Written byA43Monday, August 8, 2022 20:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/prabowo-pasti-gagal-di-2024/
Prabowo Pasti Gagal di 2024?
Nama Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto mulai dirumorkan bisa 
mendapatkan dukungan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi calon 
presiden (capres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Mengapa kabar ini 
justru bisa jadi salah kaprah?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “I heard a rumor…” – Allison Hargreeves, The Umbrella Academy (2019-sekarang)

Pernahkah kalian mendengar pertanyaan yang berbunyi, “apa kekuatan super yang 
ingin kamu miliki?” Mungkin, hampir semua orang pasti berharap memiliki 
kekuatan super.

Namun, bila diperhatikan, setiap orang pasti akan memiliki jawaban-jawaban yang 
berbeda. Biasanya, jawaban yang diberikan berakar dari persoalan hidup yang 
mereka hadapi masing-masing.

Bagi orang yang kesulitan untuk menarik perhatian si doi, mungkin kekuatan 
super untuk mengubah wajah menjadi tampan atau cantik bisa jadi jawabannya. 
Siapa tahu, dengan kekuatan tersebut, dia bisa berubah bentuk sesuai keinginan 
si doi?

Namun, bagaimana bila kekuatan super yang dimiliki lebih mengubah orang lain 
dibandingkan diri sendiri? Dengan kekuatan seperti itu, setiap orang pasti akan 
tunduk padanya.

Salah satu tokoh atau karakter yang memiliki kekuatan demikian adalah Allison 
Hargreeves dalam seri The Umbrella Academy (2019-sekarang). Hanya dengan 
mengucapkan, “I heard a rumor…,” dia langsung bisa membuat lawan bicaranya 
melakukan apa saja yang dia mau.

Wah, mungkin, kekuatan super seperti Allison inilah yang bisa jadi jurus ampuh 
bila dimiliki oleh para politisi dan pejabat publik. Bagaimana tidak? Dengan 
kekuatan super tersebut, para politisi tidak usah lelah-lelah menjalankan 
kampanye politik.

Namun, untung saja, kekuatan super seperti itu hanya ada di bayangan imajinasi 
belaka. Pasalnya, akhir-akhir ini, mulai banyak beredar nama-nama calon 
presiden (capres) potensial yang bakal didukung oleh Presiden Joko Widodo 
(Jokowi) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo, misalnya, sempat disebut-sebut 
menjadi capres potensial favorit. Sejumlah kelompok relawan Jokowi juga mulai 
mengarahkan dukungannya ke Ganjar.

Selain Ganjar, ada juga nama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick 
Thohir. Dengan popularitas yang diupayakan untuk terus ditingkatkan, Erick 
disebut-sebut jadi salah satu menteri yang bakal didukung Jokowi di 2024.

 
Nah, selain Ganjar dan Erick, ada nama lain lagi yang muncul, yakni Menteri 
Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto. Sosok yang sudah dua kali gagal menjadi 
capres terpilih – ketika bertanding dengan Jokowi pada tahun 2014 dan tahun 
2019 – ini kabarnya memiliki hubungan yang semakin dekat dan karib dengan 
Jokowi.

Nama Prabowo juga bukan sekali ini saja muncul. Banyak hasil survei juga 
menunjukkan nama mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus 
(Kopassus) tersebut memiliki elektabilitas yang tinggi.

Namun, meski banyak orang mengira Prabowo akhirnya bakal bisa menjadi capres 
terpilih pada tahun 2024, tentu saja itu bukan perkara mudah. Selain masih 
banyak pesaing muda lainnya, Prabowo juga harus menghadapi sejumlah tantangan.

Mengapa Prabowo perlu berpikir dua kali bila ingin maju sebagai capres pada 
tahun 2024 mendatang? Bilapun benar maju, apakah Prabowo akhirnya bakal bisa 
meriah “impiannya”?

