Written byJ61Saturday, August 6, 2022 14:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jaksa-agung-st-burhanuddin-capres-pdip/
Jaksa Agung ST Burhanuddin Capres PDIP?
Kejaksaan Agung di bawah kepemimpinan ST Burhanuddin belakangan cukup kesohor 
berkat kesuksesan mengungkap kasus korupsi kelas kakap. Dengan afiliasi tidak 
langsungnya dengan PDIP, mungkinkah sang Jaksa Agung akan menjadi calon 
presiden (capres) di 2024?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Kejaksaan Agung (Kejagung) di bawah pimpinan Sanitiar (ST) Burhanuddin baru 
saja meraih pencapaian istimewa sekaligus ironis. Itu setelah Korps Adhyaksa 
berhasil mengungkap kasus korupsi terbesar sepanjang sejarah Indonesia senilai 
Rp78 triliun.

Bos produsen minyak goreng merek Palma, Surya Darmadi menjadi aktor utama 
dibaliknya. Sosok yang kini masih buron itu disebut melakukan praktik rasuah 
dalam proses perizinan lahan di Provinsi Riau sejak tahun 2004 silam.

Jika dikomparasikan, nominal tersebut setara dengan Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Daerah (APBD) Riau selama sembilan tahun terakhir.

Jaksa Agung ST Burhanuddin menyatakan bahwa penyalahgunaan izin lokasi dan izin 
usaha perkebunan yang bertempat di Kawasan Indragiri Hulu itu menyangkut lahan 
seluas 37.095 hektare (ha).

Kasus fenomenal ini merupakan pengembangan Kejagung dari perkara yang menjerat 
mantan Gubernur Riau Annas Maamun yang ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan 
suap alih fungsi lahan pada September 2014.

Selain itu, Surya Darmadi juga menyeret Bupati Indragiri Hulu periode 1999-2008 
Raja Thamsir Rachman.

  
Dari total nominal korupsi, Kejagung melakukan kalkulasi dan mendapati temuan 
bahwa Surya kabur ke luar negeri dengan mengantongi Rp54 triliun .

Menariknya, ST Burhanuddin belakangan ini kerap menjadi aktor sentral di balik 
pengungkapan sejumlah kasus korupsi kelas kakap. Sebelumnya, Kejagung juga 
berhasil menguak nama-nama tersangka di balik kasus minyak goreng yang menyedot 
perhatian khalayak.

Kasus Jiwasraya yang merugikan negara sebesar Rp16,8 triliun pun berhasil 
diungkap Kejagung yang diampu ST Burhanuddin.

Atas pengungkapan itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nawawi 
Pomolango bahkan menginginkan lembaganya untuk belajar metode membangun perkara 
(case building) dari Kejagung.

Sosok ST Burhanuddin kemudian mengemuka sebagai subjek yang begitu prominen, 
meski awalnya ditengarai membawa kepentingan politik karena merupakan adik 
kandung dari politisi PDIP TB Hasanuddin.

Perspektif politik kiranya cukup menarik mengingat prestasinya sebagai Jaksa 
Agung tentu dapat menarik simpati masyarakat. Popularitasnya yang semakin 
sering dibicarakan media juga bisa saja bertransformasi menjadi modal politik 
personal setelah purna tugas kelak. Mengapa demikian?

Akan Diglorifikasi PDIP?
Kinerja dan kepemimpinan apik ST Burhanuddin bisa saja akan meninggalkan citra 
positif bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), plus PDIP secara tidak 
langsung.

Hal itu mengacu dari korelasi konsep modal sosial dan modal politik. William 
Ocasio, Jo‐Ellen Pozner, dan Daniel Milner dalam Varieties of Political Capital 
and Power in Organizations menyebut bahwa dikenal dan diakui karena memiliki 
kualitas khusus tertentu merupakan sebuah modal sosial sekaligus modal politik.
  
Dengan mengadopsi pemikiran sosiolog Prancis Pierre Bourdieu tentang modal 
sosial, Ocasio dkk melihat konsep modal politik dari aspek prestasi, tidak 
hanya berdampak secara personal, tetapi memiliki efek ke lembaga dan organisasi 
yang tegak lurus.

Selain kasus Surya dan Jiwasraya, Kejagung di bawah komando ST Burhanuddin juga 
sukses menguak kasus ASABRI dan korupsi minyak goreng yang menyeret elite 
Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Tak cuma itu, data menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2021 saja, Kejagung 
berhasil menangkap 137 buronan hingga menyelamatkan Rp21 triliun uang negara.

Selain memberikan citra positif bagi rezim Presiden Jokowi, plus jika memang 
memiliki tendensi politis yang mengarah pada PDIP, boleh jadi eksistensi dan 
torehan ST Burhanuddin akan menguntungkan bagi partai yang dipimpin Megawati 
Soekarnoputri itu dalam menyongsong tahun politik 2024.

Bukan tidak mungkin, ST Burhanuddin akan dipromosikan lebih awal ke jabatan 
prestisius lain untuk kemudian direkrut partai berlambang banteng.

