Written byR53Wednesday, August 3, 2022 21:52

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bukan-pks-kenapa-pkb-pilih-gerindra/
Bukan PKS, Kenapa PKB Pilih Gerindra?
Meskipun sama-sama partai Islam, koalisi PKB dan PKS justru kandas di tengah 
jalan. Lantas, mengapa PKB berkoalisi dengan Partai Gerindra yang merupakan 
partai nasionalis? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Di tengah pergunjingan banyak pihak soal siapa capres-cawapres di 2024, 
pengamat politik M. Qodari memberikan pernyataan menarik yang berbeda sendiri. 
Menurut Qodari, justru tidak tepat membahas siapa sosok yang akan maju saat 
ini, karena yang seharusnya dibahas adalah partai politik mana yang berpotensi 
berkoalisi. 

Qodari memiliki alasan sederhana atas penekanan itu. Menurutnya, nama atau 
sosok adalah sesuatu yang tidak pasti. Katakanlah sekarang elektabilitasnya 
tinggi, mungkin enam bulan lagi akan turun, begitu pula sebaliknya. 

Sementara untuk partai politik, perolehan suara mereka itu pasti. Jumlah 128 
kursi DPR (22,26 persen) PDIP tidak akan berubah, begitu pula kursi PPP, PAN, 
maupun partai lainnya. Dengan demikian, yang jauh lebih penting dibahas adalah 
koalisi partai politik yang mungkin untuk terbentuk.

Menurut Qodari, setidaknya ada dua rumus dalam melihat kecocokan koalisi. 
Pertama adalah irisan platform, basis massa, atau ideologi. Sementara yang 
kedua adalah sebesar apa potensi konflik yang dapat tercipta dari koalisi. Jika 
irisannya besar dan potensi konfliknya kecil, itu akan menjadi koalisi yang 
solid.

Nah, dua rumus itu akan kita gunakan untuk membaca salah satu koalisi partai 
yang sudah terbentuk, yakni koalisi Partai Gerindra dan PKB. Sekilas, kita 
tentu mengetahui Gerindra adalah partai nasionalis, sedangkan PKB adalah partai 
Islam. Lantas, dengan perbedaan itu, apakah koalisi PKB-Gerindra akan solid? 

Lalu, kenapa koalisi PKB dan PKS yang sebelumnya sempat mencuat kandas di 
tengah jalan? Bukankah keduanya adalah partai Islam?

 
Pengujian Deduktif
Untuk kepentingan itu, kita akan melakukan pembuktian deduktif. Sedikit memberi 
konteks, dalam filsafat, khususnya epistemologi, ada tiga metode untuk 
membuktikan kebenaran. 

Pertama adalah induktif. Ini adalah pembuktian empiris atau pembuktian langsung 
ke lapangan. 

Kedua adalah pembuktian deduktif. Ini adalah pembuktian berdasarkan koherensi 
teoritis. Kita dapat menyebutnya sebagai uji literatur. 

Ketiga adalah pembuktian testimoni. Ini adalah pembuktian berdasarkan testimoni 
atau kesaksian pihak lain.

Alasan tulisan ini menggunakan pembuktian deduktif karena dua pembuktian 
lainnya sulit dilakukan. Terkait pembuktian induktif, kita harus menunggu 
sampai Pemilu 2024 untuk melihat apakah koalisi Gerindra-PKB benar-benar solid. 

Kemudian, terkait pembuktian testimoni, berkaca pada politisi yang kerap 
melakukan doublespeak (pernyataan ganda), baik elite PKB maupun Gerindra pasti 
mengatakan koalisinya solid.

Kendala-kendala itu membuat kita menggunakan pembuktian deduktif dengan 
menggunakan dua rumus dari M. Qodari. 

Rumus pertama, seberapa besar irisan platform dan basis massa kedua partai 
tersebut? Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, secara cepat, banyak pihak 
akan mengatakan koalisi ini memiliki irisan yang tidak besar karena perbedaan 
platform.

Namun, apabila kita membaca penelitian Diego Fossati, Edward Aspinall, 
Burhanuddin Muhtadi, dan Eve Warburton yang berjudul Ideological representation 
in clientelistic democracies: The Indonesian case, pandangan itu sekiranya 
gugur. 
Penelitian yang terbit pada Februari 2020 itu meneliti sepuluh partai politik, 
yakni NasDem, PDIP, Gerindra, PPP, PKB, PKS, Demokrat, Golkar, PAN, dan Hanura. 
Dari sepuluh partai itu, hanya Hanura yang tidak lolos ke Parlemen pada Pemilu 
2019.

Penelitian itu mencoba menjawab pertanyaan, apakah partai politik menunjukkan 
perbedaan sikap atau posisi terhadap suatu isu di tengah sistem klientelisme di 
Indonesia. Dalam temuannya, perbedaan sikap ternyata kentara terlihat pada isu 
Islam. Sementara pada isu ekonomi, semua partai memiliki cara pandang yang sama.

 
Pada diagram Political Islam Index (PII) di atas, terlihat perbedaan posisi 
kentara partai, baik politisi maupun pemilihnya di isu Islam — misalnya soal 
apakah Islam harus lebih diprioritaskan dari agama lainnya, atau apakah hukum 
Islam harus diimplementasikan. Ada perbedaan spektrum terhadap isu-isu itu.

Yang menarik adalah, PKB yang selama ini disebut sebagai partai Islam justru 
tidak memiliki PPI sebesar PKS, PPP, dan PAN. Partai lebah berada di tengah 
bersama dengan Gerindra, bahkan sedikit berada di belakangnya. 