Hantu Masa Lalu Prabowo
Jika mengingat kembali bagaimana diskursus berjalan di masyarakat seputar 
Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, ada satu narasi yang selalu eksis. Isu tersebut 
adalah anggapan bahwa Prabowo telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia 
(HAM) di masa lampau.

Kisah soal pelanggaran HAM yang disebut dilakukan oleh Prabowo di masa lampau 
dimulai ketika gejolak politik meletus di Indonesia pada tahun 1997-1998. Kala 
itu, para aktivis mendapatkan momentum guna mengkritik pemerintahan Soeharto.

Namun, seiring dengan meningkatnya momentum politik para aktivis, terjadi juga 
reaksi balasan dari rezim Orde Baru, yakni dengan menjalankan tindakan 
penculikan dan penghilangan terhadap para aktivis. Prabowo sebagai Danjen 
Kopassus kala itu disebut bertanggung jawab atas hilangnya para aktivis.

 
Anggapan bahwa Prabowo bertanggung jawab dalam peristiwa tersebut pun diperkuat 
dengan laporan-laporan rahasia milik pemerintah Amerika Serikat (AS). Pada 
tahun 2018, dalam 34 dokumen rahasia yang dibuka AS, Prabowo disebut memberi 
perintah pada Kopassus untuk menghilangkan paksa sejumlah aktivis atas perintah 
Presiden Soeharto.

Prabowo sendiri dalam sebuah wawancara pernah mengaku bahwa dirinya kala itu 
menerima “daftar nama” yang dianggap bisa mengancam sehingga perlu diamankan. 
Meski masih blur, narasi-narasi ini akhirnya mengarah ke Prabowo sebagai pihak 
yang bertanggung jawab.

Prevalensi narasi sejarah terkait peristiwa itu bukan tidak mungkin bakal 
mempengaruhi kembali diskursus elektoral pada tahun 2024 mendatang. Mengacu 
pada buku karya Hannes Swoboda dan Jan Marinus Wiersma yang berjudul Politics 
of the Past: The Use and Abuse of History menjelaskan bahwa pencatat sejarah 
akan selalu mencocokkan temuan sejarah dengan meaning (makna) yang dibangunnya.

Dalam hal ini, temuan dan narasi yang bilamana muncul terkait penculikan pada 
tahun 1998 silam bisa saja disesuaikan dengan makna yang ingin didapatkan. 
Eks-Kopassus lainnya, Agum Gumelar, misalnya, menyebutkan bagaimana Prabowo 
terbukti bersalah.

Meaning yang terbangun seperti ini bisa saja akan kembali menghantui Prabowo di 
tahun 2024 mendatang – apalagi bila muncul aktor-aktor politik lain yang memang 
dianggap mengetahui seluk-beluk di balik apa yang terjadi pada tahun 1998 silam.

Prabowo yang ‘Berkhianat’?
Tidak hanya soal pelanggaran HAM masa lalu, Prabowo juga dinilai memiliki 
tendensi untuk melakukan pengkhianatan. Ini pun disebut juga terjadi pada tahun 
1997-1998.

Ada anggapan bahwa Prabowo telah mengkhianati mertuanya sendiri, Soeharto, pada 
tahun 1997. Berdasarkan dokumen yang dibuka AS pada tahun 2018 lalu, Prabowo 
disebut sudah memberikan sinyal akan gejolak politik kepada pemerintah AS 
melalui Asisten Menteri Luar Negeri (Menlu) AS untuk Asia Pasifik dan Asia 
Timur Stanley Owen Roth.

Dalam sebuah pertemuan dengan Roth, Prabowo menyebutkan bahwa alangkah baiknya 
bila Soeharto saat itu mundur untuk mewujudkan transisi pemerintahan yang lebih 
stabil. Kisah ini tampaknya membuat nama Prabowo masuk dalam salah satu 
“pengkhianat” Soeharto – yang karena itu juga diusir dari keluarga Cendana.