Apalagi, namanya yang sedang harum saat ini boleh jadi akan memantik simpati 
masyarakat dan pemilih. Tidak hanya sebagai “kader biasa”, peluang ST 
Burhanuddin untuk diusung PDIP sebagai calon presiden (capres) kejutan pun 
kiranya masih terbuka. Benarkah demikian?

 
Kandidat Alternatif PDIP?
Tidak bisa dipungkiri bahwa penentuan capres dan calon wakil presiden 
(cawapres) cukup ditentukan oleh faktor popularitas. PDIP pun kiranya cukup 
memahami hal tersebut.

Itu berdasarkan riwayat intrik Jokowi yang pada akhirnya ditunjuk Megawati 
sebagai capres di Pilpres 2014 karena popularitas, walau sebelumnya sempat tak 
direstui.

Dalam buku Seeing Stars: Spectacle, Society and Celebrity Culture, Pramod K. 
Nayar menyebutkan bahwa kehidupan kontemporer kental dengan budaya selebriti 
(culture of celebrity).

Dengan popularitasnya, sosok selebriti memegang berbagai peranan dalam 
kehidupan bermasyarakat. Jika sebelumnya hanya sebagai penghibur, saat ini 
selebriti dapat menjadi pembawa suara kelompok marginal, sarana marketing, 
hingga simbol politik negara.

Aktor politik juga dapat menjadi seorang selebriti ketika manuver-manuvernya 
kerap menarik perhatian masif pewarta atau yang lebih dikenal sebagai media 
darling, di mana Jokowi adalah salah satu produk suksesnya.

Predikat “selebriti” dalam ranah penegakan hukum yang kini tampak tengah diraih 
ST Burhanuddin, agaknya dapat turut menjadi simbol yang konstruktif dalam aspek 
politik untuk dikapitalisasi.
Hal itu diperkuat oleh Marcus Mietzner dalam analisisnya yang berjudul 
Indonesia’s 2009 Elections: Populism, Dynasties and the Consolidation of the 
Party System.

Associate professor dari Australian National University itu mengatakan, 
seseorang yang memiliki kepopuleran seperti para artis lebih mudah untuk 
merengkuh elektabilitas.

Dalam politik Indonesia, Mietzner menyebut pemanfaatan ketenaran seorang sosok 
merupakan bagian dari konsolidasi demokrasi, yaitu kecenderungan partai politik 
untuk memberikan ruang dan mencalonkan seseorang yang memiliki kepopuleran.

Pada konteks ST Burhanuddin, popularitasnya pun diraih berkat prestasi dan 
kontribusi nyata bagi negara, bukan akibat tendensi kontroversial layaknya 
sejumlah aktor lain.

Artinya, masyhurnya ST Burhanuddin saat ini tampak cukup ideal untuk menjadi 
sebuah modal politik yang sangat bernilai.

Di titik ini, PDIP, lewat keterkaitan dengan sang kakak TB Hasanuddin, bisa 
saja dalam beberapa waktu ke depan “melamar” ST Burhanuddin.

Pertanyaan selanjutnya, jika benar-benar dilamar, apakah PDIP akan mengusung 
Burhanuddin sebagai capres atau cawapres?

Jika mengutip pernyataan politisi senior PDIP Panda Nababan di acara Total 
Politik, PDIP pasti mengincar posisi capres. Namun, sebagai sosok baru, apakah 
tiket itu akan diberikan ke Burhanuddin?

Dalam kalkulasi, jika Burhanuddin adalah cawapres, maka PDIP harus menempatkan 
kader potensialnya sebagai capres. Sebenarnya Ganjar Pranowo bisa mengisi itu, 
tapi kans-nya kecil karena ketegangan dengan pendukung Puan Maharani.

Namun, jika capresnya Puan, seperti yang disiratkan Panda Nababan, ada 
kemungkinan PDIP akan mengalami kekalahan. Oleh karenanya, bukan tidak mungkin 
PDIP akan berjudi dengan menempatkan Burhanuddin sebagai capres.

Posisi cawapres sekiranya akan diisi oleh partai koalisi PDIP nantinya. Karena 
meskipun memenuhi presidential threshold, partai banteng tentu tidak ingin 
mengambil risiko dengan bertarung sendirian.

Di titik ini, mungkin ada yang memandang sinis terhadap analisis ST Burhanuddin 
akan menjadi kandidat alternatif PDIP. Namun, sayangnya, Pilpres 2019 dapat 
menjadi bantahan tersendiri. Saat itu, tanpa diduga, Ma’ruf Amin tiba-tiba 
muncul sebagai pendamping Jokowi di detik-detik akhir.

Kendati demikian, dengan berbagai kemungkinan yang ada, ST Burhanuddin 
diharapkan tetap fokus menjalankan tugasnya saat ini sebagai Jaksa Agung.

Masih akan sangat menarik kiranya untuk menantikan kasus korupsi kelas kakap 
apa lagi yang akan diungkap Kejagung di bawah kepemimpinannya. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A196743E41884EFDA3F96B9713E8CFD8%40A10Live.

Reply via email to