Written byJ61Thursday, August 4, 2022 20:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/xi-jinping-kantongi-ri-1-2024/
Xi Jinping Kantongi RI-1 2024?
Guncangan internal di sejumlah partai politik beriringan dengan eksistensi 
kemungkinan intervensi negara asing seperti Tiongkok dalam Pemilu dan Pilpres 
2024. Namun, mengapa Tiongkok yang dikatakan mampu berpengaruh?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Stabilitas sejumlah partai politik (parpol) jelang kontestasi elektoral 2024 
terus diuji. Terbaru, kepemimpinan Airlangga Hartarto di Partai Golkar disebut 
masih berpotensi untuk didongkel.

Analisis itu dikemukakan pengamat politik dari Universitas Paramadina Ahmad 
Khoirul Umam. Menurutnya, tensi di internal Partai Golkar masih membara serta 
berpotensi mengancam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

Pernyataan Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar Bambang Soesatyo yang 
menyebut keputusan final mengusung Airlangga sebagai calon presiden (capres) 
dinilai dapat menimbulkan manuver politik di tubuh partai beringin.

Dari kacamata Umam, gerbong politik Golkar tidak bersifat tunggal, sehingga 
keputusan tersebut boleh jadi membuat masing-masing kekuatan di internal Partai 
Golkar bisa saling mengintai dan saling serang.

Presumsi tersebut kembali menguak bahwa kepemimpinan Airlangga masih belum 
sepenuhnya aman hingga 2024. Sebelumnya, aroma kudeta terhadap sosok yang juga 
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu diiringi variabel panas lainnya, 
seperti isu skandal perselingkuhan, elektabilitas yang rendah, hingga kinerja 
sebagai tangan kanan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai tak maksimal.

Menariknya, selain Partai Golkar, keretakan internal untuk mengganti pucuk 
pimpinan juga melanda parpol lain, misalnya PPP hingga PKB.

  
Ketua Umum (Ketum) PPP Suharso Monoarfa misalnya, beberapa kali diminta mundur 
sebagai pimpinan partai sebagaimana telah dianalisis dalam artikel 
PinterPolitik sebelumnya yang berjudul PPP Perang, Prabowo Menang?.

Tindak-tanduk kepemimpinan Suharso dianggap sewenang-wenang terhadap elite 
lain, plus diprediksi tidak akan mampu membawa PPP lolos ke parlemen pada 
Pemilu 2024 mendatang.

Meskipun berbeda dimensi, PKB yang diampu Muhaimin Iskandar (Cak Imin/Gus 
Muhaimin) pun sempat diterpa intrik minor. Perseteruan dengan Ketum Pengurus 
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dan Yenny Wahid 
sempat memengaruhi sentimen terhadap kepemimpinan Cak Imin.

Lalu, mengapa tensi di dalam parpol-parpol tersebut muncul?

Selain ambisi kekuatan lain di internal, intrik itu kemungkinan merupakan 
bagian dari marketing politik tersendiri, baik untuk menaikkan daya tawar 
maupun demi konsolidasi ulang kekuatan.

Namun, terdapat satu kemungkinan menarik lain yang kiranya turut berkontribusi 
dalam dinamika parpol jelang tahun politik, terlebih dalam konteks sokongan 
terhadap presiden baru.

Satu probabilitas itu adalah intervensi asing, yakni campur tangan negara lain 
dalam politik domestik negara +62.

Dalam hal ini, Tiongkok di bawah kepemimpinan dan ambisi Xi Jinping agaknya 
menjadi pihak yang bisa saja aktif melakukan intervensi tersebut. Mengapa 
demikian?

Tiongkok Ambil Peran AS?
Damien D. Cheong, Stephanie Neubronner, dan Kumar Ramakrishna dalam tulisan 
mereka yang berjudul Foreign Interference in Domestic Politics menegaskan 
lumrahnya praktik campur tangan asing dalam politik domestik suatu negara demi 
mengamankan kepentingan mereka.

