Telaah
Sukses Solo bukti Indonesia siap gelar event internasional apa pun
Oleh Jafar M Sidik  Minggu, 7 Agustus 2022 06:31 WIB
 
Tangkapan layar - Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato dalam penutupan 
ASEAN Para Games XI Tahun 2022 di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, 
Sabtu (6/8/2022). ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga/am.

Jakarta (ANTARA) - ASEAN Para Games kesebelas yang baru saja ditutup Sabtu 6 
Agustus oleh Presiden Joko Widodo semestinya diselenggarakan Desember tahun 
lalu di Vietnam karena negara ini tak bersedia mengadakannya.

Indonesia lalu menawarkan diri menjadi tuan rumah dan Januari 2022 Solo resmi 
dinyatakan sebagai tuan rumah ajang multicabang untuk atlet difabel itu.

Namun Solo baru resmi menjadi tuan rumah pada 16 Februari 2022 setelah badan 
anti-doping dunia (WADA) mencabut sanksi kepada Indonesia.

Baca juga: Menpora apresiasi INASPOC yang dalam waktu singkat sukseskan APG 2022

Pada 7 Oktober 2021, WADA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia karena tidak 
patuh dalam mekanisme pelaporan doping. Salah satu akibatnya Indonesia tak 
boleh menjadi tuan rumah kejuaraan level kawasan, benua, dan dunia.

Awal Februari tahun ini WADA mencabut sanksi itu karena Indonesia sudah 
memenuhi kewajiban untuk memperoleh kembali status patuh aturan kepada badan 
antidoping dunia itu.

Praktis Indonesia dan Solo hanya memiliki waktu enam bulan untuk menggelar 
ASEAN Para Games 2022 ini.

Solo boleh saja disebut tidak sementereng Jakarta yang empat tahun silam 
menggelar acara lebih besar; Asian Games dan Asian Paragames 2018.

Namun apa yang terjadi selama sepekan terakhir di kota yang pernah dipimpin 
Joko Widodo sebelum menjabat presiden Republik Indonesia dan kini dipimpin 
Gibran Rakabuming Raka itu, adalah membanggakan.

Secara umum multievent atlet difabel Asia Tenggara itu berlangsung lancar, baik 
di dalam maupun di luar arena. Tak ada keluhan berarti dari peserta dalam 
kaitan bagaimana ASEAN Para Games edisi kesebelas ini diselenggarakan.

Sukses atlet para Indonesia yang menjadi juara umum ASEAN Para Games 2022 dan 
keberhasilan Solo ini adalah bingkisan khusus untuk Indonesia yang kurang dari 
dua pekan ini akan memperingati hari kemerdekaannya.

Baca juga: Presiden ajak sukseskan ASEAN Para Games 2023 di Kamboja

Kemampuan Solo menggelar sebuah perhelatan internasional ini dalam waktu 
singkat namun mendatangkan apresiasi banyak kalangan ini menunjukkan stok-stok 
tempat representatif di Indonesia untuk menggelar event internasional semakin 
banyak, walaupun Solo sejak lama sudah lekat dengan dunia olah raga.

Selain menjadi kota pertama yang menggelar Pekan Olah Raga (PON) pada 1948, 
Solo secara umum tak pernah jauh dari dunia olah raga. Di sini pula salah satu 
klub sepak bola pertama di Indonesia dilahirkan, yakni Persis Solo yang kini 
bermain dalam Liga 1 Indonesia.

Menyelenggarakan ajang khusus kaum difabel Asia Tenggara yang sudah kedua 
kalinya dilaksanakan di kota ini setelah ASEAN Para Games 2011, membuat 
predikat keolahragaan Solo semakin istimewa karena ajang ini bukan sekadar 
tentang olah raga tapi juga bagaimana memuliakan penyandang disabilitas.

Pada zaman seperti sekarang, menyelenggarakan event difabel adalah tidak hanya 
menyangkut arena yang membuat atlet-atlet para nyaman berkompetisi.

Event ini juga membutuhkan sarana-sarana di luar kompetisi yang sama ramahnya 
kepada disabilitas.

Itu mulai dari sejak atlet-atlet tiba di bandara, sampai bagaimana mereka 
mencapai arena dan dibuat nyaman oleh layanan-layanan pendukung lainnya. Solo 
telah menyajikan semua ini.