Data ini tampaknya menjawab mengapa loyalis dan kader PKB yang menamakan 
dirinya PKB Merah menolak koalisi dengan PKS. Di kesempatan yang sama, mereka 
mendukung koalisi dengan Partai Gerindra.

”Saya nggak perlu menjelaskan, tapi PKB ini lahir dari NU (Nahdlatul Wathan) 
dan segaris dengan NU. Dan wawasan kebangsaannya berbeda dengan PKS. Ini yang 
jadi kegelisahan kami yang merupakan pemilih dan loyalis PKB,” ungkap 
Koordinator PKB Merah Budi Santoso pada 15 Juni 2022.

Bertolak pada pernyataan Budi Santoso, condongnya PKB Merah pada Partai 
Gerindra sekiranya mengafirmasi skor PPI di atas. Selain itu, jika melihat 
basis pendukung Gerindra di dua gelaran pilpres terakhir, partai nasionalis ini 
justru mendapat banyak dukungan dari massa Islam.

 
Cak Imin atau Khofifah?
Sekarang kita akan mendeduksi rumus kedua. Seberapa kecil potensi konflik 
koalisi PKB-Gerindra?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita dapat membaca buku Saiful Mujani, R. 
William Liddle, dan Kuskridho Ambardi yang berjudul Kuasa Rakyat: Analisis 
tentang Perilaku Memilih dalam Pemilihan Legislatif dan Presiden Indonesia 
Pasca-Orde Baru.

Dalam buku itu, ada satu teori menarik yang dijelaskan, yakni teori pilihan 
rasional. Secara sederhana, teori ini menegaskan bahwa individu pasti mengambil 
keputusan dengan bertolak pada insentif maksimal untuk dirinya sendiri.

Meskipun teori itu digunakan untuk menjelaskan perilaku pemilih di pemilu, 
dalam konteks tulisan ini, penulis akan menggunakannya untuk menjelaskan 
perilaku politisi, baik PKB maupun Gerindra. 

Pada praktik sehari-hari, teori pilihan rasional mengasumsikan individu 
memiliki kalkulasi untuk menentukan pilihan yang paling menguntungkannya. 
Sebagai contoh, jika Anton memiliki belanja mingguan sebesar Rp100 ribu, 
pilihan rasional Anton adalah membeli makanan di warteg yang kisaran harganya 
Rp10-15 ribu per porsi. 
Anton tidak akan makan siang ke McDonald’s karena dapat menghabiskan uang 
Rp50-80 ribu per porsinya. Jika pergi ke McDonald’s, Anton akan kesulitan makan 
dalam empat sampai lima hari ke depan.

Teori pilihan rasional ini kemudian menjadi jawaban kenapa McDonald’s tidak 
membuka cabang di pedesaan yang pendapatan harian masyarakatnya sangat kecil.  

Kembali pada PKB. Dengan bertolak pada target partai lebah untuk mengusung 
kadernya sebagai kandidat di Pilpres 2024, pilihan rasional para kader PKB 
adalah berkoalisi dengan Partai Gerindra.

Kalkulasinya sederhana. Berbeda dengan Gerindra yang memiliki figur dengan 
popularitas dan elektabilitas yang tinggi, yakni Prabowo Subianto, PKS tidak 
memiliki figur menonjol. Selain itu, Gerindra juga termasuk partai yang 
memiliki logistik yang besar.

Kemudian, ini yang terpenting, berkoalisi dengan PKB akan menambal kelemahan 
Gerindra. Berdasarkan survei Charta Politika yang dirilis Juli 2022, Prabowo 
terpantau unggul di Jawa Barat, namun tertinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mengacu pada basis massa PKB yang berpusat di Jawa Timur, koalisi Gerindra-PKB 
diprediksi akan menyerap dukungan dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Dua provinsi 
itu adalah provinsi dengan penduduk terbanyak di Indonesia.

Mungkin sekarang pertanyaannya adalah, siapa kader PKB yang dipilih Prabowo 
sebagai pendampingnya? Apakah Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) atau 
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa?

Berdasarkan simulasi berbagai survei, duet Prabowo-Cak Imin atau 
Prabowo-Khofifah terlihat unggul. Survei Media Survei Nasional (Median) yang 
dirilis Agustus 2022 menunjukkan Prabowo-Cak Imin unggul dengan 24,1 persen. 
Survei Political Weather Station (PWS) yang dirilis April 2022 menunjukkan 
Prabowo-Khofifah unggul sebesar 45,6 persen.

Kembali mengutip teori pilihan rasional. Prabowo yang mendapatkan pendamping 
yang memiliki basis massa di Jawa Timur tentu adalah pilihan rasional. Ini akan 
meningkatkan potensi kemenangan di Pilpres 2024. Artinya, koalisi PKB-Gerindra, 
tidak hanya akan solid, melainkan juga menguntungkan keduanya.

Namun, jika dihadapkan antara Cak Imin atau Khofifah, mungkin kalkulasinya akan 
mengarah pada Khofifah. Seperti yang diketahui, Cak Imin terlibat ketegangan 
dengan keluarga Gus Dur dan PBNU. Untuk memaksimalkan dukungan dari warga NU, 
Khofifah mungkin yang akan dipilih. 

Sebagai penutup, ada dua kesimpulan yang dapat ditarik. Pertama, mengacu pada 
PPI, tampaknya sulit melihat koalisi antara PKB dan PKS. Kedua, untuk meraup 
dukungan dari Jawa Timur dan massa NU, Prabowo tampaknya akan lebih memilih 
Khofifah daripada Cak Imin. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E9A3912893494AFDBE29C5901A3A35CE%40A10Live.

Reply via email to