Negara adidaya Amerika Serikat (AS) disebutkan oleh Dana Roberson dan T.J. 
Raphael dalam A Brief History of U.S. Intervention in Foreign Elections kerap 
mengerahkan badan intelijennya untuk mengimplementasikan taktik klandestin demi 
menempatkan pemimpin yang dapat menguntungkan kepentingan nasional mereka.

 
Di Indonesia sendiri, hal itu misalnya tercermin dari sampel AS dan Inggris 
kala Peristiwa G30S. Berdasarkan dokumen intelijen yang telah dideklasifikasi 
dan dikuak oleh media The Guardian pada Oktober 2021 lalu, keterlibatan kedua 
negara dalam transisi kepemimpinan ke Orde Baru (Orba) Soeharto cukup intens 
demi menangkal kubu komunis.

Selain itu, rekayasa politik Ali Moertopo dengan melebur parpol menjadi hanya 
tiga entitas, juga ditengarai merupakan bagian dari upaya mempertahankan 
kepentingan Barat atas kekuasaan Soeharto secara tidak langsung.

Sementara di era kontemporer, Prashanth Parameswaran dalam Indonesia’s 2019 
Elections: Beware the Foreign Puppet Wars in the Jokowi-Prabowo Race 
menggunakan istilah foreign puppet wars (perang boneka asing) untuk menyebutkan 
kemungkinan intervensi asing dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Parameswaran menyebutkan Tiongkok, AS, dan Rusia memiliki kapabilitas untuk 
melakukan intervensi semacam itu.

Selain negeri Paman Sam yang punya riwayat historis, disebutkan terdapat pula 
rekam jejak peran Tiongkok dalam pemilu Kamboja pada 2018 serta campur tangan 
Rusia terhadap pemilihan presiden (Pilpres) AS 2016.

Artinya, tiga negara kuat itu memiliki potensi untuk terlibat secara gradual 
dalam menentukan arah Pemilu hingga Pilpres 2024 mendatang.

Namun, di antara mereka, Tiongkok tampak menjadi pihak yang lebih prominen 
untuk terlibat. Hal itu dikarenakan AS agaknya akan disibukkan dengan dinamika 
Pilpres domestik di tahun yang sama, sementara Rusia masih bekerja ekstra di 
konflik Ukraina.

Intervensi Tiongkok dalam pemilu pun tak hanya di level regional dengan sampel 
Kamboja seperti yang disebutkan Parameswaran. Bahkan, negeri Tirai Bambu diduga 
turut serta menentukan arah politik AS di Pilpres 1996.

Temuan itu dikemukakan peneliti senior bidang pertahanan dan kebijakan luar 
negeri Cato Institute, Ted Galen Carpenter. Dalam publikasinya yang berjudul 
China Is Interfering in the 2020 Election, Tiongkok ketika itu disebut 
berkontribusi mempromosikan kembali Bill Clinton sebagai presiden melalui 
narasi positif di media.

Sebelum Pilpres AS 1996 digelar, disebutkan bahwa para elite Partai Demokrat 
dan sebagian besar tokoh media arus utama tampak “aneh” karena terus mengurangi 
perhatian terhadap perilaku Beijing.

Menariknya, di akhir cerita Clinton kembali duduk di Gedung Putih setelah 
unggul dari kubu Republik yang diwakili Bob Dole.

Pada Pilpres AS 2020, Tiongkok disebut Carpenter kembali “bermain”. Intervensi 
Xi Jinping saat itu lebih dititikberatkan kepada Joe Biden karena menganggap 
Donald Trump sebagai sosok yang tidak dapat ditebak.

Itu dipertegas oleh pernyataan eks Direktur National Counterintelligence and 
Security Center (NCSC) William Evanina yang menyebut Tiongkok telah memperluas 
upaya pengaruhnya menjelang November 2020 untuk membentuk lingkungan kebijakan 
“kondusif” di AS.

Tak hanya itu, Tiongkok disebut menekan tokoh-tokoh politik yang dipandangnya 
bertentangan dengan kepentingan mereka dan membelokkan kritik terhadap mereka.

