Written byJ61Tuesday, August 9, 2022 18:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/menguak-dunia-gelap-jokowi/
Menguak Dunia Gelap Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung bahwa kondisi pada tahun 2023 
mendatang diibaratkan gelap. Ini bukan pertama kalinya RI-1 menyampaikan “aura 
negatif” ke hadapan publik. Lalu, mengapa itu dilakukannya?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Gelap. Frasa itu digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggambarkan 
keadaan negara-negara di tahun 2023 mendatang.

Itu disampaikan kepala negara saat memberikan sambutan dalam Silaturahmi 
Nasional Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) 2022 di Sentul, Bogor, 
Jawa Barat pada Jumat, 5 Agustus.

Penggambaran tersebut dikemukakan berdasarkan diskusinya dengan sejumlah sosok 
penting seperti Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 
António Guterres, petinggi lembaga-lembaga internasional seperti International 
Montary Fund (IMF) dan Bank Dunia, serta pemimpin negara-negara G7 dalam 
kunjungan kerjanya beberapa waktu lalu.

Mantan Gubernur DKI Jakarta menyatakan semua negara saat ini berada pada 
keadaan yang tidak mudah.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi menuturkan bahwa lembaga terkemuka seperti PBB, 
IMF, hingga Bank Dunia menyampaikan terdapat 66 negara yang akan ambruk 
ekonominya akbat ketidakpastian situasi global.

Fenomena kelaparan, laju inflasi, hingga anjloknya tingkat ekonomi negara 
seperti Singapura, Australia, dan sejumlah negara Eropa turut dibubuhkan 
sebagai sampel konkret pernyataan Presiden Jokowi yang kembali ditutup dengan 
frasa kurang mengenakkan, yakni “mengerikan”.

  
Yang menarik, narasi negatif semacam itu bukan pertama kalinya disampaikan 
kepala negara dihadapan publik Indonesia.

Warganet +62 agaknya dapat dengan mudah mencari terminologi dengan “aura 
negatif” yang sering dikemukakan Presiden Jokowi.

Meskipun dalam beberapa kesempatan, sejumlah narasi disampaikan dalam forum 
dengan audiens yang spesifik, tetap saja salah satu putra terbaik Solo itu 
tentu memahami bahwa pernyataannya akan dikonsumsi dan dicerna masyarakat 
melalui publikasi media.

Hal itu kemudian menimbulkan perntayaan sederhana, mengapa Presiden Jokowi 
justru membawa narasi dengan tendensi pesimistis itu di hadapan khalayak?

Anomali Jokowi?
Apa yang disampaikan Presiden Jokowi tampak menjadi anomali tersendiri dalam 
sebuah kepemimpinan level tertinggi.

Dikatakan anomali mengingat seorang pemimpin idealnya akan berusaha 
“menenangkan” masyarakat ketika dihadapkan pada situasi sulit dengan 
menghindari frasa-frasa pesimistis, seperti yang acapkali disampaikan Presiden 
Jokowi.

Tujuannya tentu untuk menjaga kondusivitas di berbagai aspek yang berpotensi 
terdampak seperti stabilitas pasar, investor, menjaga daya beli, hingga 
mempertahankan serta meningkatkan optimisme masyarakat secara umum.

Kepemimpinan semacam itu tampak dari banyak negara, salah satunya Perdana 
Menteri (PM) Justin Trudeau yang terkenal dengan pilihan katanya yang bijak di 
hadapan publik Kanada.

  
Tak hanya itu, negara tetangga Singapura pun saat ini dipimpin oleh Lee Hsien 
Loong yang memiliki karakteristik serupa dengan Trudeau di saat berhadapan 
dengan situasi sulit.

Selain itu, dalam artikel PinterPolitik sebelumnya yang berjudul Misteri 
Statistik PDB Sri Mulyani, dijelaskan bahwa pemimpin-pemimpin negara seperti 
India, Tiongkok, hingga Argentina justru berupaya menyembunyikan “aura negatif” 
statistik Produk Domestik Bruto (PDB) mereka agar tidak mendapat sentimen 
negatif publik.
Sentimen negatif publik itu selaras dengan disrupsi yang dijelaskan oleh 
Francis Fukuyama. Dalam bukunya The Great Disruption: Human Nature and the 
Reconstitution of Social Order, Fukuyama mempopulerkan istilah great disruption 
untuk menggambarkan merosotnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap 
pemerintah akibat dari kemajuan pesat teknologi informasi.

Fenomena itu berakar dari eksistensi nyata atas ketimpangan ekonomi di 
masyarakat, menurunnya tingkat perekonomian negara, pengangguran, PHK, inflasi, 
hingga kenaikan harga yang secara otomatis membawa sentimen negatif.

Lalu, apakah narasi “gelap” yang disampaikan Presiden Jokowi benar-benar 
mengkhawatirkan dan akan menjadi nyata?

Sebuah Kontradiksi?
Meski kerap dikritik akibat riwayat minor sebagai pemberi hutang, proyeksi 
lembaga moneter internasional atau IMF maupun Bank Dunia kiranya tetap relevan 
untuk menjadi rujukan atas gambaran perekonomian dunia.

Dalam laporan World Economic Outlook edisi Juli lalu, IMF memang memprediksi 
bahwa ekonomi global akan semakin suram pada tahun 2022 lantaran munculnya 
berbagai risiko.

