Written byD74Saturday, August 6, 2022 16:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/goto-bisa-kendalikan-pemilu-2024/
GoTo Bisa Kendalikan Pemilu 2024?
Sebagai perusahaan yang memegang banyak informasi masyarakat, GoTo berpotensi 
menjadi sebuah alat politik yang kuat untuk Pemilihan Umum 2024 (Pemilu 2024). 
Apa saja yang perlu kita waspadai dari perusahaan decacorn ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Ketika Amerika Serikat (AS) melaksanakan Pemilihan Umum (pemilu) 2016, 
Cambridge Analytica, sebuah lembaga konsultan politik asal Inggris, disebut 
menggunakan data dari sekitar 87 juta pengguna Facebook untuk memberikan 
bantuan analitis kampanye calon presiden (capres) 2016, Ted Cruz dan Donald 
Trump.

Kasus tersebut menjadi sentilan pada dunia bahwa ternyata data yang dihimpun 
para perusahaan teknologi besar (big tech) seperti Meta, Google, dan Twitter 
sangat bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan politik. Yang mengerikannya, kita 
tidak akan pernah sadar seberapa sering data digital kita digunakan tanpa 
munculnya kasus semacam Cambridge Analytica ini.

Ya, perkembangan teknologi canggih yang digunakan big tech kini telah menjadi 
salah satu senjata dalam politik. Tidak heran bila kemudian tingkat ketidak 
percayaan penduduk AS pada Meta mencapai angka 72 persen, menurut survei 
Washington Post-Schar School pada tahun 2021. 

Sebagian besar dari warga AS yang disurvei berkeyakinan bahwa Meta akan 
melakukan berbagai hal yang melanggar privasi penggunanya, seperti menjual data 
pada lembagai survei, dan semacamnya.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Well, meski kita tidak pernah memiliki kasus 
besar semacam skandal Cambridge Analytica, ada satu big tech yang sepatutnya 
saat ini kita waspadai, yakni hasil merger antara Gojek dan Tokopedia: GoTo.

Seperti yang diketahui, GoTo saat ini telah menjadi salah satu perusahaan 
terbesar di Indonesia. Dengan valuasi lebih dari US$ 18 miliar (Rp 256 
triliun), GoTo dinobatkan sebagai satu-satunya decacorn di Indonesia, yakni 
perusahaan startup yang memiliki kekayaan lebih dari US$ 10 miliar (Rp 149 
triliun). Pencapaian yang luar biasa ini salah satunya berhasil dicapai dengan 
kemampuan GoTo berkiprah di dunia digital.

Lantas, mungkinkah GoTo -sebagai sesama big tech- juga akan bernasib sama 
seperti Meta, yaitu digunakan sebagai senjata politik, khususnya dalam 
menyambut Pemilu 2024 nanti? Apa saja yang perlu kita waspadai dari GoTo?

 
GoTo Akan Sangat Berbahaya?
Ada sebuah tulisan menarik yang ditulis oleh Rodrigo Fernandez, pengamat dari 
The Centre for Research on Multinational Corporations (SOMO), yang berjudul How 
Big Tech is becoming the Government. Di dalamnya, Rodrigo berargumen bahwa 
sesuai perkembangannya, para big tech kini mulai memiliki kekuatan lebih besar 
dibanding pemerintah, khususnya di negara-negara berkembang.

Big tech bisa naik pesat umumnya terjadi karena mereka merupakan pelopor atau 
pemain kuat dari suatu ekosistem digital baru. Meta, misalnya, memegang aspek 
media sosial, lalu Google memegang platform search engine. Kemudian GoTo, 
mereka adalah platform e-commerce di Indonesia yang paling sukses.

Dominasi ini membuat para big tech tersebut mengetahui sekaligus memegang 
kendali penuh atas hampir segala aktivitas yang terjadi di platformnya, yang 
kemudian diperkuat dengan bank data yang sering kita sebut sebagai big data. 

