Written byS13Tuesday, August 2, 2022 22:06

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/luhut-dan-ekonomi-orang-kaya/
Luhut dan Ekonomi Orang Kaya
Persoalan ekonomi kini menjadi pekerjaan rumah yang tengah dihadapi oleh banyak 
negara, termasuk Indonesia. Namun, di tengah ancaman krisis yang mengancam, 
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menyebut Indonesia masih berada dalam 
kondisi yang cenderung aman. Bahkan, ekonomi Indonesia adalah salah satu yang 
terbaik di dunia sepanjang pandemi. Pernyataan ini penting, mengingat banyak 
masalah yang terjadi di negara ini bersumber dari persoalan ekonomi. Apalagi, 
krisis ekonomi bisa menjadi masalah serius yang punya dampak multidimensional.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “A strong economy is the source of national strength”.

  ::Yoshihide Suga, Mantan Perdana Menteri Jepang::

Pasca krisis ekonomi yang menimpa Sri Lanka, banyak negara memang mulai 
dihantui oleh hitung-hitungan kemungkinan terburuk dari situasi ekonomi global 
ini. Ini karena efek pandemi Covid-19 yang berlanjut dengan perang yang terjadi 
antara Rusia dan Ukraina mengganggu rantai produksi, distribusi dan konsumsi, 
yang ujung akhirnya memperburuk krisis ekonomi yang terjadi di banyak negara.

Negara-negara yang salah menerapkan tata kelola ekonomi jelas mendapatkan efek 
yang bisa berlipat ganda. Inflasi yang tidak terkendali plus bahaya kelangkaan 
pangan akibat perang yang mengganggu rantai distribusi bahan makanan seperti 
gandum, pada akhirnya memang membawa dampak yang signifikan.

Bahkan, Presiden Jokowi menyebut sekitar 60 negara punya potensi ambruk, dengan 
sekitar 42 di antaranya berpeluang besar ambruk. Tak heran pernyataan Jokowi 
tersebut sempat melahirkan kecemasan terkait kondisi ekonomi Indonesia.

Terkait hal ini, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) 
Luhut Binsar Pandjaitan memberikan “angin segar” dengan menyebutkan bahwa di 
tengah gundah gulana krisis ekonomi yang dialami oleh banyak negara, posisi 
ekonomi Indonesia masih cenderung kondusif. Bahkan, Luhut menyebut ekonomi 
Indonesia masih jadi yang terbaik di tengah krisis global.

Nada positif yang disampaikan oleh Luhut memang penting karena masalah ekonomi 
kerap menjadi awal dari berbagai persoalan lain yang dihadapi oleh sebuah 
negara. Ini menunjukkan bahwa pemerintah memang mampu mengendalikan situasi dan 
persepsi publik terkait ancaman krisis ekonomi yang bisa saja melebar.

Ekonomi adalah kunci – demikian meminjam elaborasi cendekiawan Franz 
Magnis-Suseno, kala menjelaskan relasi antara berbagai persoalan yang terjadi 
di Indonesia, termasuk kasus-kasus macam terorisme, dengan kebutuhan akan 
kesejahteraan dan penghidupan layak oleh 50 persen masyarakat di kelas terbawah.

Lalu, mengapa relasi ini penting untuk dilihat dan seberapa besar efek dan 
pemahaman akannya membantu Indonesia menyelesaikan berbagai persoalan di negara 
ini?


 
Homo Economicus
Di abad ke-19, John Stuart Mill memperkenalkan istilah the economic man untuk 
menyebut manusia yang pada hakikatnya menjadi entitas economic being atau 
makluk ekonomis. Stuart Mill memang memfokuskan argumentasinya pada perilaku 
manusia yang selalu berusaha mencari keuntungan.

Perilaku mencari “keuntungan yang sebesar-besarnya dari pengeluaran yang 
sekecil-kecilnya” – yang adalah prinsip ekonomi – memang membuat manusia selalu 
bertindak dengan cara yang paling rasional berdasarkan hitung-hitungan yang 
dibuatnya.
Inilah yang di kemudian hari dikenal dengan istilah homo economicus – sebagai 
pembeda dari istilah homo sapiens misalnya yang merujuk pada manusia yang 
bijaksana (kata sapiens dalam Bahasa Latin berarti “bijaksana”).

Homo economicus bahkan sering diklasifikasikan sebagai perfect rationality atau 
rasionalitas sempurna dalam game theory, di mana manusia menggunakan 
rasionalitasnya untuk menghitung untung rugi dari semua tindakan atau sikap 
yang diambilnya.

Dengan demikian, konteks ekonomi itu bukan hanya masalah ekonomi praktis saja, 
melainkan menjadi  karakteristik dari manusia itu sendiri. Manusia itu 
rasional, self-interested, dan berusaha seoptimal mungkin memenuhi kebutuhannya.

Dalam relasinya dengan krisis, ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka 
lahirlah masalah. Hal yang serupa juga terjadi ketika kebutuhan itu dicapai 
dengan mengabaikan nilai dan tatanan norma atau moral yang berlaku di 
masyarakat, maka lahirlah masalah. Masalah-masalah ini akan menjadi makin 
kompleks ketika urusan ekonomi atau “urusan perut” – demikian terminologi yang 
umum dipakai – gagal dicegah rembetan atau turunannya ke persoalan 
sosial-politik yang lain.

