Dijadikan museum saja. Museum ambisi yang tidak selesai dilaksanakan.
Meseum ini berharga US$ 6 miliar.

[image: width=]
<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
Virusfri.www.avast.com
<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
<#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>

On Thu, Aug 4, 2022 at 4:04 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Written by*J61* <https://www.pinterpolitik.com/author/j61/>
> Thursday, August 4, 2022 08:00
>
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kereta-cepat-jokowi-dibiarkan-mangkrak/
> Kereta Cepat Jokowi Dibiarkan Mangkrak?
> [image: jokowi kereta]
>
> *Kereta cepat Jakarta-Bandung yang digadang jadi salah satu proyek
> mercusuar pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampak kian rumit
> penyelesaiannya. Lantas, mengapa itu bisa terjadi? Benarkah proyek tersebut
> dibiarkan mangkrak?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com <https://www.pinterpolitik.com/>*
>
> Enam tahun telah berlalu sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan
> proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Pembangunan infrastruktur
> transportasi anyar yang sebenarnya ditargetkan selesai pada tahun 2019
> lalu, masih belum jelas kepastiannya kapan akan rampung.
>
> PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai pelaksana, merupakan
> perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia, yakni PT Pilar Sinergi
> BUMN dan konsorsium perusahaan kereta api Tiongkok melalui Beijing Yawan
> HSR Co.Ltd dengan skema *business to business *(B2B).
>
> Sayangnya, KCIC sejak awal hingga detik ini masih dihadapkan pada masalah
> pembebasan lahan yang tak kunjung selesai. Ihwal yang kemudian menghambat
> pendanaan Tiongkok dan merembet pada membengkaknya biaya pembangunan.
>
> Proyek kereta cepat ini mulanya bernilai US$6,07 miliar atau sekitar
> Rp86,5 triliun. Akan tetapi, estimasi pembengkakan dana maksimal yang
> kemudian dikalkulasi mencapai US$8 miliar atau setara Rp114,24 triliun.
>
> Dinamika berlanjut saat pemerintah menyebut terpaksa harus menggunakan
> dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp4,3 triliun
> untuk menopang pembengkakan biaya sejauh ini.
>
> Padahal, pada 15 September 2015 silam, Presiden Jokowi berjanji untuk
> tidak menyentuh dana keuangan tahunan negara demi proyek kereta cepat.
> <https://www.instagram.com/p/Cgls3z4h8_x/>[image: image 9]
> <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-9-921x1024.png>
>
>
> *Well*, pembahasan mengenai kereta cepat belakangan ini kembali mengemuka
> sekaligus semakin menimbulkan tanda tanya serta spekulasi. Salah satunya
> datang dari pengamat transportasi Darmaningtyas yang mengatakan bahwa
> pembangunan kereta cepat saat ini seperti serba-salah.
>
> Hal itu dikarenakan apabila terus dilanjutkan, negara tentu akan
> menanggung kelebihan biaya. Sementara jika mundur pun cukup mustahil untuk
> dilakukan karena konstruksi fisik sudah telanjur dikerjakan.
>
> Kendati demikian, menurut Ketua Institut Studi Transportasi itu, langkah
> paling logis yang bisa ditempuh adalah dengan tetap melanjutkan pembangunan
> proyek, dengan sebuah catatan penting, yakni semaksimal mungkin menekan
> beban yang ditanggung negara.
>
> Dinamika pembangunan kereta cepat tentu menimbulkan pertanyaan sederhana.
> Mengapa proyek kereta cepat Jakarta-Bandung bisa begitu rumit, baik dari
> segi pendanaan hingga implementasinya?
> *Di Ambang Jebakan Tiongkok?*
>
> Diskursus kereta cepat Jakarta-Bandung menarik perhatian Asisten Profesor
> Ilmu Politik di North Carolina State University Jessica C. Liao.
>
> Dalam publikasinya yang berjudul *Easy Money and Political Opportunism:
> How China and Japan’s High-Speed Rail Competition in Indonesia drives
> financially risky projects*, Liao menganalisis bahwa terdapat semacam
> oportunisme politik Presiden Jokowi di balik pembangunan proyek ambisius
> tersebut.
>
> Tiongkok yang mengungguli Jepang dalam aspek kemudahan pencairan dana,
> membuat pemerintah Indonesia kemudian memilih negeri Tirai Bambu dan proyek
> kereta cepat langsung dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
> Nasional (RPJMN) 2015-2019.
>
> Sementara itu, Hafiz Amin Zamzam dalam tulisannya yang berjudul *The
> Political Economy of Jakarta-Bandung High-Speed Rail Project in 2015-2016*
>  menyebutkan keputusan dipilihnya Tiongkok daripada Jepang sebenarnya
> bukanlah karena alasan bisnis seperti yang diungkapkan, melainkan memiliki
> dimensi politik tersendiri.
