y mengikuti peristiwa X, bukan berarti peristiwa Y pasti 
disebabkan oleh peristiwa X.

Artinya, apabila Jokowi memberikan political endorsement-nya kepada A, bukan 
berarti A maju di Pilpres 2024 karena didukung Jokowi.Well, sebagai penutup, 
berdasarkan argumentasi-argumentasi tersebut, tampaknya secara cukup meyakinkan 
kita dapat membantah asumsi berbagai pengamat politik, seperti Burhanuddin 
Muhtadi, yang menyebut Jokowi akan menjadi king maker di Pilpres 2024.

Lagipula, dalam bukunya Burhanuddin juga menyebut banyak pihak terlalu 
melebih-lebihkan dampak pengaruh Jokowi, khususnya terhadap PDIP pada Pemilu 
2014. (R53) 


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B928319D77CC4D6980EAB9D7EBCE2B4B%40A10Live.

Reply via email to