Tidak hanya soal pengkhianatan terhadap Soeharto, Prabowo juga masih dianggap 
mengkhianati para pemilihnya pada Pilpres 2019 silam. Bagaimana tidak? Setelah 
polarisasi politik terjadi begitu kerasnya, Prabowo malah kemudian diangkat 
menjadi Menhan oleh lawan politiknya sendiri yang terpilih, Jokowi.
 
Mungkin, inilah yang disebut oleh Ashley Lavelle sebagai mentality of renegades 
(mentalitas pengkhianat) dalam bukunya The Politics of Betrayal: Renegades and 
Ex-radicals from Mussolini to Christopher Hitchens. Lavelle menyebutkan bahwa 
salah satu faktor yang menyebabkan renagades melakukan pengkhianatan adalah 
alasan-alasan psikologis – dengan mencontohkan tokoh-tokoh besar dunia seperti 
Benito Mussolini hingga Christopher Hitchens.

Padahal, kepercayaan adalah faktor yang penting dalam hubungan antara 
politisi/pejabat dengan para pemilihnya. Bila trust saja sudah hilang, besar 
kemungkinan kecurigaan juga lebih mudah muncul.

Dengan kecenderungan untuk berpindah kubu atau pihak seperti ini, bukan tidak 
mungkin kepercayaan dari entitas politik internasional kepadanya juga sulit 
terbentuk – apalagi di tengah situasi geopolitik Indo-Pasifik yang semakin 
terbelah menjadi dua. Bukan rahasia lagi bahwa aktor politik luar negeri juga 
biasa mencampuri urusan politik dalam negeri, khususnya politik elektoral.

Mengacu pada penjelasan Damien D. Cheong, Stephanie Neubronner, dan Kumar 
Ramakrishna dalam tulisan mereka berjudul Foreign Interference in Domestic 
Politics: A National Security Perspective, negara-negara besar seperti AS, 
Rusia, dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) kerap melakukan upaya campur tangan 
dalam politik domestik – termasuk dalam dinamika elektoral – agar bisa memenuhi 
kepentingan politik luar negeri mereka.

Dengan bergabungnya Prabowo ke pemerintahan Jokowi yang disebut lebih condong 
ke Tiongkok dalam persaingan geopolitik dengan AS, bukan tidak mungkin Prabowo 
semakin dilihat lebih dekat dengan negeri Tirai Bambu oleh negeri Paman Sam.

Ini diakibatkan oleh bagaimana pemerintah AS sendiri menjalankan politik luar 
negerinya. Bryan Partridge dalam tulisannya yang berjudul Constructivism: Is 
the United States Making China an Enemy? menjelaskan bahwa politik luar negeri 
AS bisa dijelaskan dengan pendekatan konstruktivis.

Dalam dokumen-dokumen soal prinsip politik luar negerinya, AS selalu menekankan 
pada nilai-nilai demokrasi dan kebebasan. Maka dari itu, AS akan mencampuri 
urusan negara lain bila prinsip dasar ini terganggu.

Partridge pun mengatakan bahwa atas alasan inilah akhirnya AS menjadikan 
Tiongkok sebagai musuh politiknya kini. Dengan dikotomi yang terbangun di bawah 
pemerintahan Joe Biden, bukan tidak mungkin aktor-aktor politik yang dianggap 
dekat dengan Tiongkok bisa dicurigai – membuat Prabowo akan semakin sulit 
mendekati AS dengan persoalan HAM masa lalu.

Dengan berbagai tantangan dan hambatan yang dihadapi, bukan tidak mungkin 
Prabowo memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk bisa sukses di kontestasi 
elektoral 2024. Bisa jadi, seperti yang dijelaskan di awal tulisan tadi, 
Prabowo juga butuh kekuatan super bila ingin benar-benar berhasil pada tahun 
politik tersebut. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C82D992ED2CE4C93BE1D3FF7B9E8F6F6%40A10Live.

Reply via email to