Jika dielaborasi, probabilitas Tiongkok untuk memainkan narasi secara gradual 
demi kepentingannya di Pemilu dan Pilpres Indonesia 2024 tampak menemui 
relevansinya. Termasuk dengan kemungkinan menyasar para pimpinan parpol yang 
berpotensi menyokong koalisi calon presiden (capres) yang tidak pro-Beijing.

Lalu, kemanakah muara kepentingan Tiongkok di Pemilu dan Pilpres 2024?
 
Tiongkok Incar Ganjar?
Sebelum menganalisis arah politik yang kiranya akan diinginkan Xi Jinping, 
membedah landasan intervensi Tiongkok bisa menjadi sebuah pintu masuk.

Secara umum, keterlibatan Tiongkok di kancah global dalam berbagai aspek 
mengacu pada central realm theory. Teori itu ditelaah oleh Jerome Alan Cohen 
dalam China and Intervention yang didefinisikan sebagai keunggulan moral 
Tiongkok atas perwujudan kebajikan yang layak diterapkan secara universal 
berdasarkan aspek historis panjang kekaisaran.

Di era kekinian, aktualisasi teori itu tampak diperagakan dengan cukup agresif 
oleh Xi Jinping, terutama melalui ekspansi kerja sama ekonomi bertajuk Belt and 
Road Initiative (BRI).

Selain memperluas kepentingan ekonomi, intensi filosofis kongsi itu juga demi 
kebangkitan imperium Tiongkok secara politik di seluruh dunia.

Presiden Jokowi dianggap menjadi salah satu mitra terbaik yang selama ini 
selaras menerjemahkan berbagai kepentingan Xi Jinping.

Karakteristik itu yang kiranya dapat menjadi indikator utama mengenai sosok 
pemimpin yang didambakan Tiongkok untuk menjadi suksesor Jokowi, dan dapat 
terlihat dari kemungkinan gelagat intervensinya secara bertahap dalam politik 
tanah air hingga 2024.

Pertama, turbulensi di internal parpol seperti Golkar hingga PPP tampak 
mengarah pada sosok yang kurang berpihak pada Tiongkok.

Ketum Golkar Airlangga Hartarto, misalnya, tampak memiliki kecondongan kepada 
Jepang (pro-AS) jika mengacu pada rekam jejak relasinya dengan negeri Samurai 
sejak menjabat sejak Menteri Perindustrian (Menperin).

Airlangga juga dikabarkan lebih nyaman dengan Jepang karena pernah menjabat 
sebagai komisaris bagi PT. Hitachi Construction Machinery Indonesia.

Sementara Ketum PPP Suharso Monoarfa memiliki riwayat pedidikan di AS, plus 
selama menjabat sebagai Menteri PPN/Kepala Bappenas tampak lebih sering 
bersekutu dengan negeri Paman Sam dibandingkan Tiongkok.

Lantas, kemana arah politik akhir yang diinginkan Tiongkok di balik kemungkinan 
intervensinya?

Di antara tiga nama kandidat capres 2024, yakni Anies Baswedan, Prabowo 
Subianto, serta Ganjar Pranowo, nama terakhir agaknya menjadi ideal bagi 
kepentingan Tiongkok.

Secara rekam jejak, Anies dan Prabowo lebih condong kepada Barat, baik dari 
riwayat pendidikan, pengalaman profesional, hingga saat mengampu jabatan publik.

Ganjar tidak demikian. Selain PDIP yang memiliki “kedekatan batin” dengan 
Partai Komunis Tiongkok, sosok Ganjar juga serupa dengan Jokowi yang boleh jadi 
lebih mudah melanjutkan keharmonisan kerja sama ekonomi selama ini.

Oleh karena itu, terdapat benang merah yang saat ini tampak dari guncangan di 
internal beberapa parpol, yang pada akhirnya boleh jadi diarahkan untuk 
menyokong Ganjar di akhir cerita.

Namun demikian, analisis di atas masih sebatas interpretasi berdasarkan 
kepingan-kepingan teori dan variabel terkait yang dapat digali.

Di atas semua itu, efek dari dinamika politik tanah air yang sedang berlangsung 
panas kiranya masih akan terus menarik untuk dinantikan. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/51B47C44D16842F98A3ABE15DAA43FDA%40A10Live.

Reply via email to