Written byA43Tuesday, August 9, 2022 07:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/maruf-amin-dukung-anies-2024/
Ma’ruf Amin Dukung Anies 2024?
Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin dalam beberapa kesempatan – baik sebagai 
Wapres maupun Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) – 
menegaskan bahwa dirinya akan tetap netral dalam politik elektoral menuju 
Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Mungkinkah justru dukungan Ma’ruf bisa mengarah 
ke Anies Baswedan yang kini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Akhirnya datang juga!”

Pernah membayangkan tidak bahwa diri kalian menjadi orang yang justru 
ditunggu-tunggu? Mungkin, itulah yang dirasakan ketika mengikuti sketsa-sketsa 
komedi yang tidak bisa diprediksi semacam Akhirnya Datang Juga! (2007-2008).

Cara kerja sketsa komedi ini cukup menarik. Bila Anda seorang figur publik atau 
artis, mungkin saja Anda akan diundang ke sketsa ini. 

Nah, saat Anda tiba di set (latar) yang telah disediakan, para pemeran lainnya 
langsung memberikan pernyataan sambutan, “Akhirnya datang juga!” Tentu, bagi 
bintang tamu, ini akan menjadi hal yang sangat membingungkan.

Para pemeran lainnya akan langsung memainkan peran dan karakter masing-masing – 
sejalan dengan latar yang telah disiapkan. Sementara, sang bintang tamu harus 
meraba-raba soal peran dan latar belakang (background) dari karakter yang 
dimainkannya – seakan-akan karakter itulah yang paling dinanti dalam kisah 
tersebut.

Namun, bagaimana sketsa bagaikan Akhirnya Datang Juga ini terjadi di dunia 
nyata – katakanlah dalam dinamika politik elektoral menuju Pemilihan Umum 
(Pemilu) 2024 mendatang. Pasalnya, tidak dipungkiri bahwa akan ada banyak 
“karakter” yang sedang dinanti-nanti kedatangannya dalam mempengaruhi jalannya 
“set” dan “sketsa” Pemilu 2024 – khususnya Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Presiden Joko Widodo (Jokowi), misalnya, menjadi pembahasan publik dan media 
karena dianggap bisa mengambil peran sebagai king maker (pengusung) bagi salah 
satu calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) potensial. 
Kelompok-kelompok relawan Jokowi, contohnya, disebut ingin mengusung nama-nama 
seperti Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo di tahun 2024.

Tidak hanya nama Jokowi yang ditunggu-tunggu kedatangannya, melainkan juga ada 
nama Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin. Bagaimana tidak? Dalam beberapa 
kesempatan, Ma’ruf tampaknya ditunggu-tunggu oleh media soal capres-cawapres 
siapa yang akan didukung.

Menanggapi ini, Ma’ruf sendiri akhirnya angkat bicara. Sebagai Wapres dan Ketua 
Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf mengatakan akan tetap 
bersikap netral dalam dinamika politik elektoral menuju tahun 2024.

 
Terlepas dari sikap netral yang ditunjukkannya, nama Ma’ruf tentu 
ditunggu-tunggu “kedatangannya” di “sketsa” politik ini. Tentu saja, sejumlah 
pertanyaan pun muncul mengenai “kedatangan” Ma’ruf yang diharap-harapkan.

Mengapa dukungan politik Ma’ruf masih diharap-harapkan – meski kini kerap 
dianggap lemah secara politik di pemerintahan Jokowi? Kekuatan dan pengaruh 
politik seperti apa yang sebenarnya dimiliki oleh Ma’ruf?

Spiritual Capital ala Ma’ruf
Bila benar seseorang sedang ditunggu-tunggu kedatangannya, bukan tidak mungkin 
orang tersebut memiliki manfaat yang bisa saja diberikan kepada pihak atau 
orang lain. Terkait pertanyaan di atas, tentu Ma’ruf bisa saja memiliki manfaat 
tersebut.

Sebagai seorang Wapres dan Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Ma’ruf secara tidak 
langsung memiliki posisi yang penting. Bukan tidak mungkin, dukungan politiknya 
di tahun 2024 nanti bisa menjadi poin tambahan yang akhirnya membawa sang 
penerima dukungan kepada keunggulan tertentu.

Sederhananya, Ma’ruf memiliki modal yang belum tentu aktor-aktor politik 
lainnya juga punya, yakni modal spiritual (spiritual capital). Berakar dari 
konsep-konsep modal sosial (social capital) dan modal kultural (cultural 
capital) dari Pierre Bourdieu, Bradford Verter berusaha menjelaskan konsep itu 
melalui tulisannya yang berjudul Spiritual Capital.

Layaknya modal dalam ekonomi, modal-modal seperti ini juga bisa 
ditransformasikan menjadi sebuah ‘keuntungan’, yakni pengaruh dalam dimensi 
sosial dan politik. Modal spiritual, misalnya, bisa ditransformasikan menjadi 
pengaruh dan otoritas dalam hal keagamaan.

Dalam tulisannya tersebut, Verter pun menjelaskan bahwa modal spiritual dapat 
terejawantahkan dalam tiga bentuk, yakni bentuk modal yang telah dimiliki 
(embodied state), modal yang disalurkan dalam objek (objectified state), dan 
modal yang disalurkan dalam institusi (institutionalized state).