Kalau kita berkaca pada kasus Cambridge Analytics tadi, big data yang dimiliki 
Facebook digunakan untuk melihat preferensi masyarakat AS, apakah mereka suka 
topik tentang kesetaraan gender, atau yang lainnya. Lalu, bagaimana big data 
yang dimiliki GoTo? 
Nadiem Makarim, co-founder Gojek yang sekarang jadi Menteri Pendidikan, 
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) pernah mengungkapkan bahwa 
mayoritas pendapatan Gojek didapatkan dari layanan pengiriman makanan GoFood 
dan transaksi pembayaran GoPay. 

Ini terdiri dari total 190 juta kali unduhan yang dilakukan para pengguna 
Gojek. Meski tidak pasti ada berapa orang di balik unduhan tersebut, bahkan 
jika hanya setengahnya, itu tetap adalah angka yang luar biasa.

Dan dari GoFood, Crystal Widjaja, Senior Vice President Business Intelligence 
Go-Jek, mengatakan perusahaannya bisa mengetahui kebiasaan penggunanya. Segala 
interaksi, mulai dari tombol yang paling sering ditekan, bagaimana alur yang 
dilakukan pengguna untuk menyelesaikan pesanan, hingga restoran dan jenis 
makanan favorit para penggunanya, bisa diketahui dengan big data yang dimiliki 
GoFood. Umumnya, hal seperti ini ini disebut sebagai micro trend.

Bagaimana ini kemudian dikonversi menjadi kekuatan politik? Well, jawabannya 
cukup sederhana. Dengan mendapatkan akses ke kekuatan big data GoTo, para 
politisi bisa mengetahui strategi kampanye seperti apa yang kira-kira akan 
disukai oleh masyarakat secara spesifik per daerah. 

Terlebih lagi, kalau kita nalarkan lebih dalam, big data GoFood sebenarnya juga 
tidak hanya menyimpan informasi tentang preferensi makanan penduduk saja, tapi 
melalui transaksi yang terjadi, mereka juga bisa tahu tentang status ekonomi 
masyarakat (melalui harga makanan yang paling sering dipesan dan penggunaan 
diskon, misalnya) dan pada jam berapa saja biasanya para pengguna aktif 
menggunakan aplikasinya, maupun internet.

Ini semua bisa dimanfaatkan oleh politisi tidak hanya untuk mengetahui 
preferensi masyarakat, tetapi juga membentuk preferensi politik itu sendiri, 
karena dengan big data, masyarakat yang tinggal di daerah tertentu bisa hanya 
akan diekspos informasi yang memang sesuai dengan keinginannya. 

Dengan membaurkan dirinya dengan beberapa iklan yang menawarkan produk yang 
digemari, para politisi bisa dengan mudah mengarahkan pandangan politik 
masyarakat. 

Menariknya, kekuatan big data yang kita sebutkan tadi bisa didapat GoTo tanpa 
memasukkan variabel data penduduk. Seperti yang diketahui, dalam aplikasinya, 
Gojek kini juga memiliki data KTP, dan mereka juga menghubungkan aplikasinya 
dengan berbagai layanan publik, seperti PeduliLindungi dan bahkan berbagai 
pembayaran tagihan rumah, seperti listrik dan air. Karena itu, bisa kita 
bayangkan seberapa besar data masyarakat yang sesungguhnya ditimbun GoTo.

Layaknya cherry on top atau pemanis kekhawatiran, GoTo pun sekarang dipimpin 
oleh orang-orang yang memiliki koneksi ke politik dan pemerintahan.

Komisaris Utama (Komut) GoTo tidak lain adalah kakak dari Menteri Badan Usaha 
Milik Negara (Menteri BUMN), Erick Thohir, yakni Garibaldi Thohir atau Boy 
Thohir. Kemudian, ada juga komisaris Wishnutama Kusubandio, yang sempat menjadi 
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (Menparekraf). Kita pun tidak 
bisa lupakan Nadiem Makarim.