Inilah mengapa kontrol yang kuat atas ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah 
menjadi sebuah keharusan agar menjamin kondisi sosial-politik tetap kondusif. 
Pada titik ini, pernyataan Pak Luhut mendapatkan pembenarannya dalam konteks 
menjaga agar kepanikan di masyarakat, walaupun mungkin saja kondisi ekonomi 
nasional Indonesia saat ini sedang dalam keadaan yang benar-benar tidak baik.

Pasalnya, seperti yang diungkapkan oleh Adam Smith dalam masterpiece-nya yang 
berjudul The Wealth of Nations, di bawah kebijakan pemerintah dan sistem 
ekonomi yang tepat, cita-cita kesejahteraan nasional yang melampaui 
kesempurnaan rasionalitas manusia sebagai homo economicus bisa terlampaui. Ini 
membantu terciptanya tatanan masyarakat yang berkepribadian dan jauh dari 
segala macam masalah sosial-politik yang bisa mengancam.

 
Kesenjangan Ekonomi: Berhenti Memilih Idiot!
Walaupun bangunan optimisme terhadap ekonomi itu penting, namuan penyelesaian 
masalahnya tak sampai di situ saja. Ada persoalan kesenjangan ekonomi yang 
harus juga disoroti. Seperti disebutkan oleh Franz Magnis-Suseno dalam salah 
satu wawancaranya, ada kondisi di Indonesia di mana kekuasaan dan dominasi atas 
ekonomi yang dipegang oleh hanya segelintir orang saja.

Franz Magnis menyebut soal kelompok 50 persen teratas dari sisi penghasilan 
yang menjadi bagian dari gerak kesenjangan sosial dengan 50 persen kelas yang 
ada di bawah. Bahkan, dari kelompok 50 persen terbawah, ada 15 persen yang 
benar-benar dalam keadaan yang sulit

Namun, jika dikerucutkan menjadi spesifik lagi, angkanya justru menjadi lebih 
menohok. Pasalnya, lembaga keuangan asal Swiss, Credit Suisse, pernah 
menyebutkan bahwa 49 persen dari total kekayaan nasional Indonesia dimiliki 
oleh hanya 1 persen dari populasi negara ini. Yess, hampir separuh kekayaan 
nasional hanya dimiliki oleh 1 persen dari populasi saja.
Persoalan ini penting untuk disoroti karena dalam kondisi seperti pandemi 
Covid-19 dan kemudian ada bencana efek lanjutan dari perang, maka kelompok 
berpenghasilan terendahlah yang akan paling merasakan dampaknya. Jika terus 
bergejolak masyarakat yang ada di tataran terbawah, maka efek terhadap lahirnya 
konflik bisa saja terjadi.

Masalah-masalah ini pada akhirnya memang bisa diselesaikan jika ada sistem dan 
pemerintahan yang benar-benar berjuang untuk kesejahteraan masyarakat banyak 
seperti yang dibilang oleh Adam Smith. Persoalannya, kondisi politik di 
Indonesia hari ini masih terjebak pada demokrasi yang sekedar menjadi selebrasi 
politik semata.

Indonesia belum mampu mengondisikan pemilihan umum yang benar-benar mewujudkan 
kepemimpinan untuk pembangunan, bukan sekedar kampanye. Pasalnya, baik di level 
eksekutif maupun legislatif, baik di pusat maupun di daerah, para pemimpin yang 
ketika dipilih lebih banyak sibuk untuk persiapan bagaimana memenangkan 
kontestasi selanjutnya.

Meminjam kata-kata penulis asa Amerika Serikat, James Freeman Clarke, mereka 
adalah pembenaran ungkapan: “A politician thinks of the next election; a 
statesman of the next generation”. Politisi hanya berpikir untuk Pemilu 
selanjutnya, sedangkan para negarawan berpikir untuk masa depan generasi 
selanjutnya. Indonesia jelas kekurangan sosok-sosok yang benar-benar berstatus 
negarawan sejati.

Ini memang sesuai dengan ulasan Dean Burnett soal Democracy vs Psychology di 
The Guardian yang menjelaskan alasan mengapa dalam hampir setiap Pemilu, 
masyarakat memilih para “idiots” sebagai pemimpin mereka. Burnett menyinggung 
efek macam Dunning-Kruger effect di mana less-intelligent people are usually 
incredibly confident. Orang-orang dengan tingkat kecerdasan yang kurang, 
cenderung menjadi sangat percaya diri dan pada akhirnya mereka-mereka inilah 
yang tampil dalam panggung politik.

Dengan demikian, salah satu cara untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi 
yang terjadi pada negara adalah berhenti memilih para “idiots” – seperti 
kata-kata Burnett – yang tidak paham cara menyelesaikan masalah dan lebih sibuk 
dengan urusan kampanye politik. Jika itu berhasil dilakukan, mungkin pemerintah 
tak perlu lagi berbohong atau menutup-nutupi kondisi negara yang sesungguhnya. 
Sebab, masa depan bangsa dan negara memang benar-benar ada di tangan 
orang-orang yang berkemampuan untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Menarik 
untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D89A96A0A3BB4EF6AB39E94B374035B5%40A10Live.

Reply via email to