https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2730-menyelamatkan-institusi-polri


Selasa 09 Agustus 2022, 05:00 WIB 

Menyelamatkan Institusi Polri 

Administrator | Editorial 

  Menyelamatkan Institusi Polri MI/Seno Ilustrasi MI. SETELAH sebulan 
berkutat dalam gelap, pengusutan kasus kematian Brigadir Nofryansah Yoshua 
Hutabarat alias Brigadir J mulai menemukan titik terang. Kini, menjadi tugas 
Polri untuk menjadikan perkara itu benar-benar benderang. Brigadir J dibunuh di 
rumah dinas mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri Irjen Ferdy Sambo 
di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada 8 Juli. Kematiannya mencuatkan 
spekulasi luar biasa, juga keraguan tiada tara di kalangan masyarakat. 
Profesionalitas Polri pun disorot tajam akibat ketidakprofesionalan sebagian 
anggotanya. Bau busuk penyebab kematian Brigadir J menguar ke mana-mana. Begitu 
banyak kejanggalan disampaikan Polri di awal-awal penanganan kasus itu. Publik 
bertanya-tanya, kenapa Polri baru membeberkan perkara itu tiga hari setelah 
kejadian? Publik berkasak-kusuk kenapa CCTV di rumah jenderal polisi rusak, 
mati, tetapi di hari ke-9 hidup lagi? Tanda tanya besar, sangat besar, juga 
mengemuka kenapa Bharada Richard Eliezer atau Bharada E bisa menggunakan 
senjata Glock 17 untuk adu tembak dengan Brigadir J? Bukankah Glock 17 hanya 
untuk perwira? Pernyataan awal Polri sebatas katanya, meski katanya didasarkan 
pada hasil penyelidikan. Katanya, Bharada E baku tembak dengan Brigadir J 
setelah mendengar teriakan istri Sambo, Putri Candrawathi. Katanya, Putri 
dilecehkan Brigadir J sehingga berteriak. Masih banyak lagi katanya, tetapi 
masyarakat tak percaya begitu saja. Sulit disangkal, kasus tersebut berdampak 
serius, sangat serius, bagi citra polisi di mata masyarakat. Banyak sekali 
penilaian miring sebab perkara itu dinilai sangat mudah diusut, tetapi faktanya 
teramat sulit untuk diselesaikan. Yang mudah dibuat rumit, yang cepat dibikin 
lambat. Pada konteks itu, kiranya kita patut mendukung langkah Kapolri Jenderal 
Listyo Sigit Prabowo yang punya komitmen tinggi untuk menuntaskan kasus yang 
terjadi. Dia membentuk tim khusus, lalu memutasi 25 anak buahnya. Kapolri 
blak-blakan pula bahwa ada ketidakprofesionalan anggotanya sehingga pengusutan 
berjalan sesat. Kapolri juga tegas bersikap dengan menonaktifkan Irjen Sambo. 
Jenderal polisi bintang dua itu kemudian bahkan dicopot dan ditempatkan di 
Rutan Mako Brimob karena diduga melanggar kode etik. Dia kini diselidiki atas 
kemungkinan terlibat dalam tindak pidana kematian Brigadir J. Timsus bentukan 
Kapolri pun sudah menetapkan dua tersangka, yakni Bharada E dan Brigadir Ricky 
Rizal. Brigadir Ricky yang ajudan istri Irjen Sambo dijerat pasal pembunuhan 
berencana. Meski lambat, gerak Kapolri dan jajarannya bolehlah diapresiasi. 
Namun, apa yang mereka tunjukkan masih jauh dari cukup. Jelas, sangat jelas, 
indikasinya ada pelaku lain dalam pembunuhan Brigadir J. Dalam pengakuannya 
belakangan ini, misalnya, Bharada E terang-terangan mengatakan diperintah 
atasannya untuk menembak Brigadir J. Dia juga menyebut sebenarnya tidak baku 
tembak. Dikatakan pula Irjen Sambo ada di lokasi saat kejadian. Padahal, dalam 
kisah sebelumnya, Sambo disebut pergi untuk tes PCR. Betul bahwa Bharada E 
memang bersalah. Namun, kesediaannya untuk buka-bukaan patut kita hargai. Dia 
siap menjadi justice collaborator. Dia harus dilindungi agar 
pengakuan-pengakuan terus diucapkan sehingga kebenaran bisa terkuak nanti. Jika 
salah satu pelaku sudah membuat pengakuan, tak ada lagi alasan bagi kepolisian 
untuk kembali berlama-lama menuntaskan perkara. Penyelesaian kasus ini tidak 
boleh berhenti di Bharada Eliezer dan Brigadir Ricky. Pedang hukum harus pula 
menebas pelaku-pelaku lain, siapa pun dia, termasuk otak di balik kematian 
Brigadir J, setinggi apa pun pangkatnya. Presiden Jokowi sudah beberapa kali 
meminta agar kasus itu diungkap dengan sejujur-jujurnya. Kiranya Presiden tak 
perlu mengulangi permintaan itu lagi. Masyarakat pun sudah lelah, muak, dengan 
gerak lambat dan aksi tipu-tipu untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi. 
Saatnya kasus kematian Brigadir J diselesaikan demi keadilan, juga demi 
menyelamatkan kredibilitas institusi Polri.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2730-menyelamatkan-institusi-polri








-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220809201217.1c6b0266c2b4b55131d05357%40upcmail.nl.

Reply via email to