> <https://www.instagram.com/p/CgwMN6XByYL/>[image: image 10]
> <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-10.png>
>
> Menariknya, Hafiz menemukan bahwa pemerintah Indonesia melalui Menteri
> Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat itu, Rini Soemarno, telah menandatangi
> tiga dari tujuh *Memorandum of Understanding* (MoU) antara Tiongkok
> dengan Indonesia di Beijing pada tahun 2015.
> Pasalnya, salah satu dari tiga MoU yang ditandatangani adalah proyek
> Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Dengan kata lain, apa yang disepakati
> Indonesia via Rini, semacam menjadi kontrak pengikat tersendiri.
>
> Bersamaan dengan itu, secara matematis Tiongkok menawarkan pinjaman US$50
> miliar dengan bunga 2 persen atau lebih tinggi dibandingkan Jepang (0,1
> persen). Namun, Tiongkok memberikan jangka waktu pengembalian dua dekade
> lebih panjang dibanding negeri Samurai, yaitu 50 tahun.
>
> Dengan molornya pengerjaan plus melambungnya pembiayaan kereta cepat,
> diharapkan Indonesia tidak masuk ke dalam jebakan hutang (*debt trap*)
> Tiongkok yang telah dialami sejumlah negara dengan konsekuensi kurang
> menyenangkan.
>
> Karena jika itu terjadi, maka alasan mengapa penyelesaian kereta cepat
> yang tampak begitu rumit kemungkinan mengarah pada bagian dari skenario
> “jebakan” yang kerap dikatakan menjadi strategi dan bentuk *soft power* 
> ekonomi-politik
> Tiongkok.
>
> Susan Strange dalam buku *States and Markets* menjelaskan konsep *structural
> power* untuk menjelaskan eksistensi kekuatan aktor negara dominan untuk
> membentuk pola interaksi dengan negara lain yang lebih lemah.
>
> Dalam beberapa literatur, *structural power* dapat menggambarkan muara
> penerapan aturan main Tiongkok atas pinjamannya (*power*) kepada negara
> lain yang jatuh tempo sehingga disebut sebagai sebuah jebakan hutang.
>
> Bahaya *debt trap* sendiri pernah diperingatkan oleh Kepala Badan
> Intelijen Inggris MI6 Richard Moore pada November 2021 lalu. Tak hanya
> sebuah peringatan kosong, apa yang dikemukakan Moore agaknya berasal dari
> *case* nyata kala pengelolaan Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka dan
> Bandara Internasional Entebbe di Uganda berpindah tangan kepada Xi Jinping.
>
> Selain kemungkinan mengarah pada skenario *debt trap*, alasan mengapa
> proyek kereta cepat seolah jauh dari apa yang diharapkan agaknya disebabkan
> oleh politik perkeretaapian Indonesia yang dinilai kurang serius.
>
> Ihwal itu misalnya dikemukakan oleh Becky P.Y. Loo dan Claude Comtois
> dalam buku berjudul *Sustainable Railway Future: Issues and Challenges*.
>
> Menurut dua profesor bidang transportasi dan perkotaan itu, konsep sistem
> transportasi berbasis rel di Indonesia seolah “terabaikan” karena kondisi
> geografisnya yang lebih membutuhkan perbaikan kualitas dan kuantitas di
> aspek transportasi laut antar pulau.
>
> Pengabaian itu misalnya dapat tercermin dari riwayat historis pasca G30S,
> ketika sepanjang dasawarsa 1970 sampai 1980-an banyak lintas cabang kereta
> api yang terbengkalai dan menjadi beban perusahaan.
>
> Pada akhirnya, banyak jalur yang ditutup karena menjadi beban perusahaan
> kereta api yang saat itu bernama Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA).
>
> Tak hanya itu, pada tahun 2018 lalu,  proyek kereta api menjadi yang
> paling banyak dicoret dari daftar Program Strategis Nasional (PSN). Menurut
> Komite Percepatan Penyelesaian Infrastruktur Prioritas (KPPIP), tujuh cetak
> biru kereta api tidak dapat memenuhi estimasi waktu proyek.
>
> Terdapat pula presumsi yang menyebut pembangunan kereta api hanya
> memaksimalkan warisan Hindia Belanda, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera.
> Ini misalnya tercermin dari batalnya pengerjaan kereta api di Pulau
> Kalimantan akibat ditinggal investor asal Rusia, serta tertundanya proyek
> kereta api Makassar-Parepare akibat persoalan klasik pembebasan lahan.