Karena itu, bukan tidak mungkin bila salah satu koneksi politik dari 
orang-orang besar ini akhirnya mendekati mereka untuk kemudian menggunakan 
kekuatan yang dimiliki GoTo untuk keperluan Pemilu 2024.
Tentu ini semua hanyalah interpretasi belaka. Namun, kira-kira seberapa besar 
kemungkinannya GoTo akan digunakan untuk Pemilu 2024?

 
Siap Hadapi Era Tech-Dystopia?
Ada sebuah cerita menarik dari Filipina pada tahun 2019. Kalau itu, ketika 
melaksanakan pemilu, dikabarkan bahwa ada sekelompok driver Grab yang 
menempelkan salah satu poster kandidat calon anggota legislatif di jalanan. 

Meski pihak Grab membantah keterlibatan pihaknya, kasus ini menggambarkan 
seberapa kuatnya potensi penggunaan politik oleh para big tech.

Driver yang aktif setiap hari di jalanan umumnya memiliki komunitas sendiri per 
wilayah bekerjanya. Dan di komunitas-komunitas itu beberapa kali obrolan 
tentang politik terselip dalam salah satu bahan pembicaraan. Kalau saja ada 
salah satu driver yang pandangan politiknya berhasil dibentuk oleh GoTo, maka 
ia akan jadi “kekuatan darat” untuk berkampanye, secara tidak sadar.

Ya, kekuatan tersembunyi dari big data sebenarnya adalah menciptakan preferensi 
politik di masyarakat tanpa mereka mengetahui bahwa mereka telah menjadi korban 
agenda para big tech.

Dalam kalangan pengamat digital, fenomena ini umumnya disebut sebagai 
tech-dystopia, yakni suatu masa di mana teknologi digital mampu ciptakan 
disrupsi masif dalam masyarakat tanpa mereka sadari. 

Jonathan Zittrain, profesor hukum sekaligus ilmu komputer di Universitas 
Harvard dalam artikel wawancara Are We Already Living in a Tech Dystopia?, 
mengatakan bahwa perkembangan teknologi yang seharusnya memperkuat dan 
memperbaiki kesalahan umat manusia kini telah bertransformasi menjadi senjata 
yang digunakan untuk menundukkan kita.

Zittrain mencontohkan penggunaan teknologi untuk kekuasaan layaknya penggunaan 
asbestos, sebuah kandungan berbahaya yang ternyata sering digunakan dalam 
berbagai produk medis, bahkan untuk bedak bayi. 

Nah, tidak jauh berbeda dengan penggunaan asbestos, teknologi yang disisipkan 
kepentingan politik juga akan sangat merusak tatanan kebebasan masyarakat 
dengan cara yang sangat sadis, yakni tidak membuat mereka tahu bahwa mereka 
saat ini telah jadi korban pembelokkan narasi. Karena itu, Zittrain mengatakan 
perkembangan teknologi di masa depan akan sangat dirusak oleh penyalahgunaan 
jangka pendek, seperti untuk pemilu.

Dan yang lebih menyeramkannya, meski kita tahu bahwa teknologi seperti big data 
yang dimiliki GoTo rentan digunakan untuk kepentingan politik, kita tidak punya 
pilihan lain selain untuk melanjutkan penggunaan layanan mereka. Inilah yang 
membuat teknologi canggih disebut sebagai bibit dystopia, keadaan yang begitu 
kelam, di mana ketika orang sadar pun, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Pada akhirnya, kita bisa simpulkan bahwa dalam menyambut Pemilu 2024, big tech 
seperti GoTo kemungkinan besar akan didekati oleh para politisi. Kekuatannya 
yang begitu besar hampir mustahil diabaikan begitu saja oleh mereka yang 
berpikiran oportunis dan eksploitatif. (D74)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/303987E36C5C45B1AF3336CFBBE2A06A%40A10Live.

Reply via email to