Ketiganya pun bisa saja telah dimiliki Ma’ruf. Dalam bentuk embodied state, 
misalnya, sang Wapres sendiri telah menjadi seorang ulama karena memiliki 
penguasaan ilmu agama yang mendalam.

 
Dalam bentuk objectified state, apa yang dimiliki Ma’ruf sebagai embodied state 
bisa disalurkan dalam bentuk objek – yakni dokumen keagamaan yang berisikan 
hukum keagamaan seperti fatwa. Terakhir, dalam bentuk institutionalized state, 
Ma’ruf masih memiliki andil yang cukup besar dalam organisasi keagamaan 
esensial di Indonesia, yakni MUI – sebuah organisasi yang selama ini memegang 
kendali soal hukum keagamaan di negara kepulauan ini.

Contoh paling nyata dari hasil transformasi modal spiritual Ma’ruf adalah 
pengaruh politiknya yang terlihat jelas dalam mempengaruhi jalannya Pemilihan 
Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. Kala itu, muncul calon gubernur 
(cagub) yang dinilai berlawanan dengan identitas Islam, yakni Basuki Tjahaja 
Purnama (BTP) alias Ahok.

Dengan persoalan identitas yang eksis, Ma’ruf sebagai Ketua MUI merilis sebuah 
fatwa mengenai Ahok. Cagub yang berdarah Tionghoa itu pada akhirnya juga 
dianggap telah melakukan penistaan agama – disebut-sebut sebagai salah satu 
faktor terbesar yang menyebabkan kekalahannya pada putaran kedua Pilkada DKI 
Jakarta 2017.

Lantas, bila memiliki modal sedemikian besar, mengapa Ma’ruf memilih untuk 
tetap netral secara politik – katakanlah dalam diskursus menuju Pemilihan 
Presiden (Pilpres) 2024 mendatang? Apa yang membuat sang Wapres perlu berpikir 
dua kali untuk mentransformasikan modalnya tersebut – misal mendukung sosok 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang disebut-sebut menjadi capres yang 
potensial untuk didukung oleh kelompok Muslim?

Jalan Buntu untuk Ma’ruf?
Bukan tidak mungkin, Ma’ruf perlu mempertimbangkan lagi sejumlah alasan dan 
hambatan bagi dirinya untuk menyalurkan modalnya tersebut. Apalagi, sebagai 
tokoh agama, Ma’ruf masih punya andil besar di masyarakat.

Pertama, Ma’ruf bisa saja mempertimbangkan narasi yang kini beredar di kalangan 
elite politik, yakni upaya untuk menghindari munculnya kembali polarisasi 
politik seperti yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019.

Mengacu pada penjelasan Greg Fealy, Sally White, dan Burhanuddin Muhtadi dalam 
tulisan mereka yang berjudul Counter-polarisation and Political Expediency, 
terdapat sebuah narasi di antara elite-elite politik bahwa polarisasi politik 
yang sangat parah telah menjadi ancaman bersama bagi Indonesia – meskipun hal 
ini tidak benar-benar diyakini ada di kalangan masyarakat umum. 

 
Kedua, usia juga bisa saja mempengaruhi hasrat politik Ma’ruf. Setidaknya, ini 
bisa jadi pertimbangan Ma’ruf untuk menentukan langkah-langkah politik yang 
akan diambilnya.

Mengacu pada penjelasan Paul L. Hain dalam tulisannya yang berjudul Age, 
Ambitions, and Political Careers, usia seorang politisi bisa mempengaruh ambisi 
politik yang dimilikinya. Semakin tua seorang politikus, semakin kecil juga 
ambisi karier politik yang dimilikinya.

Dan, ketiga, Ma’ruf bisa saja kini tidak lagi memiliki saluran politik yang 
memadai untuk mentransformasikan modal spiritual yang dimilikinya. Bagaimana 
pun juga, Ma’ruf kini dilihat sebagai sosok yang tidak memiliki pengaruh cukup 
besar di pemerintahan Jokowi – dengan munculnya istilah-istilah seperti “ban 
serep”.

Ada salah satu kemungkinan yang menyebabkan Ma’ruf dianggap demikian, yakni 
Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin atau Gus AMI. Tidak 
dapat dipungkiri bahwa Cak Imin disebut memiliki andil besar dalam menjadikan 
Ma’ruf cawapres Jokowi pada Pilpres 2019 silam.

Cak Imin bisa saja memiliki modal sosial – seperti relasi sosial bila mengacu 
pada tulisan Kimberly Casey yang berjudul Defining Politial Capital – yang 
justru membuat modal spiritual Ma’ruf lebih mendapatkan ‘keuntungan’ (return) 
yang optimal. Namun, dengan ambisinya sendiri, Cak Imin bukan tidak mungkin 
tidak melihat Ma’ruf sebagai sosok yang bisa diandalkan.

Bila tiga faktor ini benar adanya, alhasil, Ma’ruf kini hanya menemui jalan 
buntu untuk agar benar-benar bisa mentransformasikan modal spiritual yang 
dimilikinya. 

Pada akhirnya, Ma’ruf pun kesulitan untuk bisa benar-benar datang dan membuka 
pintu menuju “sketsa” Pilpres 2024. Mungkin, pemeran-pemeran “sketsa” lainnya 
hanya bisa menunggu tanpa kepastian untuk mengucapkan line yang berbunyi, 
“Akhirnya datang juga!” (A43)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0C0C10AB6AA34378921953C36AD83A9B%40A10Live.

Reply via email to