> Lalu, di samping dua kemungkinan di atas, terdapat satu alasan lainnya
> yang kiranya cukup menarik untuk ditelisik. Apakah itu?
> <https://www.instagram.com/p/Cgvwti5hHxS/>[image: image 8]
> <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-8.png> 
> *Dibiarkan
> Mangkrak?*
>
> Dalam *Underestimating Costs in Public Works Projects: Error or Lie?*,
> Bent Flyvbjerg mengatakan *mega-project* – seperti kereta cepat – sering
> kali hanya berperan sebagai panggung kontemporer yang fungsinya sebagai
> “kampanye” di tataran politik internasional.
>
> Hal itu dikarenakan para politisi dan birokrat kerap fokus pada upaya
> mendapat dukungan politik semata, sementara komitmen dan pelaksanaan
> pembangunannya itu sendiri kerap diabaikan.
>
> Di saat yang sama, terhambatnya proyek infrastruktur maupun transportasi
> sebuah negara sesungguhnya dapat pula disebabkan oleh pembiaran.
> Kecenderungan itu dianalisis oleh Martin J. Williams dalam *The Political
> Economy of Unfinished Development Projects* yang menempatkan Ghana
> sebagai studi kasus.
>
> Selain pembiaran mangkrak demi rasuah, terdapat pula aspek klientelisme,
> yakni saat keterhambatan proyek bertransformasi menjadi strategi politik
> optimal bagi inkumben agar terpilih di negara barat Afrika itu.
>
> Stigma negatif yang muncul terhadap proyek yang mandek, juga disebut dapat
> menjadi alat bagi kepentingan tertentu.
>
> Dalam dimensi tersebut, stigma kurang baik terhadap sebuah proyek,
> khususnya transportasi publik, sempat menjadi pembahasan menarik di Amerika
> Serikat (AS).
>
> Pada dekade 50-an ekspansi jaringan rel kereta antar negara bagian
> berbenturan dengan pembangunan jalan bebas hambatan. Itu bahkan menjadi
> perdebatan sengit di Kongres yang kemudian berujung kemenangan bagi kubu
> jalan raya plus industri otomotif.
>
> Selain itu, terdapat pula lobi ekonomi-politik di AS dari kalangan
> industri otomotif yang terkenal dengan *General Motors streetcar
> conspiracy.* Ihwal yang kiranya dapat menjadi rujukan untuk melihat pada
> proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
>
> Dalam konteks ini, industri otomotif dan jalan bebas hambatan agaknya akan
> terkena dampak jika proyek kereta cepat berjalan mulus. Jika memuaskan,
> bukan tidak mungkin perpanjangan rute kereta cepat akan didukung masyarakat
> luas dan akan menimbulkan konsekuensi dengan industri.
>
> Sayangnya, di Indonesia, penggunaan kendaraan pribadi tampak sudah menjadi
> ketergantungan. Artinya, industri otomotif tidak perlu repot melobi atau
> memberikan tekanan kepada negara untuk kepentingannya sebagaimana refleksi
> dari *dominance theory of corporate power*.
>
> Stan Luger dalam *Corporate Power, American Democracy, and the Automobile
> Industry *menjelaskan teori itu untuk menggambarkan kecondongan negara
> terhadap industri otomotif karena ketergantungan pemerintah pada sektor
> pekerjaan, pertumbuhan, dan pendapatan negara yang disediakannya.
>
> *“Pembuat kebijakan tidak harus ditekan untuk menanggapi permintaan
> industri karena pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik dapat bergantung
> pada industri otomotif yang sehat,” – Stan Luger, Profesor dan Ketua
> Departemen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional University of Northern
> Colorado*
>
> Di titik ini, pembiaran proyek kereta cepat yang rumit seperti yang
> dikemukakan Williams tampaknya memiliki relevansi dalam derajat tertentu.
>
> Dengan peliknya penyelesaian, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung
> kemungkinan hanya merupakan ide setengah hati yang bisa saja pada akhirnya
> “dibiarkan” mendapat sentimen negatif publik.
>
> Akan tetapi, penjabaran di atas masih sebatas penafsiran semata. Tentu
> segenap warga +62 tidak menginginkan satu proyek nasional pun terbengkalai
> dan justru membebani negara di kemudian hari. (J61)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C95261A7F10C4A4199AC9B415AC6B2CA%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C95261A7F10C4A4199AC9B415AC6B2CA%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

[image: width=]
<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
Virusfri.www.avast.com
<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
<#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AWY%3DAi3dDE6e_EUP68jRmpJMgj%3DA-o1k8ErMWdPd_6Ow%40mail.gmail.com.

Reply via email to