Pelosi ke Taiwan Hanya Setting-an?Written byA43Friday, August 5, 2022 07:00

https://www.pinterpolitik.com/cross-border/pelosi-ke-taiwan-hanya-setting-an/
Kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Republik Tiongkok 
(Taiwan) menimbulkan gejolak geopolitik yang disebut bisa menimbulkan konflik 
bersenjata di kawasan Asia-Pasifik antara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan 
AS. Namun, apakah benar perang tersebut bisa terjadi dalam beberapa waktu ke 
depan?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “You’ll see, Peter. People… need to believe. And nowadays… they’ll believe 
anything” – Quentin Beck (Mysterio), Spider-Man: Far From Home (2019)

Perkataan-perkataan yang dilontarkan oleh Quentin Back alias Mysterio dalam 
film Spider-Man: Far From Home (2019) mungkin akan sulit untuk bisa dipercaya – 
apalagi bagi mereka yang telah mengenal alur cerita dalam film itu. 

Namun, dialog terakhir sebelum akhirnya Mysterio tewas setelah melawan Peter 
Parker (Spider-Man) bisa jadi benar. Di adegan tersebut, Mysterio menjelaskan 
kepada Spider-Man bahwa orang-orang membutuhkan sesuatu untuk dipercaya – dan 
saat ini semua orang bisa percaya apapun pada informasi yang mereka terima. 

Secara tidak langsung, apa yang disebutkan oleh Mysterio di adegan tersebut 
turut mencerminkan apa yang tengah terjadi di dunia nyata, khususnya di era 
kontemporer saat ini. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, 
informasi justru sangat melimpah.

Alhasil, dengan kelimpahan informasi, banyak orang justru kesulitan membedakan 
informasi yang benar – melahirkan apa yang disebut sebagai misinformasi. Banyak 
orang akhirnya tidak mendapatkan informasi yang benar.

Namun, pemberian informasi yang tidak sepenuhnya benar ini bisa saja disengaja 
– disebut sebagai disinformasi. Disinformasi bisa saja dilakukan karena ada 
kepentingan politik tertentu di baliknya – katakanlah untuk mempengaruhi 
diskursus politik internasional.

Diskursus terkait persaingan geopolitik antara Republik Rakyat Tiongkok 
(RRT/Tiongkok) dan Amerika Serikat (AS), misalnya, juga menjadi arena perebutan 
untuk memenangkan hati dan pikiran masyarakat global. Tidak jarang, AS menuding 
Tiongkok telah melanggar prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) 
– seperti di Xinjiang.

Tidak hanya di Xinjiang, narasi untuk melindungi demokrasi dan HAM juga muncul 
dalam diskursus terkait kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Repulik Tiongkok 
(Taiwan). Politikus Partai Demokrat AS tersebut bahkan berjanji bahwa komitmen 
AS untuk menjaga demokrasi di Pulau Formosa – dan di mana pun – tetaplah 
ironclad alias kuat.

Namun, bila komitmen Pelosi disambut baik oleh pemerintahan Tsai Ing-wen di 
Taiwan, tanggapan yang sangat kontras justru datang dari pemerintahan Xi 
Jinping di RRT. RRT pun langsung mengadakan sejumlah operasi militer di sekitar 
Taiwan – termasuk dengan menembakkan rudal Dongfeng ke Selat Taiwan.

 
Banyak pihak pun mulai khawatir bahwa perang terbuka akan meletus antara 
AS-Taiwan dan RRT. Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi, misalnya, 
meminta berbagai pihak untuk tidak melakukan provokasi yang bisa berujung pada 
perang terbuka.

Namun, pertanyaannya yang kemudian perlu dijawab adalah apa alasan strategis 
yang mendorong kedua negara adidaya ini untuk berkonflik di Taiwan. Mengapa 
Taiwan begitu penting bagi AS maupun RRT?