Sukses Solo juga menjadi bukti Indonesia tak pernah kehabisan stok tempat untuk 
event-event olah raga internasional.

Baca juga: Menpora pastikan penggunaan dana untuk APG 2022 transparan


Tempat yang pas

Tahun lalu stok Indonesia bertambah ketika Papua menjadi tuan rumah PON untuk 
pertama kalinya.

Papua juga kini sudah memiliki pengalaman menggelar event untuk kaum difabel 
setelah menyelenggarakan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2021 yang juga 
terbilang sukses.

Tahun depan, Banda Aceh menambah stok venue olah raga yang bisa saja digunakan 
untuk event internasional juga. Sementara Medan sudah terbiasa menyelenggarakan 
event-event olah raga skala besar, termasuk tingkat internasional.

Akan makin banyak tempat di Indonesia yang siap menggelar event-event 
internasional.

Kisah sukses suatu daerah akan langsung atau tidak langsung memacu 
daerah-daerah dan provinsi-provinsi mencapai sukses yang sama atau bahkan 
melebihi sukses yang sudah dicapai daerah lain.

Suasana kompetisi di arena olah raga bisa bertransformasi menjadi kompetisi 
positif antar daerah dalam menghadirkan ajang dan fasilitas-fasilitas olahraga 
yang representatif untuk event apa pun, termasuk yang berskala internasional.

Ini juga bisa mendorong hadirnya fasilitas-fasilitas olahraga yang 
representatif bukan saja untuk atlet, tetapi juga untuk masyarakat.

Dan tak kalah pentingnya adalah untuk saudara-saudara kita para penyandang 
disabilitas.

Situasi ini semakin niscaya karena belakangan tahun ini sudah menjadi 
pemandangan umum di banyak tempat dan kota-kota di Indonesia, tempat-tempat 
publik dan apalagi arena olahraga, menyediakan sudut, alat atau jalur khusus 
untuk kaum difabel.

Baca juga: Kominfo dorong kesetaraan melalui komunikasi publik di APG 2022

Intinya, keberhasilan Solo menyelenggarakan ASEAN Para Games menunjukkan 
Indonesia siap menyelenggarakan event-event internasional di mana pun dan kapan 
pun.

Apalagi semakin banyak event kelas dunia yang diadakan di Indonesia. Di antara 
yang terbaru yang bisa disebut adalah MotoGP yang memasukkan Sirkuit Mandalika 
di Nusa Tenggara Barat dalam kalender kompetisi mereka.

Kemudian Formula E, atau Piala Dunia U-20 yang merupakan turnamen FIFA pertama 
yang akan diadakan di Indonesia.

Oleh karena itu ketika masyarakat internasional, memilih Indonesia menjadi tuan 
rumah untuk sebuah event olah raga, mereka tidak akan menyesal.

Dalam keyakinan ini pula event-event lain yang tengah dibidik Indonesia, 
seperti turnamen sepak bola Piala Asia 2023, akan berjalan baik di Indonesia.

Tak hanya karena adanya fasilitas dan pelayanan di dalam dan di luar arena yang 
dibuat separipurna mungkin, serta situasi keamanan yang stabil dan sambutan 
positif masyarakat, sebuah event yang diadakan di Indonesia pasti berkaitan 
dengan pasar olah raga yang besar dan sekaligus antusiatis.

Masyarakat Indonesia yang pada umumnya menyukai kompetisi olah raga, tak hanya 
sepak bola dan bulu tangkis, adalah nilai tambah teramat penting yang bisa 
membuat Indonesia tempat yang pas untuk menyelenggarakan event internasional.

Dalam kata lain, sukses Solo adalah pesan kepada dunia bahwa Indonesia siap 
menyelenggarakan kejuaraan level apa pun. Dunia akan mendapatkan suasana nyaman 
dan pasar olah raga yang terlalu besar dan terlalu penting untuk diabaikan.

Baca juga: Yura dan pesta kembang api akhiri rangkaian upacara penutupan APG 
2022
Baca juga: INASPOC serahkan bendera APSF ke Kamboja selaku tuan rumah APG 2023 
COPYRIGHT © ANTARA 2022

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4D4953A395D644F49CF65742483E6CBA%40A10Live.

Reply via email to