Inflasi global, pengetatan aturan Covid-19 maupun penyakit menular lain yang 
mulai merebak seperti monkeypox atau cacar monyet, hingga perang Rusia vs 
Ukraina menjadi variabel pemantik kesuraman itu.

IMF kemudian memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 
3,2 persen pada 2022. Proyeksi tersebut terus turun dari perkiraan sebelumnya, 
yakni sebesar 3,6 persen pada April dan 4,4 persen pada Januari.

Sementara itu, Bank Dunia turut memprediksi bahwa pada tahun 2023 mendatang 
kondisi sulit kemungkinan besar akan terjadi.

Di samping masih disibukkan mengatasi dampak pandemi Covid-19, tren inflasi, 
ketidakpastian kebijakan, hingga pengeluaran pemerintah dan abu-abunya 
kebijakan moneter tiap negara menjadi pemicunya.

Negara-negara berkembang kemudian disebut menjadi yang paling terancam seiring 
meningkatnya harga makanan dan energi, serta ketidakseimbangan 
pasokan-permintaan.

Walaupun selaras dengan apa yang dikemukakan, narasi “gelap” Presiden Jokowi 
tampak tidak diiringi dengan kebijakan nyata untuk paling tidak 
mengantisipasinya sejak dini.

Bahkan, sejumlah agenda sekunder maupun tersier seperti proyek mercusuar Ibu 
Kota Negara (IKN) Nusantara serta kereta cepat Jakarta-Bandung terus dikebut 
dan belakangan menyedot Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Padahal, sejumlah analis telah mewanti-wanti bahwa proyek-proyek itu 
kontraproduktif dengan ketidakpastian perekonomian dunia yang saling 
ketergantungan.

Asisten Professor Ilmu Politik dari North Carolina State University Dr. Jessica 
C. Liao misalnya, menyiratkan peringatan itu melalui publikasinya yang berjudul 
Easy Money and Political Opportunism: How China and Japan’s High-Speed Rail 
Competition in Indonesia drives financially risky projects.

Ambisi politik dan iming-iming kemudahan pencairan dana dari Tiongkok dinilai 
mendistorsi Presiden Jokowi dari implikasi multi-aspek akibat pandemi Covid-19 
yang sukar pulih, cepatnya laju penurunan nilai tukar rupiah, serta dampak 
minor hutang luar negeri.

 
Sementara peneliti senior di Rajaratnam School of International Studies (RSIS) 
Richard Borsuk menyoroti agenda sekunder Indonesia yang terus dikebut Presiden 
Jokowi di saat negara masih susah payah bangkit dari efek pandemi Covid-19.

Dalam analisisnya yang berjudul Indonesia’s New Capital: Can Jokowi Find the 
Money?, Borsuk mempertanyakan bagaimana Presiden Jokowi menghimpun dana 
pembangunan IKN di tengah kondisi sulit saat ini.

Selain itu, ambisi IKN juga dinilai akan terus melemahkan anggaran negara, 
membuat lonjakan inflasi, dan seiring waktu akan dihadapkan pada kepastian 
pembengkakan biaya pembangunan.

Seolah belum cukup, narasi “gelap” Presiden Jokowi juga tidak diiringi dengan 
komitmen nyata untuk setidaknya meringankan beban masyarakat.

Meskipun secara konkret memang cukup dilematis untuk merumuskannya, kebijakan 
menaikkan sejumlah tarif dan harga komoditas esensial belakangan ini seperti 
BBM, sekilas cukup bertolak belakang dan justru tampak semakin mendekatkan 
masyarakat dengan kondisi “gelap” tersebut.

Selain dari data dan analisis di atas, penyampaian narasi minor juga kiranya 
menimbulkan pertanyaan terhadap aspek kepemimpinan Presiden Jokowi. Mengapa 
demikian?

Jika diamati, pernyataannya mengenai kondisi gelap di tahun 2023 diungkapkan di 
hadapan para pensiunan tentara. Dalam dunia kemiliteran dan rantai komando, apa 
yang disampaikan Presiden Jokowi agaknya sangat keliru.

Seorang pemimpin atau komandan semestinya dapat mendengarkan sekaligus 
memberikan jalan keluar bagi keluhan anggotanya, bukan sebaliknya.

Filosofi ideal itu tercermin misalnya dalam film berjudul Saving Private Ryan. 
Kapten John Miller yang diperankan Tom Hanks dalam sebuah adegan menegaskan 
bahwa pemimpin tidak boleh mengeluh di hadapan anggotanya.

“Gripes go up, not down,” begitu kalimat terkenal yang diucapkan Miller.

Hal itu sepertinya luput dari perhatian Presiden Jokowi selama ini. Keluhannya 
dengan pilihan kata seperti “gelap”, “sulit”, “susah”, “berat”, dan sebagainya 
kiranya pantang terlontar dari sosok pemimpin yang semestinya hadir memberikan 
solusi konkret dalam kebijakannya, termasuk di hadapan masyarakat Indonesia 
secara umum.

Kendati demikian, penjabaran di atas masih sebatas interpretasi kritis semata. 
Namun diharapkan, Presiden Jokowi ke depannya dapat membawa aura yang jauh 
lebih baik, plus diiringi dengan kebijakan yang membangktkan optimisme 
masyarakat. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/9ED588A2BBA344BEB9F3289072BAB080%40A10Live.

Reply via email to