Taiwan yang Diperebutkan
Sengketa atau perdebatan soal Taiwan ini sebenarnya telah terjadi sejak lama, 
yakni sejak sekitar pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1949, revolusi besar 
terjadi di Tiongkok daratan – yakni perang sipil antara Partai Komunis Tiongkok 
(PKT) dan Kuomintang (KMT) yang menjadi penguasa di Republik Tiongkok 
pra-Revolusi 1949.

Namun, KMT akhirnya harus dipukul mundur hingga hanya memegang sejumlah wilayah 
di Provinsi Fujian dan Taiwan. Migrasi pun disebut juga terjadi ke Taiwan – 
membangun pemerintahan Republik Tiongkok yang berpusat di Taipei.
Sementara, di Tiongkok daratan, PKT mendirikan RRT – membuat negara-negara lain 
mengakui RRT sebagai satu-satunya Tiongkok secara de facto dan de jure di 
panggung internasional. AS pun menjadi salah satunya negara yang akhirnya harus 
mengakui kebijakan One China pada tahun 1972 melalui kesepakatan Komunike 
Shanghai.

Meski begitu, AS masih memainkan ambiguitas strategis (strategic ambiguity) 
dalam isu Taiwan. Walaupun hanya mengakui satu Tiongkok, AS tetap membuat 
peraturan dalam negeri yang mewajibkan negara tersebut untuk melindungi Taiwan.

Ambiguitas strategis yang dijaga ini menunjukkan bahwa AS memiliki kepentingan 
geo-strategis terhadap Taiwan, khususnya pada era Perang Dingin. Taiwan 
merupakan bagian dari strategi rantai pulau (island chain strategy) – 
dicetuskan oleh John Foster Dulles pada tahun 1951 – untuk menghalau pengaruh 
komunisme.

Bukan tidak mungkin, strategi yang sama juga digunakan oleh pemerintahan Joe 
Biden di AS kini guna menghalau pengaruh RRT. Alhasil, AS bisa saja 
meningkatkan komitmennya untuk menjaga Taiwan dari rongrongan kekuasaan PKT.

 
Namun, insiden kunjungan Pelosi tampaknya hingga kini tidak serta merta 
langsung menimbulkan konflik bersenjata. RRT sendiri hingga kini masih hanya 
melakukan taktik deterrence dengan menembakkan sejumlah rudal Dongfeng.

Mengapa RRT juga tampak menahan diri bila benar-benar ingin melindungi 
integritas wilayah kedaulatannya? Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh 
pemerintahan Xi di Beijing?

Hanya “Drama” Setting-an? 
Kunjungan Pelosi ke Taiwan – ditambah dengan sejumlah kegiatan operasi militer 
yang dilakukan oleh RRT di sekitar pulau tersebut – tentu semakin membuat 
banyak pihak cemas akan kemungkinan terjadinya konflik bersenjata antara AS dan 
Tiongkok. Bisa dibilang, dua negara ini adalah dua negara adidaya yang kini 
saling bersaing.

Namun, untuk melaksanakan perang atau konflik bersenjata, tentu memerlukan 
banyak pertimbangan yang harus dipikirkan secara matang. Bila tidak memenuhi 
kepentingan negara-negara tersebut, bukan tidak mungkin perang malah menjadi 
opsi yang paling akhir.

Pasalnya, perang merupakan langkah yang sangat berbiaya tinggi – khususnya kala 
dunia memiliki keterikatan yang tinggi di antara negara-negara satu sama lain. 
Ini sejalan dengan teori yang dicetuskan oleh Robert Keohane dan Joseph Nye, 
yakni interdependensi kompleks (complex interdependence).

Pasca-Perang Dingin, keterikatan ekonomi antar-negara semakin erat. Dengan 
tatanan dunia global yang terintegrasi, perang akan menjadi semakin berbiaya 
tinggi.

Konflik yang kini membara antara Rusia dan Ukraina, misalnya, menjadi contoh 
bagaimana perang yang jauh terjadi di Eropa Timur turut memiliki dampak pada 
Indonesia yang terletak di Asia Tenggara. Efek ekonomi global – seperti inflasi 
dan krisis pangan-energi – juga mulai terasa di banyak negara.

Di sisi lain, perang juga tidak sejalan dengan kepentingan RRT. Meski 
disebut-sebut menjadi negara penantang potensial bagi AS, RRT masih memerlukan 
dunia yang stabil dan damai agar bisa meningkatkan perekonomiannya – setidaknya 
hingga di tingkat yang benar-benar mampu menyaingi negeri Paman Sam.
 
Justru, dengan tingginya biaya konflik dan perang bersenjata, negara-negara 
besar kini lebih memilih untuk “berperang” di bidang-bidang lain – seperti 
ekonomi, budaya, dan dunia siber. Perang dalam bidang ekonomi, misalnya, sempat 
terjadi antara RRT dan AS kala Presiden ke-45 AS Donald Trump menjabat.

Perkembangan teknologi juga mengizinkan negara-negara besar untuk berperang di 
dunia siber. Selain tidak memakan korban dan biaya yang tinggi, perang siber 
juga disebut-sebut – misalnya oleh John McAfee – menjadi perang masa depan.

Lantas, bila perang bersenjata tidak benar-benar akan terjadi, mengapa RRT dan 
AS kini malah semakin bermain api dengan satu sama lain? Mengapa RRT begitu 
getol menunjukkan kekuatan militernya dengan operasi-operasi militernya di 
sekitar Taiwan?

Bukan tidak mungkin, situasi yang terjadi di Taiwan kini adalah sebuah 
dramaturgi politik. Meminjam konsep dari Erving Goffman, Frank Schimmelfennig 
dalam tulisannya yang berjudul Goffman Meets IR: Dramaturgical Action in 
International Community, negara-negara juga bisa memainkan “drama” dengan peran 
yang mereka emban dalam masyarakat internasional.

Dengan didasarkan pada peran-peran yang dimiliki negara-negara besar ini – 
misal AS sebagai pelindung Taiwan, aktor-aktor politik di dalam masing-masing 
negara juga bisa memanfaatkan situasi yang ada. Pasalnya, mengacu pada teori 
yang diajukan oleh Robert Putnam, politik dunia juga merupakan sebuah permainan 
dua tingkat (two-level game) – antara dimensi internasional dan dimensi 
domestik.

Masing-masing pemimpin negara-negara tersebut – mulai dari Joe Biden (AS), Xi 
Jinping (RRT), hingga Tsai Ing-wen (Taiwan) – memiliki kepentingan domestik dan 
elektoral yang perlu dipenuhi. Tsai, misalnya, akan membawa partainya, Partai 
Demokratis Progresif (DPP), akan menghadapi Pemilu Sela pada paruh akhir tahun 
2022 nanti.

Di sisi lain, Xi juga perlu memperkuat legitimasinya untuk masa jabatan 
ketiganya – yang mana harus diperolehnya melalui Kongres Nasional. Sementara, 
Biden dan Partai Demokrat AS sendiri kini tengah disoroti terkait situasi 
ekonomi AS yang memburuk akibat inflasi dan krisis pangan-energi – dapat 
menjadi batu ganjalan bagi Biden dan partainya untuk mendapatkan dukungan 
mayoritas di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Pada akhirnya, dengan kepentingan-kepentingan di balik situasi “krisis” yang 
terjadi di Taiwan, bukan tidak mungkin ini akan menjadi semacam dramaturgi yang 
tengah dimainkan oleh masing-masing negara. Seperti apa yang dibilang oleh 
Mysterio dalam film Spider-Man: Far From Home, bila gambaran kemungkinan ini 
benar, ujung-ujungnya masyarakat hanya membutuhkan sesuatu yang bisa dipercaya 
– entah apa kepentingan akhir yang ingin diwujudkan. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/369C91CA054949C9A62B4749B391F5C4%40A10Live.

Reply via email to